Meletakkan Dasar Pendidikan

Mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Anak merupakan anugerah yang terindah yang diberikan Allah Swt kepada orang tua. Anak membutuhkan banyak hal dari orang tua. Makan, minum, tempat tinggal, kasih sayang, perlindungan, bimbingan, pembelajran, pendidikan, dan do’a. Pendeknya, memenuhi semua kebutuhan jasmani dan rohani anak merupakan tanggung jawab orang tua.

Menjadi orang tua bukan perkara mudah. Semua orang harus belajar menjadi orang tua. Belajar menjadi orang tua sangat penting agar kita benar-benar dapat menjadi orang tua yang memahami peran dan fungsinya. Lebih lanjut, tentu harus dapat melakukan tanggung jawab yang diberikan Allah Swt kepada setiap orang tua. Sebaliknya, anak juga harus melakukan hal yang sama, yaitu dapat melakukan kewajibannya sebagai anak dengan sebaik-baiknya.

Salah satu kewajiban orang tua adalah mendidik anak. Pada prinsipnya, mendidik adalah upaya mendewasakan anak. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Anak adalah anak. Anak memiliki karakter yang tersendiri, tidak sama dengan yang dimiliki oleh orang tua. Anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil, tetapi makhluk Allah Swt yang memiliki karakter yang unik. Hampir setiap anak menyukai permainan daripada pekerjaan. Mereka memiliki dunianya sendiri berupa fantasi dan angan-angan. Sehingga, banyak hal yang sebenarnya menurut orang tua adalah hal-hal sepele, bagi anak bisa jadi menjadi sesuatu yang penting.

Mendidik anak adalah sesuatu yang harus direncanakan, dipolakan, atau diprogramkan dengan baik. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mengekang anak ke dalam program dan perencanaa kita, tetapi sebagai sebuah strategi, agar orang dewasa dapat meletakkan pondasi yang kuat bagi penguatan karakter dan ilmu pengetahuannya. Jika tidak, anak akan mencari sendiri nilai-nilai yang diyakini benar, dan bisa jadi hal itu ternyata tidak benar.

Dalam hal ilmu pengetahuan, penyimpulan terhadap sebuah percobaan misalnya, upaya untuk memberi kebebasan pada anak untuk berpikir, berkreasi, dan menemukan sendiri pengetahuannya, justru baik bagi perkembangan anak. Terutama dari sisi perkembangan kognitif atau intelegensianya. Namun dalam hal-hal tertentu, anak tidak boleh dibiarkan sendiri, karena itu akan sangat berbahaya.

Sebagai contoh adalah peletakkan dasar ketauhidan. Dalam hal ini, orang tua harus benar-benar dapat membimbing anak untuk meyakini keberadaan Allah Swt dengan segala sifat-sifatnya. Selain itu, rukun Iman, rukun Islam, dan sebagainya. Anak tentu tidak dapat mencari dan menemukan sendiri Allah Swt, atau merumuskan sendiri rukun Iman dan Islam, karena itu ia memerlukan doktrin dari orang tua. Dalam hal ini, ketika anak di sekolah, maka penguatan akidah itu dapat dilakukan oleh para guru.

Anak juga harus didasari dengan keyakinan yang kuat akan agama. Paling tidak, setiap anak harus tahu bagaimana posisinya sebagai makhluk Allah Swt yang tugas utamanya adalah beribadah kepadaNya. Sehingga, keutamaan ibadah juga harus menjadi sesuatu yang dianggap penting oleh anak. Sangat indah kiranya, jika kita bisa melihat anak-anak yang sedang bermain sepak bola, atau sedang bersepeda bersama teman-temannya, tatkala waktu shalat tiba, anak-anak itu menghentikan semua aktivitasnya untuk menjalankan shalat.

Dasar akidah merupakan dasar yang paling penting dalam mendidik anak. Keyakinan pada Allah dan rasulNya merupakan modal utama bagi anak untuk mengembangkan segala potensinya. Anak dapat menjadi apa saja, dapat mempelajari apa saja, asalkan akidahnya sudah kuat, maka ia tetap akan terjada dari berbagai kemungkaran. Anak-anak dengan akidah yang kuat akan memandang sesuatu dari kemaslahatannya, bukan dari keuntungan yang diperolehnya.

Anak-anak yang memiliki keyakinan yang kuat dan pengetahuan agama yang mumpuni, akan mennggunakan uranium untuk membuat pembangkit tenaga listrik, menggunakan penguasaannya dalam IT sebagai alat untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan. Sementara anak-anak dengan kemampuan yang sama, tentu akan berpikir membuat bom uranium hanya dengan mempertimbangkan seberapa banyak penghasilan yang diperolehnya. Atau, ia akan menggunakan kemampuan ITnya, untuk “merampok” bank, menyebarkan virus yang merusak system orang lain, dan sebagainya. Sebab, pada intinya ilmu pengetahuan adalah alat, sedangkan akidah yang kuat, merupakan dasar seseorang bersikap dan menggunakan alat itu.