Refleksi HGN 2020: Menjadi Guru Mulia

Menjadi guru adalah anugerah. Mengapa? Tidak semua orang bisa menjadi guru secara formal. Meskipun sebenarnya, setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Dalam artian, kita dapat belajar apa saja kepada siapa saja, sekaligus kita juga dapat belajar di mana saja. Belajar tidak harus di kelas, di rumah pun bisa. Bahkan, dulu nenek moyang kita belajar di tepi hutan, di atas bukit, atau bahkan di goa-goa yang tersembunyi. Sekarang pun kita masih suka belajar di mushola, di halaman rumah, bahkan kebun sekolah.

Guru memiliki status yang mulia. Di masyarkat guru sangat dihormati oleh siapa saja. Meskipun guru itu miskin, gajinya kecil, kendaraannya sepeda ontel, tetap saja dimuliakan. Lagu Omar Bakri yang sangat populer di tahun 80 an, menggambarkan sisi-sisi kemiskinan guru pada saat itu. Namun tetap saja, masyarakat menghormatinya, menghargainya, memuliakannya.

Guru tidak dihormati karena mobilnya yang kinclong, rumahnya yang mewah, bajunya yang keren, atau perhiasannya yang heboh. Mereka dihargai karena beberapa hal, antara lain:

Pertama, tentu karena ilmu. Ya, ilmu lah yang membuat para guru dihargai. Dengan iman di dalam hati dan ilmu yang dimiliki itu, Allah Swt meninggikan derajat para guru di atas derajat orang lain beberapa derajat. Sesuai janji Allah Swt :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS Al Mujadalah : 11)

Ilmu adalah modal utama menjadi guru. Ilmu itu dinamis dan berkembang. Maka para guru juga harus dinamis dan berkembang. Jangan hanya stack di modal awal, tetapi harus selalu meningkatkan kompetensinya. Guru terbaik adalah guru yang tidak berhenti belajar.

Di era digital ini tuntutan untuk meningkatkan kompetensi guru semakin meningkat. Guru tidak saja harus menguasai materi, tetapi juga harus kreatif dan inovatif dalam mengajar. Penggunaan media pembelajaran yang variatif harus menjadi salah satu perhatian guru dalam mengajar. Model, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru harus selalu up to date sehingga pembelajaran tidak membosankan.

Kedua, para guru dimuliakan masyarakat karena akhlaknya. Guru adalah orang-orang yang mengedepankan sopan santun, berbicara halus namun tegas, tidak suka mencaci, selalu memberi motivasi, dapat memberikan solusi, dan seterusnya. Akhlak mulia yang melekat pada diri guru itulah yang membuat mereka dimuliakan Allah Swt dan manusia.

Rasulullah Muhammad Saw merupakan uswah hasanah akan semua hal, khususnya kemuliaan akhlak. Selain itu, beliau adalah guru dari semua guru. Dalam belajar Islam, semua sanad keilmuan harus bermuara pada beliau. Para sahabat adalah murid beliau. Para tabi’in adalah murid para sahabat. Demikian seterusnya sampai pada ulama’ dan para guru tempat kita menimba ilmu.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku (Rasulullah ﷺ) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad  2/381)

Namun demikian, para guru menghadapi tantangan yang besar untuk mempertahankan kemuliaan akhlaknya ini. Banyaknya fasilitas yang diberikan pemerintah, membuat sebagian guru lupa menjaga akhlaknya. Tidak sedikit guru yang lebih suka tampak glamour, padahal akan lebih indah jika para guru tetap bersahaja. Dengan pendapatan yang melimpah, sebagian guru justru terjebak dalam hedonisme dan materialisme yang justru merongrong kemuliaan dan kewibawaannya.

Ketiga, para guru dimuliakan masyarakat karena keihlasannya. Keikhlasan itulah yang membuat dirinya berharga. Para guru banyak melakukan hal-hal dengan tidak memperhatikan berapa upah yang didapatkannya. Menolong orang tanpa pamrih, mengajari dan membimbing siswa sampai habis waktunya.

Para guru adalah orang-orang yang dapat menghantarkan anak-anak menuju cita-cita. Sementera mereka tetap di tempat, mengajari anak yang silih berganti dari generasi ke generasi. Menghadapi anak nakal dengan sabar, menghadapi siswa “tidak pandai” dengan telaten, dan seterusnya. Labuh seperti itulah yang membuat guru mulia.

Pada Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2020 ini, Pergunu sengaja membuat tema khusus, yang berbeda dengan tema nasional yang dirilis oleh Kemendikbud. Tema khusus itu adalah ” Guru Mulia Teladan Bangsa”. Tema ini seperti mengingatkan kepada kita, untuk tetap menjaga kemulian kita para guru, yaitu dengan menjadi teladan bagi bangsa.

Menjadi teladan itu sulit, tetapi itulah tugas guru. Teladan dalam hal beragama, bertingkah laku, dan bersikap elegan dalam menjalankan tugasnya. Menjadi mulia tidak mudah, tetapi predikat itu akan tetap diberikan masyarakat jika para guru dapat menjaga ilmu, akhlak, dan keihlasannya. Selamat HGN Tahun 2020, semoga kemuliaan tidak hanya diberikan oleh masyarakat, tetapi juga oleh Allah Swt baik di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Guru adalah orang mulia dan dimuliakan. Jangan menodai kemuliaan guru, dengan perbuatan-perbuatan bodoh, tidak berakhlak, dan tidak ikhlas!

.