Archives July 9, 2020

Jurnalistik di SD, Memang Bisa?

Kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu kegiatan di luar jam belajar yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat dan bakat siswa. Minat dan bakat itu bisa meliputi bidang seni, olahraga, keagamaan, dan lain-lain. Bidang seni seperti seni suara, seni rupa, sastra, dan seni drama. Bidang olah raga meliputi olah raga permainan, atletik, renang, dan lain-lain. Sedang pada bidang keagamaan, khususnya agama Islam, antara lain MTQ, seni kaligrafi, seni sholawat, dan lain-lain.

Salah satu ekstrakurikuler yang tidak umum dilaksanakan di sekolah dasar adalah jurnalistik. Roland E. Wolseley dalam buku Understanding Magazines (1969): menjelaskan bahwa jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada suratkabar, majalah, dan disiarkan.

Berdasarkan jenisnya, jurnalistik dapat dibedakan menjadi:

1. Jurnalistik Cetak (printed journalism) — yaitu proses jurnalistik di media cerak (printed media) koran/suratkabar, majalah, tabloid.

2.  Jurnalistik Elektronik (electronic journalism) atau Jurnalistik Penyiaran (Broadcast Journalism) — yaitu proses jurnalistik di media radio, televisi, dan film.

3.  Jurnalistik Online (online journalism) atau Jurnalistik Daring (dalam jaringan — yaitu penyebarluasan informasi melalui situs web berita atau portal berita (media internet, media online, media siber).

Ekstrakurikuler jurnalistik, banyak diterapkan di sekolah-sekolah menengah, mulai tingkat SMP dan yang sederajat, SMA, dan Perguruan Tinggi. Pada umumnya wujud kegiatannya berupa penerbitan buletin sekolah, membuat blog atau website, dan majalah kampus. Pelatihannya sendiri umumnya terfokus pada kegiatan produksi naskah jurnalistik dalam bentuk terbitan-terbitan di atas. Pelatihan secara khusus seperti bagaimana cara menulis berita, bagaimana cara menulis puisi, menggambar ilustrasi, dan sebagainya, diberikan secara terpisah oleh sekolah melalui guru seni, guru bahasa Indonesia, atau lembaga-lembaga kursus di luar sekolah.

Lantas, bagaimana dengan jurnalistik di sekolah dasar? Mungkinkan ekstrakurikuler jurnalistik dilaksanakan di sekolah dasar? Jika pertanyaannya hanya mungkin atau tidak mungkin, tentu jawabnya adalah mungkin. Hanya saja, bagaimana kemungkinan-kemungkinan itu dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah dasar?

Produk jurnalistik di sekolah dasar tidak harus diartikan sebagai kegiatan menghasilkan produk berupa buletin, majalan, koran, dan sebagainya. Jurnalistik dapat dimulai dari bagaimana siswa dapat menyusun kata menjadi kalimat yang benar, lalu bagaimana kalimat-kalimat itu menjadi paragraf yang baik dan benar, serta bagaimana kalimat-kalimat itu menjadi teks yang baik. Anak-anak tidak harus dapat membuat teks panjang, tetapi cukup membuat “lima paragraf” yang baik dan benar.

Selain itu, jurnalistik dapat juga dilaksankan dengan mengajari anak membuat puisi. Anak-anak dikenalkan dengan olah kata dan olah rasa dalam puisi, mulai tema-tema sederhana dan akrab dengan anak-anak seperti tentang teman, ibu, ayah, binatang piaraan, bunga, dan sebagainya.

Lebih lanjut, anak-anak juga patut dikenalkan dengan cerita anak. Cerita anak dipilihkan cerita-cerita yang mengandung unsur pendidikan karakter sehingga nilai-nilai karakter juga masuk di dalamnya.

Untuk semua tugas yang diberikan, tetap harus dilakukan setelah anak dikenalkan dengan contoh materi sekaligus penjelasannya. Anak-anak baru diminta membuat puisi, membuat teks, dan mengarang ceritanya sendiri, sesuai kemampuannya. Di awal, tentu rangkaian kata anak-anak akan sangat beragam. Dari situlah guru pembimbing dapat melihat mana anak yang berbakat pada bidang jurnalistik, dan mana yang tidak.

Lebih lanjut, anak-anak juga patut dikenalkan dengan cerita anak. Cerita anak dipilihkan cerita-cerita yang mengandung unsur pendidikan karakter sehingga nilai-nilai karakter juga masuk di dalamnya.

Untuk semua tugas yang diberikan, tetap harus dilakukan setelah anak dikenalkan dengan contoh materi sekaligus penjelasannya. Anak-anak baru diminta membuat puisi, membuat teks, dan mengarang ceritanya sendiri, sesuai kemampuannya. Di awal, tentu rangkaian kata anak-anak akan sangat beragam. Dari situlah guru pembimbing dapat melihat mana anak yang berbakat pada bidang jurnalistik, dan mana yang tidak.

Untuk materi yang lebih komplit, sekolah dapat mendatangkan wartawan. Selain menyampaikan materi, kehadiran wartawan di sekolah juga dalam rangka memberi motivasi. Apalagi jika wartawan yang didatangkan merupakan sosok yang telah dikenal anak-anak, tentu hal ini akan lebih menyemangati.

Materi yang disampaikan tentu tidak harus sangat detil. Anak cukup diajari unsur-unsur utama dalam sebuah berita, yaitu 5W+1H, yaitu who, what, where, when, why, dan how. Narasumber juga dapat memberikan contoh-contoh berita sederhana, sembari menunjukkan teks yang bukan berita. Sehingga, paling tidak siswa dapat membedakan mana teks jenis berita dan mana yang bukan berita. Di akhir kegiatan, siswa diharapkan dapat memproduk berita, meskipun hanya satu paragraf. 

