Pendidikan Karakter Secara Online, Bisakah?

Senin, tanggal 13 Juli 2020 merupakan hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2020/2021. Namun demikian, di sekolah tidak kita jumpai murid-murid dengan senyum ceria, seragam baru, atau canda tawa. Sekolah-sekolah seperti bangunan kosong tanpa penghuni kehilangan keceriaan. Ini merupakan kali pertama, bahkan mungkin sejak sekolah formal itu ada, mengawali belajar tanpa siswa.

Namun inilah realita. Mau tidak mau kita harus menghadapi ini semua. Pembelajaran tanpa tatap muka masih menjadi pilihan pemerintah untuk menghambat penyebaran virus corona yang semakin menggila. Betapa tidak, di awal tahun pelajaran baru ini, lebih dari 75.000 ribu orang terpapar virus jahat ini. Lebih dari 3.000 orang di Indonesia yang meninggal karenanya. Dan, setengah juta orang meninggal dalam skala dunia karena terpapar virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan China ini.

Kondisi ini mengharuskan sekolah memutar otak. Para guru dan kepala sekolah harus menetapkan strategi yang jitu untuk dapat tetap melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Telah lebih dari 4 bulan para siswa menganggur tanpa dapat mengetahui perkembangan kejiwaan, pengetahuan, dan pendidikan karakternya secara langsung. Beberapa kondisi tanpak sangat memprihatinkan, seperti ketika melihat anak-anak bermain kartu di pagi hari, kesana-kemari tanpa arah dan hanya bermain-main tanpa bimbingan. Pembelajaran daring memang merupakan alternatif untuk dapat menyampaikan materi. Dengan segala upaya, sekian persen materi dapat tersamapaikan. Tapi, apakah pembelajaran daring dapat menguatkan karakter?

Beberapa guru memberikan testimoni bahwa kita tetap dapat menjaga karakter anak, meskipun melalui pembelajaran online. Namun demikian, orang tua harus terlibat aktif di dalamnya. Orang tua merupakan guru bagi anak ketika ia di rumah. Meskipun seringkali anak-anak lebih mentaati instruksi gurunya, daripada perintah orang tua. Bahkan anak-anak seringkali lebih mengikuti penjelasan yang diberikan gurunya, daripada pembelajaran yang disampaikan orang tuanya sendiri. Anak-anak juga lebih nyaman belajar dengan gurunya, dibanding belajar dengan orang tuanya, meskipun orang tuanya juga berprofesi seperti guru.

Praktisnya, pendidikan karakter tetap dapat dilaksanakan atas kerjasama guru dan orang tua. Guru memberikan instruksi dari sekolah, untuk melaksanakan program pendidikan karakter, dan orang tua harus memastikan anaknya melakukan seperti itu. Program-program pembiasaan yang biasa dilakukan di sekolah Islam, seperti pembiasaan baca Al Qur’an, sholat dhuha, sholat berjama’ah, dan hafalan surat-surat pendek, tetap saja diinstruksikan dari sekolah, dan dilaksanakan di rumah dengan bantuan pengawasan orang tua. Pembiasaan-pembiasaan merapikan buku, menjaga kebersihan sekolah, dan piket sekolah, dapat juga dimodifikasi dengan mengubah lokasi kegiatan saja. Sementara, instruksi guru untuk mempelajari materi, mengerjakan tugas, dan kemudian mengumpulkannya, tetap harus mendapatkan “bantuan” orang tua, untuk mengawasi pelaksanaannya. Dan, semuanya adalah sia-sia ketika yang terjadi sebaliknya.

Guru dan sekolah tetap saja harus memastikan bahwa semua program pembelajaran daring dapat dilaksanakan. Tidak semua siswa akan senang hati dan serta merta mau “bekerjasama” dengan cara mengerjakan LKS dan menyelesaikan tugas yang lainnya. Kadang, bukan karena anaknya yang tidak mau, tapi bisa jadi karena ia tinggal bersama kakek atau neneknya, yang tidak memahami teknologi informasi sama sekali. Sehingga, informasi dari sekolah tidak dapat tersampaikan secara utuh kepada orang tua/wali siswa. Alhasil, anak pun tidak mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal ini para guru harus tanggap dan memiliki inisiatif. Dalam kasus anak-anak yang memiliki kendala khusus, home visit merupakan pilihan terbaik. Namun karena dalam masa pandemi, para guru juga harus membekali diri dengan perlengkapan pencegahan dan protokol kesehatan yang disiplin. Masker, hand sanitizer, dan menjaga jarak (phisical distancing) tetap harus terjaga, demi keselamatan semua.