Archives October 2020

Kebaikan Seorang Mukmin

Oleh : Mohamad Ansori

Hidup manusia tidak lepas dari pergantian antara senang dan susah, bahagia dan menderita, kaya dan miskin, luas atau sempit, dan seterusnya. Semuanya datang silih berganti menghinggapi semua manusia. Semua orang merasakan saat-saat yang membuatnya bersyukur, tetapi saat yang lain ia harus bersabar. Naik dan turunnya gelombang kehidupan adalah keniscayaan yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Sebab apapun kondisinya, seorang mukmin tetap dapat mendekatkan dirinya pada Allah Swt.

Dalam sebuah hadist, yang diriwayatkan dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Artinya :“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[1].

Hadist di atas menunjukkan betapa dalam kondisi apapun, seorang mukmin dapat mengambil hikmah dan pahala. Pada saat ia kaya, maka ia akan bersyukur kepada Allah Swt. Ia akan membelanjakan hartanya untuk kebaikan, menolong orang miskin, membiayai perjuangan agama, membantu kaum dhuafa, membiayai anak yatim, mendirikan masjid dan mushola, dan sebagainya. Kebaikan-kebaikan akan muncul dari harta yang diperolehnya secara halal, sehingga menghasilkan rezeki yang barokah.

Pada saat seorang mukmin mendapati dirinya bagian dari orang miskin, maka kebaikan juga akan muncul dari dirinya. Si miskin akan menjadi orang yang bersabar, dan itu akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah Swt. Sebab sesungguhnya Allah Swt senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Dalam Surat Al Baqarah ayat 153, Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah : 153)

Pada saat menderita karena miskinya, si miskin akan selalu mendekatkan dirinya pada Allah Swt, meminta pertolongan dan menyandarkan hidupnya pada Allah Swt. Tentu hal ini merupakan kebaikan yang tidak ternilai, karena orang yang mulia, tentunya adalah orang yang paling dekat dengan Allah Swt.

Dengan bersabar, orang miskin akan mendapatkan kebahagiaan lain, yang seringkali tidak dimiliki oleh orang lain. Si miskin akan sangat bahagia, ketika ia mendapatkan sebungkus nasi dengan lauk tempe, sementara si kaya belum tentu merasakan bahagia, meskipun ia makan direstoran mahal, dengan aneka makanan yang ada dihadapannya.

Bersyukur dan bersabar, merupakan komponen utama dalam menyempurnakan iman seseorang. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Uddatush Shaabiriin (hal. 88), sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”[2].

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik bersabar dan bersyukur adalah:

  • Bersabar dan bersyukur, semuanya adalah kebaikan bagi seorang mukmin. Dengan bersabar dan bersyukur, keimanan seorang mukmin akan semakin sempurna.
  • Dalam kondisi apapun, kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.
  • Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehinnga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah, serta di akhirat mendapat siksa neraka.
  • Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya
  • Menurut Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilish shayyib” (hal. 11), rukun sabar ada tiga yaitu: (1) menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah Swt, (2) menahan lisan dari keluh kesah, dan (3) menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allah), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya.
  • Demikian juga rukun syukur juga ada tiga, yaitu (1) mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala, (2) menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara lahir (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalm rangkan mensyukurinya), dan (3) menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah.

Wallahu a’lam

Menjaga Semangat, Semangat Menjaga

Salah satu persoalan yang sering muncul dalam usaha meraih sesuatu adalah naik turunnya motivasi. Kita menyadari, semangat akan naik turun seiring persoalan yang muncul, berkurangnya sumberdaya, dan jalan panjang yang membutuhkan komitmen dan konsistensi. Meskipun kita menyadari bahwa sebuah capaian yang tinggi memang harus diraih dengan usaha yang maksimal, waktu yang panjang, dan kemampuan mengelola persoalan yang berdatangan.

