Archives August 2020

Mengapa Critical Thinking Diperlukan?

Salah satu ketrampilan abad 21 yang harus dikuasai siswa adalah critical thinking (berpikir kritis). Berpikir kritis diperlukan agar siswa dapat mengkoneksikan berbagai ide dan gagasan menjadi sebuah pemahaman yang berguna. Lantas, apa indikator seoarang siswa memiliki ketrampilan berpikir kritis? Bagaimana kita dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis para peserta didik.

Menurut https://philosophy.hku.hk/ critical thinking is the ability to think clearly and rationally about what to do or what to believe. It includes the ability to engage in reflective and independent thinking. Someone with critical thinking skills is able to do the following : understand the logical connections between ideas. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir dengan jernih dan rasional tentang apa yang harus dikerjakan dan apa yang diyakini. Hal itu meliputi kemampuan untuk menyertakan kemampuan berpikir reflektif dan independen. Orang yang memiliki ketrampilan berpikir kritis dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Memahami koneksi logis antara ide-idea.
  2. Mengidentifikasi, mengkonstruksi, dan mengevaluasi argumentasi yang diberikan orang lain.
  3. Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum menalar dan memahami suatu masalah.
  4. Dapat menyelesaikan masalah secara sistematis.
  5. Merefleksikan justifikasi atas kepercayaan dan nilai yang dimiliki oleh seseorang.

Mengapa critical thinking diperlukan?

  1. Berpikir kritis diperlukan untuk dapat berpikir dengan jernih dan rasional tentang apa yang dilakukan. Kemampuan ini diperlukan seseorang untuk memupuskan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Kemampuan berpikir jernih dan rasional ini sangat diperlukan dalam melakukan pekerjaan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, hukum, keuangan, dan lain-lain.
  2. Berpikir kritis sangat diperlukan dalam bidang ekonomi. Apalagi, dewasa ini ekonomi sangat dipengaruhi oleh perkembangan sain dan teknologi, sehingga diperlukan analisis dengan jangkauan yang lebih luas terhadap berbagai hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi.
  3. Berpikir kritis juga diperlukan pada saat kita mempresentasikan karya seseorang. Untuk dapat mempresentasikan karya sesorang memerlukan kemampuan berpikir kritis terutama untuk menguatkan bahasa yang kita gunakan untuk meyakinkan customer akan produk yang kita hasilkan.
  4. Kemampuan berpikir kritis menghasilkan kreativitas. Kreativitas sendiri merupakan daya cipta untuk menghasilkan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sudah ada dengan penampilan, kemanfaatan, atau fungsi yang baru. Kreativitas diperlukan hampir dalam semua bidang kehidupan karena kehidupan selalu berjalan dinamis.
  5. Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu modal dalam pengembangan sain dan teknologi. Sain dan teknologi dikembangkan dari kemampuan berpikir kritis dari para penemunya setelah melihat, memperhatikan, dan mengkoneksikan berbagai hal yang diketahuinya.
  6. Kemampuan berpikir kritis diperlukan dalam melakukan evaluasi, yaitu dalam melakukan refleksi. Perencanaan dan pelaksanaan banyak hal harus direfleskikan untuk menemukan kelemahan dan kekurangannya serta peluang untuk perbaikan di masa mendatang.

Dalam Era Revolusi Industri 4.0 kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan. Khususnya dalam menghadapi perkembangan sain dan teknologi, serta tuntutan adanya inovasi dan kreativitas dalam semua bidang. Bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik secara efektif dan efisien?

  1. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik, dengan tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan/mengolah informasi; dan mengkomunikasikan hasil pembelajaran merupakan salah satu yang diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui pendekatan ini siswa tidak saja belajar dalam tahapan low order thinking, tetapi lebih banyak menggunakan high order thinking.
  2. Metode inkuiri dan discovery learning juga merupakan salah satu hal yang dapat digunakan untuk menguatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui metode inkuiri dan discovery learning siswa belajar berpikir kritis dan kreatif sehingga dapat menemukan sendiri kesimpulan dan makna pembelajaran yang dilakukan.
  3. Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL) dan dikemas dengan menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan kreatif juga dapat merangsang kemampuan berpikir kritis siswa.

Intinya, active learning dimana pemeran utama pembelajaran adalah siswa merupakan wahana yang paling tepat untuk menguatkan ketrampilan berpikir kritis siswa. Semakin besar keterlibatan siswa dalam pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang lebih banyak sehingga siswa memiliki kesempatan yang lebih untuk mengeksplorasi potensi yang dimilikinya. Namun demikian tidak berarti guru boleh “membiarkan” siswa belajar sendiri. Peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing siswa harus tetap dijalankan agar para siswa belajar dengan alur dan track yang tepat. (ans)

Mengirimkan Pesan Nasionalisme Melalui Lagu

Menyanyi adalah aktivitas yang menyenangkan. Hampir semua orang suka menyanyi. Entah bisa atau tidak, suaranya bagus atau hancur, fals atau tidak, pokok-e nyanyi. Besar kecil, tua muda, apalagi anak-anak, hampir semuanya suka atau paling tidak sesekali pernah menyanyi, termasuk menyanyi di kamar mandi. Ada yang suka lagu-lagu ndangdut, sehingga semua lagu di dangdutkan. Ada yang suka lagu-lagu pop, sehingga lagu rock pun bisa menjadi syahdu dan melankolis, dan seterusnya.

