“Genk” Baru Anak di Rumah

Hal utama yang dibutuhkan anak adalah kegiatan. Anak tidak akan merasa nyaman tanpa kegiatan. Mulai pagi, siang, sore, selama mereka tidak sedang tidur maunya berkegiatan. Kadang ia bisa menciptakan kegiatannya sendiri, kadang harus ada stimulus yang membuatnya berkegiatan, bahkan harus ada orang tua yang menyiapkan kegiatan anak-anaknya.

Itulah mengapa, pembelajaran student centered lebih menarik bagi anak. Basic anak adalah aktif. Sehingga ketika hanya melakukan sesuatu yang pasif, seperti mendengar ceramah guru, ia akan ngantuk dan malas. Guru tetap harus menciptakan suasana pembelajaran yang membuat anak bergerak kesana kemari meskipun dalam tataran tertentu dan terbatas.

Pada saat mereka belajar di rumah, kegiatan fisik tetap menjadi aktivitas dominan bagi anak. Memang guru dapat mengirimkan tugas pada anak untuk dikerjakan di rumah. Tetapi faktanya tugas-tugas itu telah mampu diselesaikan anak dalam jangka waktu yang lama. Sehingga, mereka masih memiliki banyak waktu untuk beraktivitas bersama teman-temannya di rumah. Maka kemudian terbentuklah “kelompok baru” di seputaran rumah, yang terdiri dari anak-anak yang berbeda kelas, jenis kelamin, bahkan strata sosial.

Kelompok bersepeda merupakan kelompok baru yang paling banyak dibentuk oleh anak-anak yang sedang tidak harus ke sekolah. Seperti juga para orang tua, yang pada saat ini sedang “menggandrungi” olah raga sepeda, anak-anak sekolah dasar pun mulai membentuk kelompok bersepeda di seputaran rumahnya. Anak-anak yang semula sibuk dengan jadwal sekolah, dan sederet kegiatan les seperti les pelajaran, kursus musik, sekolah sepakbola, dan lain-lain, sekarang kembali mengakrabi teman-teman tetangganya.

Orang tua sementara ini mengiyakan kondisi ini terjadi. Banyak orang tua menganggap hal itu sebagai hal positif karena anak-anak kembali bisa bergaul dengan para tentangganya, rukun, dan kembali menyatu. Kehidupan “ala desa” yang guyub kembali terlihat. Anak-anak di sekitaran tempat tinggal berkumpul dan bergerak kesana kemari bersama suara-suara tawa dan sepedanya. Paling tidak, hal itu dapat menjaga anak untuk tidak melakukan kontak dekat dengan “orang jauh” yang kita tidak mengetahui lingkungan tempat asalnya.

Namun demikian bercampurnya tingkat usia anak-anak di sekitar rumah, juga perlu mendapatkan perhatian orang tua. Anak kelas empat, lima, dan enam sekolah dasar tentu tidak menjadi persoalan jika mereka bermain di sungai-sungai kecil, memancing, mencari udang, atau bermain layangan. Tetapi ketika anak-anak se-usia kelas dua sekolah dasar ke bawah juga mengikuti genk itu, tentu akan menjadi persoalan karena kemampuan menjaga diri mereka yang belum mencukupi.

Alhasil, meskipun banyak sisi positifnya, orang tua tetap harus berhati-hati terhadap kebebasan anak bergaul di lingkungannya. Khususnya jika anak-anak bergabung dengan kelompok usia yang berada di atas anak-anak kita. Bukan saja kegiatan yang mungkin saja tidak sesuai dengan usia buah hati kita, tetapi faktor keamanan anak tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepada orang tua. Maka tidak pantas bagi orang tua untuk mengabaikannya. Anak adalah buah hati, jangan sampai menyesal karena kecerobohan kita membiarkan buah hati kita berada pada lingkungan yang membahayakan dirinya. Komitmen untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan juga harus tetap dikuatkan.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020. Senyum kalian adalah semangat orang tua dalam bekerja!