Motivasi adalah dorongan seseorang dalam melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Motivasi internal adalah daya dorong yang dimiliki seseorang dalam melakukan sesuatu. Sebagai contoh, ketika seseorang menulis, kita dapat menanyakan apakah motivasi menulisnya. Jika ia menulis karena kecintaannya pada dunia tulis menulis, atau karena keinginannya yang menggebu untuk menciptakan sebuah tulisan, hal ini berarti ia memiliki motivasi menulis yang datang dari dalam dirinya.

Sedangkan motivasi eksternal, adalah motivasi yang berasal dari luar. Dalam kasus motivasi menulis misalnya, jika kita menulis karena tuntutan tugas kuliah, atau karena dorongan untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain karena tulisan kita, maka motivasi menulis kita adalah motivasi yang bersifat eksternal.

Menjaga Motivasi

Semangat melakukan sesuatu tetap harus dijaga. Jika tidak, konsistentesi kita dipasatikan akan melorot. Bagaimana menjaganya? Berikut 5 tips menjaga motivasi, sebagaimana di lansir dalam meredeka.com pada 24 Nopember 2014:

1. Menghargai tindakan yang telah Anda ambil

Setiap kali Anda melakukan sesuatu yang baik, seperti menyelesaikan tugas tepat waktu, hargailah pencapaian itu. Perlu diingat bahwa menghargai diri sendiri adalah cara terbaik untuk memotivasi diri Anda.

2. Selalu termotivasi dalam melakukan segala hal

Jika Anda ingin memotivasi diri Anda, Anda harus selalu termotivasi dalam melakukan segala hal. Oleh karena itu, Anda pun harus selalu menunjukkan sikap antusiasme Anda pada segala hal yang Anda kerjakan.

3. Tetap mengejar cita-cita

Anda harus terus-menerus menantang diri Anda, sehingga Anda tetap termotivasi dalam menjalani kehidupan Anda. Jika Anda telah berhasil mencapai salah satu impian Anda, jangan berhenti bermimpi. Capailah hal lain yang belum pernah Anda raih sebelumnya. Dengan begitu, Anda akan tetap termotivasi dalam segala hal dalam hidup Anda.

4. Selalu waspada

Jangan sepelekan yang kecil dan hanya terfokus pada tugas besar saja. Mulailah hari Anda dengan tugas-tugas kecil seperti membersihkan kamar Anda atau menata pakaian di lemari. Hal itu tampaknya tidak begitu penting, namun itu akan membuat Anda lebih waspada pada hidup Anda. Jadi, ketika Anda mulai bekerja, Anda akan keluar dari sikap malas dan lebih bersemangat dalam mencapai tujuan Anda.

5. Tidak membandingkan diri Anda dengan orang lain

Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, Anda seharusnya lebih berfokus pada pencapaian Anda. Setiap orang memiliki jalan berbeda dalam menempuh apa yang mereka cita-citakan. Maka, Anda harus menjadi lebih baik dari hari ke hari, sehingga Anda selalu termotivasi untuk menantang kemampuan Anda.

Mengikuti Komunitas

Kehadiran orang lain yang memiliki kepentingan dan kegemaran yang sama merupakan salah satu pendorong konsistensi kita melakukan sesuatu. Seseorang yang hobi menulis misalnya, dapat menjaga konsistensi menulisnya dengan mengikuti komunitas menulis. Demikian juga orang-orang yang hobi tanaman, menyanyi, melukis, dan lain-lain.

Mengapa? Kehadiran orang lain yang memiliki kegemaran yang sama, dapat menjadi wahana untuk saling menyemangati. Pada saat semangat sedang down, teman-teman kita itu akan memberikan semangat untuk memompa motivasi kita. Demikian juga kehadiran kita, bisa jadi menjadi semangat teman kita yang lain pada saat mereka down. Jadi, antara sesama komunitas, dapat saling memberi dan menerima.

Malalui komunitas itu juga, kita dapat melakukan hal yang sama dengan bersama-sama. Sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk sosial, kebersamaan merupakan salah satu hal yang sangat disukai makhluk sosial. Bersepeda sendiri, tentau akan berbeda rasanya dengan bersepeda bersama-sama. Menulis sendirian, bisa jadi akan berat, meras jenuh lalu lemah. Tetapi, ketika membuat karya bersama, semuanya akan menjadi ringan-ringan saja. Demikian juga aktivitas lainnya.

