Berpikir “Dewasa”

Banyak orang tua yang mengajurkan pada para juniornya untuk “berpikir dewasa”, meskipun kadang usia mereka belum dewasa. Mengapa ya? Apakah orang dewasa selalu berpikir dengan baik? Atau, ada rahasia-rahasia apa pada orang dewasa? Padahal kita lihat, banyak juga orang dewasa yang “tidak dapat dicontoh” perilaku dan perbuatannya. Banyak orang dewasa yang juga “tidak layak” dijadikan suri teladan bagi para juniornya.

Ternyata, berpikir dewasa tidak selalu berpikir ala orang dewasa. Tetapi berpikir panjang, jauh ke depan, dengan banyak pertimbangan baik dan buruknya. Sementara berpikir “tidak dewasa”, untuk tidak dikatakan berpikir seperti anak-anak, cenderung memikirkan sesuatu dengan sempit dan pendek. Hari ini dipikir hari ini, saat ini dipikir saat ini.

Para ulama mengajarkan pada kita untuk selalu berpikir jauh ke depan. Itulah alasan para ulama untuk mempertimbangkan kehidupan akhirat dengan lebih dominan, daripada hanya memikirkan kehidupan dan kenikmatan dunia. Beliau-beliau tahu betul bahwa kehidupan dunia adalah sementara, semu, dan menipu.

Berpikir pendek adalah seperti berpikirnya seorang anak atau bayi. Seorang bayi menagis keras karena dimandikan ibunya. Ia menolak dimandikan dengan alasan dingin. Padahal ketika ia sudah mandi, bersih, dan wangi, ia akan menikmati kondisinya, tertidur pulas dalam kenyamanannya. Orang yang sakit yang berpikir sesaat, tidak akan mau minum jamu atau obat, dengan alasan pahit, atau tidak enak. Padahal, kalau ia berpikir jauh ke depan, ia akan melupakan pahit yang sebentar, untuk kesehatan tubuhnya di masa mendatang.

Para ulama mengajarkan pada kita, untuk berpikir jauh ke depan. Berpikir jauh ke depan yang dimaksud, bahkan melewati batas dimensi ruang dan waktu. Berpikir ke depan dalam artian mempertimbangkan pengaruh tindakan kita saat ini, terhadap kehidupan kita di masa depan. Oleh karena itu, pertimbangan yang kita butuhkan, tidak hanya untung rugi dari sisi materi, tetapi kemanfaatan bagi kehidupan ukhrawi.

Berpikir dewasa melektakkan nafsu di belakang. Kemarahan, ketergesa-gesaan, dan pragmatisme seringkali mengganggu kemampuan kita berpikir dewasa. Jika hal ini dibiarkan, “bahaya” akan mengancam eksistensi kita, baik secara pribadi, lembaga, organisasi, dan lain-lain.

Kita semua menyadari, setiap waktu kita lalu, memerlukan kemampuan kita berpikir dewasa. Masalah akan selalu kita hadapi dalam kehidupan. Jika satu masalah selesai, maka masalah lain akan menanti. Bahkan seringkali satu masalah belum selesai, masalah lain sudah menanti. Oleh karena itu, menata pola pikir terhadap semua masalah yang kita hadapi memerlukan kemampuan berpikir dewasa.

Dalam problem solving atas semua perkara yang kita hadapi, berpikir dewasa sangat kita butuhkan. Untuk menghadapi dan menyikapi semua masalah, semua data harus kita kumpulkan. Paling tidak, kita harus mengetahui sumber masalahnya, sumberdaya yang kita miliki untuk menyelesaikan masalah itu, perencanaa penyelesaian masalah, dan yang paling penting, “memikirkan pengaruh masa depan” dari masalah yang kita hadapi.

Dengan mengetahui itu, kita akan lebih banyak membuat pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan itu kita butuhkan untuk menyiapkan perencanaan penyelesaian masalah. Pertimbangan-pertimbangan itu merupakan modal berpikir dan bertindak dalam menyelesaikan persoalan. Konfirmasi dengan tujuan jangka panjang juga merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan untuk menyelesaikan masalah itu.