Belajar dari Alam

Allah Swt menurunkan ayat-ayat-Nya untuk kepentingan umat manusia. Ayat-ayat tersebut tersurat dalam mushaf Al Qur’anul Karim yang terdiri dari 112 Surat, 6666 ayat, dan terkelompokkan dalam 30 Juz. Membaca ayat-ayat Al Qur’an memberikan feedback pahala kepada kita, meskipun kita tidak mengerti arti dari ayat yang kita baca. Dan yang paling menarik, pahala membaca Al Qur’an tersebut tidak dihitung berdasarkan juz, surat, halaman, atau kalimat, tetapi berdasarkan huruf yang dibaca. Sehingga, secara matematis kita bisa mengetahui betapa banyaknya pahala dari membaca satu surat pendek saja. Allahu akbar!

Namun demikian, ayat-ayat Allah Swt tidak hanya berupa Al Qur’an. Ternyata Allah Swt juga memberikan ayat-ayat kauniyah, yang juga merupakan pelajaran bagi kita. Ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang berupa alam semesta. Sunnatullah yang berlaku bagi alam semesta merupakan pelajaran kita yang sangat berharga. Hukum alam yang sengaja diciptakan dan diberlakukan oleh Allah Swt itu, merupakan bahan penting bagi kita untuk tafakur, memikirkan kebesaran dan keagungan Allah Swt. Dalam Surah Ali Imran ayat 190 Allah Swt berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Allah Swt menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Didalam bumi terkandung bermacam-macam sumberdaya alam, mineral, dan kekayaan alam lainnya. Di permukaan bumi tumbuh ribuan bahkan jutaan jenis tanaman. Masing-masing memiliki karakteristik dan kegunaannya masing-masing. Di atas bumi ada udara dengan berbagai jenis kandungan di dalamnya. Ada oksigen, carbon dioxida, nitrogen, dan berbagai unsur lainnya. Di atas lagi ada tempat yang sangat luas dimana benda-benda langit berada. Matahari dan planet yang ada di sekelilingnya membuat solar system yang bergerak secara beraturan, tidak saling bertabrakan, dan berjalan sesuai dengan takdir Allah Swt. Diluar itu, dimana tata surya lainnya berkelompok membuat sistem yang bernama galaxy, dan seterusnya. Bagi orang beriman, sungguh semuanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, yang tidak ada keraguan lagi lainnya.

Semua sistem itu yang berlaku di bumi, merupakan pelajaran yang berharga bagi kita. Contoh kecil adalah ketika mempelajari musim di Indonesia. Leluhur kita dulu tidak pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tapi, mereka punya ilmu “titen”, dimana dengan membaca tanda-tanda alam saja, mereka dapat memprediksi berbagai peristiwa alam. Sebagai contoh, kalau “kodok” bersuara nyaring, tanda akan ada hujan lebat, jika kawanan burung terbang tinggi, maka pertada cuaca akan cerah, atau kalau lebah dan kupu-kupu banyak bermain di sekitar bunga, maka cuaca juga akan baik-baik saja, dan seterusnya. Alam, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan semua kejadian di atas bumi, sebenarnya merupakan ayat-ayat Allah Swt yang juga harus kita pelajari, karena ada banyak kemanfaatan di dalamnya.

Allah Swt sangat menghargai ulil albab, yaitu orang-orang yang berakal, yang selalu memikirkan penciptaan makhluk Allah Swt, untuk menambahkan keimanan mereka. Dalam Surah Ali Imron ayat 191 Allah Swt berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Memikirkan tentang citpaan Allah Swt, sambil memikirkan manfaatnya, kemudian mengkoneksikan dengan kebersihan hati kita, sering disebut dengan tafakur. Menurut Ahmad Zainal Abidin (2014) tafakur adalah proses mengamati dan merenungkan semua ciptaan Allah SWT yang ada di muka bumi, sehingga mampu mengokohkan keimanan. Ujung dari orang yang senantiasa bertafakur adalah ia akan tercengang dan terkagum-kagum akan kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga.

Belajar dari alam memberikan manfaat yang besar bagi manusia. Dalam konteks bathiniyah manusia akan menyadari betapa hebatnya Allah Swt, sehingga menimbulkan kekaguman padaNya. Dalam konteks ilmu pengetahuan, tentu hal itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika orang-orang non muslim saja, yang tidak beriman kepada Allah Swt, mempelajari alam dan mendapatkan manfaatnya bagi kemajuan kita, sekarang saatnya sebagian umat Islam juga mempelajari alam dengan lebih serius untuk kemajuan umat Islam itu sendiri.

Realitasnya, alam justru banyak dipelajari oleh teman-teman kita non muslim. Dari situ, mereka dapat mengembangkan sain dan teknologi yang berkembang pesat dan luar biasa. Sementara, umat Islam sendiri, kurang bergairah dalam mempelajari alam, sehingga dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi, kita tertinggal oleh mereka. Padahal, ulama-ulama kita, adalah orang-orang yang sangat menguasai ilmu pengetahuan, ilmu kedokteran, bahkan matematika. Kita mengenal Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Battani, Abbas ibn Firnas, Muhammad Ibnu Musa al Khawarzmi, yang merupakan ulama-ulama dan sekaligus ahli imu pengetahuan alam. (ans)