Archives July 2020

Peran Dominan Fasilitator Pembelajaran

Guru memiliki banyak peran yang penting dalam pembelajaran. Guru adalah aktor utama yang menjamin pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan baik dan efektif, atau sebaliknya. Oleh karena itu guru haru membekali diri dengan pengetahuan yang cukup akan perannya dalam pembelajaran. Sehingga ia dapat menjalankan peran itu dengan baik dan bertanggung jawab.

Salah satu peran guru adalah fasilitator. Sebagai fasilitator guru harus dapat menyiapkan pembelajaran dengan sebaik-baiknya sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Knoless M. sebagaimana dikutip oleh Rahmwati dan Suryadi mengatakan “ada tujuh elemen yang sangat penting bagi peran fasilitator pembelajaran: konteks iklim, perencanaan, perancangan kebutuhan pembelajaran, penetapan tujuan, perancangan rencana pembelajaran, keterlibatan dalam kegiatan belajar, dan evaluasi hasil belajar” (Rahmawati and Suryadi, 2019).

Pertama, dalam konteks iklim, guru harus dapat menyiapkan iklim pembelajaran yang kondusif dan nyaman. Dalam hal ini guru harus dapat menyiapkan kelas dengan layout ruangan yang bagus, ventilasi udara yang cukup, cahaya masuk yang banyak, sehingga gangguan-gangguan yang berasal dari hal tersebut tidak muncul. Layout tempat duduk yang tidak tepat, akan menimbulkan ketidaknyamanan belajar. Layout bisa berubah-ubah dari hari kehari, sehingga semua anak pernah duduk pada tempat yang berbeda di dalam kelas. Udara yang pengap menimbulkan bau yang tidak enak dan mengganggu pernafasan. Cahaya yang kurang mengganggu penglihatan.

Selain itu, kedisiplinan anak di dalam kelas juga dapat menciptakan iklim belajar yang baik. Anak-anak yang dapat menata diri dengan baik memunculkan situasi pembelajaran yang nyaman. Anak tidak harus duduk tenang dan kaku dalam pembelajaran, tetapi dapat menempatkan diri kapan ia harus berdiri, duduk, berkelompok, dan berkomunikasi dengan temannya. Kelas yang dingin dan kaku mengakibatkan semangat belajar, sementara kelas yang gaduh mengakibatkan pembelajaran tidak fokus.

Kedua, guru harus menyiapkan perencanaa pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dibuat dalam periode satu tahun yang seringkali disebut dengan Program Tahunan (Prota) dan periode satu semester yang disebut Program Semester (Promes). Prota dan promes dibuat berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) yang telah dibuat di awal tahun pembelajaran oleh satuan pembelajaran.

Ketiga, guru harus menyiapkan rancangan kebutuhan pembelajaran. Berdasarkan RPP yang telah dibuat, guru dapat menentukan bahan ajar apa saja yang dibutuhkan, media pembelajaran yang akan digunakan, dan fasilitas-fasilitas yang lain yang diperlukan. Kebutuhan pembelajaran IPA tentu berbeda dengan kebutuhan pembelajaran bahasa Inggris, matematika, atau seni. Dengan adanya rancangan kebutuhan itu, guru sudah dapat menyiapkan diri dengan hal yang dibutuhkan.

Keempat, guru harus menyiapkan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran sebenarnya telah tertuang dalam RPP. Dengan tujuan pembelajaran yang jelas, guru dapat melakukan skenario pembelajaran dengan sebaik-baiknya dan mengarah pada tujuan yang tepat. Jangan sampai kreasi dan inovasi guru dalam pembelajaran, justru menjauhkan anak-anak dari pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan.

Kelima, Setiap hari guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang paling tidak berisi tujuan, langkah-langkah, dan evaluasi pembelajaran. RPP merupakan panduan utama untuk menjalankan pembelajaran pada hari itu. Berdasarkan RPP itulah pembelajaran dilaksanakan. RPP dibuat berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum dan silabuts, dengan menyesuaiakan program semester dan program tahunan yang telah disiapkan.

Keenam, keterlibatan guru dalam pembelajaran. Pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam pendidikan. Dengan pembelajaran guru menyampaikan informasi dan materi pembelajaran sebagai salah satu dari sumber belajar. Namun, guru bukan satu-satunya sumber belajar. Oleh karena itu, dalam pembelajaran aktif, guru dapat merancang pembelajaran yang variatif sehingga siswa dapat belajar dari sumber belajar yang lainnya. Namun demikian, guru tidak boleh melepaskan anak-anak untuk belajar sendiri. Anak-anak tetap membutuhkan keterlibatan guru dalam pembelajaran sebagai pembimbing dan pengarah dalam pembelajaran aktif.

Ketujuh, guru mengakhiri pembelajaran dengan evaluasi. Evaluasi pembelajaran digunakan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran yang dilaksanakan. Dengan evaluasi pembelajaran guru dapat mengetahui seberapa besar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sehingga ia dapat membuat perencanaan baru untuk mempembaiki kesalahan dan kekurangan yang telah ada demi mencapai keberhasilan yang maksimal sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. (ans)

Guru Kreatif dan Pembelajaran Efektif

Efektifitas suatu kegiatan dapat diukur dari apakah kegiatan itu dapat mencapai tujuan yang ditetapkan atau tidak. Artinya efektivitas merupakan ukuran pencapaian tujuan sebagai hasil dari atau efek dari suatu kegiatan yang dilakukan (Rahmawati and Suryadi, 2019). Seberapa persentase efektifitas suatu kegiatan, dapat juga dihitung dari berapa persen keberhasilan para siswa berhasil mencapai tujuan kegiatan.

