Diajari Teman, Lebih Mudah!

Suatu saat, seorang ibu bertanya pada anaknya apakah ia dapat mengikuti pelajaran matematika di sekolah hari ini. Sebagai ibu ia ingin mengetahui apakah anaknya belajar dengan baik atau tidak pada hari ini. Namun, si Ibu heran ketika anaknya menjawab pertanyaan ibunya dengan enteng, “Saya diajari Farhan teman saya kok Ma, ia jago matematika. Ia dapat menerangkan lebih enak daripada diajari Pak Guru, saya lebih cepat paham jika Farhan yang ngajari…”. Hah? Iya kah? Benarkah?

Pengalaman ini mungkin bisa dialami siapa saja. Sepintas memang agak aneh juga. Mengapa seorang guru tidak lebih bisa menjelaskan materi dari pada anak didiknya. Sehingga, ada peserta didik, yang “lebih bisa” menjelaskan materi yang sama, pada peserta didik yang lain. Apakah gurunya kurang pandai? Apakah gurunya terlalu “killer”? Atau memang anaknya punya kelainan atau kekhususan?

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Butuh penelitian yang lebih detil. Dan, tentu saja hal itu bersifat kasuistik. Hal itu tidak akan terjadi pada semua anak. Sebab, pada umumnya anak akan lebih mudah memahami materi ketika materi itu disampaikan oleh gurunya sendiri, bukan oleh orang lain. Bahkan seringkali orang tua peserta didik sendiri tidak dapat menjelaskan dan diterima lebih baik daripada yang disampaikan oleh guru. Meskipun guru harus membagi perhatiannya pada sejumlah siswa dalam satu kelas. Tetapi, mengapa peristiwa itu terjadi?

Dalam konteks pendidikan guru, kita pernah mendengar istilah “belajar dengan teman sejawat”. Pembelajaran yang dilaksanakan orang dewasa, dengan cara diskusi dan “minta diajari” oleh teman satu level yang sama-sama sedang mempelajari hal yang sama. Hal itu merupakan sesuatu yang lazim dan sering ditemukan dalam pembelajaran orang dewasa yang sering disebut andragogi.

Peristiwa di atas, menunjukkan bahwa seseorang dapat belajar pada siapa saja. Teman adalah salah satu orang yang dapat menjadi sumber belajar peserta didik. Logikannya, anak-anak dalam usia yang sepadan, tentu memiliki bahasa yang sama, pola pikir yang tidak berbeda, dan jangkauan pemikiran yang mirip-mirip. Sehingga, seorang anak yang dapat lebih dulu memahami materi, kemudian dapat mentransfer pengetahuan yang didapatnya kepada teman sebayanya. Bagi penerima, hal ini tentu akan lebih mudah. Mengapa? Karena materi yang diterimanya sudah menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh penerima. Dalam hal ini berlakulah pembelajaran dengan metode tutor sebaya.

Muchlisin RIyadi menjelaskan, metode tutor sebaya (peer teaching) adalah kegiatan belajar mengajar di kelas yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau ketrampilan pada siswa yang lain untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar agar temannya tersebut bisa memahami materi dengan baik. Tutor sebaya dapat memberi rasa nyaman pada siswa karena pada umumnya hubungan antara teman lebih dekat dibandingkan hubungan guru. (https://www.kajianpustaka.com)

Kedekatan antar teman merupakan pendukung utama dari metode pembelajaran ini. Sesama teman biasanya memiliki hubungan yang lebih dekat dan setara. Sehingga, ketika seseorang memerlukan penjelasan yang lebih detil dari apa yang dipelajari, ia akan mudah saja melakukannya. Anak tidak akan merasa rikuh, tidak ada unsur takut pada guru, dan bahkan bisa timbul diskusi diantara mereka. Sehingga terjalin komunikasi dua arah yang nyaman dan hal ini akan mempermudah transfer ilmu pengetahuan.