Salah satu upaya yang digunakan oleh founding fathers untuk membangkitkan nasionalisme adalah dengan menyanyi. Lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan salah satu produk yang sengaja diciptakan untuk mempererat dan menguatkan ratusan suku di Nusantara sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Melalu lagu kebangsaan itu, para pemimpin bangsa menyentuh hati seluruh komponen bangsa, untuk mencintai tanah air Indonesia.

Lagu-lagu perjuangan seperti Hari Merdeka, Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, Bambu Runcing, dan lain-lain, merupakan lagu-lagu yang dimaksudkan untuk menggugah semangat anak-anak bangsa untuk bersama-sama berjuang melawan penjajah. Kecintaan dan kebanggan terhadap tanah air Indonesia dilukiskan dalam lagu Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, Tanah Airku, dan lain-lain. Sementara penghargaan terhadapa para pejuang kemerdekaan diwujudkan dalam lagu-lagu seperti Gugur Bunga, Sepasang Mata Bola, Ibu Pertiwi, dan lain-lain.

Para musisi tahun 90 an juga tidak kalah dalam berupaya meningkatkan nasionalisme anak bangsa. Lagu Kebyar-Kebyar karya Gombloh di tahun 90-an merupakan salah satu lagu yang sangat terkenal dan menyentuh hati. Para musisi kekinian seperti kelompok muski Coklat menciptkan lagu Bendera dengan tujuan yang sama. Sementara kelompok musik Netral merilis lagu Garuda di Dadaku untuk memacu semangat pejuang para “prajurit” di lapangan olah raga. Dan banyak lagu-lagu lainnya yang memiliki misi yang sama.

Setiap tahun, untuk tujuan peringatan Hari Ulang Tahun RI, Kementrian Pendidikan melalui Kantor-Kantor Dinas Pendidikan di semua wilayah, mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indoensia. Salah satunya adalah lomba menyayikan lagu-lagu perjuangan atau lagu wajib nasional. Mengapa?

Lagu merupakan media yang dapat menyentuh hati siapa saja yang menyukainya. Melalui syair-syair yang berkualitas dan melody yang menyentuh, orang yang menyanyi atau hanya mendengar akan dapat menerima pesan lirik lagu dengan baik. Nasionalisme dan nilai-nilai karakter lainnya dapat meresap ke sanubari ketika disampaikan lewat lagu. Bahkan para ulama khususnya Wali Songo sering menggunakan lagu atau tembang untuk berdakwah. Terbukti, kemajuan dan perkembangan Islam yang pesat hampir di seluruh wilayah Nusantara.

Bagi anak-anak, lagu juga merupakan metode yang tepat dalam pembelajaran. Melalui lagu anak-anak dengan mudah dapat menghafalkan banyak hal, termasuk materi-materi keagamaan seperti nama-nama nabi dan rosul, sifat-sifat Allah, asmaul husna, sholawat, dan sebagainya. Pelajaran bahasa Inggris dengan begitu banyak kosakata juga akan dengan mudah diajarkan menggunakan lagu. Melalui lagu, berbagai pesan dapat tersalurkan dengan cepat dan mudah, tanpa ada ketegangan, bahkan kita dapat menyampaikan materi pelajaran dalam kebahagiaan. Termasuk di dalamnya, pesan cinta tanah air juga akan lebih mudah tersampaikan melalui lagu.

“Izin Orang Tua” untuk Pembelajaran Tatap Muka

Dalam satu video release, Menteri Pendidikan RI Nadiem Makarim menyatakan bahwa sekolah-sekolah di zona kuning dan hijau, boleh melaksanakan pembelajaran dengan tatap muka asalkan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. “Namun demikian, hal itu tetap harus seizin orang tua”, tambahnya. Intinya, ketika orang tua tidak sepakat pembelajaran tatap muka dilaksanakan, atau orang tua tidak marasa nyaman anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di era new normal ini, sekolah tetap harus melanjutkan pembelajaran jarak jauh sebagaimana selama ini dilaksanakan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mulai mengizinkan pembelajaran tatap muka pada zona yang diperluas, yaitu zona kuning dan hijau. Pembelajaran harus dilaksanakan di tempat yang memadai, yaitu dengan ventilasi yang cukup dan tidak pada ruangan ber-AC. Selain itu, kapasitas ruangan maksimal adalah 50 persen siswa. Sehingga, pada sekolah-sekolah dengan jumlah siswa maksimal dalam setiap kelas, tetap harus dilakukan shifting, yaitu masuk secara bergantian.

Pernyataan “mas mentri” ini, seolah menyadarkan kembali kepada kita, bahwa sebenarnya otoritas pendidikan itu berada pada orang tua. Kewajiban mendidik dan mengantarkan anak menuju kedewasaan adalah kewajiban orang tua yang selama ini sebagian besarnya didelegasikan kepada para guru dan sekolah.

