Archives November 2020

Antara Bunga, Berbunga-Bunga, dan Bunga Berbunga

Bunga menjadi penting akhir-ikhir ini. Tidak saja bagi para cewek, para ibu dan bapak pun ikut-ikutan hunting. Bunga-bunga lama dan “biasa” pada zamannya, sekarang menjadi mahal dan diburi. Jika dulu cukup minta tetangga atau saudara untuk ingin memilikinya, sekarang ini puluhan ribu bahkan ratusan ribu rela dikeluarkan dari kantong sekedar untuk memilikinya.

Bunga-bunga seperti bungan keladi, puring, lidah mertua, aglonema, antharium, dan lain-lain dulu dapat dengan mudah kita dapatkan dengan gratis. Sekarang ini mereka menjadi target perburuan para lover dengan mahar yang cukup menggiurkan. Bahkan ron bolong yang kemudian dikenal dengan istilah “janda bolong” menjadi sangat istimewa. Sirih gading yang dulu banyak tumbuh melingkar di pohon-pohon besar, sekarang juga menjadi target yang banyak dikejar.

Mengapa bunga begitu diburu saat ini? Karena keindahannya kah? Karena keunikkannya kah? Karena baunya yang wangi kah? Atau hanya karena trend saja kah? Dan, kah-kah lain kah? Hehehe…

Bunga diciptakan Allah Swt karena keindahannya. Mungkin, memang saat ini keindahan itulah yang diperlukan. Kehidupan semakin tidak indah ketika pandemi belum berakhir. Sehingga, butuh pengalihan konsentrasi agar kita dapat tetap menikmati indahnya dunia. Dengan begitu, kita dapat mensyukuri nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. Dan, dengan bersyukur itu, bisa jadi Allah Swt menambahkan nikmat kesehatan, keseleamatan, dan terhindarkan dari mara bahaya. Aamiin.

Bunga bisa saja menumbuhkan kebahagiaan. Jangankan memilikinya, melihat saja bisa membuat kita berbunga-bunga. Apalagi, jika menikmati keindahan sang bunga bersama orang-orang yang terkasih. Istri dengan mengajak suaminya, tentu akan membuat “penampakan” bunga membuat hatinya berbunga-bunga.

Nangkula Park Tulungagung

Ndilalah, bersamaan dengan itu, Dana Desa (DD) turun dengan deras dari pemerintah pusat, agar dimanfaatkan desa untuk penguatan ekonomi desa. Salah satunya, dengan menciptakan area hijau dan taman wisata sekala desa untuk menarik kedatangan warga desa lain. Dengan semakin banyaknya warga dari luar desa, diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).

Alhasil, muncullah park-park baru di Tulungagung dan sekitarnya. Nakula Park, Jegong Park, Punokawan Park, dan mungkin sebentar lagi akan banyak bermunculan taman-taman lain di seputaran Tulungagung. Sebelumnya, telah juga banyak bermunculan taman-taman yang dikelol Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa) seperti di Pujon Malang dan lain-lain.

Berdagang bunga juga menjadi hal baru dan diminati oleh banyak orang. Melihat permintaan bunga yang semakin meningkat, merupakan peluang untuk berbisnis bunga. Di media sosial, penjualan bunga secara online tidak kalah hebohnya dengan penjualan masker, face shield, dan hand sanitizer. Bahkan, perdagangan automotif tidak seheboh perdagangan bunga.

Peluang itu bisa menghasilkan sumber income baru. Bunga yang dimiliki dan dikembangkan dapat “berbunga” lagi. Peluang-peluang untuk tidak saja menjadi pedagang, tetapi juga penghasil bunga terbuka luas. Datangnya musim hujan juga menjadi faktor pendukung bagi petani bunga dimana saja. Sedikit benih yang ditanam, menghasilkan bunga, yang dapat “berbunga” lagi dengan penghasilan tambahan. Selamat berbunga-bunga! (ans)

Mengembangkan Ide untuk Sebuah Tulisan

Ide merupakan modal kita menulis. Ia dapat lahir dari apa saja. Kegiatan sehari-hari, imaginasi, berita aktual, sesuatu yang viral, dan lain-lain. Perbincangan dengan seseorang, baik itu tokoh terkenal atau orang yang tidak terkenal sama sekali, tetap saja bisa menjadi ide dalam sebuah tulisan. Pendeknya, semua hal dalam kehidupan kita dapat menjadi ide tulisan.

Namun ide tetap akan berhenti menjadi ide, ketika kita tidak pandai mengembangkannya. Dibutuhkan upaya untuk mengembangkan ide agar satu hal kecil bisa menjadi bahan tulisan yang layak untuk dinikmati. Kemampuan mengembangkan ide berkaitan dengan pengalaman, luasnya pengetahuan, banyaknya bacaan, dan kreativitas individu.

Pengalaman tentu tidak lepas dari perjalanan hidup setiap orang. Termasuk kemampuan memperhatikan dan mengingat kembali pengalaman yang dilalui. Luasnya pengetahuan dapat ditempa dengan cara membaca dan mendengar serta melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula modal pengembangan ide yang dapat dituangkan dalam tulisan. Selain itu, kreativitas dan daya imaginatif merupakan hal penting lainnya untuk mengembangkan ide tulisan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan ide, antara lain:

Pertama, memperbanyak bacaan berkaitan dengan ide itu. Maksudny, ketika terbersit di hati kita ide sebuah tulisan, maka kita harus memperbanyak membaca berbagai hal tentang ide itu. Contohnya, jika kita menemukan ide untuk membuat tulisan tentang “membuat media pembelajaran yang efektif”, maka kita perlu membaca beberapa artikel tentang: pengertian, manfaat, fungsi, jenis-jenis, dan tujuan penggunan media pembelajaran.

