Literasi Lingkungan di Sekolah Dasar

Salah satu tema perbincangan yang mengemuka di abad 21 adalah tema literasi lingkungan. Hal ini mengemuka seiring perkembangan buruk kerusakan lingkungan dan kekhawatiran banyak orang akan kondisi bumi di masa mendatang. Kerusakan lingkungan telah dianggap sangat parah sehingga global warming sangat dekat mengancam. Jika hal itu dibiarkan, bisa jadi dalam waktu yang tidak lama es di kutub akan mencair, dan bumi akan tenggelam.

Literasi lingkungan, mencakup beberapa pembahasan tentang beberapa unsur lingkungan. Menurut LPMP Yogjakarta, “literasi lingkungan yaitu mencakup kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan secara bertanggungjawab dan bermakna bagi kehidupan. Peka terhadap dampak pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggungjawab terhadap kehidupan secara global. Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan. Perubahan perilaku alam yang menyebabkan terjadinya anomali iklim, dan dampak-dampak terhadap lingkungan sebagai akibat ekploitasi alam. https://lpmpjogja.kemdikbud.go.id/strategi-pembelajaran-abad-)

Berdasarkan pengertian di atas, paling tidak kita harus menggaribawahi beberapa hal penting yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu: (1) kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan, (2) dampak terhadap pengelolaan lingkungan yang tidak bertanggung jawab, dan (3) dan perubahan iklim, serta dampaknya bagi anomali iklim.

Oleh karena itu, sejak dini, lembaga-lembaga sekolah baik di strata pra sekolah dan sekolah dasar, sekolah menengah, dan seterusnya, harus membicarakan hal-hal pokok tentang pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan. Lingkungan merupakan fasilitas yang telah disiapkan Allah untuk manusia, artinya itu hak manusia untuk memanfaatkannya. Namun demikian, pada saat yang sama manusia memiliki kewajiban untuk memelihara dan melestarikannya.

Di sekolah dasar, guru bisa mengawali pembelajaran tentang lingkungan, dengan mengajak siswa untuk mananam bunga di taman atau kebun sekolah, menjaga dan memeliharanya. Guru dapat membuat jadwal “perawatan” taman atau kebun sekolah, sehingga para siswa memiliki jadwal menyiram, memupuk, atau menyiram tanaman serta menyiangi rumput. Anak-anak juga diwajibkan menjaga kelestariannya dengan tidak bermain bola di sekitar taman. Di kelas, guru dapat mendiskusikan, memutar video, atau menunjukkan gambar-gambar yang mendeskripsikan kerusakan lingkungan akibat tidak terpeliharanya alam.

Selanjutnya, diskusi dapat dilanjutkan tentang terjadinya anomali iklim. Anomali iklim tersebut dapat menyebabkan curah hujan di bawah normal yang mengakibatkan kekeringan panjang ataupun curah hujan di atas normal yang mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.  Di Indonesia, fenomena anomali iklim  yang umum dikenal dan paling dominan antara lain El NiƱo Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Sebagai tindak lanjut, diskusi dilanjutkan dengan langkah-langkah yang perlu disiapkan dalam menghadapi anomali iklim tersebut. Menghemat air dengan berbagai macam cara dan pendekatannya, merupakan salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi kekeringan yang panjang. Lebih lanjut, dapat dijelaskan bagaimana menjaga kelestarian hutan dan reboisasi untuk mencegah timbulnya kekeringan. Sementara untuk menghadapi banjir, kita dapat mendiskusikan tentang menajga kebersihan lingkungan, membuang sampah di tempat yang tepat, normalisasi saluran air, dan seterusnya.