Dalam Surah At Tahrim ayat 6 Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Bagaimana cara menjaga diri dan keluarga dari api neraka? Tentu dengan mengajari, mendidik, dan membimbing mereka untuk mentaati Allah Swt dan rasulnya. Mengajarkan syariat dan memberitkan teladan yang baik, sehingga keluarga (istri dan anak-anak) dapat menjalankan Islam dengan sebaik-baiknya.

Para suami adalah pemimpin, sehingga ditangannyalah kewajiban memimpin keluarga. Nabi Muhamamd Saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya : “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”

Seorang suami, tidak saja bertanggung jawab akan nafkah istri dan anak-anaknya, tetapi ia juga merupakan pemimpin yang berkewajiban membimbing istri dan anak-anaknya untuk mengikuti syariat agama Islam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, suami tidak saja bisa bekerja dengan baik dan mencari rezeki yang halalan toyyiban, tetapi juga harus mempelajari ilmu agama, ilmu pendidikan, ilmu kepemimpinan, dan sebagainya, sehingga dapat membawa keluarganya ke pada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

Berkaitan dengan hal ini, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sebagaimana dimuat dalam https://muslim.or.id/, beliau berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

Artinya : “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Mengembalikan izin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di masa pandemi ini, dapat dimaknai bahwa tanggung jawab pendidikan dan pembelajaran adalah pada orang tua. Oleh karena itu, melalui komite sekolah, diberikan hak sepenuhnya untuk mengizinkan atau tidak mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka.

Dakwah Damai Ulama Nusantara

Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh tetapi mereka tidak merasa dikalahkan.

Pada saat Islam masuk ke Nusantara, di negeri ini sudah banyak agama dianut oleh penduduk Nusantara. Ajaran agama Hindu dan Budha merupakan agama yang paling banyak dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu. Oleh karena itu, para “mubaligh” Islam harus mengatur strategi dalam berdakwah. Diantaranya adalah dengan cara mengasimilasikan ajaran Islam dan budaya di Nusantara, senyampang budaya itu tidak bertentangan dengan syariat dan akidah Islam.

Para ulama khususnya Wali Songo, memilih tiga sikap untuk menghadapi budaya yang diyakini dan dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu, yaitu amputasi, asimilisasi dan minimalisasi. Sikap itu digunakan untuk kepentingan kemajuan dakwah, sehingga Islam di terima di Nusantara tanpa adanya pertumpahan darah. Apalagi, al Qur’an jelas-jalas mengajarkan “tidak ada paksaan dalam agama”, sehingga dakwah Islam dapat diterima dengan baik dan damai.

Amputasi adalah sikap yang digunakan untuk tidak mentolelir ajaran yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, sehingga harus dipotong, tidak boleh dilakukan lagi. Ajaran-ajaran menyembah berhala, menyembah batu, makan babi, dan hal-hal yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam, tetap tidak diperbolehkan. Meskipun, cara penyampaiannya menggunakan cara-cara yang santun, sehingga orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama Islam tidak merasa tersinggung dengan “ajaran baru” yang disampaikan.

Sementara itu, terhadap hal-hal yang masih bisa ditolerir dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka hal itu “dibelokkan” sehingga wadahnya bisa jadi tetap atau mirip, tetapi isinya telah dirubah. Salah satu yang dicontohkan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam adalah penggunaan mihrab.

Mihrab adalah ruang kosong yang terletak di bagian depan di sebuah masjid atau mushola, dimana Imam berada disitu untuk memimpin sholat. Mihrab tidak pernah diajarkan di zaman Rasulullah Saw dan para sahabat, tetapi lazim digunakan di masjid atau mushola pada saat ini. Fungsi utama mihrab, selain tempat Imam memimpin shalat, adalah untuk menunjukkan arah kiblat.

Ustadz Faris Khoirul Anam sebagaimana dimuat dalam https://riyadluljannah.org/ mengatakan : “Mihrab seperti itu tidak satupun ditemui dan dicontohkan di zaman Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun selama cara dan tujuannya baik, hal tersebut juga menjadi tradisi yang baik pula. Bayangkan apabila dalam suatu perjalanan ketika memasuki masjid atau musholla yang tidak ada mihrabnya, sudah tentu kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.  Tradisi inilah yang diwarisi dan dipengaruhi oleh agama asli pulau jawa, yakni Agama kapitayan. Karena Konsep keyakinan mereka bahwa tuhan itu berada di ruang hampa, maka Pemeluk agama kapitayan beribadah di ruang-ruang yang berongga seperti goa dan sanggar. Tradisi yang baik ini akhirnya diteruskan oleh para wali di Jawa dengan menggantinya dengan sebutan Langgar”.

Sikap yang ketiga adalah adalah minimalisasi. Minimalisasi adalah upaya untuk mengurangi kemudzaratan dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ajaran yang tidak benar itu dapat ditinggalkan seutuhnya.