Selain itu kita juga perlu membaca tentang pengertian kata efektif, syarat-syarat sesuatu dikatakan efetif, serta cara melakukan sesuatu dengan efektif. Lebih jauh kita juga harus membaca tentang pengertian media pembelajaran yang efektif serta cara untuk membuat media pembelajaran yang efektif.

Kedua, menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Setelah mendapatkan cukup modal untuk menulis tentang suatu ide, kita harus segera menuangkan ide tersebut dalam bentuk tulisan. Tidak usah peduli bagaimana format, konten, atau keindahan tulisan kita, yang terpenting apa saja yang ada di benak kita, tulis sajalah. Bisa jadi tulisan kita kaca balau, tidak runtut, “mulek”, dan seterusnya. Nanti, ada saatnya kita membenahi tulisan-tulisan itu menjadi bentuk tulisan yang enak dibaca.

Ketiga, membaca kembali tulisan kita. Langkah ini sangat perlu kita lakukan, agar kita dapat melakukan koreksi terhadap kesalahan tulisan kita. Bisa jadi kesalahan itu pada diksi (pemilihan kata), format penulisan (seperti penggunaan huruf kapital, tanda baca), maupun kesatuan ide tulisan kita. Untuk pemula, biasanya dengan membaca kembali tulisan,, kita akan menemukan banyak kesalahan atau kejanggalan bahkan koneksitas antara satu kalimat dengan kalimat lain. Dengan demikian kita dapat melakukan pembenahan-pembenahan, baik dalam kaitannya dengan diksi, format, maupan konten dari ide kita itu.

Antara Aku, Sekolah, dan Guruku

Kita terlahir dalam keadaan bodoh, tanpa ilmu. Ibu kita adalah guru pertama kita. Ibu lah yang mengajari kita minum dan makan, menemani kita bermain, membimbing kita merangkak, berjalan, dan berlari, dan seterusnya. Ibu juga yang pertama-tama mengajarkan nilai-nilai agama, kemanusiaan, kebaikan, dan kesopanan serta tata krama.Pada prinsipnya, al ummu al madrasatu al’ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Setelah cukup usia, ibu membawa kita ke sekolah. Di sekolah itu guru kita bertambah. Ada orang lain yang baru kita kenal, yang juga mengajarkan kebaikan dengan banyak metode dan pendekatan. Mereka orang yang baru kita kenal, tetapi memperlakukan kita seperti anak-anaknya. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing kita. Tidak hanya tentang materi pelajaran, tetapi juga kehidupan pribadi kita. Mengajari cara duduk, membaca, menulis, berteman, bahkan menemani kita ke kamar mandi jika kita ingin buang air kecil.

Melalui pendidikan anak usia dini, guru kita mengembangkan pengetahuan agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa, dan seni. Ke enam aspek pengembangan PAUD itu merupakan target utama pembelajaran di anak usia dini. Melalui pengembangan keenam aspek itu, para guru menyiapkan diri kita menapaki jenjang pendidikan berikutnya.

Di sekolah dasar, kita belajar dengan lebih banyak materi. Demikian juga gurunya. Disini kita mengenal lebih banyak guru. Ada wali kelas, guru mata pelajaran, dan pelatih kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu kita juga mengenal lebih banyak teman. Ada kakak-kakak kelas kita, mulai dari kelas 2 sampai kelas 6. Dari situ, kita belajar banyak karakter dan sifat orang lain yang juga harus kita sikapi secara bijak.

Di sekolah ini kita juga mulai mengenal banyak buku. Para guru menunjukkan buku wajib yang harus kita baca, buku bacaan lain untuk memperkaya khazanah keilmuan, buku-buku cerita untuk memotivasi, dan tentunya lembar kerja tempat kita mengerjakan tugas. Kita mulai mengenal luasnya ilmu dan berbagai sumbernya. Apalagi, di zaman teknologi informasi ini kita juga mengenal ebook dan sumber belajar digital lainnya.

Di sekolah menengah pertama, jangkauan pertemanan kita semakin luas. Guru yang kita kenal juga semakin banyak. Berbagai problema masa remaja dan pubertas mulai kita hadapi. Anak laki-laki mulai suka pada anak perempuan, demikian juga sebaliknya. Cinta monyet mulai bertumbuhan, meskipuan biasanya banyak yang “layu sebelum berkembang”.

Disini kita juga belajar manajemen waktu. Setiap guru kita adalah guru bidang studi. Masing-masing memiliki target pembelajaran yang harus dikejar. Tugas demi tugas bermunculan. Masing-masing bidang studi memiliki beban pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan. Meskipun jumlah jam yang kita miliki tetap saja 24 jam.

Sementara kita juga mulai akrab dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Di masyarakat kita mulai mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan bersama anak-anak remaja lainnya. Di tempat mengaji kita juga bergaul dengan komunitas lain. Sementara kita juga mulai menyukai kegiatan berdasarkan minat dan bakat kita. Habis semua waktu untuk kegiatan dan kegiatan.

