Penyederhanaan Kurikulum di Tengah Pandemi

Pembelajaran daring masih menjadi solusi di tengah pandemi. Berbagai terobosan dilakukan agar pembelajaran daring tetap menarik dan dapat menjadi pengganti pembelajaran tetap muka. Namun demikian faktanya tetap saja efektifitas pembelajaran daring tidak bisa disejajarkan dengan pembelajaran tatap muka.

Siswa yang belajar tanpa guru disampingnya mengalami banyak kendala. Tidak semua siswa mampu mencerna materi hanya dengan membaca atau melihat video pembelajaran yang dikirimkan guru. Sebagian siswa membutuhkan konsultasi yang lebih mendalam untuk memahami materi sehingga tetap saja memerlukan interaksi dan komunikasi langsung dengan para guru. Peran “pengganti” guru, yakni para orang tua atau wali murid, ternyata tidak 100 persen dapat mengganti peran guru di sekolah.

Salah satu cara agar pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien adalah dengan simplifikasi atau penyederhanaan kurikulum. Upaya ini dilakukan agar beban belajar siswa tidak terlalu besar. Kondisi pandemi dengan segala keterbatasannya tentu harus dimaklumi semua pihak, khususnya jika tidak semua kompetensi dasar dapat dicapai melalui pembelajaran daring. Oleh karena itu, pemetaan kompetensi dasar (KD) perlu dilakukan kembali, dan dilakukan upaya-upaya penyederhanaan setidaknya pada periode satu semester.

Upaya untuk menyederhanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah dasar, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

Pertama, memetakan KD. Dari semua KD dalam satu semester, ditandai mana yang bisa dilaksanakan dalam kondisi pandemi ini, dan mana yang tidak. Sebagai contoh, KD “Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung keberagaman sosial budMenyelenggarakan kegiatan yang mendukung keberagaman sosial budaya masyarakat“, bisa jadi merupakan kelompok KD yang belum memenuhi URKK (Urgensi, Relevansi, Kontinuitas, dan Keterpakaian), sehingga untuk sementara dapat dihilangkan.

Kedua, para guru membuat jaringan tema dari KD-KD yang telah terpilih. Dalam konteks pembelajaran dengan Kurikulum 2013, tema merupakan “pengikat” KD-KD tersebut, dimana dengan tema tertentu kita dapat menghubungkan antar KD menjadi sebuah jaringan tema. Langkah ini sangat diperlukan agar KD-KD yang ada benar-benar merupakan KD yang berkaitan dan berasal dari muatan pelajaran yang berbeda.

Ketiga, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan jaringan tema yang telah dibuat. Dengan berdasarkan jaringan tema itu, dibuat sub tema-sub tema yang, kemudian dari masing-masing sub tema diuraikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran (Pb). RPP dibuat berdasarkan “Pb” ini, dengan basis pembelajaran daring.

Intinya, pembelajaran pada masa pandemi ini mau tidak mau harus kita simplifikasi. Tidaklah fair jika muatan kurikulum 100 persen tetap harus kita paksaaan sementara kegiatan pembelaran terhambat oleh situasi pandemi.