Berkaitan dengan hal ini, Ustadz Faris mengatakan : “Minimalisasi artinya mengurangi dampak suatu tradisi yang buruk dan sulit dihilangkan. Sebagai contoh, saat ini masih terdapat tradisi masyarakat pesisir melarung kepala kerbau ke laut ketika waktu-waktu tertentu. ini merupakan proses dakwah yang belum selesai dan masih perlu terus diminimalisasi oleh para pendakwah saat ini. Asal mula dari tradisi tersebut adalah tradisi melarung kepala gadis perawan. Kemudian para wali songo meminimalisasi hal tersebut dengan menggantinya dengan kepala kerbau”.

Strategi dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu khususnya Wali Songo, mengisyaratkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan dengan tetap mengedepankan perdamaian, menghindari pertentangan, dan dilakukan dengan halus. Dakwah seperti ini terbukti dapat membalikkan fakta, dimana penduduk Nusantara yang tadinya beragama Hindu dan Budha, pada saat ini lebih dari 85 persennya adalah umat Islam. Dakwah damai ini perlu dirawat, agar kedamaian tetap terjaga di dalam kehidupan masyarakat. Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh, tetapi musuh tidak merasa dikalahkan. (ans)

Sandal Japit

Kartono bangun kesiangan. Pagi itu, ketika ia bangun, sinar matahari telah masuk dari genteng kaca dirumahnya. Ia gelagapan. Segera ia meloncat dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi. Selimut, guling, dan bantal yang acak-acakan di atas tempat tidurnya, ia biarkan begitu saja. Nanti sepulang sekolah ia akan rapikan.

Lima menit kemudian semuanya sudah siap. Kartono dengan seragam putih abu-abunya, sepatu warna hitam, dan tas lusuh berisi beberapa buku catatan sudah masuk di dalam tas itu. Ia masukkan semua yang ada di meja belajarnya begitu saja, tanpa merapikannya juga terlebih dahulu. Pokoknya, ia harus segera sampai di sekolah atau terpaksa ia harus lepas baju dan berlari mengitari lapangan bersama teman-temannya yang datang terlambat.

Digarasi, ia langsung men-stater sepeda motornya. Ia tak perlu pamit pada ayah dan ibunya, karena pasti mereka telah berangkat ke kantor. Ayah dan ibunya adalah pegawai negeri sipil yang juga harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Ibu selalu menyiapkan sarapan sebelum ia berangkat. Ayahnya juga telah membangunkannya sedari tadi, mengajaknya sholat subuh berjamaah, tetapi ia tidur lagi. Dan hasilnya, ia harus berangkat kesiangan hari ini.

Di jalan Kartono memacu sepeda motornya dengan kencang. Orang-orang yang berpapasan dengannya nampak melihatinya dengan heran. Tapi mereka diam saja. Bahkan memberikan kesempatan pada Kartono untuk melaju kencang.

Diperempatan kedua terjadi masalah. “Waduh,…” kata Kartono. Disana banyak berkumpul orang-orang karena ada kecelakaan. Sebuah sepeda motor bertabrakan dengan sepeda motor lainnya dari arah yang berbeda. Terpaksa Kartono tetap menjalankan sepeda motornya, meskipun ia harus berjalan pelan sekali. Hatinya semakin gundah, karena waktu tempuhnya tinggal lima menit lagi. “Syukurlah….”, kata Kartono dalam hati. Setelah beberap detik berlalu ia dapat melewati kerumunan puluhan orang yang memadati jalan itu.

Kartono kembali melajukan motornya. Tancap gas pol, tanpa rem. Yang ia pikirkan adalah ia dapat secepat mungkin dapat sampai di sekolah. Dalam satu bulan ini, baru sekali ia datang tidak terlambat. Selebihnya, ia tetap terlambat dan harus menjalankan sanksi lari sepuluh putaran mengitari lapangan sambil telanjang dada. Dan, kalau ia terlambat lagi hari ini, berarti ini yang ketiga. Pasti, sanksinya akan lebih heboh lagi. “Ya Allah, tolonglah hambaMu ini…teriaknya dalam hati…”

Benar saja, setelah sampai di sekolah, para siswa lain sudah berkumpul di halaman. Untung…upacara belum dimulai, sehingga ia dapat segera masuk barisan paling belakang setelah memarkir sepeda motornya. Teman-temannya menyambutnya dengan gemuruh. Ketawa ketiwi menyambut kehadiran Kartono.

Kartono senyum senyum saja disambut seperti itu. Ia segera mencari tempat yang tepat untuknya. Iya, barisan paling belakang. Segera ia mengambil tempat dan mengikuti aba-aba yang telah dikumandangkan.

Sebelum upacara dimulai, Pak Beno berkeliling untuk checking barisan. Itu selalu beliau lakukan. Pak Beno akan mengecek topi, dasi, ikat pinggang, sepatu, bahkan kaos kaki. Sialnya, barisan tempat Kartono berada adalah barisan paling ujung. Sehingga, barisan itu yang akan di cek paling dulu.

Pak Beno segera mengunjungi barisan Kartono. Anak-anak diam seribu basa. Joko, teman disamping Beno, memberi tanda dengan matanya pada Kartono. Tapi apa boleh buat, Pak Beno sudah berada di depannya. Kartono tetap tidak bisa menerima petunjuk Joko, meskipun Joko telah memberikan tanda beberapa kali.