Banyak anak yang mulai akrab dengan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Bukan karena sok kenal dan sok dekat, tetapi karena “panggilan” guru BP yang harus didatangi. Kenakalan-kenalakan mulai bermunculan. Membolos, merokok, mengerjai teman, membantah guru, dan berbagai persoalan “masa menentang” lainnya.

Bagi sebagian anak, guru tidak lagi menjadi sosok yang disayangi. Tetapi lebih menjadi guru yang ditakuti. Meskipun tidak semua, kedisiplinan yang diterapkan guru di sekolah menengah banyak berbenturan dengan masa-masa merasa dewasa dan ingin bebas yang dirasakan anak-anak sekolah menengah pertama. Keakraban dengan guru semakin berkurang karena moment kebersamaan juga semakin berkurang.

Di sekolah menengah atas, hubungan kita dan para guru tidak semakin dekat. Pertemuan dengan guru lebih terbatas pada pelajaran dan tugas. Setiap pertemuan dengan guru selalu berkaitan dengan “apa yang harus dikerjakan”. Sementara keakraban kita dengan buku harus semakin ditingkatkan.

Peran guru sebagai sumber belajar semakin berkurang. Para siswa sekolah menengah atas harus bisa memvariasikan sumber belajarnya. Mereka tidak boleh lagi tergantung pada guru. Guru lebih berperan sebagai pembimbing yang hadir disaat para siswa mengalami kesulitan. Disamping guru juga harus berkreasi menciptakan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat belajar dan hidup mandiri.

Dengan berbagai peran dan posisinya, guru tetap saja orang hebat yang telah mendampingi kita meraih apa yang kita inginkan. Guru kita adalah orang-orang yang berjasa membimbing kita meraih ilmu pengetahuan dan berkontribusi banyak dalam membentuk karakter kita. Tanpa mereka kita akan belajar dengan cara yang amburadul dan tidak terarah. Terlepas dari bagaimana cara beliau membimbing kita, beliau tetap saja pahlawan yang sangat berjasa bagi kehidupan kita.

Terima kasih guruku.

Refleksi HGN 2020: Menjadi Guru Mulia

Menjadi guru adalah anugerah. Mengapa? Tidak semua orang bisa menjadi guru secara formal. Meskipun sebenarnya, setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Dalam artian, kita dapat belajar apa saja kepada siapa saja, sekaligus kita juga dapat belajar di mana saja. Belajar tidak harus di kelas, di rumah pun bisa. Bahkan, dulu nenek moyang kita belajar di tepi hutan, di atas bukit, atau bahkan di goa-goa yang tersembunyi. Sekarang pun kita masih suka belajar di mushola, di halaman rumah, bahkan kebun sekolah.

Guru memiliki status yang mulia. Di masyarkat guru sangat dihormati oleh siapa saja. Meskipun guru itu miskin, gajinya kecil, kendaraannya sepeda ontel, tetap saja dimuliakan. Lagu Omar Bakri yang sangat populer di tahun 80 an, menggambarkan sisi-sisi kemiskinan guru pada saat itu. Namun tetap saja, masyarakat menghormatinya, menghargainya, memuliakannya.

Guru tidak dihormati karena mobilnya yang kinclong, rumahnya yang mewah, bajunya yang keren, atau perhiasannya yang heboh. Mereka dihargai karena beberapa hal, antara lain:

Pertama, tentu karena ilmu. Ya, ilmu lah yang membuat para guru dihargai. Dengan iman di dalam hati dan ilmu yang dimiliki itu, Allah Swt meninggikan derajat para guru di atas derajat orang lain beberapa derajat. Sesuai janji Allah Swt :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS Al Mujadalah : 11)

Ilmu adalah modal utama menjadi guru. Ilmu itu dinamis dan berkembang. Maka para guru juga harus dinamis dan berkembang. Jangan hanya stack di modal awal, tetapi harus selalu meningkatkan kompetensinya. Guru terbaik adalah guru yang tidak berhenti belajar.

Di era digital ini tuntutan untuk meningkatkan kompetensi guru semakin meningkat. Guru tidak saja harus menguasai materi, tetapi juga harus kreatif dan inovatif dalam mengajar. Penggunaan media pembelajaran yang variatif harus menjadi salah satu perhatian guru dalam mengajar. Model, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru harus selalu up to date sehingga pembelajaran tidak membosankan.

Kedua, para guru dimuliakan masyarakat karena akhlaknya. Guru adalah orang-orang yang mengedepankan sopan santun, berbicara halus namun tegas, tidak suka mencaci, selalu memberi motivasi, dapat memberikan solusi, dan seterusnya. Akhlak mulia yang melekat pada diri guru itulah yang membuat mereka dimuliakan Allah Swt dan manusia.

Rasulullah Muhammad Saw merupakan uswah hasanah akan semua hal, khususnya kemuliaan akhlak. Selain itu, beliau adalah guru dari semua guru. Dalam belajar Islam, semua sanad keilmuan harus bermuara pada beliau. Para sahabat adalah murid beliau. Para tabi’in adalah murid para sahabat. Demikian seterusnya sampai pada ulama’ dan para guru tempat kita menimba ilmu.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku (Rasulullah ﷺ) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad  2/381)

Namun demikian, para guru menghadapi tantangan yang besar untuk mempertahankan kemuliaan akhlaknya ini. Banyaknya fasilitas yang diberikan pemerintah, membuat sebagian guru lupa menjaga akhlaknya. Tidak sedikit guru yang lebih suka tampak glamour, padahal akan lebih indah jika para guru tetap bersahaja. Dengan pendapatan yang melimpah, sebagian guru justru terjebak dalam hedonisme dan materialisme yang justru merongrong kemuliaan dan kewibawaannya.

