Melayani Anak “Super” Aktif

Setiap anak adalah unik dan istimewa. Mereka dilahirkan dengan membawa bakat yang berbeda dari orang lain. Sifat, karakter, dan aneka keunggulan bawaan mereka bawa sejak lahir sebagai modal dari Allah Swt untuk menjalankan tugasnya di dunia, yakni beribadah. Orang tua dan guru harus bisa membuat pendekatan yang berbeda. Agar dapat memberikan “pelayanan” yang terbaik pada anak sehingga ia dapat menjalani kehidupan awalnya dengan sebaik-baiknya.

Salah satu keunggulan bawaan yang dibawa anak adalah anak yang sangat aktif. Seharusnya, anak sangat aktif terjadi pada usia 2-3 tahun. Namun demikian beberapa anak tetap aktif bahkan ketika usianya menginjak 6 tahun. Artinya, tidak hanya pada saat mereka di playgroup dan taman kanak-kanak saja mereka aktif, tetapi pada saat mereka sudah di sekolah dasar pun mereka tetap aktif.

Persoalannya adalah ketika mereka tetap super aktif di SD, anak-anak lainnya sudah mulai dapat mengendalikan dirinya, dapat belajar dengan tenang, dan dapat mengikuti aturan yang ditetapkan sekolah di dalam kelas. Sehingga, sementara anak-anak lain sudah mulai dapat mengerjakan tugas dengan “anteng” mereka tetap berlarian kesana kemari tanpa merasa lelah. Anak-anak itu memiliki energi yang lebih banyak dibanding dengan teman-temannya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan anak yang super aktif, antara lain:

  1. Siapkan tugas yang menarik untuk anak. Tugas yang diberikan tidak harus dikerjakan di dalam kelas. Persilahkan anak super aktif untuk mengerjakan di teras, di halaman, atau di tempat-tempat lain yang luas tetapi tetap terdeteksi keberadaannya oleh guru, dan tetap terjamin keselematannya dari berbagai hal.
  2. Biarkan anak super aktif untuk sering mengikuti kegiatan yang melibatkan fisik, seperti bersih-bersih kelas, halaman, menata buku, dan sebagainya.
  3. Biarkan anak super aktif menguras energinya. Biarkan berlari-lari di halaman, bermain bola, dan sebagainya, agar tidak merasa “kebanyakan” energi sehingga dapat mengganggu temannya.
  4. Bekerjasama dengan orang tua, agar sering melibatkan anak tersebut dalam kegiatan-kegiatan fisik di rumah, seperti membersihkan rumah, berkebun, memilihara hewan piaraan, dan lain-lain.

Anak super aktif bukanlah anak berkebutuhan khusus. Ia hanya membutuhkan perhatian lebih. Sebab ia memiliki energi yang lebih banyak dibanding yang dimiliki oleh temannya. Yang ia butuhkan adalah kegiatan untuk menghabiskan energinya itu. Sebab kalau tidak, maka “kelincahan” siswa di kelas akan menghebat. Dan, ini tentu akan mengganggu sebagian teman yang memang sudah melewati fase itu.

Dalam hal ini, semua kembali pada bapak dan ibu guru, terutama para guru di kelas 1 sekolah dasar. Bagaimanapun, situasi belajar di taman kanak-kanak dan PAUD pastilah berbeda dengan di Sekolah Dasar. Dan, mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Sehingga, kreativitas dan kesabaran tetap menjadi modal utama. Kreativitas untuk senantiasa menciptakan suasana baru, dan kesabaran untuk menghadapi anak-anak super aktif, yang mungkin akan sedikit “menggerus” tembok kesabaran itu sendiri.

Tidak hanya di kelas, di rumah, di masjid, di tempat-tempat umum lainnya, anak super aktif tetaplah aktif. Guru dan orang tua sebisa mungkin tidak memarahi mereka. Guru dan orang tua harus tahu apa penyebabnya, sekaligus mencari tahu cara mengatasinya. (ans)