365 Artikel

Dalam suatu webinar, Dr. Ngainun Naim mengatakan, “Kalau kita menulis satu artikel dalam sehari, maka kita akan mempunyai 365 artikel dalam satu tahun”. Artinya, walaupun sedikit yang kita lakukan dalam sehari, namun karena istikomah, kita akan mendapatkan sesuatu yang besar. Bahkan beliau melanjutkan, “Kalau kita istikomah menulis, maka akan ada “keajaiban” yang kita dapatkan. Apa itu, betapa kita telah memiliki sebuah buku”.

Kata motivasi ini, selalu terngiang pada diri saya. Kesenangan saya menulis, tidak saja sekarang-sekarang ini. Sejak masih SMA, saya suka menulis. Tapi ya itu, tak pernah selesai. Bahkan, sejak akrab dengan internet di awal tahun 2000-an, betapa inginnya saya menulis. Sampai-sampai, beberapa judul blog pernah saya buat. Dan, tidak pernah ada yang saya isi dengan tulisan. Terakhir, sebuah blog saya “nganggur” lebih dari 2 tahun, dengan hanya mengisikan 3 artikel di dalamnya.

Ternyata, apa yang beliau katakan itu luar biasa. Saya menjadai “murid” beliau kurang lebih dari dua bulan, dengan suatu metode pembiasaan yang agak bersifaat “pemaksaan”, menginstruksikan kita para murid, untuk minimal membuat 5 paragraf. Dan setelah kurang lebih 3 bulan, sekali lagi hanya 3 bulan, saya telah memiliki puluhan esssai dan artikel di blog saya.

Hanya di tulis di blog? Apa manfaatnya? Pertanyaan itu juga pernah saya tanyakan pada beliau. Dan, jawaban beliau “ces pleng”! Essai dan artikel itu saya kelompokkan, saya susun dalam layout A5, dan subhanallah, dalam 3 bulan itu sudah terkumpul kurang lebih 100 halaman essai tentang pendidikan, dan 50 halaman essai tentang agama, belum yang berupa cerpen dan essai yang lain yang saya ndak tahu apa kelompoknya. Hehehe…

Apa yang beliau sampaikan, ternyata merupakan pengejawantahan sabda Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, bersabda :

(أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلىَ اﷲِأَدْومُهَا وَإِنْ قَلَّ (رواه الشيخان عن عائشة

Artinya : “Pekerjaan-pekerjaan (yang baik) yang lebih disukai Allah adalah pekerjaan yang terus-menerus (dawwam) dikerjakan walaupun pekerjaan itu sedikit”. (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah).

Para ulama juga menjelaskan : Tidak diragukan bahwa “Istiqamah lebih utama ketimbang seribu karamah” karena jalan istiqamah lebih sulit ketimbang menapaki titian yang membentang dihari kiamat meski ia lebih lembut ketimbang rambut, lebih pahit ketimbang kesabaran, lebih tajam ketimbang mata pedang dan lebih terik ketimbang musim panas. (Marqah al-Mafatih Syarh al-Misykat 15/290)

Namun demikian, menjalankan “misi” ini tentu tidak mudah. Perlu keteguhan, keyakinan, dan “ke-nekad-an” barangkali. Sebab, merangkai kata ternyata tidak mudah. Apalagi, jika kemudian harus bermakna. Malah-malah jika harus sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), atau tata bahasa dan kalimat yang benar, tentu membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan.

Istikomah dalam menulis butuh perjuangan. Paling tidak, butuh keyakinan, pengetahuan, dan tindakan atau komitmen untuk menjalankannya. Keyakinan saja tidak cukup, karena keyakinan hanya ada di dalam hati. Pengetahuan saja tidak cukup, karena hasilnya bukan tulisan, tetapi “tahu”. Keyakinan dan pengetahuan baru terwujud, jika sudah masuk ke level tindakan. Tindakan itulah yang produktif. Tindakakan itulah yang harus istikomah. Agar wujud, tidak “mrucut”. (ans)