Ketiga, para guru dimuliakan masyarakat karena keihlasannya. Keikhlasan itulah yang membuat dirinya berharga. Para guru banyak melakukan hal-hal dengan tidak memperhatikan berapa upah yang didapatkannya. Menolong orang tanpa pamrih, mengajari dan membimbing siswa sampai habis waktunya.

Para guru adalah orang-orang yang dapat menghantarkan anak-anak menuju cita-cita. Sementera mereka tetap di tempat, mengajari anak yang silih berganti dari generasi ke generasi. Menghadapi anak nakal dengan sabar, menghadapi siswa “tidak pandai” dengan telaten, dan seterusnya. Labuh seperti itulah yang membuat guru mulia.

Pada Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2020 ini, Pergunu sengaja membuat tema khusus, yang berbeda dengan tema nasional yang dirilis oleh Kemendikbud. Tema khusus itu adalah ” Guru Mulia Teladan Bangsa”. Tema ini seperti mengingatkan kepada kita, untuk tetap menjaga kemulian kita para guru, yaitu dengan menjadi teladan bagi bangsa.

Menjadi teladan itu sulit, tetapi itulah tugas guru. Teladan dalam hal beragama, bertingkah laku, dan bersikap elegan dalam menjalankan tugasnya. Menjadi mulia tidak mudah, tetapi predikat itu akan tetap diberikan masyarakat jika para guru dapat menjaga ilmu, akhlak, dan keihlasannya. Selamat HGN Tahun 2020, semoga kemuliaan tidak hanya diberikan oleh masyarakat, tetapi juga oleh Allah Swt baik di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Guru adalah orang mulia dan dimuliakan. Jangan menodai kemuliaan guru, dengan perbuatan-perbuatan bodoh, tidak berakhlak, dan tidak ikhlas!

.

Membangun Paragraf Efektif

Kalimat merupakan rangkaian kata. Selanjutnya paragraf merupakan beberapa kalimat yang memiliki satu pokok pikiran dan beberapa kalimat pendukung yang menguatkan pokok pikiran dalam paragraf itu. Kalimat-kalimat yang efektif akan membentuk paragraf efektif demikian juga sebaliknya.

Apa Pentingnya?

Paragraf yang efektif sarat makna, dapat mentransfer pengetahuan secara jelas, dan yang terpenting tidak membosankan ketika dibaca. Kita tahu, setiap pembaca ingin dengan mudah mendapatkan pesan dari tulisan kita. Apalagi, di dunia yang modern dengan seabrek kesibukkan yang dimiliki, para pembaca ingin cepat-cepat tahu hal-hal terpenting dari tulisan kita. Membaca cepat banyak dipilih oleh para pembaca untuk efisiensi waktu mereka.

Sementara paragraf yang tidak efektif terkesan “mulek”. Akibatnya pembaca kesulitan menemukan makna dan tulisan menjadi tidak menarik. Kesulitan ini mengakibatkan pembaca mudah bosan sehingga dengan cepat akan meninggalkan tulisan kita.

Menurut haloedukasi.com, ciri-ciri paragraf efektif adalah sebagai berikut.

  • Kesatuan fokus, merupakan salah satu ciri penting dalam suatu paragraf efektif. Suatu paragraf dianggap memiliki kesatuan fokus apabila hanya membahas satu ide pokok bacaan saja. Dengan kata lain, semua kalimat dalam paragraf tersebut membahas satu gagasan utama saja.
  • Hubungan antar kalimat menunjukan koherensi yang saling berkaitan. Ciri koherensi merupakan ciri penting dalam paragraf efektif. Agar suatu paragraf memiliki koherensi yang baik, maka kalimat-kalimat yang terkandung di dalamnya juga harus efektif. Antar kalimat harus saling berhubungan secara logis.
  • Pengembangan yang cukup memadai dalam mengembangkan gagasan utama. Dengan demikian ide pokok utama tersampaikan dengan baik oleh penulis. Pembaca akan dengan mudah mendapatkan gambaran mengenai ide yang disampaikan. Pembaca tidak perlu lagi bertanya-tanya mengenai topik yang dibahas penulis. mampu mengarahkan pembaca ke mana arah pembicaraan topik utama. Kesatuan fokus, merupakan salah satu ciri penting dalam suatu paragraf efektif. Suatu paragraf dianggap memiliki kesatuan fokus apabila hanya membahas satu ide pokok bacaan saja. Dengan kata lain, semua kalimat dalam paragraf tersebut membahas satu gagasan utama saja.
  • Hubungan antar kalimat menunjukan koherensi yang saling berkaitan. Ciri koherensi merupakan ciri penting dalam paragraf efektif. Agar suatu paragraf memiliki koherensi yang baik, maka kalimat-kalimat yang terkandung di dalamnya juga harus efektif. Antar kalimat harus saling berhubungan secara logis.
  • Pengembangan yang cukup memadai dalam mengembangkan gagasan utama. Dengan demikian ide pokok utama tersampaikan dengan baik oleh penulis. Pembaca akan dengan mudah mendapatkan gambaran mengenai ide yang disampaikan. Pembaca tidak perlu lagi bertanya-tanya mengenai topik yang dibahas penulis.