Efektifitas pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa mencapai tujuan yang ditetapkan oleh guru. Pada saat membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru telah menetapkan tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, dan evaluasi untuk menentukan sebera besar tujuan pembelajaran yang telah ditatapkan. Oleh karena itu, sepatutnya setiap akhir pembelajaran guru sudah dapat mengetahui seberapa besar tingkat efektifitas pembelajaran yang dilaksanakan.

Suryabrata (2002) mengemukakan sejumlah faktor yang mempengaruhi efektivtas belajar yaitu 1) faktor dari dalam diri siswa, meliputi a) faktor psikis seperti IQ, kemampuan belajar, motivasi belajar, sikap, perasaan dan minat; b) faktor fisiologis dibagi menjadi dua juga yaitu keadaan jasmani pada umunya dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu. 2) Faktor dari luar diri siswa meliputi tiga aspek yaitu a) Faktor pengatur belajar mengajar di sekolah yaitu kurikulum, pengajaran, disiplin sekolah, fasilitas belajar, pengelompokan siswa; b) Faktor sosial di sekolah seperti sistem sekolah, guru dan interaksi siswa; c) Faktor situasional yaitu keadaan sosial ekonomi, keadaan tempat serta lingkungan.

Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa guru merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan aktivitas belajar. Bahkan guru dapat menjadi penentu apakah sebuah pembelajaran dapat berjalan secara efektif atau tidak. Mengapa? Karena guru adalah leader dan manajer di kelas yang dapat menata, mengatur, bahkan menciptakan situasi pembelajaran dan lingkungan belajar yanga baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Guru yang kreatif dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Dengan kemampuannya guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan. Guru juga dapat menetapkan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana ia mengajar. Bahkan, guru dapat menggerakkan kelas agar tercipta lingkungan belajar yang nyaman. Seperti, guru dapat menggerakkan anak-anak untuk menata kelas yang bersih, rapih, indah, dan menarik.

Fasilitas belajar merupakan salah satu hal yang dibutuhkan untuk mencapai efektifitas belajar. Namun guru yang kreatif dapat menggunakan fasilitas yang ada, sehingga tidak mensyaratkan adanya fasilitas yang “lebih”, untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Guru-guru kreatif dapat menciptakan media pembelajaran dari barang bekas. Guru dapat membimbing siswa untuk membuat media pembelajaran dari botol bekas yang mana pada saat yang sama guru mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, membimbing siswa untuk recycle sampah, dan mengajarkan ilmu pengetahuan alam.

Sebagai contoh, pada saat mengajarkan materi pelajaran IPA khususnya pembangking listrik tenaga angin guru dapat mengajak siswa untuk membuat kincir angin dari botol bekas. Kegiatan ini mengajarkan tiga hal utama yaitu menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan botol bekas dengan mendaur ulangnya menjadi kincir angin, dan mengajarkan mata pelajaran IPA berupa alat-alat yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik tenaga angin. Dengan demikian pembelajaran itu sudah dapat diindikasika memenuhi beberapa kriteria, yaitu active learning, student centered, dan karya nyata.

Dapat disebut active learning karena pembelajaran itu membuat siswa menjadi aktif, tidak hanya berfungsi sebagai pendengar atau pengamat saja. Dapat dikatakan sebagai pendekatan student centered karena kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu siswa yang banyak berperan dalam kegiatan pembelajaran. Dan, dapat disebut karya nyata karena setelah pembelajaran siswa dapat menghasilkan karya nyata berupa kincir angin dari bahan botol bekas.

Peran guru sangat dominan dalam pembelajaran sehingga kreativitas guru dalam melaksanakan tugasnya sangat diperlukan. Guru yang kreatif dapat menggunakan banyak hal untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, agar siswa bisa memperoleh pembelajaran yang bermakna. Guru merupakan penjamin dilaksanakan pembelajaran yang efektif.

Kunci Sukses Dakwah Walisongo

Keberhasilan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa khususnya, dan di Nusantara pada umumya, tentunya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Jika ada yang masih meragukan keberhalan para kekasih Allah Swt itu, mungkin karena kurang “ngopi”. Betapa tidak, masyarakat Jawa yang tadinya hampir 100 persen memeluk agama Hindu dan Budha, berkat dakwah para wali tersebut, saat ini paling tidak lebih dari 80% masyarakat Jawa memeluk agama Islam.

Menurut KH Agus Sunyoto, setidaknya ada tiga faktor pendukung keberhasilan dakwah Walisongo, yaitu:

Pertama, pribadi para wali yang luar biasa. Para wali adalah orang-orang yang ahli ilmu dan hikmah, namun demikian tetap egaliter, merakyat, dan rendah hati. Mereka adalah orang-orang besar yang biasa hidup sederhana dan menyatu dengan rakyat kecil. Selain itu, para wali adalah orang-orang yang ringan tangan, suka membantu siapa saja yang membutuhkan. Seluruh waktunya digunakan untuk memikirkan kesejahteraan rakyat kecil, mendakwahkan Islam, dan menyebarkan kedamaian.

Diantara para wali, disamping kemampuan dan pemahaman agamanya yang mumpuni, adalah ahli ekonomi, pertanian, pengobatan, seni, tata negara, dan sebagainya. Mereka menyatu dengan rakyat untuk menyelesaikan banyak persolan yang melanda. Tidak saja masalah ubudiyah, masalah-masalah muamalah dan kehidupan sosial pada umumnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari langkah dakwah para wali. Disamping itu, mereka juga ahli-ahli ibadah yang sangat selalu menghabiskan malam untuk beribadah kepada Allah Swt.

Walisongo adalah keturunan bangsawan yang biasa berinteraksi dengan rakyat jelata, dimana pada masa itu, hal tersebut sangat sulit dilakukan. Adanya kepercayaan tentang kasta telah membuat rakyat terkelompokkan ke dalam kasta-kasta yang didalamnya terdapat sekat-sekat yang kuat yang sulit ditembus oleh rakyat jelata. Kehadiran para bangsawan yang merakyat dan hidup sederhana tentu menunjukkan keagungan pribadi para Walisongo. Selain itu, dari sisi ekonomi mereka adalah orang-orang kaya yang murah hati, dan sangat disukai oleh rakyat.