Presentasi hasil karya anak dapat ditempel di dinding sekolah dalam bentuk majalah dinding. Warga sekolah dapat memberikan apresiasinya pada karya tersebut. Para guru dapat menyemangati anak dengan memberikan apresiasi berupa penghargaan dengan mengumumkannya pada upacara bendera, atau di masing-masing kelas tempat anak belajar. Dengan begitu anak akan merasa dihargai karyanya.

Muridku Pintar Sekali

Semua guru pasti mendambakan murid yang cerdas, pandai, aktif, kreatif, dan berakhlak mulia. Itu semua merupakan kondisi ideal yang diharapkan oleh guru dan orang tua. Anak yang cerdas cepat menerima materi,. Anak yang aktif membuat suana pembelajaran menjadi dinamis. Anak yang kreatif dapa menyelesaikan masalah dengan berbagai kreasi. Dan yang terpenting, anak yang berkhlakak mulia akan menghormati gurunya, mentaati orang tuanya, dan menyayangi teman-temannya, dan terutama taat pada Allah dan Rasulnya.

Pada saat masih menjadi wali kelas saya mempunyai murid yang istimewa. Betapa tidak, hobinya membaca, luar biasa. Pengetahuannya luas. Pertanyaannya “aneh-aneh”, bahkan pada materi yang belum diajarkan gurunya. Sehingga, “terpaksa” saya harus bersiap dengan logika dan pengetahuan yang bisa menjadi modal menjawab pertanyaan teman-temannya.

Untungnya, anak ini hanya tertarik pada sains. Sehingga pertanyaan-pertanyaannya tidak terlalu membebani saya dengan hafalan. Sain adalah logika. Nama dan hafalan memang penting, tapi tidak terlalu penting juga. Logikan hukum alam jauh lebih mudah dipahami dan dapat “menenangkan” gejolak ingin tahu murid saya yang hebat ini.

Suatu saat pelajaran tematik saya pas membahas muatan ilmu pengetahuan alam. Materi intinya adalah tentang siklus air yang membahass tentang perubahan air dari wujud aslinya, menjadi uap, kemudian mendung lalu turun sebagai hujan dan mengalir ke laut. Ketika sudah masuk ke laut terkena panas matahari, kemudian menjadi uap lagi, jagi mendung lagi, dan seterusnya. Saya juga menjelaskan, bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Sehingga kemana saja ada tempat yang lebih rendah, maka air akan mengalir ke dalamnya.

Tiba-tiba anak ini bertanya, “Mister, kalau air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah, mengapa kita banyak menemukan sumber air justru di puncang gunung? Airnya dari mana itu? Kalau dari hujan, kan tidak setiap hari hujan. Kalau dari bawah, bagaimana? Kalau dari ikatan air yang diikat oleh akar-akar pohon, bisa juga. Tapi, hutannya juga gundul. Bagaimana?”

Tidak berhenti disitu, suatu saat yang lain, ketika saya sedang menjelaskan tata surya, ada pertanyaan yang muncul darinya. “Mister, kalau kita menempel di bumi, kenapa kita tidak jatuh. Kalau bumi mengelilingi matahari, mengapa jarak bumi dan matahari bisa tetap, tidak menjauh atau mendekat. Kan tidak ada talinya? Kok bisa begitu ya Mister?” tanyanya.

Bagiku pertanyaan demikian bagi anak kelas 4 SD merupakan pertanyaan luar biasa. Paling tidak, logika berpikirnya cukup jalan. Usut punya usut, ia memang memiliki banyak buku sain di rumahnya. Dan, hari-harinya dihiasi dengan kegiatan membaca dan membaca.

Tentu, anak ini bukan anak sempurna. Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Ada anak yang pandai matematika, tapi lemah ilmu pengetahuan sosial. Ada anak yang lemah di mapel pada umumnya, tapi hafalan dan bacaan al Qur’annya luar biasa. Ada anak yang lemah di akademis, tapi pada bidang seni dan olah raga justru menjadi jagonya.

Demikian juga dengan anak ini. Ia hebat di ilmu pengetahuan alam, tapi tulisannya…waduh…para “dokter” pun sulit membaca. Belum lagi di bidang-bidang lainnya, ketertibannya, kedisiplinannya, kerapiannya….pokoknya, nobody perfectlah. Intinya, sebagai guru ternyata kita harus “siap” menghadapi semuanya. Menghadapi anak yang cerdas dan pandai, harus punya modal. Menghadapi anak yang lemah, harus bisa memotivasi. Menghadapi anak “jahil” harus bisa mengatasi. Kalau muridnya pinter sekali, gurunya juga harus pinter sekali. (ans)

Masa Orientasi Siswa “Bukan” Baru

Diakui atau tidak, selama kurang lebih tiga bulan, anak-anak sekolah tidak memiliki “pekerjaan pasti”. Pembelajaran yang daring yang dilakukan guru tidak cukup efektif untuk menggantikan waktu belajar mereka di hari normal. Tugas-tugas yang diberikan guru cukup ringan sehingga cukup dilakukan dalam waktu kurang dari 20% dibandingkan ketika mereka berada disekolah. Sisa waktunya dihabiskan untuk menonton TV atau bermain game. Apalagi, kumpul-kumpul dengan teman juga harus dihindari karena berpotensi penyebaran Covid 19.

Sementara tidak semua orang cukup waktu untuk mendampingi anak dengan durasi yang sama dengan ketika mereka bersama bapak ibu guru mereka. Hal ini sangat wajar karena orang tua juga harus tetap bekerja agar kehidupan ekonomi keluarga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sementara siaran TV pembelajaran digital hanya berkisar 60 menit untuk satu kelompok usia siswa. Sehingga tetap saja belum dapat mencukupi untuk dapat menggantikan waktu belajar di saat normal.

