Meneladani Karakter Santri

Oleh : Mohamad Ansori

Para santri adalah orang-orang yang mengutamakan Allah Swt dan rosulnya, taat kepada orang tua dan guru, cinta ilmu, hidup sederhana, dan memiliki akhlak mulial.

Tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal itu dipilih sebagai penghargaan terhadap Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Mbah KH Hasyim Asy’ari untuk memantik semangat juang seluruh bangsa Indonesia, serta kesadaran bahwa perjuangan melawan kedzoliman penjajah merupakan bagian tak terpisahkan dari jihad fi sabilillah. Berlatar belakang seruang jihad meletuslah perang besar yang melibatkan seluruh rakyat Surabaya dan kota-kota di sekitarnya.

Perang yang dikomandoi oleh Bung Tomo itu berhasil memporak porandakan pasukan sekutu dengan senjata lengkap bahkan 2 orang jenderal yaitu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby dan Brigadir Jenderal Robert Guy Loder Symonds dari pasukan Sekutu. Kematian dua jendral yang terjadi pada pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya itu merupakan pukulan psikologis pasukan Sekutu.

HSN juga merupakan apresiasi terhadap sikap santri dan ulama, yang bahu membahu dengan semua komponen bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Sejak penjajah datang di Indonesia, peran santri dan ulama tidak dapat diabaikan, karena di setiap wilayah dimana para santri dan ulama berada selalu ada perjuangan melawan penjajah. Para santri dan ulama menunjukkan sikap yang patut menjadi teladan bagi generasi penerus, khususnya dalam beberapa hal berikut ini.

Pertama, para santri adalah orang-orang yang taat kepada Allah Swt dan rosulullah Saw. Hari-hari para santri dihiasi dengan ibadah dan ibadah, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ibadah mahdloh merupakan kewajiban utama yang harus dijalankan. Sholat lima waktu tidak pernah ditinggalkan bahkan sholat sunnah masih ditambahkan. Ibadah puasa ramadhan selalu konsisten dan masih dihiasi dengan puasa sunnah yang rutin.

Kedua, para santri adalah orang-orang yang taat kepada orang tua dan guru. Bagi para santri para orang tua adalah guru adalah orang tua dalam bidang ruhani. Para guru dimuliakan seperti memuliakan orang tuanya sehingga ta’dzim kepada guru merupakan akhlak utama para santri. Ketaatan ini lah yang sering kali mbarokahi sehingga meskipun secara formal kadang-kadang para santri tidak memiliki status yang tinggi tetapi hidupnya penuh dengan barokah dengan ketenangan serta kebahagiaan.

Ketiga, para santri adalah orang-orang yang cinta akan ilmu. Hari-hari para santri dipenuhi dengan jadwal mengaji dan mengaji. Sehingga tiada hari tanpa ilmu. Bagi santri ilmu adalah cahaya. Oleh karena itu agar hidupnya senantiasa bersinar, maka ia tidak akan melepaskan diri dari cahaya itu sendiri. Menuntut ilmu tidak saja dilakukan pada saat mereka tinggal di pesantren, tetapi tetap akan dilanjutkan ketika mereka sudah lagi tidak tinggal pesantren. Majelis-majelis ilmu didirikan dalam rangka mengasah kembali ilmu yang dimiliki serta menyampaikan apa yang sudah dipelajarinya kepada khalayak ramai.

Keempat, para santri adalah orang-orang yang hidup sederhana. Sejak tinggal dipesantren mereka berusaha makan seadanya, berpakaian sederhana, serta hidup mandiri. Para santri adalah orang-orang yang terbiasa hidup dengan bekal yang serba sedikit. Tapi mereka mampu mengelola yang sedikit itu menjadi sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan untuk “melanjutkan hidup” dengan sebaik-baiknya.

Kelima, para santri adalah orang-orang yang memiliki akhlak mulia, peduli, dan siap berperan di semua lini. Ketika dewasa, para santri adalah orang-orang yang dapat berperan aktif di masyarakat dengan ilmu yang dimilikinya. Di pesantren mereka tidak hanya mengaji, tetapi juga belajar berorganisasi, sehignga sudah terbiasa bersosialisasi. Mereka adalah orang-orang yang tidak selalu money oriented, sehingga lebih banyak bekerja dari pada mempertimbangkan hasil yang diperolehnya.

Hari santri nasional adalah memperingatkan para santri untuk tetap komitment dengan apa yang telah dilakukan selama ini. Dimana pun sekarang para santri berada, karakter baik para santri tetap harus dilestarikan sehingga tidak menjadi santri luntur, yaitu para santri yang sudah tidak lagi “bersikap ala santri”. Selamat Hari Santri Nasional Tahun 2020. (ans)