Sebagaimana dimuat dalam http://www.islamtoday.com, Sunan Kalijaga adalah salah satu keturunan Bupati Tuban, di sisi lain ada pula Sunan Giri yang secara ekonomi merupakan pewaris dari seorang tokoh pengusaha besar di jamannya yaitu Nyai Ageng Pinatih. Namun demikian, dengan berbagai kekuatan ekonomi itu, lantas tidak membuat para wali tampil sebagai sosok yang metropolis, sebaliknya mereka tampil sebagai sosok yang zuhud, menyatu dengan masyarakat dan kekuatan ekonomi tersebut justru digunakan seluruhnya untuk kepentingan dakwah yang mereka lakukan.

Selain itu, Sunan Giri selain faqih dalam ilmu agama, ahli ilmu tata negara, sehingga hampir seluruh pangeran majapahit atau calon-calon penguasa di kerajaan Nusantara merupakan murid beliau. Sementara itu Sunan Kudus adalah seorang panglima pasukan yang mumpuni, seingga beliau sering diangkat sebagai Senopati Manggoloyudho dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Kesultanan Demak.

Kedua, Walisongo menyebarkan Islam dengan konsep Islam rahmatan lil aalamin, yaitu Islam yang ramah dan moderat. Islam dikenalkan sebagai agama yang mudah dan siapa saja dapat memeluk agama Islam dengan hanya mengucapkan kalimat syahadat. Selain itu Islam tidak mengenal kasta, sehingga mereka dapat berdekatan dengan para ulama hampir tanpa batas apapun yang menghalangi. Mereka dapat minta tolong baik dalam hal persoalan agama, hukum, ilmu pengetahuan, pengobatan, bahkan sampai pada hal-hal kebutuhan ekonomi atau kebutuhan sehari-hari kepada para wali tersebut.

Bahkan para wali seringkali melakukan kunjungan ke desa-desa, ke rumah-rumah, atau ke kelompok-kelompok masyarakat desa yang terpencil dan jauh dari kota kerajaan, untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Intinya, Islam yang disampaikan para wali adalah Islam yang benar-benar membuat masyarakat Jawa mendapatkan kedamaian, tanpa membuat pertentangan yang kuat dengan agama yang sudah ada. Bahkan, dari cerita turun temurun dapat diketahui bahwa para wali sangat menghargai agama lain, bahkan melarang umat Islam merusak tempat-tempat ibadah agama lain seperti candi.

Seperti halnya Sunan Kudus yang melarang umat Islam menyembelih sapi dan menggantinya dengan kerbau, demi menghormati umat Hindu. Bahkan masjid Menara Kudus pun dibangun dengan arsitektur Hindu semata-mata demi menghormati umat Hindu di Kudus. Sunan Kalijaga juga sangat melarang anak-anak bermain-main di candi meskipun candi itu sudah tidak dipakai lagi untuk beribadah lagi, demi menghormati agama lain.

Ketiga, adalah faktor kehancuran Kerajaan Majapahit. Perang saudara (Perang Paregreg) merupakan perisitiwa yang dianggap menjadi penyebab kehancuran kerajaan terbesar di Nusantara ini. Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, sejak pecah Perang Paregreg pada awal abad XV (1401-1405), armada laut yang pernah mengalami masa kejayaan telah lumpuh dan tidak mampu lagi digerakkan ke wilayah-wilayah jauh di luar Jawa. Faktor utama dari mandegnya eskpedisi jarak jauh tersebut tak lain dikarenakan sumber daya keuangan negara telah jatuh dalam keadaan yang menghkawatirkan, sedangkan perwira-perwira terbaik terfokus pada perang lokal. Dalam keadaan yang tidak terkontrol, tersebut lama-kelamaan wilayah jauh dari Majapahit berserpihan menjadi kadipaten-kadipaten kecil yang mandiri.

Malu, Tahu?

Malu adalah perasaan tidak nyaman diketahui orang lain. Orang bisa malu karena melakukan kesalahan, kebodohan, atau kekonyolan. Orang juga akan malu ketika melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan oleh dirinya. Perasaan malu timbul dari diri seseorang karana adanya ketidaksesuaian antara sesuatu yang wajar terjadi dengan apa yang sedang dilakukannya.

Orang malu karena berbuat salah. Sebagai contoh seorang siswa mencontek. Pada saat mencontek bapak atau ibu gurunya menangkap basah ia sedang mencontek. Anak yang mencontek akan merasa malu, minta maaf, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Ini malu yang dapat membawa kebaikan.

Orang juga bisa malu karena salah kostum. Sebenarnya tidak salah secara hukum. Tapi, tidak berada pada tempat yang pas. Misalnya, pada hari Senin, para siswa sekolah dasar mengenakan seragam merah hati dan putih. Tapi, karena lupa hari, seorang siswa mengenakan seragam pramuka. Apalagi, ia baru menyadarinya ketika berada di sekolah. Tentu, ia akan merasa malu.

Orang lain juga akan malu ketika tiba-tiba celananya robek. Orang akan merasa malu karena orang lain mengetahui celananya robek. Apalagi, jika robeknya pada tempat-tempat yang “penting”, sehingga ia akan menutupi tempat itu dengan apa pun yang ia miliki. Tujuannya untuk menutupi rasa malu.

Orang juga malu karena aurotnya terbuka. Meksipun, sekarang ini banyak orang yang juga suka membuka aurot, mengenakan rok dengan ukuran 10 cm ke bawah, mengenakan pakaian-pakaian “minimalis”, dan sebagainya, namun masih banyak juga orang yang malu keluar rumah karena tidak mengenakan kerudung atau jilbab.

