Mewajibkan Inovasi

Setiap hari adalah perubahan. Jam sembilan hari ini, sudah berbeda dengan jam sembilan kemarin. Hari Senin minggu ini, tentu juga berbeda dengan hari Senin minggu kemarin. Demikian juga kita hari, bukanlah kita hari kemarin. Karena ada waktu yang telah terlewati, ada yang bertambah dari kita, adapula yang hilang dari kita. Setiap jarum jam bergerak adalah sesuatu yang berbeda.

Pembelajaran di sekolah juga demikian halnya. Setiap hari kita akan menghadapi situasi yang berbeda. Setiap tahun ajaran baru para guru akan bertemu dengan murid yang berbeda. Dan, itu adalah keniscayaan. Sebab, setiap manusia adalah berbeda. Bahkan, anak kembar yang besar di rahim yang sama, dan lahir dari ibu yang sama, bahkan pada hari yang sama, tetap saja memilki keunikan dalam dirinya.

Boleh jadi, materi yang diajarkan guru di sekolah tahun ini sama dengan tahun kemarin. Kecuali jika ada perubahan kurikulum atau ada revisi, tentu akan mengalami perbedaan. Namun demikian, pada substansinya, tetap saja sama. Seputar materi dasar yang hampir sama dengan yang guru berikan pada murid yang berbeda tahun lalu. Apalagi kalau menyangkut ilmu pasti, tentu substansi materinya juga akan sama. Jika ada perubahan pun, hanya berkaitan dengan penempatan materi, timing, kedalaman pembahasan, dan tujuan yang ingin dicapai.

Oleh karena itu, seorang guru harus mewajibkan dirinya untuk senantiasa berinovasi. Mengapa? Tidak lain karena siswa yang kita hadapi senantiasa berbeda dari tahun ke tahun. Parahnya, perbedaan yang kita hadapi bisa jadi sangat beragam, mulai dari perbedaan motivasi belajar, kualitas intelektual, perbedaan daya dukung, latar belakang pendidikan orang tua, dan sebagainya. Sehingga, suatu saat seorang guru akan berkata : “Wah, tahun ini, anak-anak di kelasku ndak sehebat kelas yang dulu.” Atau sebaliknya, guru lain akan berkata, “Alhamdulillah, muridku tahun ini enak-enak diajari, pintar-pintar, dan rajin belajar.”

Apapun itu, setiap guru harus siap menghadapinya. Tentu dengan cara yang pas dan strategi yang benar dalam menghadapi segala situasi. Para guru tidak boleh hanya monoton, mengandalkan kemampuan dasar yang dimiliknya, dan berhenti meningkatkan kemampuan diri. Tidak boleh! Tidak boleh sama sekali! Para guru harus dinamis, mengikuti perkembangan sain dan teknologi, mengikuti kemajuan yang melaju di sekelilingnya, sehingga tidak menjadi kalah dengan muridnya. Sangat fatal misalnya, jika para guru tidak up to date sehingga justru ditinggal oleh para muridnya.

Pembelajaran daring yang harus kita lakukan saat ini, mengharuskan kita berinovasi. Kejenuhan mulai melanda, sehingga motivasi belajar siswa dan daya dukung orang tua juga semakin berkurang. Para guru harus mampu mengkombinasikan pembelajaran daring dengan cara yang variatif dan inovatif. Jangan hanya tugas menggunakan whatsapp dan dijawab juga dengan whatsapp. Nanti murid akan mengatakan: “WA lagi…WA lagi…” Parahnya bukan karena habis persediaan inovasi pembelajaran berbasis ITnya, tetapi justru karena guru yang hanya mampu belajar dari menggunakan WA, hehehe…

Berapa wali murid mengeluhkan pembelajaran daring yang membuat anak ketergantungan HP. Wali murid yang lain mengeluhkan tidak punya HP. Sementara anak lebih banyak menggunakan HP untuk nge-game daripada untuk belajar. Orang tua sudah mulai bingung untuk mengatasi anak-anaknya. Kalau tetap di rumah mereka akan bermain HP seharian, sementara kalau dibiarkan ke luar akan bermain dengan tanpa pengawasan.

Mengatasi hal itu, para guru harus bersiap diri. Beberapa hari lagi, tahun ajaran baru akan dimulai. Pada saat itu semua guru harus siap. Siap dengan berbagai skenario pembelajaran daring yang secara khusus harus diubah menjadi Belajar Dari Rumah (BDR), yang tidak harus daring. Lantas bagaimana? Bisakah tanpa daring pembelajaran tetap dilaksanakan, sementara uru di rumahnya sendiri, siswa di rumahnya sendiri, mereka berjauhan?

Guru tidak harus meninggalkan daring, tapi guru tidak boleh selalu hanya menggunakan daring. Guru perlu mengkombinasikan semuanya. Daring bisa dijalankan, luring juga tetap dilaksanakan. Pembelajaran daring dapat dikembangkan melalui banyak aplikasi dan platform digital. Internet telah menyediakan semuanya. Pembelajaran daring tidak harus dari WA ke WA, tapi dapat juga memanfaatkan google classroom, quipper, office 365, zoom cloud meeting, dan lain sebagainya. Sementara, khusus murid yang menghadapi persoalan dengan internet, guru dapat melakukan visitasi terbatas pada siswa bermasalah.

Pembelajaran pun tidak harus LKS dan LKS. Guru dapat memberikan tugas karya siswa, seperti mengarang, menggambar, membuat hasta karya, melakukan percobaan-percobaan sederhana dan murah, tentu dengan harus memberikan uraian dan contoh yang tepat. Bagaimana presentasinya? Guru dapat memanfaatkan video, mengunggahnya di akun youtube, atau langsung mengirimkannya ke siswa. Biarkan siswa memahami materi sebaik mungkin, baru guru memberikan penugasan terstruktur yang tidak harus full, tetapi tetap saja KD-KDnya dapa dicapai semaksimala mungkin. (ans)