Menjadi Guru itu Bahagia

Mengajar adalah pekerjaan yang menyenangkan. Meskipun banyak tugas dan permasalahan yang dihadapi di lapangan, tetap saja dari banyak sisi, mengajar itu membahagian. Seorang guru adalah orang yang dimuliakan, dinantikan kehadirannya, diharapkan keberadaannya, apalagi? Penghargaan dari murid, dari orang tua, masyarakat, bahkan dari pemerintah, senantiasa mengiringi para guru mulia. Tentu saja, hal itu untuk guru-guru yang dapat memposisikannya sebagai orang yang dapat “digugu dan ditiru”, bukan yang menterjemahkannya dengan lain kata.

Agar bahagia, para guru harus dapat meletakkan dirinya pada sudut yang benar. Dengen perspektif yang tepat, para guru akan lebih mudah memposisikan dirinya. Paling tidak, hal ini sangat diperlukan para guru untuk menata hatinya. Boleh saja guru adalah orang-orang profesional, yang bekerja dan dibayar sesuai profesinya, tetapi di masyarakat para guru tetap mendapatkan tempat yang berbeda, dibandingkan profesi-profesinya lainnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya para guru bersyukur akan takdir Allah Swt yang melekat pada dirinya.

Agar para guru dapat mengerjakan pekerjaannya dengan bahagia, para paling tidak ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para guru.

Pertama, menjadikan pekerjaan mengajar sebagai hobi. Para guru, seharusnya dapat menikmati kegiatan mengajar. Sehingga, mengajar tidak lagi dianggap sebgai pekerjaan, apalagi dengan tujuan mencari uang, tetapi mengajar merupakan hobi. Karena hobi, para guru akan mengajar dengan senang hati, menikmati, dan bahagia. Walau lelah, karena hobi, lelah itu akan terbayar ketika bertemu dengan anak-anak, bercanda dengan teman sejawat, dan melihat sekolah tempatnya mengajar. Sehingga, ketika ada halangan untuk mengerjakan hobi, seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Ketika pagi datang, hati para guru juga harus senang. Mengapa, karena ia dapat melakukan hobinya sebentar lagi. Ketika sore datang, ia akan merindukan pagi lagi, agar dapat melakukan hobinya lagi dan lagi.

Kedua, mengajar butuh kepedulian. Mengajar harus didasari dengan rasa peduli. Peduli akan nasib bangsa, kualitas generasi di masa mendatang, dan peduli akan kemajuan pendidikan di lingkungan kita. Dengan rasa peduli itu, para guru akan mengajar dengan hati yang tulus ikhlas, berangkat dari niat yang suci, dan tidak berorientasi pada materi yang diperoleh dari kegiatan mengajarnya. Dengan begitu, segala persoalan yang dihadapi para guru di kelas, akan diterima dengan lapang ada. Kepedulian menumbuhkan ketulusan. Ketulusan itulah yanga akan memberikan kebahagiaan. Bahagia karena melakukan sesuatu yang berati bagi orang lain.

Ketiga, mengajar adalah tanggung jawab. Setiap kita bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tugas dan wewenang kita. Demikian juga para guru. Ketika sudah mendaftarkan diri menjadi guru, maka tugas, fungsi, dan peran para guru melekat pada dirinya. Sejak itu, guru tidak boleh lagi melepaskan diri dari tanggung jawabnya. Mengerjakan tanggung jawab dengan baik akan melegakan hati kita. Kelegaan itulah yang membuat kita bahagia.

Keempat, mengajar adalah tugas mulia. Dalam Islam, guru memiliki peran yang sangat mulia. Al-Ghazali, sebaimana dijelaskan dalam buku “Konsep Pendidikan Al Ghozali Terj. Ahmad Hakim dan Imam Aziz” , menggambarkan kedudukan guru agama sebagai berikut: ”Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama. Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa. Ia bagaikan gudang bagi benda-benda yang paling berharga. Kemudian ia diberi izin untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya daam mendekatkan mereka kepada Allah dan menggiring mereka menuju surga tempat peristirahatan abadi.

Berbahagialah yang ditakdirkan Allah Swt menjadi guru. Sebab pekerjaanmu, kepedulianmu, tanggung jawabmu, bahkan tugasmu, membuatmu bahagia! Jangan sia-siakan kesempatan menjadi manusia mulia yang bahagia!