Berkaitan dengan rasa malu ini, Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya : Dri [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Imam Bukhari)

Berdasarkan hadist di atas, malu adalah bagian dari iman. Artinya rasa malu yang dimiliki oleh seseroang itu sangat penting baginya, karena malu itu bagian dari iman. Tapi, rasa malu akan apa? Apakah rasa malu karena “salah kostum”, atau karena “celananya robek”, atau karena ketahuan mencontek?

Rasa malu yang paling utama adalah malu karena tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai manusia. Tugas utama manusia adalah untuk beribadah, oleh karena itu seorang muslim akan merasa malu kalau tidak dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Seorang muslim seharusnya malu pada Allah Swt ketika bangun kesiangan dan belum menjalankan sholat Subuh, malu karena tidak istikomah membaca al Qur’an, atau malu karena masih mengabaikan anak yatim. Seorang muslimah juga harus malu karena tidak menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan baik, lebih mengutamakan kesibukannya sebagai sosialita, arisan, komunitas sana sini, dan seterusnya, sampai-sampai melupakan tugas utamanya melayani suami dan mendidik anak-anaknya.

Orang seharusnya akan merasa malu jika tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. Betapa tidak? Nikmat apalagi yang akan kita dustakan? Kesehatan, kekuatan, iman, Islam, dan alam semesta, semua merupakan hal yang harus kita syukuri. Hal itu merupakan kenikmatan yang diberikan Allah Swt yang tidak terhingga nilainya. Karena itu, tentunya kita akan merasa malu jika kita tidak mensyukurinya.

Kita seharusnya juga malu karena telah berbuat dosa. Allah Swt pasti melihat semua hal yang kita lakukan. Termasuk dosa dan kesalahan kita. Karena, tidak sehelai daunpun yang jatuh di atas bumi yang berada di luar pengetahuan Allah Swt. Allah pasti tahu semuanya itu. Sepatutnya lah kita malu melakukan kesalahan. Kita harus malu menyekutukan Allah Swt, malu berbuat maksiat, malu berbuat kesalahan, yang pasti malu karena melanggar larangan Allah Swt. Semoga kita benar-benar bisa menjadi hamba yang “tahu malu”!

“Genk” Baru Anak di Rumah

Hal utama yang dibutuhkan anak adalah kegiatan. Anak tidak akan merasa nyaman tanpa kegiatan. Mulai pagi, siang, sore, selama mereka tidak sedang tidur maunya berkegiatan. Kadang ia bisa menciptakan kegiatannya sendiri, kadang harus ada stimulus yang membuatnya berkegiatan, bahkan harus ada orang tua yang menyiapkan kegiatan anak-anaknya.

Itulah mengapa, pembelajaran student centered lebih menarik bagi anak. Basic anak adalah aktif. Sehingga ketika hanya melakukan sesuatu yang pasif, seperti mendengar ceramah guru, ia akan ngantuk dan malas. Guru tetap harus menciptakan suasana pembelajaran yang membuat anak bergerak kesana kemari meskipun dalam tataran tertentu dan terbatas.

Pada saat mereka belajar di rumah, kegiatan fisik tetap menjadi aktivitas dominan bagi anak. Memang guru dapat mengirimkan tugas pada anak untuk dikerjakan di rumah. Tetapi faktanya tugas-tugas itu telah mampu diselesaikan anak dalam jangka waktu yang lama. Sehingga, mereka masih memiliki banyak waktu untuk beraktivitas bersama teman-temannya di rumah. Maka kemudian terbentuklah “kelompok baru” di seputaran rumah, yang terdiri dari anak-anak yang berbeda kelas, jenis kelamin, bahkan strata sosial.

Kelompok bersepeda merupakan kelompok baru yang paling banyak dibentuk oleh anak-anak yang sedang tidak harus ke sekolah. Seperti juga para orang tua, yang pada saat ini sedang “menggandrungi” olah raga sepeda, anak-anak sekolah dasar pun mulai membentuk kelompok bersepeda di seputaran rumahnya. Anak-anak yang semula sibuk dengan jadwal sekolah, dan sederet kegiatan les seperti les pelajaran, kursus musik, sekolah sepakbola, dan lain-lain, sekarang kembali mengakrabi teman-teman tetangganya.

Orang tua sementara ini mengiyakan kondisi ini terjadi. Banyak orang tua menganggap hal itu sebagai hal positif karena anak-anak kembali bisa bergaul dengan para tentangganya, rukun, dan kembali menyatu. Kehidupan “ala desa” yang guyub kembali terlihat. Anak-anak di sekitaran tempat tinggal berkumpul dan bergerak kesana kemari bersama suara-suara tawa dan sepedanya. Paling tidak, hal itu dapat menjaga anak untuk tidak melakukan kontak dekat dengan “orang jauh” yang kita tidak mengetahui lingkungan tempat asalnya.

Namun demikian bercampurnya tingkat usia anak-anak di sekitar rumah, juga perlu mendapatkan perhatian orang tua. Anak kelas empat, lima, dan enam sekolah dasar tentu tidak menjadi persoalan jika mereka bermain di sungai-sungai kecil, memancing, mencari udang, atau bermain layangan. Tetapi ketika anak-anak se-usia kelas dua sekolah dasar ke bawah juga mengikuti genk itu, tentu akan menjadi persoalan karena kemampuan menjaga diri mereka yang belum mencukupi.

Alhasil, meskipun banyak sisi positifnya, orang tua tetap harus berhati-hati terhadap kebebasan anak bergaul di lingkungannya. Khususnya jika anak-anak bergabung dengan kelompok usia yang berada di atas anak-anak kita. Bukan saja kegiatan yang mungkin saja tidak sesuai dengan usia buah hati kita, tetapi faktor keamanan anak tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepada orang tua. Maka tidak pantas bagi orang tua untuk mengabaikannya. Anak adalah buah hati, jangan sampai menyesal karena kecerobohan kita membiarkan buah hati kita berada pada lingkungan yang membahayakan dirinya. Komitmen untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan juga harus tetap dikuatkan.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020. Senyum kalian adalah semangat orang tua dalam bekerja!