Membangun Kalimat Efektif

Untuk membuat paragraf yang efektif, lebih dulu kita harus membuat kalimat yang efektif pula. Berikut beberapa contoh kalimat efektif dan tidak efektif :

Tidak efektifEfektif
Pak Toni melakukan penyembelihan korbanPak Toni menyembelih kurban
Kartono pergi ke sewah. Setelah itu Kartono mengairi sawahnya.Kartono pergi ke sawah untuk mengairinya.
Untuk mempersingkat waktu, kami akan melanjutkan rapat ini.Untuk menghemat waktu, kami lanjutkan rapat ini.
Kita harus mengembalikan kepribadian kita yang sudah tidak lagi peduli terhadap masyarakat miskin.Kita harus memperbaiki kepribadian kita yang sudah tidak peduli terhadap orang miskin.

Membangun Paragraf Efektif

Paragraf efektif adalah paragraf yang dapat menyampaikan pesannya dengan jelas. Sehingga pembaca dapat cepat memahami isi dari paragraf itu. Untuk membangunnya, seorang penulis harus dapat memilih satu pokok pikiran yang dituangkan dalam satu kalimat utama, kemudian melengkapinya dengan kalimat penjelas dan pendukung.

Perhatikan contoh berikut ini:

Tidak EfektifEfektif
Sinta adalah adalah cantik dan menarik. Teman-temannya banyak yang menyukai dirinya. Karena Sinta anak yang cantik dan mudah berteman. Di sekolahnya Sinta juga anak yang selalu menjadi teladan. Ia tidak pernah datang terlambat pada saat ke sekolah dan ia juga sangat pandai dalam pelajaran di sekolah.Sinta cantik dan menarik. Teman-teman sangat menyukainya. Ia tidak hanya cantik tetapi juga mudah berteman. Di sekolah, Sinta adalah teladan. Ia selalu datang tepat dan pandai dalam berbabai pelajaran.
Menulis tidak saja merupakan aktivitas yang menyenangkan tetapi menulis juga merupakan aktivitas yang membuat hati kita menjadi bahagia. Karena dengan menulis kita dapat mencurahkan apa-apa yang ada di dalam hati sanubari kita sehingga kita dapat menumpahkan perasaan kita. Menulis juga dapat mengasah pikiran kita sehingga pikiran kita menjadi segar.Menulis adalah aktivitas yang menyeangkan. Dengan menulis hati kita akan bahagia. Mengapa? Karena kita dapat mencurahkan isi hati dan perasaan kita. Selain itu menulis juga dapat mengasah dan menyegarkan pikiran kita.

Intinya, untuk membuat paragraf yang efektif maka kalimat pembangunnya juga harus merupakan kalimat yang efektif pula. Secara global kalimat yang efektif memiliki ciri-ciri khusus yaitu :

  1. sepadan (memenuhi unsur gramatikal)
  2. hemat (tidak banyak pengulangan kata)
  3. cermat dalam pemilihan kata (diksi)
  4. logis/masuk akal
  5. terpadu

Selamat menulis!

Menulis Video Gajah

Menulis tentang gajah akan sangat menarik dan komplit, jika kita mengetahui gajah secara menyeluruh. Apa saja? Mulai klasifikasi binatang gajah, habitat hidupnya, jenis makanannya, sistem reproduksinya, karakteristik khusus yang dimilikinya, bahkan mungkin tentang kepopuleran gajah dalam dunia iklan, meskipun gajah tidak pernah mendapatkan royalti, sepert sarung gajah, minyak kayu putih cap gajah, kacang atom merek gajah, semuanya pakai nama gajah tanpa izin pada pemiliknya! Hehe…

Namun menunggu lengkapnya pengetahuan kita secara detil untuk menulis segala sesuatu tentang gajah, tentu membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan kita, sudah ingin sekali menulis tentang gajah! Bagaimana agar kita dapat menulis tentang gajah meskipun kita hanya sedikit tahu tentangnya?

Salah satu caranya adalah memilih salah satu dari banyak hal tentang gajah. Seorang penulis bisa saja melakukan pengamatan tentang cara hidup dan makanan gajah. Caranya? Amatilah kehidupan gajah! Siapkan waktu antara satu sampai dua jam, bahkan mungkin hanya 30 menit saja, untuk melihat kehidupan gajah.

Bagusnya, kalau kita benar-benar dapat melihat gajah secara nyata. Kita datang ke kebun binatang atau ke penangkaran gajah. Wuih, berat diongkos kalau begitu! Ndak harus begitu juga. Cukup kita menonton video tentang gajah, mengamati, lalu menceritakan apa yang kita lihat dari video yang kita lihat itu. Maka, jadilah tulisan kita tentang gajah.

Menuliskan apa yang kita lihat, alami, dengar, dan rasakan, akan memudahkan kita dalam menulis. Sumber tulisan berupa pengalaman biasanya lebih mudah diwujudkan dalam sebuah tulisan. Kita tidak perlu berimaginasi, cukup menceritakan apa yang kita lihat, alami, dan rasakan. Pendeknya seperti bercerita, tetapi dalam bentuk tulisan.

Merdeka Menulis

Salah satu hal menarik tentang menulis adalah kemerdekaan kita dalam menulis. Menulis adalah ekspresi sebuah kebebasan, dengan catatan kebebasan yang bertanggung jawab. Artinya, menulis apa saja, dimana saja, kapan saja, adalah hak prerogratif kita.