Pemerintah juga tidak memiliki pilihan lahin selain “merumahkan” anak-anak. Resiko penyebaran Covid 19 masih sangat besar dan riskan serta dihantui kemunculan cluster baru di sekolah. Sementara dimasyarakat muncul dua kubu pemikiran, yang juga merupakan turunan kubu pemikiran dari para ahli, yaitu yang sangat mengkhawatirkan kebahayaan virus ini dan kubu lain yang menganggap virus ini tidak sangat berbahaya dibandingkan dengan virus-virus lainnya. Alhasil, perdebatan dan perbedaan di tingkat bawah pun menyeruak. Satu kelompok mendukung seratus persen kebijakan pemerintah, sementara satu kelompok lainnya mengabaikan bahkan menolaknya dengan terang-terangan.

Yang jelas, apapun yang terjadi, para guru akan menghadapi akan menghadapi persoalan yang cukup pelik dua atau tiga bulan ke depan. “Istirahat” dari kegiatan sekolah yang dimulai dari pertengahan Maret dan dilanjutkan bulan April, Mei, Juni, dan mungkin nanti sampai September, atau Oktber, bahkan bisa jadi sampai akhir tahun 2020, merupakan persoalan baru yang mungkin sekali akan muncul pada psikologis anak. Dalam jangka waktu yang lama tanpa kegiatan belajar yang memadai, tentu akan memunculkan “kebiasaan” baru pada anak. Sementara kita tidak yakin lagi, apakah pembiasaan-pembiasaan yang sudah diinisiasi sekolah dapat dijalankan dengan baik atau tidak.

Paling tidak, kebiasaan tidak belajar akan menjadi kebiasaan yang akan memunculkan persoalan baru. Dalam hal yang sama, kebiasaan “tidak mengajar” secara tatap muka, bisa jadi juga akan menjadi hal baru yang perlu diadaptasikan oleh para guru nantinya. Kedisiplinan para siswa dalam mengikuti pembelajaran akan mendapatkan pertentangan dengan kebiasaan siswa yang tidak belajar. Budaya konsistensi belajar lima sampai enam jam sehari akan runtuh dengan sendirinya pada saat siswa tetap berada di rumah.

Oleh karena itu, perlu persiapan-persiapan dan strategi yang khusus, agar para guru dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka nantinya. Masa orientasi kembali harus dilakukan, meskipun pada siswa yang “tidak baru”. Mengapa, karena mereka memerlukan perubahan yang landai, dari kondisi tidak belajar tatap muka, menjadi kembali belajar dengan tatap muka. Mereka memerlukan waktu adaptasi lagi, meskipun mereka masih berada di sekolah yang sama. Orientasi pasca pandemi dapat disiapkan untuk merangkai kembali motivasi belajar siswa yang mungkin selama mereka learning from home, luntur oleh aktivitas di luar sekolah mereka. (ans)

Kepemimpinan Progresif Kepala Sekolah

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu penentu keberhasilan sekolah dalam meraih visinya. Kepala sekolah merupakan nahkoda yang mengendalikan dan mengarahkan serta menentukan cepat atau lambatnya laju kapal besar yang bernama sekolah. Kreativitas dan progressivitas kepala sekolah sangat menentukan, apakah sekolah dalam waktu dekat dapat meraih cita-citanya, ataukah sebaliknya justru stagnan atau bias dengan arah yang mau dituju.

Iklim pelaksanaan pembelajaran, sebagai kegiatan utama di sekolah, selalu dinamis dan mengalami perubahan serta penyesuaian. Situasi politik, sosial, dan ekonomi dalam skala nasional dan daerah sangat mempengaruhi situasi dan kondisi sekolah. Kebijakan pemerintah yang dinamis, mungkin dalam makna berubah-berubah, memaksa kepala sekolah untuk juga menerapkan manajemen progresif dalam menjalankan laju manajemen sekolah. Jika tidak, akan terjadi kontradiksi antara kondisi ideal dengan kondisi riil yang dihadapi.

Munculnya situasi darurat karena Pandemi C19, menuntut kepala sekolah berpikir keras menyiapkan manajemen pembelajaran yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Kepala sekolah tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan pasrah bongkok-an kepada guru atau wali kelas, untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran daring, sebenarnya lebih tepat disebut pembelajaran jarak jauh pada tingkat sekolah dasar ke bawah. Kepala sekolah harus bisa memberikan arah yang jelas kepada semua guru, sekaligus membantu guru menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dilaksanakannya pembelajaran “model baru” sebagai dampak adanya Pandemi C19. Apalagi, pembelajaran daring yang dilaksanakan di masa ini, sangat tergantung kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orang tua.

Permasalahan yang sering muncul dalam pelaksanaan pembelajaran daring antara lain dapat diklasifikasikan dalam permasalahan yang berkaitan dengan guru, siswa, dan orang tua. Permasalahan yang berkaitan dengan guru misalnya masalah yang berkaitan dengan penguasaan teknologi informasi. Jika ada pertanyaan apakah semua guru telah akrab dengan smarphone dan dapat menggunakannnya, maka jawabannya adalah “iya”. Paling tidak hal itu sesuai dengan situasi dan kondisi di Jawa, khususnya di daerah perkotaan. Tetapi, jika pertanyaannya dilanjutkan dengan apakah semua guru dapat menggunakan semua fasilitas yang ada smarphone nya itu, maka jawabnya tentu “belum”. Sehingga, pembelajaran dengan fasilitas teknologi informasi, tentu tidak serta merta bermodal kemampuan guru yang sangat mumpuni di bidang IT. Alhasil, selama dua atau tiga bulan para siswa belajar di rumah, guru hanya mendasarkan pembelajarannya pada penggunaan aplikasi whatsapp saja, bukan implementasi IT secara menyeluruh.

Dari sisi siswa, dalam konteks anak-anak sekarang khususnya, penguasaan IT dalam arti smartphone oleh siswa tentu sudah tidak diragukan lagi. Ketrampilan menggunakan HP siswa bisa jadi lebih cepat daripada gurunya. Siswa kelas satu sekolah dasar, sudah banyak yang mahir dalam menggunakan HP dibanding gurunya. Apalagi siswa kelas atasnya. Tetapi dalam konteks apa? Ya khsususnya dalam hal bermain online game atau aplikasi animasi serta aplikasi ala anak-anak lainnya. Tetapi paling tidak, hal ini akan mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran daring, dengan “modal” keakraban anak dengan smartphone ini.

Selanjutnya, dari sisi orang tua, dimana selama belajar di rumah sebagian orang tua tidak bisa berada di rumah, atau tidak semua orang tua bisa mendampingi anaknya, tentu membiarkan anak belajar sendiri dengan menggunakan smartphone, juga merupakan pilihan yang meragukan. Betapa tidak, ketika orang tua membiarkan anaknya sendirian bermaian HP dalam rangka pembelajaran daring, mereka juga tidak dapat menjamin jika anaknya hanya belajar saja, bukannya bermain atau membuka content lain yang sebagian tidak tepat untuk diakses anak-anak.

Belum lagi, kepedulian orang tua terhadap tugas di rumah tentu sangat beragam. Tidak semua ibu “sabar” menjadi guru dari anak-anaknya. Apalagi bapak, bisa jadi juga “lebih tidak sabar” mengajari anak-anaknya. Sehingga, persoalan banyak muncul pada keluarga dimana ayah atau ibunya tidak berada di rumah, seperti orang tua yang menjadi TKI atau TKW, bekerja di luar kota, pekerja medis yang terpaksa meninggalkan keluarganya, dan sebagainya. Belum lagi, persoalan-persoalan latar belakang pendidikan orang tua, yang juga sangat beragam.

Berdasarkan kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan di atas, guru tentu akan menghadapi banyak persoalan dalam melaksanakan tugas mendampingi anak-anak learning from home. Kepala sekolah sebagai supervisor para guru harus menyiapkan strategi yang tepat untuk membantu guru menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi. Adalah merisaukan jika para guru menyelesaikan persoalannya sendiri, dengan tanpa berdiskusi dengan para guru lainnya atau dengan kepala sekolah, karena bisa kontraproduktif terhadap upaya membangunan citra sekolah. (ans)

Mencuri Manfaat Bonus Demografi

Pada tanggal 22 Mei 2017, Kementrian PPN/Bappenas merilis siaran pers tentang “Bonus Demografi 2030-2040; Strategi Indonesia Terkait Ketenagakerjaan dan Pendidikan”. Dalam siaran pers itu dijelaskan bahwa pada tahun 2030-2040 Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produkti (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun, dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total penduduk yang diproyeksi sejumlah 297 juta jiwa pada periode tersebut.

Kondisi itu tentu akan sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Justru pada saat negara-negara lain mengalami kekurangan jumlah penduduk produktif, Indonesia malah sebaliknya. Negara-negara Eropa dimana angka kelahiran tertekan sangat kuat, ditopang oleh budaya masyarakatkanya yang “enggan” memiliki anak, mengakibatkan Eropa kekurangan penduduk usia produktif pada masa itu. Penduduk yang saat ini sedang pada usia produktif sudah akan memasuk fase tidak produktif, sementara akan kelahiran sangatlah kurang. Demikian juga yang terjadi di negara-negara di benua Amerika, maupun negara Asia lainnya, di luar Cina dan India, yang memang memiliki modal sumber daya manusia yang sangat cukup.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari periode bonus demografi tersebut. Terutama, jika Indonesia dapat menyiapkan angkatan kerja yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang baik dan memiliki daya saing yang kuat, terutama dalam menghadapi keterbukaan pasar kerja. Jika tidak, kondisi ini akan berbalik arah, menjadi persoalan pengangguran yang tentu akan membebani anggaran negara.

Dalam hal pendidikan, anak-anak pra usia produktif pada saat ini harus mempersiapkan diri dengan berbagai kompetensi. Penguatan dan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan bahasa-bahasa internasional lainnya seperti bahasa Arab, Perancis, dan Mandarin, sangat diperlukan sebagai modal meraih kompetensi komunikasi. Mempelajari bahasa asing, apalagi bahasa internasional, bukan berarti “tidak cinta tanah air”, tetapi justru dalam rangka mempersiapkan diri untuk kejayaan bangsa dan negara di masa depan.

Selain itu, penguasaan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi sangatlah dibutuhkan karena pada saat ini kita sudah akan memasuki era Revolusi Industri 4.0 dimana penguasaan teknologi digital sangat diperlukan. Keakraban generasi muda dengan istilah-istilah dan kerja digital sangat diperlukan agar dapat meraih kesempatan kerja yang sangat terbuka luas di bidang itu, bahkan sejak masa sekarang ini. Dengan penguasaan teknologi digital, anak-anak Indonesia dapat bekerja pada perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika meskipun tanpa meninggalkan rumahnya. Bagi anak-anak generasi Z, work from home tidak saja terjadi karena Pandemi C19, tetapi memang merupakan kinerja biasa yang akan dilakukan sehari-hari senyampang tersedia jaringan internet dan alat pendukung lainnya. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan karena anak-anak kita tetap bisa hidup dengan kultur Indonesia tetapi dapat memperoleh income dengan standard dolar, euro, atau poundsterling.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah sekolah-sekolah kita telah siap akan hal itu? Dalam artian siap membekali anak-anak dengan kompetensi komunikasi berbasis bahasa Internasional, ketrampilan berbasis teknologi digital, kreativitas tanpa batas, dan tentunya dengan tetap mendasari dengan iman dan takwa, serta pemahaman Islam dan akhlak mulia. Kesiapan itu mutlak diperlukan, apalagi jika kita juga ingin mengambil bagian dalam penyebaran Islam rahmatan lil aalamiin ke seluruh penjuru dunia, dengan mengandalkan kemampuan anak-anak kita saat ini. Kesempatan ini harus kita raih, dengan mengandalkan modal tekad, kerja keras dan cerdas, serta inovasi yang tiada henti. Semoga.

Dakwah Digital untuk Generasi Millenial

Saat ini dakwah mengalami transformasi bentuk dan metodenya. Situasi dan kondisi memaksa dakwah harus dijalankan dengan berbagai strategi, sehingga ajakan kebaikan tetap dapat dilaksanakan. Kemajuan sain dan teknologi memberikan ladang dakwah baru yang memungkinkan seorang da’i memberikan pencerahan lewat saluran teknologi informasi. Sehingga pada saat ini, media sosial, website, dan platform penyedia video digital banyak digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Pada saat ini kita akan dengan sangat mudah tholabul ilmi, dengan menggunakan smartphone kita.


Namun demikian, saluran-saluran itu juga menyisakan masalah yang tidak kecil. Konten-konten yang diberikan ke masyarakat awam tidak lagi terkontrol dengan baik, sehingga masyarakat tidak bisa membedakan mana konten radikal atau moderat, mana yang diberikan dengan dasar keilmuan yang baik atau hanya berdasarkan terjemahan, mana yang berdasar pada pemahaman para ulama terdahulu atau hanya berdasarkan pemahaman sempit saja. Apalagi, menurut para ulama, ilmu itu harus bersanad. Sehingga materi yang dibahas ini jelas-jelas berdasarkan pemahaman ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipercaya.
Sebab, mudahnya mencari akses ilmu saat ini, memunculkan “ustadz-ustadz” yang agak ceroboh, sehingga memunculkan kontradiksi dengan pemahaman umum para ulama yang memiliki ilmu yang qualified. Ternyata jika dibaca secara detil, kontradiksi itu muncul bukan karena sumber pengambilan hukumnya yang berbeda, tetapi karena pemahaman yang salah terhadap makna nash yang dipakai.


Misalnya, persoalan yang muncul ketika seorang “ustadz gaul” menyebutkan bahwa semua orang di dunia, termasuk Nabi Muhammad Saw, pernah menjadi orang yang sesat. Menurutnya, hal ini berdasarkan tafsir Surat Ad Dhuha ayat 7 :


وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Yang artinya, ” Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. Sementara, ustadz tersebut memakani dengan kalimat “Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang “sesat” lalu dia memberikan petunjuk, tanpa melihat bagaimana asbab an nuzul dari ayat itu, dan tanpa mengetahui bagaiaman tafsir dari ayat tersebut menurut para ulama ahli tafsir.


Padahal, menurut Imam Jalaluddin al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam tafsir Jalalain, makna ayat tersebut adalah “(Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung) mengenai syariat yang harus kamu jalankan (lalu Dia memberi petunjuk) Dia menunjukimu kepadanya”. Sementara menurut Prof. Dr. Quraish Shihab tafsir ayat itu adalah “Bukankah Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, tidak ada satu kepercayaan pun di sekitarmu yang dapat memberimu kepuasan, kemudian Dia memberimu petunjuk kepada jalan kebenaran?”


Contoh lain adalah ketika ada seorang ustadz yang menafsirkan Surah Fatir ayat 28 :


وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Yang artinya : “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Menurut seorang dai, sebut Ustadz GN, ayat tersebut berarti : “Dan diantara manusia, dan diantara binatang, baik melata apapun jenisnya, siapa yang takut kepada-Ku maka dia ulama”. Lanjut beliau, “berarti ulama menurut Allah bisa ular, bisa ayam, bisa kambing, bisa manusia, yang penting takut kepada Allah. Bahkan gunung, karena takut kepada Allah maka dia ulama, dst….”


Padahal dalam tafsir Jallain, makna ayat ini adalah : “(Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya) sebagaimana beraneka ragamnya buah-buahan dan gunung-gunung. (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) berbeda halnya dengan orang-orang yang jahil seperti orang-orang kafir Mekah. (Sesungguhnya Allah Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Pengampun) terhadap dosa hamba-hamba-Nya yang mukmin”.

Sementara itu, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, tafsir ayat di atas adalah : “Demikian pula di antara manusia, binatang melata, unta, sapi dan domba terdapat bermacam-macam bentuk, ukuran dan warnanya pula. Hanya para ilmuwan yang mengetahui rahasia penciptaanlah yang dapat mencermati hasil ciptaan yang mengagumkan ini dan membuat mereka tunduk kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa yang ditakuti orang-orang Mukmin, Maha Pengampun segala dosa siapa pun yang berserah diri kepada-Nya.

Setelah memaparkan bahwa berbagai jenis buah-buahan dan perbedaan warna pegunungan itu berasal dari suatu unsur yang sama–yakni, buah-buahan berasal dari air dan gunung-gunung berasal dari magma, ayat ini pun menyitir bahwa perbedaan bentuk dan warna yang ada pada manusia, binatang-binatang melata dan hewan-hewan ternak tidak tampak dari sperma-sperma yang menjadi cikal bakalnya.

Bahkan sekiranya kita menggunakan alat pembesar sekali pun, sperma-sperma tersebut tampak tidak berbeda. Di sinilah sebenarnya letak rahasia dan misteri gen dan plasma. Ayat ini pun mengisyaratkan bahwa faktor genetislah yang menjadikan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia tetap memiliki ciri khasnya dan tidak berubah hanya disebabkan oleh habitat dan makanannya. Maka sungguh benar jika ayat ini menyatakan bahwa para ilmuwan yang menetahui rahasia-rahasia penciptaan sebagai sekelompok manusia yang paling takut kepada Allah”.


Ulama-ulama ahli tafsir, mendapatkan status nya, dengan modal keilmuan yang mumpuni. Ada belasan jenis ilmu yang harus dikuasai, baru mendapatkan status sebagai ahli tafsir itu. Sementara ustadz-ustadz baru hanya bermodal ghiroh yang kuat, kemampuan public speaking, punya akun medsos dengan followers yang banyak, sudah bisa menyalahkan ulama-ulama yang menghabiskan puluhan tahun mengkhususkan diri mendalami ilmu. Dan anehnya, pengikutnya juga banyak.
Kondisi diatas tentu tidak bisa dibiarkan. Para ahli ilmu zaman ini harus segera”turun gunung”memberikan pencerahan. Ilmu-ilmu ber-sanad harus segera disampaikan dengan wasilah teknologi informasi yang mumpuni. Agar pemahaman masyarakat tentang Islam tidak lagi ngawur dan menyebar acak tanpa kendali.

Inovasi Dakwah

Dakwah adalah kewajiban setiap orang. Pada intinya dakwah adalah ajakan. Ajakan untuk taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedikit apapun hal yang kita tahu tentang Islam, perlu disampaikan pada orang lain sebagai ajakan pada ketaatan. Dakwah tidak menunggu kita pintar, tapi sebatas level yang kita tahu. Namun, kita juga harus menyadari, batasa-batasan kemampuan kita, sehingga tidak melewati batas kemampuan itu. Materi dakwah yang disampaikan dengan serampangan, justru akan membahayakan keberagamaan kita.

Saat ini orang berdakwah dengan berbagai metode, cara, dan media yang berbeda. Namun tetap saja tujuannya satu, yaitu menyampaikan kebenaran dan ajakan kebaikan serta mencegah kemungkaran. Dalam Surah Ali Imron Allah Swt berfirman:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ

Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, tafsir dari ayat di atas adalah: kalian, wahai umat Muhammad, adalah umat paling baik yang diciptakan Allah di muka bumi untuk manfaat orang banyak. Yaitu, selama kalian tetap berpegang pada prinsip al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ‘an al-munkar dan beriman dengan sesungguhnya kepada Allah.

Ada banyak cara dan strategi dalam berdakwah, namun demikian prinsip berdakwah yaitu amar ma’ruf nahi mungkar serta beriman kepada Allah Swt harus senantiasa dipegang. Metode-metode seperti bercerita, berceramah, menulis, menggambar, membuat video, semua hal bisa kita lakukan untuk berdakwah. Bahkan lagu dan musik pun bisa jadi sarana berdakwah. Dengan demikian, semua orang bisa mengajak pada kebaikan dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing.

Banyak cerita hikmah yang dapat disampaikan berkdakwah. Cerita bisa diwujudkan dalam bentuk penampilan dongeng, sandiwara radio, dan yang lainnya seperti yang saat ini lagi banyak disukai generasi millenial yaitu podcast. Cerita-cerita hikmah dapat juga dimasukkan sebagai materi ceramah. Yang penting nilai-nilai atau pesan kebaikan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh audience.

Di tahun 90-an musik dan lagu banyak dilirik oleh para pendakwah untuk dipilih menjadi dakwah. Film Nada dan Dakwah yang dirilis pada tahun 1991 dan dibintangi oleh Rhoma Irama, Ida Iasha, dan KH Zainuddin MZ, menjadi inspirator munculnya nada dan dakwah lainnya dalam bentuk yang berbeda. Sejak saat itu muncul kegiatan pengajian umum yang dibarengi dengan lantunan nada-nada Islami sholawat dan lagu religi.

Gambar dan video merupakan media dakwah yang juga lagi ngetrend saat ini. Pesan gambar dapat di-post ke berbagai media dengan tambahan kata-kata penting dan bermakna juga sangat digemari pembaca. Video ceramah bahkan video ilustrasi berlatar audio dakwah juga sangat banyak ita temukan baik dalam instagram, facebook, twiiter, whatsapp, atau media sosial lainnya. Pesan dalam bentuk gambar dan video ini dianggap lebih mengena khususnya bagi mereka yang aktif dalam media sosial.

Namun demikian, ada beberapa persoalan besar dan mendasar dalam berdakwah. Pertama, mudahnya mengakses konten dakwah, sehingga siapa saja dapat menyampaikan pesan dakwah. Hanya saja, konten dakwah yang diambil menjadi sangat bebas dan tanpa filter. Orang-orang yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang kuat banyak yang mengambil langsung dari sumber utama dalam berdakwah, yaitu al Qur’an dan al Hadist. Banyak orang yang kemudian dengan berani menafsirkan sendiri makna al Qur’an tanpa modal ilmu syarat menjadi seorang mufassir al Qur’an.


Menurut Maulana Zakariyya, ada 15 ilmu yang harus dikuasai sebelum seseorang “boleh” menafsirkan al Qur’an, yaitu : ilmu lughat (untuk mengetahui makna setiap kata), nahwu (tata bahasa), sharaf (perubahan bentuk kata), istisyqaq (akar kata), ma’ani (susunan kalimat), Bayaan, (makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi), Ilmu Badi’ (keindahan bahasa), Qira’at (bacaan), Aqa’id (dasar-dasar keimanan), Ushul Fiqih (untuk mengambil dalil), Asbabun-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), Nasikh Mansukh (hukum yang sudah di hapus dan hukum yang masih tetap berlaku), Fiqih (hukum), dan ilmu Hadist.

Konten dakwah menjadi mengkhawatirkan apalagi jika pendakwah tidak mau mengikut pendapat ulama yang sudah umum atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan memahami al Qur’an dan hadist dengan baik, yang ilmu dan pengetahuannya diakui banyak orang. Mengikut pendapat ulama akan jauh lebih aman jika kita tidak memiliki cukup “modal” untuk mentafsirkan al Quran sendiri.

Kedua, permasalahan yang cukup memprihatinkan adalah penggunaan media dakwah yang kadang berlebihan dimana justru dakwahnya tertutupi oleh kepentingan medianya. Sebagai contoh adalah orang yang berdakwah dengan sarana musik dan lagu, dimana pada akhirnya musik dan lagunya justru yang dominan. Materi dakwahnya sangat minim bahkan tertutupi oleh popularitas lagunya itu sendiri. Demikian juga ketika menggunakan media film, dimana unsur seninya jauh lebih menonjol daripada dakwahnya itu sendiri.

Kehati-hatian dan evaluasi terhadap metode dakwah yang tepat sangat dibutuhkan apalagi banyak hal saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Intinya, metode, media, dan strategi berdakwah tetap harus mengutamakan kepentingan amar ma’ruf nahi mungkarnya itu sendiri dan dengan konten benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Allah Tidak Membutuhkanmu!

Suatu pernyataan yang “mengganggu” adalah ketika seseorang mengatakan: “Untuk apa shalat, tidak shalat juga bisa kaya. Lihat orang-orang Amerika, banyak yang tidak shalat, tidak Islam malahan, tapi mereka malah hidup makmur. Negara-negara Islam, yang banyak penduduknya menjalankan shalat dengan tekun, hanya menjadi negara-negara miskin, yang selalu terbelakang. “
Lantas, sebenarnya mengapa kita shalat? Mengapa kita Islam? Bagaimana kalau seluruh dunia tidak shalat? Bagaimana kalau seluruh manusia tidak mau Islam?


Menjadi muslim, mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan puasa, melaksanakan ibadah haji, dan ibadah-ibadah lainnya, semuanya adalah “keperluan” dan “kepentingan” manusia. Sama sekali bukan kepentingan Allah Swt. Seandainya semua manusia di seluruh dunia tidak menyembah Allah Swt, maka tidak terkurangi sedikit pun kemuliaan Allah Swt. Seandainya seluruh manusia di dunia, taat beribadah kepada Allah Swt, juga tidak akan menambah kemuliaan Allah Swt, karena Allah Swt adalah maha mulia.


Manusia membutuhkan Allah Swt dalam semua kehidupannya. Secara fisik, manusia membutuhkan bumi tempat ia tinggal, membutuhkan binatang dan tumbuh-tumbuhan untuk makan, membutuhkan udara untuk bernafas, membutuhkan matahari untuk mempertahankan kehidupannya, dan banyak hal lagi yang lainnya.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya: Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Tafsir dari ayat ini menurut Imam Jallaluddin Asy Syuyuthi dan Imam Jalallaludin Al Mahalli dalam Tafsir Jallain adalah : Wahai umat manusia, sungguh kalian membutuhkan Allah dalam segala hal. Hanya Allahlah yang Mahakaya dan tidak membutuhkan keberadaan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Dia berhak mendapatkan puja dan puji dalam segala situasi.


Pada saat manusia bersujud menyembah Allah Swt, tidaklah ada kepentingan Allah Swt disitu. Allah itu qiyamuhu binafsihi, berdiri sendiri, tidak membutuhkan selainnya. Kalau manusia beramal shaleh, amal shaleh itu untuknya. Manusialah yang akan menerima manfaat dari amal shalehnya itu.
Pada saat manusia mau bersyukur misalnya, maka manfaat bersyukur itu akan ada pada dirinya, pada saat itu juga! Dengan bersyukur manusia akan tentram hatinya. Dengan bersyukur akan Allah Swt akan menambahkan karunia padaNya. Sekali lagi bukan Allah yang membutuhkan syukur kita. Kitalah yang butuh bersyukur, karena ingin hati kita tentram, jiwa kita tenang, kebahagiaan bersemi, dan seterusnya. Dalam Surah An Naml ayat 40 Allah Swt berfirman:


وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Artinya : Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.

Lantas, bagaimana kalau manusia ingkar akan nikmat Allah Swt, atau bahkan mengingkari kekuasaanya? Bukankah sekarang ini, atau mungkin sejak dahulu, banyak orang yang merasa bahwa apa yang diperolehnya adalah karena kerja kerasnya. Apa yang dicapainya, adalah karena usahanya belaka? Dalam Surah Ibrahim ayat 8 Allah Swt berfirman:


وَقَالَ مُوسَىٰ إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya : Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan tafsir ayat ini : Mûsâ berkata kepada kaumnya pada saat mereka ingkar dan membangkang, “Apabila kalian dan semua penduduk bumi mengingkari nikmat-nikmat Allah dan tidak mau bersyukur dengan keimanan dan ketaatan, maka hal itu tidak akan merugikan Allah sama sekali, karena Allah tidak membutuhkan kesyukuran manusia. Dia terpuji karena zat-Nya, dan tetap terpuji walau tidak ada seorang pun yang memuji-Nya.

Tentang hal ini, Allah Swt berfirman dalam sebuah hadist Qudtsi :


يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

Artinya : “Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Alhasil, semua yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk kita. Namun, tetap saja, niat utama dari semuanya adalah lillahi ta’ala. Kita shalat karena Allah Swt, tetapi manfaat shalat adalah untuk kita. Kita bersedekah karena Allah Swt, tetapi manfaat dari bersedekah adalah untuk kita sendiri. Allah sama sekali tidak mengambil manfaat dari ibadah kita, tetapi kitalah yang mengambil manfaat dari ibadah kita itu sendiri, baik manfaat di dunia maupun di akhirat.

Kontrol Sosial di Masa Pandemi

Sampai saat ini, kebijakan pemerintah untuk learning from home belum juga bisa dicabut. Hal ini dikarenakan penyebaran virus corona diberbagai wilayah masih belum juga dapat dikendalikan. Bahkan dibeberapa daerah dengan penularan tertinggi seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, angka pertambahan kasus baru terinfeksi masih cukup tinggi. Oleh karena itu, kementrian pendidikan masih menerapkan kebijakan belajar dari rumah, untuk melindungi anak dari terpapar virus corona itu.

Lamanya anak tidak ke sekolah, menyisakan persoalan baru yang harus diwaspadai. Anak sudah tidak lagi terbiasa bangun pagi karena tidak harus pergi ke sekolah. Anak juga tidak harus segera tidur karena besuk tidak harus bangun pagi. Tugas-tugas guru, yang sesuai kebijakan harus dikurangi, dapat diselesaikan oleh para siswa dalam waktu yang tidak lama. Sehingga, para siswa masih memiliki sisa waktu yang cukup panjang untuk melakukan banyak hal. Sementara para orang tua juga sudah mulai sibuk dengan urusan pekerjaannya, sehingga waktu mereka untuk berada di rumah bercengkrama dengan anak-anak juga semakin berkurang.

Anak-anak mulai memiliki kebiasaan baru. Salah satunya adalah nongkrong di poskamling. Di tempat ini anak akan bergaul dengan siapa saja, termasuk orang dewasa yang memiliki kebiasaan yang bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang dibiasakan di sekolah. Anak akan sering bertemu dan bergaul dengan orang dewasa merokok, bermain kartu, atau bercakap-cakap “ala orang dewasa”. Sehingga masukan informasi baik visual maupun auditif diterima anak dengan bebas tanpa filter dari siap pun. Apalagi orang tua juga terkesan banyak membiarkan anak-anak berada di lingkungan itu asalkan anak tidak nangis, tidak main di tempat berbahaya, atau tidak bertengkar dengan temannya.

Padahal dalam kondisi ini, kita sedang membiarkan anak untuk mendapatkan informasi tanpa filter yang jelas. Dalam kelompok orang-orang dewasa di poskamling misalnya, tentu mereka akan membicarakan informasi banyak hal, termasuk informasi khas orang dewasa. Ketika anak bersama mereka, otomatis mereka juga akan mendengarkan informasi-informasi tanpa batasan usia. Dari sisi sosial, tentu diskusi antara orang dewas tidak terbatas pada hal-hal yang dapat diterima anak secara vulgar. Banyak informasi yang mungkin anak tidak bisa memahami secara pasti dan harus menginterprestasikannya berdasarkan modal kemampuan mereka. Alhasil, hal ini tentu akan mengganggu pola pikir anak secara psikologis.

Dipihak lain, kebiasaan-kebiasaan merokok dan bermain kartu di poskamling, tentu tidak tepat untuk perkembangan anak. Memang pada umumnya di tempat itu mereka hanya bermain kartu untuk “membunuh” waktu. Namun kebiasaan itu juga akan menumbuhkan kebiasaan anak bermain kartu, sehingga bisa jadi ketika mereka sekolah, mereka juga terganggu oleh kebiasaan baru itu.

Demikian juga dengan rokok. Di sekolah anak-anak berusaha sekuat tenaga dijauhkan dari rokok. Orientasinya adalah faktor bahaya merokok bagi kesehatan mereka. Namun, pada saat mereka tidak bisa belajar dengan tatap muka, mereka akan menemui kebiasaan merokok sebagai kebiasaan umum dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Namun demikian, adalah dilematis ketika memaksa anak tetap berada di rumah. Apalagi, kalau orang tua telah menyiapkan hanphone yang canggih dan wi-fi unlimited, kebiasaan lain tentu akan tumbuh juga. Kebiasaan berselancar di dunia maya seharian penuh, atau bermain game online dengan teman di seluruh dunia, tentu akan menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi anak-anak. Padahal dari sudu fisiologis maupun psikologis hal itu akan membahayakan anak jika dilakukan terus menerus. Kasus-kasus gangguan penglihatan dan kejiwaan akibat bermain game yang terlalu lama, tentu harus menjadi pertimbangan orang tua membiarkan anaknya dalam kondisi itu.

Alhasil, perlu kerjasama dan kesadaran bersama, antara semua komponen yang ada di masyarakat, orang tua, para guru, pemerintah, dan para tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Paling tidak, untuk memberikan iklim yang lebih baik di dunia luar sekolah. Dengan cara, memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar masyarakat juga ikut melakukan kontrol sosial, yaitu bahwa semua anggota masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga anak-anak. Anak siapa pun yang ditemuai, dalam kondisi apapun anak itu, setiap orang harus saling menjaga, agar anak tidak terlalu jauh keluar dari track nya sebagai anak. Semua komponen masyarakat memiliki tanggung jawab sosial yang sama untuk menjaga generasi yang lebih baik di masa akan datang.