Mengenalkan IT di Sekolah Dasar

Teknologi informasi tidak lagi menjadi barang mewah dalam kehidupan di abad 21 ini. Bahkan salah satu syarat keberhasilan di abad 21 menurut beberapa ahli adalah penguasaan terhadap IT (information technology). Hampir semua kehidupan masyarakat di abad 21 tidak lepas dari penggunaan IT. Sektor ekonomi, pendidikan, social, pertanian, peternakan, bahkan sektor agama, menggunakan teknologi informasi untuk memperlancar semua proses dan memberikan pelayanan yang lebih cepat kepada semua customernya.

Oleh karena itu, para guru harus menyiapkan diri untuk melaksanakan pembelajaran berbasis teknologi digital ini. Meskipun secara resmi pengenalan IT baru disampaikan di tingkat SMP dan sederajat, tetapi sudah waktunya sekolah dasar juga menyisipkan mata pelajaran pengenalan IT kepada para siswa. Paling tidak, ketika belajar di SMP, para siswa sudah pernah mencoba menggunakan perangkat IT sehingga tidak lagi asing dengan perangkat canggih itu.

Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia, menguatkan pentingnya peran IT dalam kehidupan modern ini. Pembelajaran berbasis online dengan siswa yang belajar di rumah dan para guru di sekolah, mengakibatkan penggunaan IT tidak bisa dihindari lagi. Larangan pembelajaran tetap muka mulai PAUD sampai perguruan tinggi menghasilkan banyak inovasi penggunaan IT dalam pembelajaran.

Faktanya, pembelajaran online tidak saja dapat dilakukan para mahasiswa, tetapi peserta didik PAUD pun sudah bisa melakukannya. Contohnya, para pendidik PAUD mengirimkan perkenalan pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menggunakan video. Dari video itu peserta didik PAUD mengenal para guru, mengetahui ruangan-ruangan di sekolah, dan menerima tugas-tugas yang harus dikerjakan di rumah. Selanjutnya dengan bantuan orang tuanya, peserta didik PAUD memperkenalkan diri menggunakan smarphone dan kemudian mengirimkannya dalam bentuk video. Hal yang sama dikerjakan oleh siswa baru di sekolah dasar.

Pada pembelajaran online ini, siswa kelas tinggi sekolah dasar bahkan mulai mengenal penggunaan aplikasi google form, google classroom, dan zoom cloud meeting. Google form dan google clasroom digunakan guru untuk mengirimkan tugas kepada siswa di rumah, kemudian para siswa tinggal mengisikan data dan menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas di smartphone mereka. Sementara dengan menggunakan aplikasi zoom clouds meeting, guru dapat melaksanakan pembelajaran virtual dengan para siswa. Dalam hal ini faktor pendukung utama seperti tersedianya smarphone atau laptop dengan jaringan internet yang mumpuni merupakan syarat utama untuk dapat dilaksanakan pembelajaran virtual.

Mengenalkan IT pada siswa sekolah dasar dapat dimulai dengan penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut. Yang paling sederhana, adalah penggunaan whatsapp sebagai media interaksi antara guru dan siswa. Whatsapp grup dapat digunakan guru untuk mengirimkan tugas pada para siswa dan sebaliknya, sekaligus dapat digunakan untuk berdiskusi dan berinteraksi jika ada hal-hal yang belum dipahami siswa.

Namun demikian, dalam situasi dan kondisi yang memungkinkan, sekolah dapat menyisipkan cara penggunaan computer atau laptop sebagai salah satu dari materi muatan lokal. Namun demikian, secara teoritis materi itu tidak harus disampaikan secara mendetil. Biarkan saja para siswa menggunakan computer atau laptopnya dengan semampunya, asalkan mereka mampu menyelesaikan tugas yang diberikan para guru.

Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah guru dapat membuat penugasan sederhana dengan jawaban yang harus diketik menggunakan computer atau laptop. Tugas-tugas mengarang, membuat puisi, membuat rangkuman, dan lain-lain dapat diberikan sebagai salah satu kegiatan agar para siswa “terpaksa” menggunakan computer atau laptopnya. Hasil pengetikan dapat dikirim pada guru dengan berbagai fasilitas seperti menggunakan email, google drive, atau bahkan hanya dengan menggunakan whatsapp web. Dengan begitu, para siswa tidak mengenal hanya melalui smarphone, tetapi juga mampu menggunakan computer atau laptop.

Untuk melakukan hal ini sekolah memerlukan kerjasama dengan orang tua siswa. Dalam artian, ketika sekolah memprogramkan pengenalan IT kepada para siswa sekolah dasar, para orang tua harus siap dengan segala fasilitas yang diperlukan. Jika tidak, program pengenalan IT kepada para siswa sekolah dasar tidak akan berjalan baik karena tidak tersedianya peralatan yang dibutuhkan.

Setelah itu, para guru dapat melanjutkan pengenalan IT dengan mengajak siswa menggunakan aplikasi-aplikasi lainnya. Jika tugas dalam bentuk naskah yang diketik dapat dikerjakan menggunakan Microsoft Word misalnya, pada tahap berikutnya para guru mulai harus memperkenalkan penggunaan slide presentasi menggunakan Microsoft Power Point. Materi ini akan lebih menyenangkan karena siswa telah memiliki dasar ketrampilan mengetik, dan sekarang dihadapkan dengan materi presentasi yang indah dan menggunakan animasi. Tantangan ini akan sangat menarik bagi siswa jika guru paling tidak dapat menjelaskan cara yang paling mudah untuk menggunakan aplikasi presentasi ini.

