“Makanan Qolbu” Para Siswa

Manusia adalah makhluk Allah Swt yang paling sempurna. Ia diciptakan Allah Swt dengan tugas yang berat dan mulia. Tugas utama manusia adalah beribadah. Tugas beratnya adalah menjadi khalifah fi al ard, sang pemelihara bumi. Untuk tugas itu manusia dibekali ilmu adan akal. Ilmu diajarkan Allah Swt kepada Nabi Adam, A.S, dan berlanjut kepada anak cucu beliau hingga kepada kita. Sedangkan akal diberikan Allah Swt kepada kita sebagai alat untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Manusia terdiri dari dari dua unsur utama, jasmani dan rohani. Jasmani adalah wujud fisik manusia, yang membutuhkan makanan dan minuman serta udara untuk dapat bertahan hidup. Selain itu manusia juga butuh nutrisi untuk tumbuh. Sementara unsur rohani membutuhkan “makanan” lain berupa ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan lain-lain.

Seorang yang sehat secara jasmani, belum tentu sehat pula rohaninya. Kesehatan jasmani dapat diukur seberapa sehat tubuhnya, seberapa kuat tenaganya, atau apakah seseorang merasakan sakit atau tidak. Sementara untuk mengetahui kesehatan rohani, para psikiater melakukan beberapa test untuk mengetahuinya. Sementara secara umum kita dapat melihat dari cara berpikir, bersikap, berinteraksi, bertingkah laku, dan seterusnya.

Biasanya orang tua sangat perhatian terhadap kebutuhan fisik anak. Seorang ibu senantiasa akan senantiasa memperhatikan makanan dan minuman anaknya sejak kecil hingga dewasa. Para ibu lebih memilih membawa makanan yang seharusnya dimakan di tempat acara untuk diberikan anaknya di rumah. Makanan yang bergizi seimbang, variatif, berkualitas, dan seterusnya, menjadi topik perbincangan para ibu setiap harinya. Untuk kepentingan ini, orang tua rela melakukan apa saja, asal anak-anaknya tidak kelaparan.

Tapi, bagaimana dengan “makanan rohani” anak-anaknya? Apakah orang tua juga memperhatikan sedemikian rupa? Atau apakah para ibu juga begitu perhatian terhadap anak-anaknya?

Satu hal yang paling dibutuhkan anak dari orang tuanya adalah ridlo. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah do’a. Ridlo dan do’a orang tua merupakan hal-hal utama yang sangat dibutuhkan anak dalam mengarungi hidupnya. Kehidupan yang dijalani seorang anak, dari kecil hingga dewasa, tentu tidak bisa lepas dari permasalahan yang harus diselesaikannya. Ketika kecil, anak memiliki masalah-masalah dengan tugas-tugas sekolahnya, demikian sampai ia menyelesaikan pendidikannya. Ketika masuk dunia kerja, anak-anak juga akan bertemu dengan tugas-tugas dan persoalan di dunia kerja. Demikian seterusnya. Artinya, anak tetap membutuhkan dukungan dari orang tua, berupa ridlo dan doa, sampai kapan pun juga.

Oleh karena itu, para ulama mengajurkan kita untuk senantiasa mendo’akan anak-anak kita. Salah satunya adalah dengan membacakan Surat Al Fatihah, kita khususkan pada anak-anak kita. Mengapa? Di rumah ayah dan ibu yang menjaga anak, di sekolah ada bapak dan ibu guru, kalau di luar rumah dan tidak di sekolah? Siapa yang menjaganya? Tentu Allah Swt yang menjaganya. Dengan begitu seolah-olah kita “memasrahkan” anak-anak kita kepada Allah Swt. Biar malaikat Allah Swt yang menjaga anak-anak kita.

Selain itu, hati anak-anak kita juga perlu di sentuh. Ayah dan ibu harus mengkoneksikan hatinya pada sang anak, dengan cara yang sama, yaitu membacakan Surah Al Fatihah kepada anak-anaknya. Mengapa? Hati anak-anak merupakan sesuatu yang rapuh, yang mudah berbolak-balik. Dengan membaca Surah Al Fatihah yang kita tujukan pada anak-anak kita, kita menyerahkan hati anak-anak kita, pada sang muqoliba al qulub, yaitu Allah Swt, supaya tepat diarahkan pada agama-Nya.

Selain orang tua, tentu guru memiliki keterikatan dengan anak-anak. Di rumah, anak-anak adalah milik orang tua, tetapi di sekolah, para siswa adalah “anak ideologis” dari para guru. Sehingga, para guru pun juga harus dapat menjaga anak, baik dari ancaman fisik maupun keterpurukan hati. Guru seharusnya sering-sering mendo’akan anak-anak didiknya, serta mengirimkan Surah Al Fatihah untuk para siswa, agar mereka dapat hadir di majelis ilmu, dengan fisik yang sehat, hati yang tenang dan terbuka untuk menerima cahaya ilmu. (ans)