Pada hakekatnya, bergabung dalam sebuah komunitas adalah untuk menjaga semangat kita melakukan sesuatu, dan semangat untuk saling menjaga agar kita konsisten melakukan sesuatu. Bagaimana dengan komunitas anda?

SESAL

Satu sudut cerita kehidupan

Kang Windu harus menghentikan langkahnya lagi. Entah, ini yang keberapa. Yang jelas, kakinya telah melemah sehingga sulit untuk digerakkan. Diabetes yang ia derita selama ini telah membuat kondisinya semakin memburuk. Belum lagi, wabah korona yang semakin menggila, telah membuatnya begitu khawatir akan kesehatan dirinya. Sehingga ia harus sangat hati-hati dalam menjaga kesehatannya.

Sebenarnya, ia tinggal berjalan beberapa puluh meter lagi untuk sampai di tempat tinggal sementaranya. Iya, terpaksa ia tinggal disitu untu sementara. Di sebuah bangunan kumuh bekas lumbung padi miliki desa Sukamaju. Ia sudah tidak punya rumah lagi. Ia juga tidak punya keluarga lagi. Karena ia telah meninggalkannya.

Kang Windu sebenarnya bukan orang miskin. Dulu, ia seorang pedagang palawija yang cukup berhasil. Tetapi, justru cobaan keberhasilannya itulah yang membuatnya terpuruk. Pada saat jaya, jutaan rupiah ia pegang setiap hari. Ia bisa membeli banyak hal dengan uang itu. Ia juga dapat bersenang-senang sesuai keinginannya.

Padahal, isterinya telah mengingatkannya agar ia jangan terlalu berfoya-foya. Tapi ya itu tadi. Uang telah melupakannya. Ia menganggap uang bisa membeli segalanya. Bahkan, ia bisa mendapatkan wanita yang melebihi istrinya. Lebih cantik, seksi, putih, wangi, dan pokoknya lebih deh. Sementara sang istri yang sederhana, tidak memiliki kondisi itu.

Rasmi, istri Kang Windu adalah orang sederhana yang lebih banyak bekerja daripada mengurus dirinya. Ia lebih suka membantu suaminya di sawah, mengurus bisnis palawija, atau membersihkan rumah bersama anak perempuannya.

Sungguh, sebenarnya sangat tidak pas jika Kang Windu meninggalkan wanita itu. Ia sangat setia dan taat pada suaminya. Ia juga sangat sabar menerima perlakuan Kang Windu padanya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Kang Windu suka berjudi dan main perempuan di luar sana. Tapi ia mencoba bertahan demi Windy, anak perempuan semata wayangnya.

Sampai suatu saat, Rasmi benar-benar tak bisa menahan diri. Suatu malam Kang Windu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk bersama seorang wanita cantik. Wanita itu dipeluknya dan dibawanya masuk rumah. Sebagai istri yang sah, Rasmi benar-benar kecewa dan marah. Terjadilah percekcokan dan pertengkaran mulut antara dua manusia suami istri itu.

Kang Windu juga begitu marah dan tak terkendali. Ia memang sedang berada dibawah pengaruh alkohol. Tapi apa yang dilakukannya sungguh tidak manusiawi. Kang Windu menampar Rasmi sehingga Rasmi memutuskan untuk meninggalkan rumah. Windy, anak perempuan mereka mengikuti sang Ibu meninggalkan ayah mereka bersama wanita cantik di rumahnya yang tergolong mewah.

Itu bukan kali pertama Kang WIndu melakukan kekerasan terhadap istrinya. Selama ini, Rasmi tetap mencoba sabar dan bertahan. Tapi, membawa wanita lain ke rumah, sungguh tidak bisa membuat Rasmi bertahan lagi. Terpaksa ia harus meninggalkan semua yang telah ia bangun dari nol bersama suaminya itu.