Ilustrasi menulis tentang gajah di atas, adalah salah satu contoh saja. Kita dapat menulis tentang hal lain seperti kita menulis tentang gajah melalui video gajah. Intinya, dalam hal mengawali membuat tulisan, kita dapat melakukan beberapa hal:

Pertama, mengamati. Pengamatan dapat dilakukan dengan mengamati benda nyata, gambar, atau video. Mengamati itu seperti seorang pedaganga eceran yang belanja ke grosir. Nah, pada saat mengamati sesuatu, sepertinya kita sedang belanja untuk dijual kembali di toko kita.

Kedua, membuat catatan. Dalam mengamati suatu benda atau kejadian, tentu ada hal-hal pokok yang perlu kita catat. Paling tidak, kita ingat sebagai hal penting yang layak kita ceritakan. Catatan itu, akan membantu kita mengingat kembali hal penting yang terjadi dalam pengamatan kita. Apalagi, jika kita mengamati kejadian lansung yang tidak dapat di-replay, catatan ini sangat penting kita miliki.

Ketiga, menuangkan dalam bentuk tulisan. Tulis saja apa yang ingin kita tulisan. Kalau salah? Ya kita benahi. Kalau kurang? Kita tambahi. Gitu aja kok repot! Maksudnya, jangat ribet dengan menyempurnakan tulisan diawal-awal menulis. Nanti, setelah tulisan jadi dan kita baca lagi, disitu perbaikan-perbaikan akan kita lakukan.

Keempat, mempresentasikan hasil tulisan. Salah satunya, adalah dengan mem-publish tulisan kita di blog atau website. Di medsos kita? Boleh juga! Namun, jangan lupakan etika dan aturan-aturan bermedsos, seperti tidak menyinggung sara, tidak mendeskriditkan orang lain, tidak bersifat provatif apalagi berita bohong (hoax).

“ Jika Kamu Bukan Anak Seorang Raja, Bukan Juga Anak Seorang Ulama Besar Maka: Menulislah “. — Imam Al Ghazali.

Menulis Tema Apa?

Salah satu hal mudah tapi kadang sulit dilakukan oleh seorang penulis pemula adalah menentukan tema yang akan ditulis. Padahal, bagi seorang profesional tema dapat ditemukan dimana saja. Semua sisi kehidupan kita mulai bangun tidur, bekerja, belajar, bersosialisasi, semua bisa menjadi tema. Di dalam tema-tema itu kisa bisa menemukan sub tema yang lebih spesifik dan kita akan lebih mudah memfokuskan diri.

Ketika pagi menjelang, matahari bersinar cerah di ufuk timur. Udara segar membuat suasana menjadi bersemangat. Pada situasi seperti itu, kita dapat menemukan tema “semamgat pagi untuk bekerja dan belajar”. Selanjutnya, ketika agak siang, dimana matahari hari bersinar terik dan suasana sangat panas, kita juga akan menemukan tema lain, misalnya “segarnya es cendol di ujung pasar”.

Demikian juga ketika malam datang, diiringi hujan dan angin yang sangat lebat, dan listrik padam, maka kita pasti akan menemukan tema lainnya, misalnya “para pahlwan di tengah hujan”, yaitu yang menceritakan petugas PLN yang berjibaku menyalakan listrik. Dan….., tentubanyak lagi lainnya.

Apa itu tema?

Seperti dilansir dalam apaitu.net, yang dimaksud tema adalah bagian tidak nampak, suatu ide pokok atau konsep pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Pada setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen, puisi, novel, karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah pondasinya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.

Namun, tema besar tentu tidak cukup. Masih sangat terlalu luas untuk memulai sebuah tulisan pendek yang mungkin hanya terdiri dari lima paragaraf. Maka, kita dapat mencari sub tema, bahkan sub temanya sub tema, agar tulisan pendek kita lebih fokus.

Tema buah-buahan merupakan tema yang sangat luas. Akan lebih mudah kalau kita menulis tentang pisang, sebagai sub tema buah-buahan. Lalu, dari sub tema pisang itu, kita tinggal menguraikan : dari mana asal buah pisang, apa kandungan isi buah pisang, apa manfaat buah pisang, apa saja olahan dari buah pisang, dan mungkin bagaimana cara budidaya buah pisang.

Contoh lain tema seni. Sekali lagi, tentu akan sangat luas membicarakan seni. Maka akan lebih mudah, menuliskan tentang seni suara. Untuk lima paragraf, kita akan lebih mudah menuliskan tentang sub tema seni suara dengan menjelaskan bagian-bagian dari seni suara, seperti nada, irama, lagu, jenis-jenis alat musik, jenis-jenis musik, musisi terkenal, lagu asli Indonesia, dan seterusnya. Mudah kan?

Secara garis besar, tema dibagi menjadi dua bagian besar, tema pendek dan tema panjang. Tema pendek seperti percintaan, perjuangan, persahabatan, pendidikan, agama, dan lain-lain. Sedangkan tema panjang seperti “semangat menulis untuk mencapai keberhasilan”, atau “motivasi belajar menulis untuk mengabadikan karya”, dan lain-lain. (ans)

Akibat Menulis

Menulis merupakan aktivitas yang menyenangkan. Kita dapat menuangkan semua pikiran, keinginan, kekesalan, bahkan kemarahan dalam tulisan kita. Sehingga, semua gundah dan kesal di hati menjadi “plong” karenannya. Tetapi harus diingat juga, hati-hatilah dalam menulis. Sebab, kita tetap saja harus bertanggung jawab dengan tulisan kita.