Dua software saja, yaitu Microsoft Word dan Microsoft Power Point, yang telah dikuasai oleh para siswa sekolah dasar akan memberikan dampak yang sangat baik khususnya dalam mendukung siswa mengerjakan tugas onlinenya. Kedua program itu dapat memenuhi kebutuhan pengetikan dan presentasi slide yang sangat berguna bagi para siswa.

Namun demikian ada hal-hal yang perlu ditekankan pada anak, utamanya ketika menggunakan perangkat IT dalam kondisi terkoneksi dengan internet, antara lain:

  1. Anak tidak perlu menindaklanjuti iklan yang muncul dari berbagai kegiatan mengakses data website.
  2. Anak tetap harus berhati-hati dalam menggunakan laptop atau computer, seperti menjauhkan dari makanan atau minuman, meletakkan pada tempat yang tepat, menggunakan koneksi listrik yang aman, dan sebagainya.
  3. Sedapat mungkin ada orang tua atau orang dewasa lainnya yang mendampingi anak agar anak tidak sembarangan dalam menggunakan perangkat IT.

Moderasi Islam dan Kebhinekaan

Moderasi Islam sangat penting dipromosikan karena Indonesia merupakan negera yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Lebih dari 200 juta penduduk Indoensia bergama Islam, sementara bangsa Indonesia adalah bangsa yang bhineka. Sebagai negera kepulauan terbesar di dunia, Indonesia terdiri lebih dari 13 ribu pulau besar dan kecil, ratusan suku bangsa dan bahasa daerah, serta ribuan macam budaya mulai dari seni, adat istiadat, kepercayaan, dan lain sebagainya.

Munculnya kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis, dikhawatirkan merusak harmoni kebhinekaan di Indonesia. Kelompok-kelompok Islam takfiri yang seringkali mengkafir-kafirkan kelompok lain yang tidak sepaham perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah agar tidak membahayakan kerukunan umat beragama di Indonesia. Pembiaran hal itu seperti membiarkan umat tercabik-cabik dalam sakit hati dan kebencian yang pada akhirnya akan mengganggu harmoni yang sudah berjalan ribuan tahun di Nusantara.

Menurut Nur Sholihin (2019) Kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis muncul tiba-tiba disertai gerakan teror serta gerakan kekerasan, yang sungguh biadab dan tidak manusiawi. Bahkan rencana pembunuhan ke beberapa pejabat negara yang dianggap penting dan strategis yang beberapa waktu yang lalu pernah diumumkan oleh kapolri. Rencana itu menjadi benar adanya setelah pada hari Kamis 10 Oktober 2019 yang lalu di Pandeglang Banten, Wiranto mengalami percobaan pembunuhan yang dilakukan dua orang yang kebetulan pasangan suami-istri. Setelah ditelisik oleh BIN dan Kepolisian mereka berdua termasuk anggota kelompok jaringan JTD yang berafiliasi dengan ISIS (https://radarjember.jawapos.com/).

Masuknya pemahaman-pemahaman fundamental dan radikal pada generasi muda merupakan ancaman yang harus ditangani. Apalagi, paham itu telah masuk ke kampus-kampus dimana banyak mahasiswa yang memiliki motivasi keagamaan yang tinggi, namun tidak memiliki landasan beragama yang mumpuni. Munculnya kelompok-kelompok kajian Islam tentu harus sangat disyukuri, ketika kajiannya terbatas pada ajakan untuk beribadah, kebaikan, kegiatan sosial, kerukunan, dan sebagainya. Tetapi, jika kemudian disisipi kegiatan-kegiatan politis, penguatan ideologi takfiri dan anti Pancasila, tentu akan membahayakan eksistensi kita sebagai bangsa.

Kesalahpahaman dalam memahami teks agama, biasanya berawal dari pembelajaran yang belum lengkap. Pemahaman yang masih sempit dan dangkal seringkali menjadi awal dari justifikasi terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sama. Bahkan klaim-klaim bid’ah, sesat, khurafat, kafir, musrik, dan lain-lain jelas-jelas disampaikan pada orang-orang yang membaca syahadat, melaksanaka shalat, menjalankan puasa, dan membayar zakat. Amaliah tahlil, yang isi kegiatannya utamanya membaca bacaan laa ilah ilallah malah dianggap kafir. Anak-anak “baru” itu seringkali mengkafirkan orang yang bersyahadat, pada dalam aturan Islam, orang yang kafir yang bersyahadat saja sudah akan menjadi Islam.

Oleh karena itu, pada Kabinet Kerja Jilid II ini, Kemeterian Agama aktif mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sehingga, adanya program pengarusutamaan moderasi beragama ini dinilai penting dan menemukan momentumnya. (Nur Sholihin, 2019).

Untuk menjadi seorang muslim yang moderat, kita harus memperhatikan beberapa hal, antara lain : (1) Kita harus meyakini bahwa keyakinan setiap orang bisa jadi benar, tetapi masih ada kemungkinan salah. Oleh karena itu, biarlah mereka berjalan pada apa yang mereka yakini, dan kita tetap berjalan dengan apa yang kita anggap benar, tanpa saling menyalahkan, dan tetap saling menghormati perbedaan, (2) Kita harus memahami bahwa berbeda adalah wajar, bahkan perbedaan adalah rahmat. Oleh karena itu, janganlah mencari-cari perbedaan, tetapi lebih banyaklah mencari persamaannya, dan (3) Amar ma’ruf nahi munkar harus tetap dilaksanakan dengan cara yang ma’ruf, dan tidak boleh menimbulkan kerusakan.

