Menguatkan Karakter dengan Short Film

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang ditujukan untuk membudayakan penerapan nilai-nilai moral dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rancangan (grand design) Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, dikatakan bahwa “pendidikan karakter merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat” (Ibrahim, 2018). Sementara itu menurut Rosala ” Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut” (Rosala, 2016).

Meskipun dalam masa pandemi, guru tetap harus berupaya melaksanakan tugas pendidikannya dengan maksimal. Pendidikan dan pengajaran must go on, tidak boleh stuck apalagi stop. Dalam artian, guru harus memutar otak, melakukan inovasi dan kreasi, agar penguatan karakter tetap bisa dijalankan. Jika tidak, dalam masa penantian dimana kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir, pendidikan karakter akan discontinue. Hasilnya tentu akan menakutkan, atau bahkan mengerikan, tatkala pendidikan karakter berhenti dijalankan.


Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menguatkan karakter anak adalah dengan membuat film pendek. Tentu kualitas film pendek yang dibuat guru tidak boleh disejajarkan dengan film pendek buatan sinematografer profesional. Guru cukup menggunakan smarphone yang dimiliki, membuat cerita berkarakter, menuangkan dalam skenario, memilih pemeran, shooting video, mengeditnya, dan menguploadnya di youtube atau medsos yang dimiliki.


Membuat cerita berkarakter dengan durasi 5 sampai 10 menit, bagi para guru tentu tidaklah sangat sulit. Apalagi sumber cerita banyak tersedia di internet, maka dengan ATM (amati, tirukan, modifikasi) saja, kita dapat membuat cerita berkarakter. Demikian juga dengan skenarionya. Tidaklah harus tercatat dengan rapih cukup membagi peran dan mengatakan pada para guru nanti berkata begini dan begitu dan seterusnya. Yang penting, dapat mudah dipahami oleh para siswa apa konfliknya, dan bagiamana penyelesaiannya, atau apa karakter buruknya, dan bagaimana seharusnya karakter baiknya. Lebih baik lagi, jika juga dimunculkan akibat karakter buruk yang dimiliki oleh siswa, dan buah dari karakter baik yang diperoleh jika siswa melakukan kebaikan.


Smarphone juga cukup memberikan fasilitas pembuatan video. Jika kita ketik video maker di playstore, maka akan muncul banyak aplikasi pembuatan video yang bisa diunduh dan kemudian digunakan. Tinggal mengotak-atik sambil membaca tutorial atau melihat video tutorialnya di youtube. Maka para guru juga akan memiliki ketrampilan sebagai “kameramen” dadakan. Terakhir, para guru tinggal mengedit, menggabungkan video dan foto yang ada, menyisipkan teks, dan mengekspor nya menjadi file video yang siap diungguh di youtube atau medsosnya.


Yang terpenting dari semuanya, bahwa guru tetap harus bergerak. Hati terdalam dari seorang guru tentunya tidak akan rela melihat anak didik dalam jangka waktu yang panjang “terbebas” dari pembiasaan-pembiasaan baik danmengenal nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, berbagai cara harus ditempuh agar anak-anak kita tidak jauh-jauh dari bimbingan guru, meskipun secara fisik kita belum bisa berinteraksi tatap muka. Selamat berkreasi guruku! (ans)