“Ilmu Guru” untuk Orang Tua

Pandemi Covid 19 yang belum teratasi mamaksa kita untuk melanjutkan learning from home. Artinya, orang tua masih harus agak lama untuk belajar menjadi guru. Meskipun para orang tua berprofesi sebagai dokter, pengusaha, tentara, polisi, atau profesi apapun lainnya, tetap saja meraka harus mau menjadi guru sementara bagi anak-anaknya. Bahkan, bagi orang tua yang berprofesi sebagai guru pun harus belajar lagi agar dapat mengajar anaknya sendiri. Menurut pengalaman para guru, mengajar siswa di sekolah sangat berbeda dengan mengajar anak mereka di rumah.

Bagi orang tua yang kebetulan guru, memang tidak harus banyak belajar. Banyak “ilmu guru” yang sudah dikuasai, hanya menyesuaikan dengan siswa yang dihadapi serta lingkungan belajar yang berbeda. Paling tidak, orang tua yang berprofesi guru sudah menguasai pendekatan, metode, strategi, bahkan model pembelajaran yang kiranya sesuai dengan anak mereka. Sementara para orang tua yang bukan guru akan menemui masalah-masalah baru, karena selama ini mereka mungkin saja terbiasa dengan mesin di pabrik, pasar, pasukan, pasien, atau apapun yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaan mereka.

“Ilmu guru” yang pertama adalah penyadaran bahwa anak kita bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Mereka adalah “manusia baru” yang memiliki karakteristik, dunia, sudut pandang, pola piker, dan pengalaman hidu yang masih minim. Bahkan, biasanya anak-anak memiliki dunia mereka sendiri. Sehingga apapun bagi anak bisa menjadi alat bermain yang dapat membuat mereka bahagia. Pensil, buku, alat dapur, kayu, ranting, pas bunga, dan semua hal yang mereka temui dapat menjadi alat bermain bagi anak.

Hal ini sesungguhnya merupakan modal orang tua, untuk berperan sebagai guru. Mislanya, orang tua tidak harus mengajari anak-anak dengan soal-soal matematika secara tertulis, baik dalam bentuk soal subyektif maupun obyektif. Orang tua dapat menggunakan permen untuk mengajari penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, bahkan hitung campurang. Orang tua dapat menggunakan barang-barang di dapur untuk menjelaskan benda cair, benda padat, atau benda gas. Bahkan ketika merebus air, orang tua dapat menjelaskan proses penguapan dan terjadinya mendung yang kemudian menjadi hujan. Atau, orang tua dapat menjelaskan sayur-sayuran untuk menjelaskan pertumbuhan tanaman. Intinya, dunia anak harus bisa dimasuki orang tua, sehingga dapat memanfaatkan berbagai barang untuk bermain sambil belajar.

Kedua, bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, orang tua juga harus mengetahui apa kelebihan dan kekurangan anaknya. Jangan sampai, orang tua justru tidak tahu dengan hal ini. Disini, orang tua dapat mengetahui sebenarnya sejauh mana ia dekat dengan anak-anaknya. Jika mereka dekat, tentu mereka akan tahu secara detil apa kelebihan dan kelemahan anaknya sendiri.

Ketika mereka sudah mengetahuinya, orang tua harus bisa memposisikan dirinya secara bijak. Anak yang lemah dalam matematika, memang harus dilatih agar ia dapat menguasai matematika dengan lebih baik. Tapi yang dilakukan orang tua harusnya hanya melatih, bukan memaksa anaknya untuk bisa. Sementara yang banyak dilakukan orang tua adalah merasa kecewa mengapa anaknya tidak bisa matematika, IPA, Bahasa Inggris, atau pun pelajaran yang lain. Rasa kecewa itu akan menghasilkan ketidaknyamanan dalam mendampingi anak learning from home. Alhasil, rasa itu akan membuat situasi menjadi tidak enak, dan cenderung akan terjadi “kekacauan” pada kelas yang diajar oleh orang tua.

Ketiga, orang tua seharusnya menjadi pendamping dan membantu menyelesaikan persoalan, bukan sebaliknya menambah persoalan. Namun demikian, orang tua tidak boleh serta merta mewakili anak mengerjakan tugas dari guru. Sebab, hal ini akan menjadi kontraproduktif dari tujuan pembelajaran itu sendiri, yaitu membanngkitkan motivasi, memicu rasa ingin tahu, dan mengasah kemampuan menyelesaikan masalah para siswa. Sehingga, orang tua tetap harus harus menjadi assistant, bukan menjadi stunt man.

Keempat, orang tua harus dapat memberikan motivasi. Baik dengan kata-kata yang membangun, memberikan pujian, memberikan semangat, sampai pada memberikan reward pada anak jika dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Dengan begitu, anak menjadi termotivasi untuk bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan.