Sinergi Guru dan Orang Tua

“Dalam melaksanakan pembelajaran daring, kerjasama antara guru dan orang tua merupakan faktor penentu keberhasilannya”.

Pandemi Covid 19 memaksa pemerintah meliburkan semua sekolah. Mulai PAUD/TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, semuanya harus belajar di rumah. Penyebaran virus corona yang luar biasa cepat mengharuskan kita untuk menjaga jarak aman dalam pergaulan. Berbagai protokol kesehatan seperti mengenakan masker, menghindari kerumunan, sering mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, semuanya merupakan upaya mencegah penularan virus corona yang semakin menggila.

Untuk menjalankan aktivitas pembelajaran dari rumah (learning from home) para guru di sekolah harus menggunakan pembelajaran daring (online). Pada awalnya pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi whatsapp messenger dimana para guru mengirimkan pesan pada siswa melalui grup kelas, kemudian siswa mengerjakan tugas, dan menunjukkan hasil pengerjaan tugasnya melalui foto, yang dikirimkan melalui jaringan pribadi kepada guru. Dalam bentuk lain, para guru membuat video, menjelaskan beberapa materi, kemudian mengetikkan tugas kemudian mengirimkannya kepada siswa.




Diawal perjalanan, hal ini tentu akan menyenangkan. Siswa memiliki waktu yang cukup banyak untuk berada di rumah, dan para gurupun demikian. Tapi, apakah pembelajaran yang seperti ini akan efektif? Apakah dalam jangka waktu panjang pembelajaran ini akan memberikan dampak baik bagi pendidikan kita? Apakah pembelajaran karakter yang mencoba kita tanamkan dapat direalisasikan jika “hanya” mengandalkan pembelajaran daring ini?

Dalam satu sudut pandang, banyak pakar mengatakan bahwa pembelajaran pada umumnya dapat dibedakan dalam pembelajaran yang berorientasi pada konten dan pembelajaran karakter. Sehingga, jika kita menanyakan efektifitas pembelajaran daring apakah efektif atau tidak, tentu pada pembelajaran jenis mana dulu pertanyaan itu dimaksudkan.

Para guru TK/PAUD dan SD, ternyata memiliki tugas utama untuk membentuk karakter. Berbagai pembiasaan dan pembimbingan seperti religiusitas, kedisiplinan, sopan santun, bekerjasama, menyayangi teman, kebiasaan menjaga kebersihan sekolah, dan penguatan-penguatan karakter lainnya, merupakan hal utama yang harus dilakukan. Paling tidak, sekitar 60-70 perseen pembelajaran, seharusnya berorientasi pada hal-hal tersebut. Sedangkan para guru di SMP, SMA, dan para dosen di perguruan tinggi, lebih banyak berorientasi pada konten.

Dengan demikian, pembelajaran daring akan efektif jika pembelajaran beorientasi pad konten saja. Dalam artian, konten tetap dapat tersampaikan meskipun tidak ada tatap muka guru dan siswa. Tapi, ketika orientasi pembelajarannya pada karakter, kita harus berpikir ulang untuk mengharap efektifitasnya.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan pembelajaran daring di PAUD/TK d an SD, mutlak diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua. Para guru memang masih tetap bisa mengingatkan, dengan program-program pembiasaan. Tapi, pengawasan dan pendampingan langsung, tetap pada orang tua.