Sandal Japit

Kartono bangun kesiangan. Pagi itu, ketika ia bangun, sinar matahari telah masuk dari genteng kaca dirumahnya. Ia gelagapan. Segera ia meloncat dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi. Selimut, guling, dan bantal yang acak-acakan di atas tempat tidurnya, ia biarkan begitu saja. Nanti sepulang sekolah ia akan rapikan.

Lima menit kemudian semuanya sudah siap. Kartono dengan seragam putih abu-abunya, sepatu warna hitam, dan tas lusuh berisi beberapa buku catatan sudah masuk di dalam tas itu. Ia masukkan semua yang ada di meja belajarnya begitu saja, tanpa merapikannya juga terlebih dahulu. Pokoknya, ia harus segera sampai di sekolah atau terpaksa ia harus lepas baju dan berlari mengitari lapangan bersama teman-temannya yang datang terlambat.

Digarasi, ia langsung men-stater sepeda motornya. Ia tak perlu pamit pada ayah dan ibunya, karena pasti mereka telah berangkat ke kantor. Ayah dan ibunya adalah pegawai negeri sipil yang juga harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Ibu selalu menyiapkan sarapan sebelum ia berangkat. Ayahnya juga telah membangunkannya sedari tadi, mengajaknya sholat subuh berjamaah, tetapi ia tidur lagi. Dan hasilnya, ia harus berangkat kesiangan hari ini.

Di jalan Kartono memacu sepeda motornya dengan kencang. Orang-orang yang berpapasan dengannya nampak melihatinya dengan heran. Tapi mereka diam saja. Bahkan memberikan kesempatan pada Kartono untuk melaju kencang.

Diperempatan kedua terjadi masalah. “Waduh,…” kata Kartono. Disana banyak berkumpul orang-orang karena ada kecelakaan. Sebuah sepeda motor bertabrakan dengan sepeda motor lainnya dari arah yang berbeda. Terpaksa Kartono tetap menjalankan sepeda motornya, meskipun ia harus berjalan pelan sekali. Hatinya semakin gundah, karena waktu tempuhnya tinggal lima menit lagi. “Syukurlah….”, kata Kartono dalam hati. Setelah beberap detik berlalu ia dapat melewati kerumunan puluhan orang yang memadati jalan itu.

Kartono kembali melajukan motornya. Tancap gas pol, tanpa rem. Yang ia pikirkan adalah ia dapat secepat mungkin dapat sampai di sekolah. Dalam satu bulan ini, baru sekali ia datang tidak terlambat. Selebihnya, ia tetap terlambat dan harus menjalankan sanksi lari sepuluh putaran mengitari lapangan sambil telanjang dada. Dan, kalau ia terlambat lagi hari ini, berarti ini yang ketiga. Pasti, sanksinya akan lebih heboh lagi. “Ya Allah, tolonglah hambaMu ini…teriaknya dalam hati…”

Benar saja, setelah sampai di sekolah, para siswa lain sudah berkumpul di halaman. Untung…upacara belum dimulai, sehingga ia dapat segera masuk barisan paling belakang setelah memarkir sepeda motornya. Teman-temannya menyambutnya dengan gemuruh. Ketawa ketiwi menyambut kehadiran Kartono.

Kartono senyum senyum saja disambut seperti itu. Ia segera mencari tempat yang tepat untuknya. Iya, barisan paling belakang. Segera ia mengambil tempat dan mengikuti aba-aba yang telah dikumandangkan.

Sebelum upacara dimulai, Pak Beno berkeliling untuk checking barisan. Itu selalu beliau lakukan. Pak Beno akan mengecek topi, dasi, ikat pinggang, sepatu, bahkan kaos kaki. Sialnya, barisan tempat Kartono berada adalah barisan paling ujung. Sehingga, barisan itu yang akan di cek paling dulu.

Pak Beno segera mengunjungi barisan Kartono. Anak-anak diam seribu basa. Joko, teman disamping Beno, memberi tanda dengan matanya pada Kartono. Tapi apa boleh buat, Pak Beno sudah berada di depannya. Kartono tetap tidak bisa menerima petunjuk Joko, meskipun Joko telah memberikan tanda beberapa kali.

“Kartono, keluar barisan!” Kata Pak Beno

Kartono bergetar. “Apa salahku ya? Aku kan tidak datang terlambat. Paling tidak, aku datang sebelum upacara dimulai. Kenapa Pak Beno menyuruhku keluar barisan?”

Kartono mengikuti perintah Pak Beno. “Ke depan sana…”, teriak Pak Beno. Dengan langkah gontai Kartono mengikutinya.

Ketika di depan, seluruh lapangan bergemuruh. Para siswa tertawa melihat ke arah Kartono. Kartono kelimpungan. Tetap tidak menyadari apa yang ditertawakan oleh teman-temannya. “Ya Allah….”, Kartono langsung lemas. Ternyata ia masih memakai sandal japit. Parahnya, warnanya tidak sama lagi. Kartono…Kartono… (ans)