Men-desain Sekolah Unggulan

Setiap sekolah menginginkan keunggulan pada dirinya, baik dari unsur kelembagaan, pembelajaran, ataupun prestasi belajar siswa yang dihasilkannya. Namun pada hakekatnya, apapun keunggulan yang hendak direncanakan dan dijalankan oleh satuan pendidikan, tujuan akhirnya adalah untuk menghasilkan output terbaik yang dapat dicapai dengan semua sumberdaya yang dimiliki. Pada saat yang sama, tentunya dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada “customer“nya, untuk mencapai level kualitas yang diinginkannya.

Sebagian sekolah menunjukkan keunggulan itu sebagai sebuah daya tarik, namun sebagian lainnya tidak mensosialisasikan hal itu, dengan cukup berharap masyarakat akan mengetahui berdasarkan output yang dihasilkannya. Sekolah mensosialisasikan keunggulannya dengan harapan dapat menarik minat masyarakat untuk belajar di lembaga tersebut. Sekaligus menunjukkan pada masyarakat capaian-capaian tertentu yang diimpikan.

Untuk merencanakan sebuah sekolah unggulan, manajemen sekolah harus membuat desain sekolah unggulan terlebih dahulu. Desain ini dibuat sebagai “Garis-Garis Besar Haluan Sekolah”, agar sekolah unggulan yang diinginkan dapat dijalankan secara teratur, terstruktur, dan terukur. Teratur karena telah ada rambu-rambu pelaksanaan yang telah disiapkan, terstruktur karena sudah ada penanggung jawab untuk masing-masing pos yang diperlukan, dan terukur karena target telah ditetapkan, sehingga pengelola dapat mengetahui apakah target telah tercapai atau belum.

Beberapa hal yang banyak ditemukan di sekolah unggulan, khsusnya sekolah-sekolah Islam unggulan, antara lain : (1) pengembangan ke-Islam-an yang dominan, sehingga sebagian materinya kegiatan belajarnya adalah ke-Islam-an, (2) Mengutamakan kualitas output, dengan agak mengabaikan input. Sehingga, bagaimanapun kualitas input yang diperoleh, akan diolah dan diupayakan menghasilkan output yang berkualitas dalam berbagai dimensinya, (3) Melaksanakan active learning sehingga peran siswa dalam pembelajaran lebih dominan, sementara guru merupakan manager dan leader kelas, yang menata dan membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran, (4) Memasukkan aspek teknologi informasi, baik sebagai bagian dari materi pembelajaran ataupun hanya menggunakan sebagai media pembelajaran, (5) Menambahkan pembelajaran bahasa asing atau bahasa internasional, untuk menyiapkan generasi yang lebih mumpuni untuk mengembil peran dalam kehidupan di masa depan, dan (6) mengembangkan potensi anak dalam banyak bidang yang bervariasi. Dalam artian, sekolah menyiapkan banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi anak baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik secara berimbang. Sehingga, setiap capaian apapun bentuk dan bidangnya selalu dihargai.

Dalam konteks guru, sekolah-sekolah unggul memiliki rancangan yang matang untuk meningkatkan kualitas guru. Guru adalah “mayoret” orchestra pembelajaran sehingga ia harus dipilih dari orang-orang yang terbaik, atau setidaknya ada upaya yang konsisten untuk meningkatkan kulaitas guru. Guru yang cerdas, kreatif, inovatif, dan inspiratif dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Selain itu, guru adalah teladan nyata dari para siswa, sehingga performance guru harus merupakan yang terbaik.

Saat ini kita dapat menemukan sekolah-sekolah unggulan yang menampilkan variasi menu unggulan dalam berbagai sajian. Kebanyakan sekolah Islam mengunggulkan program tahfidzul qur’an atau madrasah diniyahnya. Pada saat yang sama juga mengunggulkan program-program bilingual atau bahkan multi bahasa. Tidak luput dari sasaran sekolah-sekolah ini adalah penguatan di bidang ekstra kurikuler, seperti musik, tari, seni rupa dan lain-lain.

Matematika itu Menyenangkan!

Pelajaran matematika sering menjadi momok. Belum belajar para siswa sering mengatakan : “Waduh, saatnya matik…”. Para siswa seperti trauma terhadap pelajaran yang dianggap paling sulit, rumit, dan membutuhkan kecerdasan yang tinggi. Apalagi, guru matematika seringkali identik dengan guru yang killer. Sehingga “ketakutan” anak-anak terhadap matematika pun semakin menjadi. Padahal seharusnya, belajar matematika tidak harus tegang, serius, atau kaku. Matematika adalah ilmu pasti yang jika guru mampu berkreasi dapat mengajarkannya dengan cara yang lebih sederhana, mudah dipahami, bahkan menyenangkan.

Sebelum mengajarkan matematika, guru harus bisa meyakinkan para siswa bahwa matematika itu mudah dan menyenangkan. Hal itu merupakan PR para guru matematika, agar sejak awal sugesti siswa dapat terbangun dengan positif. Ketika hal itu terjadi, pembelajaran matematika akan lebih nyaman dilaksanakan. Sebaliknya, jika ketakutan pada matematika tetap “terpelihara” maka para guru sudah mendapatkan tugas berat bahkan sebelum mengajarkan pelajaran yang selalu berkaitan dengan angka itu.

Aulia Burhanudin, menjelaskan beberapa langkah yang harus dilakukan oleh guru agar matematika itu menyenangkan, antara lain:

Pertama, pelajarilah matematika bab demi bab. Dalam hal ini, guru harus memastikan bahwa siswa sudah memahami bab tersebut dengan baik sebelum masuk ke tahapan berikutnya. Selain itu, pada setiap materi, guru harus menyertakan contohnya. Termasuk, contoh variasi penyelesaian soal yang di sampaikan.

Kedua, guru harus memahami benar materi yang dipelajari. Guru yang hanya memahami sebagian materi, atau mamahami materi yang disampaikan tidak secara utuh, akan membuat siswa kesulitan memahami materi. Dalam artian, guru harus benar-benar paham, baru ia dapat menjelaskan materi tersebut dengan sebaik-baiknya. Beberapa guru tidak memahami materi dengan baik, sehingga penjelasannya justru tidak membuat siswa paham akan materinya.

