Mengapa Critical Thinking Diperlukan?

Salah satu ketrampilan abad 21 yang harus dikuasai siswa adalah critical thinking (berpikir kritis). Berpikir kritis diperlukan agar siswa dapat mengkoneksikan berbagai ide dan gagasan menjadi sebuah pemahaman yang berguna. Lantas, apa indikator seoarang siswa memiliki ketrampilan berpikir kritis? Bagaimana kita dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis para peserta didik.

Menurut https://philosophy.hku.hk/ critical thinking is the ability to think clearly and rationally about what to do or what to believe. It includes the ability to engage in reflective and independent thinking. Someone with critical thinking skills is able to do the following : understand the logical connections between ideas. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir dengan jernih dan rasional tentang apa yang harus dikerjakan dan apa yang diyakini. Hal itu meliputi kemampuan untuk menyertakan kemampuan berpikir reflektif dan independen. Orang yang memiliki ketrampilan berpikir kritis dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Memahami koneksi logis antara ide-idea.
  2. Mengidentifikasi, mengkonstruksi, dan mengevaluasi argumentasi yang diberikan orang lain.
  3. Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum menalar dan memahami suatu masalah.
  4. Dapat menyelesaikan masalah secara sistematis.
  5. Merefleksikan justifikasi atas kepercayaan dan nilai yang dimiliki oleh seseorang.

Mengapa critical thinking diperlukan?

  1. Berpikir kritis diperlukan untuk dapat berpikir dengan jernih dan rasional tentang apa yang dilakukan. Kemampuan ini diperlukan seseorang untuk memupuskan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Kemampuan berpikir jernih dan rasional ini sangat diperlukan dalam melakukan pekerjaan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, hukum, keuangan, dan lain-lain.
  2. Berpikir kritis sangat diperlukan dalam bidang ekonomi. Apalagi, dewasa ini ekonomi sangat dipengaruhi oleh perkembangan sain dan teknologi, sehingga diperlukan analisis dengan jangkauan yang lebih luas terhadap berbagai hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi.
  3. Berpikir kritis juga diperlukan pada saat kita mempresentasikan karya seseorang. Untuk dapat mempresentasikan karya sesorang memerlukan kemampuan berpikir kritis terutama untuk menguatkan bahasa yang kita gunakan untuk meyakinkan customer akan produk yang kita hasilkan.
  4. Kemampuan berpikir kritis menghasilkan kreativitas. Kreativitas sendiri merupakan daya cipta untuk menghasilkan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sudah ada dengan penampilan, kemanfaatan, atau fungsi yang baru. Kreativitas diperlukan hampir dalam semua bidang kehidupan karena kehidupan selalu berjalan dinamis.
  5. Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu modal dalam pengembangan sain dan teknologi. Sain dan teknologi dikembangkan dari kemampuan berpikir kritis dari para penemunya setelah melihat, memperhatikan, dan mengkoneksikan berbagai hal yang diketahuinya.
  6. Kemampuan berpikir kritis diperlukan dalam melakukan evaluasi, yaitu dalam melakukan refleksi. Perencanaan dan pelaksanaan banyak hal harus direfleskikan untuk menemukan kelemahan dan kekurangannya serta peluang untuk perbaikan di masa mendatang.

Dalam Era Revolusi Industri 4.0 kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan. Khususnya dalam menghadapi perkembangan sain dan teknologi, serta tuntutan adanya inovasi dan kreativitas dalam semua bidang. Bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik secara efektif dan efisien?

  1. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik, dengan tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan/mengolah informasi; dan mengkomunikasikan hasil pembelajaran merupakan salah satu yang diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui pendekatan ini siswa tidak saja belajar dalam tahapan low order thinking, tetapi lebih banyak menggunakan high order thinking.
  2. Metode inkuiri dan discovery learning juga merupakan salah satu hal yang dapat digunakan untuk menguatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui metode inkuiri dan discovery learning siswa belajar berpikir kritis dan kreatif sehingga dapat menemukan sendiri kesimpulan dan makna pembelajaran yang dilakukan.
  3. Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL) dan dikemas dengan menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan kreatif juga dapat merangsang kemampuan berpikir kritis siswa.

Intinya, active learning dimana pemeran utama pembelajaran adalah siswa merupakan wahana yang paling tepat untuk menguatkan ketrampilan berpikir kritis siswa. Semakin besar keterlibatan siswa dalam pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang lebih banyak sehingga siswa memiliki kesempatan yang lebih untuk mengeksplorasi potensi yang dimilikinya. Namun demikian tidak berarti guru boleh “membiarkan” siswa belajar sendiri. Peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing siswa harus tetap dijalankan agar para siswa belajar dengan alur dan track yang tepat. (ans)