Beberapa tahun setelah kejadian itu, semuanya berubah. Wanita cantik yang kemudian diperistri Kang Windu, telah meninggalkannya. Sementara bisnis Kang Windu mulai memburuk. Semakin hari pendapatannya semakin surut dan akhirnya ia bangkrut. Sementara rumah dan tanah telah menjadi jaminan bank. Sehingga, ketika ia sudah tidak dapat membayar lagi cicilannya di bank, ia harus merelakan sisa hartanya itu dilelang.

Kang Windu menghela nafas panjang. Ia kembali melangkah menuju rumah singgah yang disediakan pemerintah desa itu. Di tempat itu ia tinggal sendirian. Dan, meskipun kondisi kesehatannya semakin buruk, ia tetap harus melakukan semuanya sendiri. Tangannya sudah sering gemetar, sementara luka diabet di kaki sebelahnya juga tak kunjung sembuh.

“Dari mana Kang?” tanya Pak Sus ketika berpaparan dengan dengan Kang Windu di depan rumah singgah.

“Ini lo lo Pak Sus, dari cari sarapan di rumah Mbak Iput.”

“Jualan Kang?”

“Ndak jualan lo Pak Sus, kadung susah payah jalan kesana”.

“Terus, sampeyan belum sarapan?”

Kang Windu hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan Pak Sus. Ia lalu menuju kursi panjang di depan rumah singgah. Ia sudah cukup lelah berjalan mencari sarapan. Meskipun akhirnya nihil.

Pas Sus meninggalkan Kang Windu di kursi itu. Ia kembali masuk rumahnya yang berada tepat di depan rumah singgah. Tidak lama kemudian ia membawa satu bungkusan daun pisang. Lalu memberikannya pada Kang Windu.

“Ini Kang, tadi ibuke sambil belanja membelikan saya ini. Sampeyan makan saja. Saya tak nunggu nasinya matang sekalian”.

“Alhamdulillah…terima kasih Pak Sus…”

“Minumnya sudah ada kan?”

“Sudah-sudah, saya sudah masak air tadi pagi…”

Hampir setahun ini Kang Windu makan dari belas kasihan orang lain. Untunglah ada saja tetangga sekitar yang memberinya makanan. Kalau ada kenduri, ia pun mendapatkan jatah dari tetangganya. Ia bisa memanfaatkan makanan itu bahkan sampai untuk hari esoknya.

Selama di rumah singgah selama setahun ini, anak perempuan Kang Windu baru dua kali menjenguknya. Itu pun dengan wajah ketakutan dimarahi ibunya. Selama ini, Rasmi yang memang sakit hati dan merasa dikhianati Kang Windu tidak membiarkan anak perempuan mereka menjenguk Kang Windu. Apa yang dilakukan Kang Windu benar-benar membuat rasmi sakit hati dan dendam.

Dulu, ketika masih jaya, Kang Windu benar-benar tidak menghargainya. Bisnis yang mereka bangun dari awal, hancur gara-gara ulah Kang Windu. Belum lagi tamparan demi tamparan yang terpaksa ia terima dari kekasaran Kang Windu. Bertahun-tahun ia bertahan dalam sakit yang tiada terperi. Rasa sakit itu masih ia rasakan sampai saat ini.


Rasmi baru pulang dari pasar. Tiba-tiba ada suara memanggil namanya dari belakang.

“Mi…Rasmi…” teriak suara itu.

Rasmi menoleh. Ternyata Bu Rahayu tetangga sebelahnya datang tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

“Ada apa Bu…kok tergesa-gesa begitu?” tanya Rasmi.

“Kang Windu…., Kang Windu…., kayaknya sudah ndak kuat lagi?”

“Maksudnya…?

“Itu, mungkin ajal akan segera menjemput. Ia minta kamu menengoknya di rumah singgah…”

“Ndak mau Bu, ndak Mau…biar saja. Siapa menabur siapa menuai. Itu kan karena kelakuannya sendiri…”

“Tapi Ras, ndak baik lo…, permintaan orang yang sudah menjelang ajal, mbok jangan ditolak…ndak baik…” bujuk Bu Rahayu

“Ndak Bu, ndak mau… masih sakit hati saya….”