Pada saat menulis fiksi, kita akan lebih bebas melepaskan keinginan kita. Hal-hal yang tidak masuk akal pun tidak menjadi persoalan. Sinetron-sinetron yang kita tonton di televisi kita sehari-hari, contoh nyata visualisasi pikiran-pikiran tidak masuk akal. Banyak hal-hal yang tidak sewajarnya ada dalam kehidupan nyata, tervisualisasikan dalam sinetron kita. Tiba-tiba kaya, yang sudah tiba-tiba hidup kembali, yang sudah kaya tiba-tiba kehilangan semua harta benda, dan seterusnya. Parahnya, terjadi dengan alasan-alasan yang kadang justru membuat kita menjadi “bodoh”.

Tapi itulah cerita fiksi. Kita boleh ber-imaginasi dengan apa saja yang ada di dalam angan kita. Menghkhayal, mereka-mereka, mendongeng, dan banyak hal non ilmiah lainnnya, dapat kita tuangkan dalam tulisan atau cerita fiksi kita. Bahkan, jika kita ingin jagi superhero pun, bisa saja. Maksudnya, bisa kita tuangkan dalam tulisan kita!

Berbeda dengan tulisan fiksi, tulisan non fiksi lebih membutuhkan data. Terserah sih penyajiannya seperti apa. Serius, formal, atau malah santai, boleh-boleh saja, tetapi tetap saja berbasis fakta dan data. Oleh karena itu, kita perlu “modal” data yang akurat untuk menulis tulisan non fiksi.

Menulislah Agar Sehat

A.S Laksana, sebagaimana di lansir dalam diankurniaid.wordpress.com, mengatakan “Menulislah, itu tindakan yang akan membuat anda sehat, bernasib baik, dan selalu memiliki kejernihan pemikiran. Mengapa? Ketika anda menulis, anda memanfaatkan seluruh fungsi pikiran. Anda mengingat, menganalisa, membuat keputusan, membuat kesimpulan, mengaplikasikan pengetahuan anda, berlogika, dan sebagainya jika masih ada yang belum saya cantumkan.

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa banyak penyakit fisik yang berasal dari pikiran. Stress merupakan salah satu kondisi yang membebani pikiran yang dapat mengakibatkan banyak penyakit. Pikiran yang fresh dan jerniha akan menjauhkan kita dari stress.

Di lansir dalam www.halodoc.com, bahwa gangguan psikosomatis merupakan kondisi yang umumnya terjadi karena stres. Penyakit ini melibatkan pikiran dan tubuh, dan berujung pada munculnya penyakit fisik. Gangguan psikosomatis menyebabkan pikiran memengaruhi tubuh, dan pada akhirnya menyebabkan penyakit muncul atau penyakit bertambah parah

Dengan menulis kita dapat menuangkan semua isi pikiran kita. Beban akan berkurang dan pikiran akan jernih kembali. Hanya saja, sekali lagi, kita perlu bijak dan berhati-hati, ketika tulisan kita menyangkut orang lain atau pihak-pihak tertentu. Jangan sampai kekesalan tertumpah, masalah bertambah! (ans)

Tulisan tentang Kelas Menulis

Sebagai bagian dari penguatan literasi, kelas menulis mulai juga bermunculan. Orang ingin menulis. Meskipun, selama ini juga sering menulis. Ternyata, sebagian masih ragu apakah tulisannya layak dibaca oleh orang lain. Emangnya, orang lain layak menilai tulisannya? Jangan-jangan si pembaca juga ndak pandai menulis, apa lagi menilai tulisan!

Pede ternyata masih menjadi permasalahan utama. Tiap hari kita bermedsos, menulis status, membalas chat, membuat pengumuman, mengundang pertemuan, semuanya lo pakai tulisan. Masak kita masih ragu kalau kita sudah bisa menulis? Maka modal utama menulis adalah percaya diri. Percaya kalau tulisan kita memang layak dibaca.

Percaya diri saja tentu tidak cukup. Kita harus membuktikan dengan karya nyata. Membuat tulisan. Menurut Dr. Ngainun Naim, seorang penggiat literasi dan pakar dalam menulis, “menulis tidak harus panjang. Lima paragraf sehari, cukuplah. Yang penting rutin, dan serius”.

Dr. Ngainun Naim menyarankan siapa saja yang ingin belajar menulis untuk membuat blog. Pertama, karena blog itu gratis. Sehingga kita tidak memerlukan tambahan biaya untuk membuat blog. Kedua, sangat mudah pengoperasiannya. Dan ketiga, kita dapat menyimpan tulisan, dan dengan mudah dapat mengambil dan mengumpulkannya menjadi sebuah buku.

Bagaimana kalau tidak ada yang baca? Ya gak papalah. Tujuan kita kan saving tulisan. Perkara ada yang baca alhamdulillah, kalau gak ada ya gak papa. Bahkan, seorang penulis pemula ada yang pinginnya tidak dibaca orang dulu tulisannya. Sampai ia yakin tulisannya itu layak dibaca orang, paling tidak menurutnya. Alhasil, dibaca atau tidak dibaca oleh orang lain tentu tidak penting bagi kita.

Kelas menulis seharusnya menghasilkan penulis-penulis baru. Yang terpenting dari kelas menulis adalah karya tulisan. Kelas menulis, atau workhsop harus dapat menghasilkan karya. Kelas menulis bukan seminar apa lagi stand up comedy, yang membuat kita tertawa-tawa saja, kemudian sudah. Sehingga, berhasil atau tidaknya kelas menulis diukur dari seberapa banyak dan sebaik apa hasil karya tulisan dari pesertanya.