“Kartono, keluar barisan!” Kata Pak Beno

Kartono bergetar. “Apa salahku ya? Aku kan tidak datang terlambat. Paling tidak, aku datang sebelum upacara dimulai. Kenapa Pak Beno menyuruhku keluar barisan?”

Kartono mengikuti perintah Pak Beno. “Ke depan sana…”, teriak Pak Beno. Dengan langkah gontai Kartono mengikutinya.

Ketika di depan, seluruh lapangan bergemuruh. Para siswa tertawa melihat ke arah Kartono. Kartono kelimpungan. Tetap tidak menyadari apa yang ditertawakan oleh teman-temannya. “Ya Allah….”, Kartono langsung lemas. Ternyata ia masih memakai sandal japit. Parahnya, warnanya tidak sama lagi. Kartono…Kartono… (ans)

Membangun Kedisplinan di Awal Pembelajaran Tatap Muka

Salah satu persoalan yang timbul akibat tidak adanya pembelajaran tatap muka adalah penguatan karakter, khususnya kedisiplinan. Sebagaimana kita maklumi, menerapkan kedisiplinan pada anak-anak membutuhkan pengawasan yang ketat. Tanpa itu, kedisplinan akan sulit diharapkan. Apalagi, jika tidak ada sanksi khusus bagi pelanggar disiplin, maka mengharapkan kedisiplinan dapat tercipta dengan baik adalah pepesan kosong.

Kedisiplinan adalah faktor penting dalam menentukan keberhasilan. Peraturan dibuat untuk ditegakkan, dengan tujuan yang telah ditetapkan. Penerapan kedisiplinan pun telah mempertimbangkan banyak hal. Sehingga, konsistensi dalam melaksanakan kedisiplinan akan membawa pengaruh baik bagi semua orang.

Sebagaimana dimuat dalam situs https://www.maxmanroe.com/, “disiplin adalah suatu bentuk tindakan mematuhi dan melakukan sesuatu sesuai dengan nilai-nilai dan aturan yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya. Pendapat lain mengatakan, arti disiplin adalah suatu sifat atau kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dan mematuhi aturan atau nilai-nilai yang telah disepakati. Dalam hal ini, sikap disiplin sangat berhubungan dengan norma, prosedur, aturan, dan lain sebagainya yang ada di masyarakat.

Dalam pembelajaran daring, guru sangat sulit melakukan kontrol kedisiplinan siswa. Guru tidak tahu pasti sedang apa anak-anak didik mereka pada saat guru melaksanakan pembelajaran daring. Indikator “ketaatan” siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan adalah tugas-tugas yang dikumpulkan. Dengan segala kendala dan persoalannya, para orang tua mengumpulkan tugas yang diberikan guru. Untuk itupun, sebagaian orang tua terpaksa “sekolah lagi” dengan mengerjakan tugas yang diberikang guru kepada anak-anaknya.

Dibeberapa madrasah, penerapan aplikasi online e-learning bisa jadi dapat menjadi angin segar untuk mendisiplinkan siswa. Melalui aplikasi ini para guru dapat mengecek kehadiran siswa, dan memastikan siswa berada di depan smartphone mereka untuk menerima penjelasan, tugas, dan mengerjakannya. Melalui aplikasi ini para guru juga dapat memberikan kuis-kuis atau review online, sehingga akan sangat memudahkan siswa.

Namun bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki aplikasi seperti itu, penerapan kedisiplinan jam belajar misalnya akan sangat sulit dilaksanakan. Apalagi, jika diharapkan siswa benar-benar belajar pada jam yang ditentukan, atau melaksanakan pembiasaan pada waktu tertentu yang diharapkan.

Satu-satunya cara menguatkan kedisplinan siswa dalam pembelajaran daring adalah bekerjasama dengan orang tua. Dalam kondisi darurat ini para orang tua harus menyiapkan waktu dan kesempatan untuk mendampingi siswa menerapkan aturan kedisiplinan. Sayangnya kesibukan dan pekerjaan orang tua akan sangat menghalangi. Apalagi, pada orang tua yang berpenghasilan pas-pasan, dimana mereka harus bekerja hari itu untuk memenuhi kebutuhan hari itu juga, maka meninggalkan pekerjaan adalah hal yang tidak bisa dilakukan.

Oleh karena itu, sekolah tetap menjadi garda terdepan dalam membangun kedisiplinan. Pada saat belajar dengan tatap muka bisa dilaksanakan, maka fokus penguatan yang pertama harus dilakukan adalah kedisiplinan. Sekolah harus menyiapkan program-program kedisiplinan yang terstruktur dan terukur. Program itu tidak hanya untuk para siswa, tetapi juga untuk para guru, sehingga kediplinan dapat diterapkan bersama-sama.

Sedekah Ilmu

Oleh : Mohamad Ansori, M.Pd.

