Dakwah Damai Ulama Nusantara

Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh tetapi mereka tidak merasa dikalahkan.

Pada saat Islam masuk ke Nusantara, di negeri ini sudah banyak agama dianut oleh penduduk Nusantara. Ajaran agama Hindu dan Budha merupakan agama yang paling banyak dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu. Oleh karena itu, para “mubaligh” Islam harus mengatur strategi dalam berdakwah. Diantaranya adalah dengan cara mengasimilasikan ajaran Islam dan budaya di Nusantara, senyampang budaya itu tidak bertentangan dengan syariat dan akidah Islam.

Para ulama khususnya Wali Songo, memilih tiga sikap untuk menghadapi budaya yang diyakini dan dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu, yaitu amputasi, asimilisasi dan minimalisasi. Sikap itu digunakan untuk kepentingan kemajuan dakwah, sehingga Islam di terima di Nusantara tanpa adanya pertumpahan darah. Apalagi, al Qur’an jelas-jalas mengajarkan “tidak ada paksaan dalam agama”, sehingga dakwah Islam dapat diterima dengan baik dan damai.

Amputasi adalah sikap yang digunakan untuk tidak mentolelir ajaran yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, sehingga harus dipotong, tidak boleh dilakukan lagi. Ajaran-ajaran menyembah berhala, menyembah batu, makan babi, dan hal-hal yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam, tetap tidak diperbolehkan. Meskipun, cara penyampaiannya menggunakan cara-cara yang santun, sehingga orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama Islam tidak merasa tersinggung dengan “ajaran baru” yang disampaikan.

Sementara itu, terhadap hal-hal yang masih bisa ditolerir dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka hal itu “dibelokkan” sehingga wadahnya bisa jadi tetap atau mirip, tetapi isinya telah dirubah. Salah satu yang dicontohkan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam adalah penggunaan mihrab.

Mihrab adalah ruang kosong yang terletak di bagian depan di sebuah masjid atau mushola, dimana Imam berada disitu untuk memimpin sholat. Mihrab tidak pernah diajarkan di zaman Rasulullah Saw dan para sahabat, tetapi lazim digunakan di masjid atau mushola pada saat ini. Fungsi utama mihrab, selain tempat Imam memimpin shalat, adalah untuk menunjukkan arah kiblat.

Ustadz Faris Khoirul Anam sebagaimana dimuat dalam https://riyadluljannah.org/ mengatakan : “Mihrab seperti itu tidak satupun ditemui dan dicontohkan di zaman Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun selama cara dan tujuannya baik, hal tersebut juga menjadi tradisi yang baik pula. Bayangkan apabila dalam suatu perjalanan ketika memasuki masjid atau musholla yang tidak ada mihrabnya, sudah tentu kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.  Tradisi inilah yang diwarisi dan dipengaruhi oleh agama asli pulau jawa, yakni Agama kapitayan. Karena Konsep keyakinan mereka bahwa tuhan itu berada di ruang hampa, maka Pemeluk agama kapitayan beribadah di ruang-ruang yang berongga seperti goa dan sanggar. Tradisi yang baik ini akhirnya diteruskan oleh para wali di Jawa dengan menggantinya dengan sebutan Langgar”.

Sikap yang ketiga adalah adalah minimalisasi. Minimalisasi adalah upaya untuk mengurangi kemudzaratan dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ajaran yang tidak benar itu dapat ditinggalkan seutuhnya.

Berkaitan dengan hal ini, Ustadz Faris mengatakan : “Minimalisasi artinya mengurangi dampak suatu tradisi yang buruk dan sulit dihilangkan. Sebagai contoh, saat ini masih terdapat tradisi masyarakat pesisir melarung kepala kerbau ke laut ketika waktu-waktu tertentu. ini merupakan proses dakwah yang belum selesai dan masih perlu terus diminimalisasi oleh para pendakwah saat ini. Asal mula dari tradisi tersebut adalah tradisi melarung kepala gadis perawan. Kemudian para wali songo meminimalisasi hal tersebut dengan menggantinya dengan kepala kerbau”.

Strategi dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu khususnya Wali Songo, mengisyaratkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan dengan tetap mengedepankan perdamaian, menghindari pertentangan, dan dilakukan dengan halus. Dakwah seperti ini terbukti dapat membalikkan fakta, dimana penduduk Nusantara yang tadinya beragama Hindu dan Budha, pada saat ini lebih dari 85 persennya adalah umat Islam. Dakwah damai ini perlu dirawat, agar kedamaian tetap terjaga di dalam kehidupan masyarakat. Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh, tetapi musuh tidak merasa dikalahkan. (ans)