Kompleksitas Pembelajaran Daring di Kelas Bawah

Pembelajaran daring merupakan pilihan yang “tidak ada pilihan” lain untuk dilaksanakan di semua sekolah, termasuk diantaranya di SD bahkan di PAUD/TK. Cara yang digunakan guru tentunya macam-macam. Ada yang menggunakan website sekolah, aplikasi khusus, dan yang  paling populer adalah menggunakan grup WA wali murid. Dilihat dari pelaksanaannya, hampir semua guru khususnya di Tulungagung misalnya, dapat melaksanakan pembelajaran daring dengan sebaik-baiknya. Hal ini, karena mayoritas wilayah di kabupaten penghasil marmer ini masih dalam jangkauan internet. 


Seorang guru guru kelas 1 sekolah dasar melaporkan, bahwa paling tidak ia mengalami tiga kendala dalam melaksanakan pembelajaran daring. Pertama, tentang sistem komunikasi yang diterapkan. Pada pembelajaran daring, dimana karena keterbatasan teknis dan SDM siswa tidak bisa diajak komunikasi dua arah, maka terpaksa guru melaksanakan pembelajaran dengan komunikasi satu arah. Guru menjelaskan lewat audio atau video yang dikirim melalui WA, dengan tanpa tahu apakah penjelasan yang diberikan dalam video itu, dapat dipahami atau tidak. Apalagi, video yang dikirimkan biasanya merupakan video pembelajaran konvensional, yang diunduh dari laman kemendikbud, yang memang sudah menyediakan hal itu. Intinya, dalam hal ini guru tidak mengetahui tingkat penerimaan siswa terhadap materi yang disampaikan.


Kedua, tidak semua anak dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Siswa kelas 1 SD yang tidak memiliki teman di rumah, tidak bisa mengerjakan sendiri tugas-tugasnya. Biasanya, kalau di sekolah para guru kelas 1 akan membimbing mereka, membacakan soalnya, menjelaskan maksudnya, dan bahkan mengajari cara menjawab pertanyaannya. Ketika dirumah, dimana tidak semua orang tua standby bersama anak-anak mereka, para siswa akan mengalami kesulitan mengerjakan sendiri tugas-tugasnya. Apalagi jika sebagian siswa merupakan anak dari TKI atau TKW yang bekerja di luar negeri, sementara mereka harus tinggal bersama kakek neneknya yang belum tentu mampu menggunakan teknologi informasi dengan baik.


Ketiga, tanpa pendampingan yang baik, anak-anak kelas 1 sekolah dasar akan merasakan kejenuhan dalam belajar sendiri di rumah. Dalam hal ini, guru menghadapi situasi sulit, yaitu berupa kejenuhan siswa dan tidak tersedianya sumber daya untuk mengatasi kejenuhan itu. Dalam artian, jika guru hanya memberikan tugas-tugas berupa perintah untuk menjawab pertanyaan, maka siswa akan bosan dan malas mengerjakannya. Sedangkan jika harus menggunakan pembelajaran yang bersifat praktik, dalam usia mereka masih membutuhkan pendampingan dan bantuan dari orang tua atau wali muridnya.


Solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi persoalan di atas adalah tetap dengan “tatap muka terbatas”. Dengan tatap muka kebosanan siswa dapat diatasi, dan siswa bisa kembali merasakan nikmatnya belajar bersama. Namun, sekali lagi terminologi yang digunakan adalah tetap muka terbatas. Artinya, dalam konteks jumlah peserta tatap muka jumlahnya terbatas (skala kecil), demikian juga dalam konteks durasi dan frekuensinya juga terbatas.


Tatap muka terbatas ini dapat dilakukan dengan membentuk kelompok siswa berdasarkan kedekatan tempat tinggalnya. Siswa yang tinggal agak berdekatan dapat berkumpul di rumah salah seorang siswa, kemudian guru melakukan visitasi dan melaksanakan pembelajaran di tempat itu. Namun demikian, guru tidak harus datang setiap hari, tapi cukup seminggu sekali atau seminggu dua kali. Sedangkan jangka waktu belajarnya juga dibatasi, yaitu antara 3 sampai 4 jam pelajaran saja dalam satu hari tatap muka itu. Dalam hal ini, sebenarnya secara teori bisa dibalik, yaitu siswa datang ke sekolah dalam jumlah dan frekuensi serta durasi yang terbatas.
Tatap muka terbatas ini dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Sehingga siswa tidak lagi merasa “libur panjang” dan tidak perlu belajar. Tugas-tugas dalam satu periode tertentu, misalnya tugas dalam satu minggu atau tugas dalam tiga hari, dapat diberikan pada saat tatap muka, dan laporan pengerjaan tugasnya dapat diberikan pada tatap muka berikutnya. (ans)