“Sedekah yang paling utama ialah seorang muslim belajar suatu ilmu, kemudian mengajarkannya kepada saudara muslim lainnya.” (H.R Ibnu Majah)

Almaghfurllah KH Ali Shodiq Umman menjelaskan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah ilmu. Sedekah ilmu lebih utama dari sedekah uang jutaan rupiah. Ilmu yang diajarkan oleh seseorang akan diajarkan lagi kepada para muridnya lalu diteruskan lagi kepada muridnya, lalu muridnya lagi, hingga hari kiamat. Pada setiap orang yang menjalankan ilmu itu, kita akan mendapatkan pahala darinya.

Bagaimana caranya? Tentu dengan belajar dulu. Sebagaimana hadist di atas, jika seorang muslim belajar suatu ilmu sampai ia memahaminya, lalu ia mengajarkan kepada orang lain, maka itu adalah sedekah yang paling utama.

Kalau kita mencermati hadist di atas, ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan dan kita garis bawahi. Pertama, mengajarkan ilmu merupakan sedekah utama. Kedua, kita harus belajar dulu, sampai paham. Ketiga, ilmu bukan untuk diri sendiri, tetapi diajarkan dan disebarkan, sehingga membawa manfaat bagi semua orang.

Mengajarkan ilmu tidak berarti ilmu kita akan berkurang. Justru, ketika mengajar, kita seperti mempelajari lagi dan memperdalam ilmu kita. Dengan begitu, kita akan semakin hafal, semakin paham, dan semakin mahir. Justru kalau ilmu yang kita miliki tidak kita ajarkan pada orang lain, maka akan seperti pisau yang lama tidak dipakai. Pisau itu akan berkarat lalu tumpul deh. Dan, otomatis tidak akan bisa dipakai lagi.

Namun demikian, sebelum mengajarkan ilmu, kita juga harus memahami ilmu itu dengan benar. Jangan hanya sepotong-sepotong, apalagi sampai salah paham. Ilmu syariat itu membutuhkan sanad. Jadi, tidak pas kalau kita belajar otodidak. Ada ulama-ulama pewaris nabi yang dapat kita mintai tolong untuk menjelaskan sesuatu. Sehingga, kita memiliki rujukan yang pasti, dari orang-orang yang sudah diakui keilmuannya. Jika tidak, sanad ilmu kita akan terputus, dan parahnya, bisa jadi kita akan jadi salah paham atau mengikuti paham yang salah.

Salah paham dalam ilmu syariat tentu akan berakibat buruk. Ibadah kita, sudut pandang kita, atau bahkan akidah kita, bisa “melenceng” karenanya. Dan tentu itu akan sangat bahaya.

Mengajarkan ilmu tidak saja dengan cara membicarakannya. Memberikan contoh kepada para santri akan lebih mengena dihati. Mengajari sholat dhuha dan keutamaannya, akan lebih mantab kalau para guru mengajak santri untuk melakukan bersama-sama. Mengajarkan kemulian sedekah misalnya, akan lebih hebat jika guru juga memberikan contoh melakukannya. Mengajar itu tidak hanya memberi tahu, tetapi juga mempengaruhi, mengajak, dan membimbing santri untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Semoga kita dapat bersedekah ilmu dengan istikomah. Aaamin.

Mengapa ikut PRAMUKA? Sebuah Refleksi Menyambut Hari Pramuka

Pertanyaan yang beberapa kali muncul di kalangan anak didik saat ini adalah mengapa haru ikut pramuka? Hal ini agak berbeda dengan anak-anak zaman tahun 90 an atau bahkan sebelumnya, yang dengan susah payah dan rela “berjuang” untuk sekedar menjadi anggota pramuka? Mengapa ya? Apakah pramuka sudah tidak menarik lagi sekarang ini? Atau, apakah pramuka sudah tidak relevan lagi keberadaannya?

Tidak pasti jawabannya yang mana. Yang jelas, anak-anak sekarang lebih banyak sibuk dengan gadget dan smartphone, lebih senang bermain game online, dan lebih suka bermedsos-ria, daripada bermain di alam lepas, menyanyi, atau menjelajah. Atau, film kartun dan “drakor” mungkin juga lebih menarik daripada menjelajah dan berkotor-kotor dengan parit dan tanah becek. Atau, atau, atau…mungkin masih banyak perkiraan lainnya.

Pramuka melakukan proses pendidik di luar sekolah. Pramuka menjanjikan tantangan, kesenangan, dan pengalaman yang menarik. Tantangan yang diberikan pramuka tidak hanya berupa kuis atau tebak-tebakan, tetapi juga tantangan yang membutuhkan kekuatan fisik, kerja kelompok, strategi, dan kemampuan kognitif berupa sandi, semaphore, morse, dan lain-lain. Membaca peta, mengukur jarak, menaksir tinggi pohon, tiang bendera, bahkan gunung juga merupakan tantangan kognitif yang semestinya menarik bagi anak.

Pramuka juga menjanjikan kesenangan. Pramuka itu disini senang disana senang dimana-mana hatinya senang. Menyanyi, membaca puisi, mementaskan drama, bahwa menampilkan comedy show, juga merupakan wahana menunjukkan kreasi seni yang membuat pikiran menjadi fresh. Pramuka biasa mengkresikan dan memainkan lagu-lagu populer dengan lirik-lirik lucu dan beritma. Pokoknya, soal bersenang-senang, banyak sekali wahana untuk disini senang disana senang.