“Ia menanyakan kamu terus, mau minta maaf, nafasnya sudah sangat berat lo Ras…ndak kasihan kamu? Secara hukum, ia masih suami kamu lo….

“Iya Bu, secara hukum memang begitu. Tapi apa yang dilakukannya dulu itu, sudah membatalkan semuanya…” Rasmi tetap menolak ajakan Bu Rahayu.

“Ya, mungkin ini yang terakhir kali Ras…, memberi maaf kan jauh lebih baik daripada tetap mendendam seperti itu”.

Ngapunten Bu, tidak…Saya ndak bisa.

Windy mendengar percakapan ibunya dan Bu Rahayu dari balik jendela. Hatinya teriris. Bagaimanapun, Kang Windu adalah ayahnya. Ayah kandungnya. Ia tidak berani menjenguk ayahnya yang sakit dan terpaksa jadi orang terlantar yang hidupnya ditanggung pemerintah desa. Sementara itu, sekarang ia sudah cukup besar dan memiliki pekerjaan yang cukup kalau hanya untuk membelikan makan sehari-hari untuk ayahnya.

Namun, ibunya melarang dengan keras Windy untuk mendekati ayahnya. WIndy benar-benar dilema. Ia tidak tega melihat ayahnya begitu terus. Tetapi ia juga tak berani menentang perintah ibu yang telah menyayangi dan membesarkannya selama ini. Sejak Kang Windu mencampakkan Rasti, Windy hanya hidup bersama ibunya.

Rasmi telah menjalani perannya sebagai single parent sejak bertahun-tahun. Statusnya pun tetap digantung. Ia tidak diceraikan oleh Kang Windu, namun juga tidak diopeni. Rasmi bertahun-tahun membanting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Sendiri.

Windy masih ingat betul perjuangan sang ibu. Ketika prahara itu terjadi ia sudah kelas 5 sekolah dasar. Ia masih ingat kejadian dikala ayahnya mencampakkan ibunya. Ia juga masih ingat ketika ibunya harus memulai lagi semuanya dari awal. Perjuangannya, kerja kerasnya, dan kegigihannya membagi waktu antara bekerja dan mengasuhnya.


Pagi itu dingin sekali. Adzan subuh berkumandang keras membangunkan Windy. Matanya masih mengantuk. Tapi ia harus bangun untuk menunaikan shalat subuh.

Windy bergegas meinggalkan tempat tidurnya. Mengambil air wudlu lalu mengerjakan shalat subuh. Belum selesai dzikir paginya, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari mushola.

“Innalillahi wainna ilaih rojiuun. Telah meninggal dunia, Bapak Windu yang mendiami rumah singgah desa, pada pukul empat pagi tadi. Kepada semua warga sekitar, yang menghendaki takziyah…silakan menuju ke rumah singgah desa….”

Windy tertegun kaku. Air matanya tidak dapat ia tahan lagi, berjatuhan membasahi mukenanya. Pundaknya terguncang menahan sedih.

“Ayah…ayah…maafkan anakmu yah….” Pekiknya dalam hati.

Windy segera melepasi mukenanya. Dengan menangis ia bergegas menuju rumah singgah dimana selama ini ayahnya tinggal.

“Windy…kemana kamu?” tiba-tiba terdengar teriakkan suara Rasmi.

“Ayah bu…ayah….” Windy tidak mempedulikan larangan ibunya. Ia tetap berlari menuju ke tempat dimana ayahnya tinggal. Sesampainya disana ia merasakan seluruh tubuhnya lemat. Jasad ayahnya telah kaku. Tergeletak diatas dipan kecil dikeliling beberapa tetangga rumah singgah. Hati WIndy hancur. Rasa kasihan, menyesal, sedih, dan entah apa lagi, bercampur tidak karuan. Ia peluk tubuh kurus kering dan kaku itu dan ia menangis sejadi-jadinya.

Edukasi Perubahan Perilaku

Oleh : Mohamad Ansori

Pandemi Covid 19 belum berakhir. Jika mulanya diperkirakan pada bulan September 2020 persebaran kasus positif akan menurun, faktanya justri menukik. Penyebabnya adalah semakin banyaknya masyarakat yang abai terhadap penerapan protokol kesehatan. Meskipun edukasi, sosialisasi, dan mitigasi terus dilakukan pemerintah, kenyataannya cluster-cluster baru bermunculan sehingga di akhir September 2020 jumlah terpapar telah melampaui angka 290 terkonfirmasi positif covid 19.

Sambil menanti diproduksinya vaksin covid 19 secara masal, tidak salah kita juga harus menyiapkan perubahan perilaku. Meskipun vaksin telah diproduksi dan diberikan secara bertahap kepada masyarakat, nantinya kita tetap akan hidup pada perilaku yang baru. Paling tidak, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun, akan menjadi “kebiasaan” baru yang harus kita lakukan. Digital life dengan segala permasalahannya juga akan menjadi perilaku baru yang harus kita sikapi dengan seksama.

Bagaimana tidak, saat ini saja, kehidupan digital telah melingkupi begitu banyak bidang kehidupan. Ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain, semuanya mulai berubah dari pola manual menjadi pola digital. Semakin banyaknya online shop yang bermunculan sebagai efek dari mandegnya perdagangan manual, menjadi petunjuk bahwa setelah pandemi ini teratasi, kita justru akan masuk pada tatanan dan perilaku baru yang berbasis digital. Mungkin inilah cara Allah Swt mengarahkan kita pada kehidupan era Revolusi Industri 4.0 yang sebenarnya juga tengah kita siapkan.

Dalam dunia pendidikan, perubahan pengelolaan tatap muka pun akan mengalami perubahan. Nantinya, pendidikan tidak hanya bertumpu pada kegiatan belajar tatap muka, tetapi secara otomatis akan merupakan campuran antara online dan offline. Pembelajaran online tidak lagi menjadi barang asing tetapi akan berkembang pesat seiring dengan tuntutang masyarakat yang hidup di dunia digital. Sehingga, persiapan-persiapan yang matang para pelaku utama seperti guru, kepala sekolah, pengawas, dan penentuk kebijakan pendidikan harus dilakukan.

Penguatan Guru

Guru tetap menjadi aktor utama kegiatan pendidikan. Kualitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan. Guru yang berkualitas melaksankan pembelajaran dengan inovatif, kreatif, dan dinamis. Di tangan guru berkualitas, pembelajaran tidak akan menjadi membosankan, sebaliknya justru akan menjadi kegiatan yang dirindukan. Sementara guru-guru yang statis dan “seadanya” akan digilas oleh waktu dan ditinggalkan oleh para siswanya. Guru harus bisa meningkatkan kualitasnya sehingga dapat mengikuti perkembangan sain dan teknolologi, khususnya teknologi informasi.

Di masa transisi nanti, dimana tatap muka sudah mulai bisa dilaksanakan dengan segala ketentuannya, para guru juga harus bisa menunjukkan kedisiplinan yang kuat dalam penerapan protokol kesehatan. Munculnya cluster baru di dunia pendidikan menunjukkan para guru masih abai, atau paling tidak lengah, dalam mengawal kedisiplinan siswa menerapkan protokol kesehatan. Jika hal ini dibiarkan, kondisinya justru akan merugikan sekolah dan dunia pendidikan itu sendiri.

Penyiapan Sarana dan Prasarana

Kepala sekolah sebagai penanggung jawab utama manajemen sekolah, harus bisa memastikan ketersediaan sarana dan prasarana penerapan protokol kesehatan. Wastafel dan sabunnya, hand sanitizer, maskter, tempat duduk berjarak, kelas dengan ventilasi yang cukup, dan seterusnya merupakan hal-hal yang harus disiapkan sekolah untuk melaksanakan perilaku baru masa dan pasca pandemi.