Ramadan 40 Tahun Lalu

Ramadhan merupakan bulan mulia. Didalamnya banyak kebaikan dan pahala yang diberikan kepada orang yang dengan ikhlas dan mengharap ridlo Allah Swt dalam melaksanakan ibadah puasa. Semua ibadah yang dijalankan orang beriman akan mendapatkan fasilitas dan keistimewaan. Ibadah sunnah mendapatkan pahala seperti ibadah wajib. Ibadah wajib mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Bahkan puasa sendiri, pahalanya tidak terbatas. Allah Swt sendirilah yang akan menentukan berupa pahala puasa dari orang beriman yang melakukannya.

Ramadhan adalah momen terindah bagi setiap muslim, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil, anak-anak atau dewasa. Banyak hal khusus yang bisa di dapatkan di bulan mulia ini. Cara makan yang berbeda, momentum ibadah yang berbeda, dan tentunya pertemanan yang berbeda. Paling tidak, ada aturan makan minum yang berbeda, ada tarawih berjamaah di mushola, dan ada “ronda” dengan teman-teman sekampung, yang tidak mungkin dilaksanakan di luar Ramadhan.

Tapi ya itu, haus dan laparnya yang nggak ketulungan. Bagaimana tidak, pada usia 7 sampai 9 tahun, bapak mengharuskan aku berlatih puasa. Sehingga, pagi yang biasanya sarapan, kadang ada ketan bubuk, dawet gempol, putu tegal, serta nagasari, yang menjadi favorit aku, harus hilang begitu saja. Walhasil, kegiatan yang paling sering dilakukan adalah melihat jam dinding. Jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh, semua tak lepas dari pengamatan sambil menerapkan ilmu matematika “operasi pengurangan” terhadap jam Maghrib tiba.

Ramadan tahun-tahun itu, biasanya sekolah libur sebulan penuh. Sekolah akan buka lagi setelah Iedul Fitri. Oleh karenanya, banyak waktu untuk berada di rumah, bermain bersama teman-teman bermain, bahkan “berkarya” dengan sesuatu yang sebelum-sebelumnya tidak ada.

Pagi itu, aku bersama beberapa teman berencana membuat “dor-doran”. Makhluk ini terbuat dari bamboo, dengan sekat bambu yang dilubangi, dan disisakan hanya diujungnya. Kita akan mengisikan “karbit” dan diisi sedikit air, kemudian dari lubangnya itu akan kita sulutkan api. Dan hasilnya….”jleemmmm”, dentuman keras akan mengguncang satu RT. Sekarang, mainan itu dikenal dengan meriam bambu.

Kukuh kemarin telah menyiapkan satu potong bambu yang cukup besar. Kukuh memang mempunyai banyak bambu. Ada satu atau dua “dapur” bambu di belakang rumahnya. Ia lalu serahkan bambu itu pada Cucuk agar dibersihkan dan dihilangkan sekat antar ruasnya. Aku sendiri bertugas membeli karbit dan menyiapkan tongkat pemicu.

Semuanya sudah siap, bambu sebesar paha dengan ukuran satu setengah meter, sudah kami bersihkan, dan sudah kami hilangkan sekat bambunya. Tinggal membuat lubang kecil diujung bawah, tempat kami menyulutkan api. Tapi akung, ketika kami berkumpul di belakang rumah, semuanya ndak ada yang membawa benda tajam. Terpaksa aku pulang mengambil sabit yang biasa digunakan bapak untuk sekedar membersihkan sekitar rumah.

Beberapa menit aku beroperasi di dapur, menelusuri tempat-tempat dimana biasanya bapak menaruh sabit itu. Aku cari dibawah meja, bawah lemari, dan dibawah lincak tempat ibuku biasanya memotong sayuran untuk dimasak. Tapi, setelah sekian lama, nggak ketemu juga. Aku kembali ke teman-temanku yang berada di ujung tegalan.

“Nggak ketemua itu sabitnya, piye iki?” Tanyaku kepada teman-temanku

Pean aja Kuh, kamu kan punya sabit yang tajam…” Kataku pada Kukuh, salah seorang temanku dalam gank itu.

“Iya, tapi kan jauh…, kamu aja Cuk…” kata Kukuh kepada Cucuk, temanku yang lain

“Hadeeh…aku lagi, kemarin yang bersihkan bambu kan aku..masak aku lagi…” Rajuk Cucuk

“Iya udah, aku aja…,” Kukuh akhirnya mengalah dan mengambil sabit.

Sekarang sabit sudah ada ditangan Kukuh. Ia mulai membuat lubang kecil diujung bawah bambu. Tak lama kemudian siaplah lubang itu. meriam bamboo siap digunakan.

“Gimana, kita nyalakan sekarang?” Tanyaku pada teman-teman.

“Ayooo…” jawab teman-temanku

Kukuh dan Cucuk lalu mengangkat meriam bamboo itu ke pinggir tegalan. Disitu ada bebarapa pohon rajek yang dapat digunakan untuk meletakkan meriam bambu agar posisinya dapat miring sebelah. Ujung bamboo diarahkan ke selatan, mengarah ke rumah Mbah Kardi. Tegalan Mbah Kardi cukup luas, sehingga jarak antara rumah beliau dan tempat menyalakan meriam agak jauh.

Aku memasukan satu buah karbit seukuran jempol kaki ke dalam meriam bambu. Setelah itu, aku tuangkan sedikit air ke dalamnya. Kami menunggu beberapa saat. Ujung meriam kita tutup dengan sampah plastic yang berserakan disekitar tempat kami berkumpul.

Piye, siap?” tanyaku pada teman-teman

“Iya, siap…sekarang yuh….”

Aku menyalakan tongkat kecil yang diujungnya ditalikan kain dan dicelupkan ke minyak tanah. Api berkobar diujung tongkat kecil itu, lalu kuarahkan ke lubang kecil pemicu meriam bambu. Dan…..

“Jlemmmmbbbb….” Suara yang keluar dari meriam bambu itu membuat pohon-pohon kecil di sekitar ikut bergetar. Plastik di ujung meriam berhamburan. Bambu itu juga berguncang keras dan membuat aku kaget sekali. Terus terang aku nggak mengira kalau suaranya akan sekeras itu. Mungkin karena bambunya yang cukup besar, atau karbitnya yang terlalu gedhe.

Semuanya berteriak, bersorak, dan bergembira. Tertawa terbahak-bahak meskipun agak kaget juga mendengar dentuman itu.

“Hoeeeh…siapa itu, main dor-doran di belakang rumahku” terdengar seseorang teriak-teriak dari belakang kami. Semua menoleh, dan melihat Mbah Sadi membawa sabit yang diacung-acungkan dengan wajah tampak marah sekali. Ternyata beliau sedang tidur dan kaget oleh suara dentuman yang mengguncang. Dan, aku dan teman-temanku pun ketakutan.

“Larii….” Teriakku. Semua berlarian menjauh. Meninggalkan Mbah Sadi yang marah-marah dan memorakporandakan meriam bambu karya kami sejak pagi. Hatiku sakit. Hati teman-temanku juga sakit. Tapi gimana lagi. Kami juga yang salah. Membuat keonaran di belakang rumah orang yang sedang istirahat. Hadeeh….(ans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *