Archives July 12, 2020

Menyisipkan Gambar dan Video pada Google Form

Belajar dari rumah mewajibkan guru untuk senantiasa berinovasi. Dengan menggunakan google form, Bapak dan Ibu Guru dapat memberikan penugasan yang sederhana, tetapi tetap dapat menampilkan performa yang baik. Salah satu diantaranya adalah dengan menyisipkan gambar atau video, kemudian anak-anak mengamati gambar itu, dan kemudian Bapak/Ibu Guru memberikan penugasan dengan soal HOTS.

Berikut cara menyisipkan gambar dan video pada google form.

1 – Pastikan sudah masuk pada laman google form

2 – Buat pertanyaan untuk mengisikan Nama Lengkap dan Nomer Absen (jika dikehendaki)

3 – Untuk menyisipkan gambar, pilih icon “tambahkan gambar” yang ada disebelah kanan.

4 – Maka muncul kotak dialog sebagai berikut.

5 – Klik “cari”, kemudian pilih gambar yang ada di komputer yang sesuai dengan yang dibutuhkan, kemudian klik “open”.

6 – Ketik perintah untuk memperhatikan dan mengamati gambar, pada pertanyaan yang ada di atas gambar. Misalnya kalimat “Perhatikan gambar berikut ini!”

7 – Selanjutnya buatlah pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan gambar tersebut, dengan memilih tanda plus (+) di sebelah kanan gambar.

8 – Maka akan muncul tempat menuliskan pertanyaan sesuai yang diinginkan…

9 – Berikutnya, untuk menyisipkan video, kita dapat memilih icon video (yang mirip icon youtube), tepat berada di bawah icon untuk menyisipkan gambar, setelah sebelumnya menambah kolom pertanyaan.

10 – Dari perintah itu, akan muncul kotak dialog sebagai berikut.

11. Ketikkan judul video yang diinginkan, pada kotak dialog di sebelah icon youtube, tekan enter.

12 – Pilih video yang diinginkan, klik pilih.

13 – Ketik perintah pada kolom “pertanyaan” di atas video.

14. Klik tanda plus (+) di sebelah kanan, untuk menambahkan pertanyaan tentang video.

15. Pilih kirim, klik pengiriman menggunakan url, muncul alamat link yang panjang, perpendek link nyal, lalu pilih salin, dan paste kan di chat whatsapp orang yang dituju atau grup whatsapp yang diinginkan.

Cara Mudah Menggunakan Google Form

Google form adalah sebuah tool yang disiapkan google untuk membuat survei, formulir, kuis, dan berbagai keperluan lainnya. Melalui google form kita bisa memberikan tugas kepada orang lain untuk mengisi formulir, menjawab pertanyaan, atau memilih jawaban sebuah angket (questioner).

Cara menggunakan google form adalah sangat mudah, tidak berbayar, dan bisa melakukan banyak hal. Untuk pembelajaran online google form dapat digunakan guru untuk mengirim tugas pada siswanya, sekaligus menyimpan jawaban siswa, dan membuat penilaian. Berikut cara mudah untuk menggunakan google form.

1 – Buka browser, bisa menggunakan (chrome, mozilla firefox, opera, dll)

2 – Ketik google form pada menu pencarian

3 – Pilih Google Formulir – buat dan analisis survei, gratis.

4 – Pilih “buka google formulir” ….

5 – Masukkan email, lalu klik berikutnya, kemudian isikan password (jika anda sudah masuk ke akun google sebelumnya, langkah ini tidak diperlukan lagi)

6 – Kita masuk ke laman google form. Formulir pertama sudah siap. Silakan mengetikkan nama formulir, seperti “Formulir Pendaftaran”, atau “Soal Ulangan”, atau “Lembar Kegiatan Siswa”, dan lain-lain

7 – Ketik pada “pertanyaan tanpa judul”, untuk mengetikkan pertanyaan pertama, biasanya “Nama Lengkap” anak, jika form ini digunakan untuk memberikan tugas Lembar Kerja Siswa, Kuis, atau ulangan. Perhatikan teks yang diblok. Jenis jawaban langsung berupa “jawaban singkat”, karena google telah mengenali maksud pertanyaan.

8 – Pilih tanda plus (+) di sebelah kanan untuk membuat pertanyaan berikutnya sesuai yang dibutuhkan.

9 – Ketik pertanyaa baru pada kolom pertanyaan, pilih jenis jawaban yang dibutuhkan, bisa “Jawaban singkat”, “paragraf”, atau “pilihan ganda”, dan seterusnya, sesuai yang dibutuhkan. Dalam contoh ini akan kita pilih jawaban “pilihan ganda”.

10. Setelah memilih jenis jawaban pilihan ganda, kita bisa memasukkan pilihan jawaban, dengan mengetikkan jawaban pada opsi 1, kemudian setelah jawaban pertama selesai tekanlah “enter” untuk pindah ke jawaban berikutnya. Jangan lupa aktifkan tombol “wajib diisi”

11 – Setelah selesai soal pertama, kembali kita pilih tanda plus (+) di sebelah kanan, untuk pindah ke pertanyaan berikutnya.

12 – Lanjutkan sampai semua pertanyaa diselesaikan.

13 – Setelah semua pertanyaan selesai, pilih “kirim”, yang ada dibagian atas kanan layar.

14 – Setelah di klik kirim, maka akan muncul kotak dialog berikut ini.

15 – Kotak dialog di atas, memberikan pilihan bagaimana cara kita mengirimkan formulir kita kepada orang lain. Ada tiga pilihan disitu, yaitu kirim melalui email, link (tautan), atau “sematkan tautan”. Jika kita akan mengirimkankannya melalui pesan whatsapp, sebaiknya memilih pilihan yang kedua, yaitu “tautan” atau link.

16 – Setelah kita pilih icon tautan, maka akan muncul alamat tautan yang sangat panjang, yaitu : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSemsv3o6A1AKomiWyUKfwEeyJRKJkH5cmCeevgr-5euYv6j4w/viewform?usp=sf_link, hal ini tentu akan menyulitkan kita untuk mengirimkannya. Oleh karena itu, selanjutnya silakan klik kotak kosong disamping teks “perpendek url” atau “shorten url”. Maka tautan akan menjadi lebih pendek.

17. Setelah tautan menjadi lebih pendek, silakan pilih “salin”, kemudian bukalah whatsapp web anda, “tempel” atau “paste” kan alamat tautan tersebut untuk mengirim pada grup atau orang yang ingin anda kirimi.

Semoga bermanfaat.

“Back to Mosque”

Selama ini, yang namanya belajar ya di kelas. Paling tidak, di lingkungan sekolah. Ada bangku ada papan tulis, ada bu guru dan pak guru, buku-buku pelajaran, dan sebagainya. Komponen utama belajar ya memang itu. Jadi, kalau tak ada yang itu-itu, dianggap tidak belajar. Sehingga, anak mengartikan belajar dengan ke sekolah. Padahal, belajar tidak harus di sekolah. Dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, kita bisa sekolah.

Larangan pemerintah, masih berkaitan dengan Pandemi Covid 19, membuka alternatif untuk back to mosque. Masjid an mushola adalah tempat belajar yang dulu menghasilkan ulama-ulama hebat, pemimpin-pemimpin dunia, dan banyak orang besar. Sebelum ada sekolah dan madrasah formal, para pendahulu kita belajar di mushola. Bahkan tidak hanya belajar, tidur pun di mushola. Kemanapun kita pergi, tetap saja kembali ke mushola atau masjid sebagai sentral kehidupan kita. Bahkan, di era 90 an, anak-anak remaja masjid atau mushola, tetap kembali ke masjid atau mushola setelah nonton filmi India atau Mandarin idola anak-anak muda pada zaman itu.

Sekarang ini, alternatif tempat belajar, yang mungkin bisa digunakan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka adalah masjid dan mushola. Mengapa? Masjid dan mushola umumnya cukup luas. Disitu anak-anak bisa menjaga jarak aman, phisical distancing. Yang kedua, kita bisa mengharuskan anak-anak untuk cuci tangan menggunakan sabun, bahkan berwudlu, sebelum masuk masjid dan mushola. Dengan demikian, kebersihan tangan akan sangat terjaga. Yang ketiga, mushola dan masjid adalah tempat sakral bagi umat Islam, sehingga kita bisa lebih mengendalikan anak-anak di masjid. Dan yang terpenting, kombinasi dengan pembiasaan shalat dhuha, atau shalat jamaah, dapat dilaksanakan disini, tanpa guru “ribet” menyiapkan alas belajarnya.

Namun demikian, bukankah tidak semua sekolah memiliki masjid atau mushola. Sehingga, kepala sekolah atau madrasah bisa memanfaatkan mushola-mushola atau masjid desa di sekitar sekolah. Betapaun juga, masyarakat juga memiliki tanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Penyiapan generasi ini tidak bisa hanya di-handle oleh sekolah, tetapi semua pihak juga harus mendukungnya.

Peristiwa ini, semakin menunjukkan pada kita bahwa Allah Swt sedang menghendaki kebaikan bagi umat Islam. Selama ini, masjid dan mushola kita dibangun dengan megah, dengan alat dan perlengkapan yang mahal, sehingga sering kita tinggalkan kecuali hanya untuk shalat jama’ah. Itupun seringkali hanya baris terdepan yang terisi, dengan orang-orang yang itu-itu saja.

Pada zaman dulu, masjid dan mushola merupakan pusat kegiatan masyarakat. Semua hal dapat diawali dari tempat mulia ini. Masjid dan mushola tidak hanya didirikan dalam rangka aspek ibadah mahdloh, aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan semua hal berkaitan dengan keumatan dapat dimusyawarahkan disini. Saatnya mengembalikan masjid dan mushola pada “multi dimensinya”, dengan tidak membatasi masjid dan mushola hanya untuk melaksanakan shalat lima waktu saja.

Kritik Asyik

Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan membuat orang memuji, kekurangan sering kali dijadikan bahan ejekan. Pada diri “orang besar”, seperti pemimpin, pejabat, dan sebagainya, kekurangan dan kelemahannya akan jadi bahan komplain, demonstrasi, atau paling tidak kritik. Oleh karena itu, setiap kita yang berani menjadi “orang besar” harus siap menerima kritik dengan lapang dada. Jika tidak, kritik bisa sungguh menyakitkan, bahkan “memetikan”.

Kritik adalah sesuatu yang positif. Tentu jika dilihat dari angle yang benar. Dengan catatan, juga disampaikan dengan baik dan benar, pada tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat pula. Kritik bukan cemoohan, kritik juga bukan ejekan, apalagi hinaan. Sehingga, kritik tentu tidak boleh berkaitan dengan sesuatu yang bersifat “sudah dari sononya”. Misalnya, ada pejabat yang “cara ngomongnya” gagap, atau fisiknya “kurang tampan”, atau ukuran tubuhnya kurang ideal, tentu itu bukan bahan kritik. So, mempersoalkannya, bisa berarti menghina.

Dalam Islam, ada tata krama dalam mengkritik. Salah satu tata kramanya adalah dengan tidak menyampaikan kritik yang disebarkan di khalayak umum (‘alaniyah). Hal demikian seperti disampaikan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِى سُلْطَانٍ فَلاَ يُكَلِّمْهُ بِهَا عَلاَنِيَةً

Yang artinya : “Barang siapa yang hendak menasehati pemerintah, maka jangan disampaikan secara terbuka” (HR Hakim)

Media sosial merupakan salah satu tempat untuk mengkritik secara terbuka. Kalau kritikan di media sosial sudah berubah menjadi hinaan, tentu akan lain jadinya. Oleh karena itu, menyampaikan kritik di media sosial harus berhati-hati melakukannya. Menggunakan bahasa yang baik dan sopan, tentu akan lebih enak dibaca.

Selain itu, mengkritik seharusnya bersifat solutif. Paling tidak, ketika mengkritik, kita harus tahu alasan seseorang melakukan apa yang kita kritik. Jangan sampai mengkritik dalam ketidaktahuan kita. Lagi pula, mengkritik tidak sama dengan menghina. Mengkritik itu menyampaikan alasan, usulan, dan saran sebagai bentuk ketidaksetujuan dari apa yang sedang terjadi. Bukan menjustifikasi tanpa mengetahui alasan dan latar belakang sebuah tindakan.

Pemerintah, para pejabat, dan para pemimpin, seharusnya dapat menjaga diri. Kebijakan yang dilakukan harus benar-benar diperuntukkan masyarakat secara luas, dengan cara yang tepat dan benar, dan dikomunikasikan dengan baik. Pemerintah harus dapat menjelaskan dengan gamblang segala sesuatu yang dilakukannya, agar masyarakat tidak berprasangka buruk terhadap apa yang dilakukannya.

Ada beberapa cara untuk menyampaikan kritik agar tidak menyinggung perasaan orang lain, yaitu : (1) Menggunakan bahasa yang baik, (2) Memberikan alasan yang logis, (3) Tidak tampak menggurui, menceramahi, dan “membodohkan” orang yang dikritik, (4) Disampaikan pada waktu dan tempat yang tepat, (5) Menyampaikan kritik setelah mendengar alasan seseorang melakukan suatu tindakan, (6) Menyampaikan solusi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dibicarakan.

Dewasa ini arus informasi mengalir deras ke semua lini. Masyarakat paling bawah pun dapat mengakses informasi dengan sangat mudahnya. Sayangnya, tidak semua orang memiliki filter yang cukup kuat untuk memilah dan memilih informasi yang ia dapatkan. Hoax atau truth, seperti memililiki tabir tipis dan lemah, sehingga sangat sulit dipilah dan dipilih.

Mengkritk itu memberi solusi, bukan menjustifikasi. Mengkritik itu membangun, bukan meruntuhkan. Mengkritik itu memotivasi, bukan menghabisi. Mengkritik harus disampaikan dengan asyik. Jangan justru membuat orang lain terusik.