Meng-include-kan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama

Hampir di semua sekolah, khususnya sekolah dasar, meletakkan kata beriman, takwa, cerdas, trampil, dan berakhlak mulia, pada paparan visi dan misinya. Hal ini menunjukkan bahwa karakter religius pada siswa merupakan dambaan setiap sekolah. Karakter religius merupakan karakter utama yang mendasari karakter-karakter lainnya.

Pendidikan karakter merupakan satu hal yang melekat pada pendidikan itu sendiri. Sejak bangsa Indonesia ada, khususnya sejak Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI) didirikan, nation and character building merupakan isu utama yang mengemuka dalam diskursus-diskursus sekala nasional. Pengembangan nasionalisme memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Apalagi, belum lama setelah kemerdekaan diproklamasikan, pemberontakan-pemberontakan dan keinginan memisahkan diri mulai bermunculan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Oleh karena itulah mengapa hampir semua agama yang masuk ke Indonesia diterima dengan “lapang dada” oleh bangsa Indonesia. Enam agama yang diakui oleh negara merupakan bukti lain bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa religius.

Pengembangan pendidikan berbasis agama dapat diterima dengan baik oleh bangsa Indonesia. Hampir semua agama di Indoneisa memiliki lembaga-lembaga pendidikan untuk menguatkan dan mengembangkan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya. Lembaga pendidikan berbasis agama selalu disambut dengan baik oleh umat beragama dalam komunitasnya masing-masing.

Hal-hal di atas seolah-olah menunjukkan kesepakatan semua komponen bangsa bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang dapat di-include-kan dengan pendidikan agama. Pendidikan agama mengajarkan aspek-aspek religiusitas seperti aspek kepercayaan, ritual, penghayatan, dan puncaknya adalah perilaku. Dengan demikian, semua agama dalam konteksnya masing-masing, seperti menegaskan bahwa perilaku yang baik atau akhlak yang mulia merupakan perwujudan dari kebaikan beragama.D

Dalam Islam, akhlakul karimah merupakan puncak dari rasa keberagamaan seorang muslim. Seorang muslim yang baik bukan saja yang sholatnya rajin tetapi juga harus menunjukkan bahwa shalat yang dijalankannya membawa pengaruh terhadap perilakunya. Islam juga menekankan pentingnya menjaga perilaku baik dengan orang tua, guru, pemimpin, tetangga, tamu, dan seterusnya. Bahkan Islam mengajarkan akhlak yang baik dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Dalam Islam diajarkan larangan tentang kesia-siaan. Kita tidak boleh menebang pohon jika tidak bisa menunjukkan alasan manfaat atau tujuan menebang pohon itu. Islam sangat menghargai kebersihan lingkungan, sehingga sungai tetap berair jernih, udara tetap sejuk, dan lingkungan tetap terjaga bersih.

Cendekiawan Muslim Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul Islam Agama Ramah Lingkungan mengatakan, menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa. Menurut dia, ini tak diragukan lagi. Sebab, rusaknya lingkungan, pencemaran, dan pelecehan terhadap keseimbangannya akan membahayakan kehidupan manusia. (https:/republika.co.id)

Bahkan dalam menyembelih hewan pun Islam mengajarkan untuk menggunakan pisau yang tajam. Ini menunjukkan bahwa Islam juga memperhatikan hubungan baik dengan makhluk Allah Swt yang lain, yaitu hewan. Rasululah Saw bersabda, yang artinya :

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata, “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dengan pendidikan agama. Mengapa? Karena pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter itu sendiri. Di dalam pendidikan agama, kualitas baik atau tidaknya akhlak seseorang, merupakan tolong ukur kemampuan memahami dan menjalankan agamanya.