Malu, Tahu?

Malu adalah perasaan tidak nyaman diketahui orang lain. Orang bisa malu karena melakukan kesalahan, kebodohan, atau kekonyolan. Orang juga akan malu ketika melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan oleh dirinya. Perasaan malu timbul dari diri seseorang karana adanya ketidaksesuaian antara sesuatu yang wajar terjadi dengan apa yang sedang dilakukannya.

Orang malu karena berbuat salah. Sebagai contoh seorang siswa mencontek. Pada saat mencontek bapak atau ibu gurunya menangkap basah ia sedang mencontek. Anak yang mencontek akan merasa malu, minta maaf, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Ini malu yang dapat membawa kebaikan.

Orang juga bisa malu karena salah kostum. Sebenarnya tidak salah secara hukum. Tapi, tidak berada pada tempat yang pas. Misalnya, pada hari Senin, para siswa sekolah dasar mengenakan seragam merah hati dan putih. Tapi, karena lupa hari, seorang siswa mengenakan seragam pramuka. Apalagi, ia baru menyadarinya ketika berada di sekolah. Tentu, ia akan merasa malu.

Orang lain juga akan malu ketika tiba-tiba celananya robek. Orang akan merasa malu karena orang lain mengetahui celananya robek. Apalagi, jika robeknya pada tempat-tempat yang “penting”, sehingga ia akan menutupi tempat itu dengan apa pun yang ia miliki. Tujuannya untuk menutupi rasa malu.

Orang juga malu karena aurotnya terbuka. Meksipun, sekarang ini banyak orang yang juga suka membuka aurot, mengenakan rok dengan ukuran 10 cm ke bawah, mengenakan pakaian-pakaian “minimalis”, dan sebagainya, namun masih banyak juga orang yang malu keluar rumah karena tidak mengenakan kerudung atau jilbab.

Berkaitan dengan rasa malu ini, Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya : Dri [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Imam Bukhari)

Berdasarkan hadist di atas, malu adalah bagian dari iman. Artinya rasa malu yang dimiliki oleh seseroang itu sangat penting baginya, karena malu itu bagian dari iman. Tapi, rasa malu akan apa? Apakah rasa malu karena “salah kostum”, atau karena “celananya robek”, atau karena ketahuan mencontek?

Rasa malu yang paling utama adalah malu karena tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai manusia. Tugas utama manusia adalah untuk beribadah, oleh karena itu seorang muslim akan merasa malu kalau tidak dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Seorang muslim seharusnya malu pada Allah Swt ketika bangun kesiangan dan belum menjalankan sholat Subuh, malu karena tidak istikomah membaca al Qur’an, atau malu karena masih mengabaikan anak yatim. Seorang muslimah juga harus malu karena tidak menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan baik, lebih mengutamakan kesibukannya sebagai sosialita, arisan, komunitas sana sini, dan seterusnya, sampai-sampai melupakan tugas utamanya melayani suami dan mendidik anak-anaknya.

Orang seharusnya akan merasa malu jika tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. Betapa tidak? Nikmat apalagi yang akan kita dustakan? Kesehatan, kekuatan, iman, Islam, dan alam semesta, semua merupakan hal yang harus kita syukuri. Hal itu merupakan kenikmatan yang diberikan Allah Swt yang tidak terhingga nilainya. Karena itu, tentunya kita akan merasa malu jika kita tidak mensyukurinya.

Kita seharusnya juga malu karena telah berbuat dosa. Allah Swt pasti melihat semua hal yang kita lakukan. Termasuk dosa dan kesalahan kita. Karena, tidak sehelai daunpun yang jatuh di atas bumi yang berada di luar pengetahuan Allah Swt. Allah pasti tahu semuanya itu. Sepatutnya lah kita malu melakukan kesalahan. Kita harus malu menyekutukan Allah Swt, malu berbuat maksiat, malu berbuat kesalahan, yang pasti malu karena melanggar larangan Allah Swt. Semoga kita benar-benar bisa menjadi hamba yang “tahu malu”!