Pramuka juga menjanjikan pengalaman yang menarik, salah satunya penjelajahan. Penjelajahan tidak saja memberikan pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang indah, tapi juga pengalaman “jalan-jalan bersama” dengan teman sesama pramuka secara beregu. Di pos-pos penjelajahan para pramuka juga harus menyelesaikan teka-teka sandi dan menampilkan sesuatu yang diperintahkan oleh soal dalam sandi. Hebatnya, soal dalam bentuk sandir tidak saja tentang kepramukaan, tetapi juga tentang ilmu pengetahuan umum, seni, bahkan tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK). So, banyak sekali yang dapat diperoleh dari kegiatan pramuka.

Tantangan terberat pramuka saat ini adalah perkembangan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi. Kegiatan di luar kelas selain pramuka sudah lebih banyak dibanding pada era 90-an. Pramuka mendapatkan “saingan” yang cukup berat dengan kegiatan-kegiatan berbasis IT. Oleh karena itu, agar pramuka dapat kembali memiliki daya tarik yang kuat pada para peserta didik dan remaja pada umumnya, mau tidak mau pramuka harus merekonstruksi diri. Kepramukaan berbasis IT sudah harus dikenalkan sehingga Pramuka dapat diterima dengan baik oleh anak-anak generasi Z yang memang hidup di era digital.

Selamat HARI PRAMUKA, 14 Agustus 2020, semoga Pramuka selalu Jaya!

Monitoring dan Evaluasi Pembelajaran Daring

Pandemi Covid 19 telah menimbulkan banyak persoalan di berbagai bidang, termasuk diantaranya bidang pendidikan. Selama Pandemi Covid 19 sekolah dilarang mengadkan pembelajaran tatap muka. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi penyebaran virus corona, khususnya kepada peserta didik. Apalagi penyebaran virus corona di Indonesia belum dapat dikendalikan dengan baik, terbukti dengan semakin banyaknya kasus terkonfirmasi dan semakin bertambahnya cluster baru penyebaran Covid 19. Sehingga pembelajaran tanpa tatap muka terpaksa tetap harus dilaksanakan.

Pembelajaran dengan tanpa tatap muka atau sering disebut dengan belajar dari rumah (BDR) mempunyai banyak persoalan. Persoalan-persoalan teknis seperti kepemilikan smarphone android atau laptop serta ketersediaan jaringan internet yang memadai menjadi persoalan umum yang dihadapi peserta didik. Selain itu, persoalan ketidaksiapan orang tua untuk mendampingi dan menjadi “guru pengganti” di rumah juga menjadi persoalan yang tak kalah peliknya. Oleh karen itu perlu desain pembelajaran di rumah yang efektif dan efisien, yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan dan persoalan yang mungkin muncul di lapangan.

Kepala sekolah perlu menyiapkan managemen yang matang berkaitan dengan pelaksanaan BDR mulai dari rencana, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasinya. Tahapan-tahapan itu sangat diperlukan agar meskipun pembelajaran dilaksanakan dengan tanpa tatap muka, tetapi diharapkan pembelajaran dapat tetap berjalan dengan sebaik-baiknya. Paling tidak, tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dapat dicapai, sehingga siswa tidak merasa ketinggalan.

Kegiatan montoring dan evaluasi harus disiapkan oleh kepala sekolah untuk menjamin BDR dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Para guru tetap harus dimonitor pelaksanaan tugasnya agar motivasi dan kedisiplinan kerjanya tetap dapat dilaksanakan. Selain itu, monitoring juga diperlukan untuk segera mengetahui persolan-persoalan yang muncul sehingga dapat dicari solusinya. Dalam hal ini kepala sekolah juga harus menyiapkan strategi-strategi yang tepat dalam menghadapi persoalan yang muncul, baik yang melibatkan masalah-masalah teknis, komunikasi, sosial, dan sebagainya.

Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan sebenarnya mencakup banyak hal. Program pembelajaran, hasil belajar, kurikulum, sarana dan prasarana, kegiatan ekstrakurikuler, semua merupakan cakupan monitoring dan evaluasi kepala sekolah. Namun berkaitan dengan pembelajaran daring, kepala sekolah dapat membatasi pada hal-hal bersifat khusus, utamanya efektivitas pelaksanaan pembelajaran daring itu sendiri.

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi di masa pandemi sangat diperlukan untuk menjaga kualitas pembelajaran siswa. Sedapat mungkin pembelajaran dapat dilaksanakan dengan konsisten. Meskipun beban pembelajaran harus dikurangi, tetapi tetap harus dipastikan bahwa efektivitas pembelajaran tidak terkurangi. Paling tidak, kepala sekolah harus memastikan adanya perencanaan pembelajaran daring yang baik, implementasi pembelajaran daring yang sesuai, penggunaan media pembelajaran yang tepat, kreatif, variatif dan inovatif, serta evaluasi pembelajaran yang tepat.

Pembelajaran daring membuat para siswa tidak saja mempelajari materi, tetapi juga belajar menggunakan teknologi informasi. Bagi para siswa, penguasaan teknologi informasi ini adalah suatu keharusan. Apalagi, mereka hidup di era Revolusi Industri 4.0 dimana peran teknologi informasi sangat dominan dalam kehidupan. Para siswa pada saat ini adalah generasi masa depan yang wajib mempersiapkan diri dengan teknologi informasi. Jika tidak, mereka akan tertinggal oleh laju teknologi yang sangat cepat.

Strategi Meningkatkan Motivasi E-Learning

E-learning menjadi istilah yang sangat populer. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online, dan BDR (Belajar Dari Rumah). Apapun istilahnya, intinya adalah sama. Yaitu sebuah pembelajaran dimana guru dan para siswa tidak berada pada satu lokasi yang sama, namun aktivitas pembeljaran masih dapat dilaksanakan.

Pembelajaran jarak jauh memerlukan bantuan media teknologi informasi. Smartphone, komputer, atau laptop, dan jaringan internet merupakan alat-alat yang wajib disiapkan untuk melaksanakan kegiatan ini. Beberapa persolan muncul ketika pemerintah dengan “terpaksa” memperpanjang kegiatan pembelajaran jarak jauh ini tatkala Pandemi Covid 19 belum mereda. Sementara para siswa sudah mulai “lelah” dengan kondisi yang ada. Bagaimanapun juga, ketidakhadiran guru dan teman, meruntuhkan sebagian motivasi belajar mereka.

Para guru harus menata strategi e-learning dengan sebaik-baiknya jika menghendaki pembelajaran jarak jauh ini dapat berjalan efektif dan memiliki makna bagi siswa. Berikut beberapa strategi yang dapat digunakan guru untuk membuat e-learning tetap membuat siswat termotivasi.

Pertama, guru harus memberikan penghargaan pada karya siswa dengan sebaik-baiknya. Hasil rekaman kegiatan belajar, presentasi, atau foto-foto porto folio siswa harus dihargai dengan cara mengunggahnya pada platform video atau foto yang dapat dilihat banyak orang. Guru dapat menggunakan grup whatsapp, facebook, atau youtube untuk mengunggah video-video yang terpilih, yang memiliki kualitas yang layak untuk disuguhkan kepada masyarakat umum. Dengan begitu siswa akan merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya mendapatkan penghargaan yang tinggi dari para guru.

Kedua, guru dapat melaksanakan kompetisi. Kompetisi itu tidak hanya mengkompetisikan hasil karya siswa, tetapi juga mengkompetisikan rekaman kegiatan belajar siswa. Sekolah dapat membantu guru dengan menyediakan fasilitas berupa hadiah, piagam penghargaan, atau trophy yang diberikan kepada para siswa. Agar semua siswa dapat memperoleh penghargaan, paling tidak penghargaan harus diberikan kepada semua siswa yang telah ikut dalam perlombaan, atau semua siswa yang telah mengirimkan karya rekaman mereka.

Penghargaan berupa piagam dan trophy ini akan memberikan kesan mendalam pada diri anak. Anak akan merasakan jerih payahnya dihargai oleh guru dan sekolah. Dengan demikian, diharapkan motivasi anak akan tetap terjaga bahkan meningkat.

Namun demikian, para guru juga harus responsif terhadap situasi siswa. Tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk membuat rekaman dengan alasan keterbatasan alat dan jaringan. Guru dapat tetap membuat kompetisi, hanya saja dengan segmentasi yang lain. Pembuatan mindmap, gambar-gambar media pembelajaran, dan hasta karya yang lain dapat digunakan untuk menggantikan kompetisi ini.

Sebagai contoh, guru dapat memberikan instruksi kepada siswa kelas 4 sekolah dasar untuk membuat gambar siklus air. Gambar siklus air inilah yang kemudian dikompetisikan. Namun demikian harus dipastikan para siswa berlaku jujur, yaitu dengan membuatnya sendiri, sesuai kemampuan siswa. Jika tidak akan terjadi ketimpangan misalnya ada sebagian siswa yang dibantu orang tua, kakak, atau orang lain yang memiliki ketrampilan lebih dalam menggambar.

Contoh lainnya adalah mengkompetisikan audio. Para guru agama Islam dapat menyuruh siswa untuk membaca surat-surat pendek atau ayat-ayat tertentu dalam al Quran serta do’a-do’a tertentu yang telah diajarkan kemudian siswa merekam audionya. Audio yang terbaik dapat ditampilkan dalam platform podcast sebagai bentuk penghargaan kepada anak. Kompetisi membaca al Qur’an, berpidato, membaca puisi, dan segala sesuatu yang melibatkan audio dapat juga dilombakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan motivasi belajar anak.

Intinya, penghargaan pada semua karya siswa, baik itu berupa visual, audio visual, audio, bahkan karya nyata dapat tetap dilakukan, baik dengan cara mensosialisasikan hasil karya itu melalui media sosial, ataupun melalui kompetisi antar siswa. Hal ini tetap dalam bingkai memberikan penghargaan pada kerja keras para siswa dan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar mereka.