Ketiga, menggunakan metode pembelajaran yang rileks. Guru tidak perlu bersikap kaku dan tegang, karena hal itu justru akan membuat siswa stres. Penggunaan contoh-contoh yang sederhana dan berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari akan jauh lebih mudah dipahami siswa. Intinya, usahakan pembelajaran dilaksanakan dalam nuansa konkrit, bukan bersifat abstrak.

Keempat, jangan mentargetkan nilai. Yang terpenting adalah siswa memahami materi dengan baik, maka otomatis mereka akan mendapatkan nilai yang baik dikemudian hari. Artinya, pembelajaran harus step by step, tidak perlu mentargetkan pencapaian yang tinggi, karena hal itu justru akan menghalangi tercapainya target yang telah ditetapkan.

Kelima, jangan membandingkan seorang siswa dengan siswa lainnya. Mengapa, ketika seorang anak dibandingkan dengan anak yang lainnya, ia akan kecil hati (down) sehingga semangatnya akan pupus, sebelum ia sempat meningkatkan motivasinya.

Sebenarnya, matematika dapat juga diajarkan sambil bermain. Mengajarkan perkalian misalnya. Guru dapat meminta anak berkelompok. Kemudian menghitung berapa jumlah kelompok yang ada. Dengan begitu guru sudah dapat mengajarkan perkalian, yaitu anggota kelompok dikalikan jumlah kelompok yang terbentuk. Itulah perkalian.

Demikian juga dengan pembagian. Guru dapat membawa anak ke halaman sekolah. Seluruh anak diminta berkumpul di lapangan. Kemudian semua siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Berapa anak dalam setiap kelompok itu? Itulah jawaban pembagian seluruh siswa dibagi jumlah kelompok, hasilnya adalah anggot kelompok.

Contoh-contoh di atas merupakan upaya menyederhanakan matematika, sekaligus menunjukkan bahwa matematika tidak selalu merupakan pelajaran yang menakutkan. Matematika juga dapat diajarkan dengan bermain di luar kelas. Matematika itu menyenangkan!

Meng-include-kan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama

Hampir di semua sekolah, khususnya sekolah dasar, meletakkan kata beriman, takwa, cerdas, trampil, dan berakhlak mulia, pada paparan visi dan misinya. Hal ini menunjukkan bahwa karakter religius pada siswa merupakan dambaan setiap sekolah. Karakter religius merupakan karakter utama yang mendasari karakter-karakter lainnya.

Pendidikan karakter merupakan satu hal yang melekat pada pendidikan itu sendiri. Sejak bangsa Indonesia ada, khususnya sejak Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI) didirikan, nation and character building merupakan isu utama yang mengemuka dalam diskursus-diskursus sekala nasional. Pengembangan nasionalisme memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Apalagi, belum lama setelah kemerdekaan diproklamasikan, pemberontakan-pemberontakan dan keinginan memisahkan diri mulai bermunculan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Oleh karena itulah mengapa hampir semua agama yang masuk ke Indonesia diterima dengan “lapang dada” oleh bangsa Indonesia. Enam agama yang diakui oleh negara merupakan bukti lain bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa religius.

Pengembangan pendidikan berbasis agama dapat diterima dengan baik oleh bangsa Indonesia. Hampir semua agama di Indoneisa memiliki lembaga-lembaga pendidikan untuk menguatkan dan mengembangkan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya. Lembaga pendidikan berbasis agama selalu disambut dengan baik oleh umat beragama dalam komunitasnya masing-masing.

Hal-hal di atas seolah-olah menunjukkan kesepakatan semua komponen bangsa bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang dapat di-include-kan dengan pendidikan agama. Pendidikan agama mengajarkan aspek-aspek religiusitas seperti aspek kepercayaan, ritual, penghayatan, dan puncaknya adalah perilaku. Dengan demikian, semua agama dalam konteksnya masing-masing, seperti menegaskan bahwa perilaku yang baik atau akhlak yang mulia merupakan perwujudan dari kebaikan beragama.D

Dalam Islam, akhlakul karimah merupakan puncak dari rasa keberagamaan seorang muslim. Seorang muslim yang baik bukan saja yang sholatnya rajin tetapi juga harus menunjukkan bahwa shalat yang dijalankannya membawa pengaruh terhadap perilakunya. Islam juga menekankan pentingnya menjaga perilaku baik dengan orang tua, guru, pemimpin, tetangga, tamu, dan seterusnya. Bahkan Islam mengajarkan akhlak yang baik dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Dalam Islam diajarkan larangan tentang kesia-siaan. Kita tidak boleh menebang pohon jika tidak bisa menunjukkan alasan manfaat atau tujuan menebang pohon itu. Islam sangat menghargai kebersihan lingkungan, sehingga sungai tetap berair jernih, udara tetap sejuk, dan lingkungan tetap terjaga bersih.

Cendekiawan Muslim Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul Islam Agama Ramah Lingkungan mengatakan, menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa. Menurut dia, ini tak diragukan lagi. Sebab, rusaknya lingkungan, pencemaran, dan pelecehan terhadap keseimbangannya akan membahayakan kehidupan manusia. (https:/republika.co.id)

Bahkan dalam menyembelih hewan pun Islam mengajarkan untuk menggunakan pisau yang tajam. Ini menunjukkan bahwa Islam juga memperhatikan hubungan baik dengan makhluk Allah Swt yang lain, yaitu hewan. Rasululah Saw bersabda, yang artinya :

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata, “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dengan pendidikan agama. Mengapa? Karena pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter itu sendiri. Di dalam pendidikan agama, kualitas baik atau tidaknya akhlak seseorang, merupakan tolong ukur kemampuan memahami dan menjalankan agamanya.