Persoalan sertifikat? Jangan deh! Jangan menjadi pertimbangan. Sudah tidak penting lagi kita mempertimbangkan secarik kertas yang kemudian kita simpan dengan baik tanpa tahu kapan harus digunakan. Hehehe…

Workshop Literasi yang dilaksankan oleh Pergunu Tulungagung pada tanggal 7 Nopember 2020 lalu, tak lain adalah kelas menulis. Sangat disayangkan jika tidak ada product menulis dari kelas itu. Ayolah… menulis di blog kita masing-masing. Terserah apa yang ditulis. Bahkan, hal-hal yang tidak penting pun bisa ditulis. (ans)

Pentingnya Hal-Hal yang Tidak Penting

Dalam sebuah ceramahnya, KH Bahaudin Nursalim menceritakan murid seorang waliyullah yang bersua gurunya dalam mimpi, dan menanyakan apa yang terpenting dalam kehidupan kita? Ternyata, setelah kita masuk di alam barzah, yang terpenting adalah sujud-sujud kita kepada Allah Swt, bukan nama besar, pengaruh, jabatan, pertemanan, dan sebagainya.

Memang benar juga ya? Sering kali, dalam kehidupan riil skala mikro saja, hal-hal pokok dan utama seringkali terlupakan oleh hal-hal yang sebenarnya di luar konteks. Kita sering kali mementingkan dress code dalam sebuah seminar, daripada materi seminarnya itu sendiri. Ketika seminar selesai, apa yang kita dapat? Nothing. Tapi, persiapan pakaian yang kita pakai saja, bisa membutuhkan waktu berhari-hari.

Ketika “orang besar” datang, apa yang kita lakukan? Persiapan yang besar, makanannya apa, jenisnya apa saja, penyajiannya bagimana, nanti siapa yang menyambutnya, seragam panitianya apa, dan seterusnya. Substansinya apa? Ndak tau.

Padahal, beliau-beliau datang sesungguhnya membawa sesuatu yang penting. Seharusnya. Bukan sekedar seremonial atau bahkan protokol penyambutan yang wah. Dan, kok ya klop! Para “orang besar” justru mementingkan formalitas dari pada substansi kegiatannya! Sambutan yang meriah, setting acara yang mewah, atau hiburan yang heboh, justru mendapatkan penghargaan dari substansi acara kedatangannya itu sendiri. Atau, memang jangan-jangan substansi kegiatannya ya kemeriahan acara itu sendiri ya? Upps!

Kehidupan “modern” kita, telah menjebak kita kepada apa yang nampak penting. Essensi dan substansi berada dijajaran belakang dari perhatian kita. Padahal, hal terpenting yang kita butuhkan, adalah essensi dan substansi itu sendiri.

Untuk hidup kita perlu makan. Dalam ajaran Islam, makanan harus halalan thoyiban. Halal dilandaskan pada hukum syariat, baik hala dzat, cara memperoleh, dan cara mengelolanya. Sedangkan “toyib” juga bermakna sehat dan bergizi seimbang.

Jika kita berorientasi pada itu, maka yang terpenting adalah kehalalan makanan dan terpenuhinya gizi seimbang untuk tubuh kita. Sehingga, dalam membuat atau membeli makanan yang terpenting bagi kita seharusnya hanya pada rasa, kebersihan, gizi, dan kehalalannya. Bukan cara penyajiannya, bukan warna dan keindahannya, bukan tempat makannya, bukan kemasannya, apalagi kecantikan pelayannya! Hehe…

Sementara, makanan kita menjadi mahal justru bukan karena kebutuhan kita, tetapi karena keinginan kita. Nasi pecel masak sendiri hanya membutuhkan biaya 10 ribu untuk satu keluarga dengan 2 orang anak. Sementara, nasi pecel yang dibuat di rumah makan, membutuhkan 15 ribu untuk satu orang anggota keluarga. Jauhkan? Padahal, yang terpenting adalah terpenuhinya makan pagi kita saat itu, bukan “dimana” makan paginya.

Sebagian orang rela menjual sawah untuk membeli mobil, padahal ia hanya bekerja tak kurang dari 5 km dari rumahnya. Kebutuhan akan mobil pun bukan kebutuhan primer? Tapi, ia rela menjual sawah warisan orang tuanya. Apakah ia sangat membutuhkan mobil? Mungkin iya, untuk kepentingan-kepentingan acara keluarga? Tapi apakah ia membutuhkan mobil mewah yang harus menghabiskan ratusan juta? Nah ini masalahnya.

Dalam konteks agama, kita juga banyak mementingkan yang tidak penting dan mementingkan hal-hal yang tidak penting. Kewajiban shalat kita, lebih sering kita nomor duakan, dari pekerjaan, pertemuan, atau bahkan hanya sekedar melanjutkan menonton sinetron yang lagi seru-serunya. Kewajiban zakat kita, justru banyak kita lupakan karena kita gunakan dananya untuk berliburan jauh dan mahal, yang seharusnya kita letakkan di nomor berikutnya. Dan, masih banyak kepentingan-kepentingan dan kehebohan dunia, yang seringkali melupakan kita akan pentingnya hal-hal penting akhirat kita.

Wallahu’alam.