Antara Aku, Sekolah, dan Guruku

Kita terlahir dalam keadaan bodoh, tanpa ilmu. Ibu kita adalah guru pertama kita. Ibu lah yang mengajari kita minum dan makan, menemani kita bermain, membimbing kita merangkak, berjalan, dan berlari, dan seterusnya. Ibu juga yang pertama-tama mengajarkan nilai-nilai agama, kemanusiaan, kebaikan, dan kesopanan serta tata krama.Pada prinsipnya, al ummu al madrasatu al’ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Setelah cukup usia, ibu membawa kita ke sekolah. Di sekolah itu guru kita bertambah. Ada orang lain yang baru kita kenal, yang juga mengajarkan kebaikan dengan banyak metode dan pendekatan. Mereka orang yang baru kita kenal, tetapi memperlakukan kita seperti anak-anaknya. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing kita. Tidak hanya tentang materi pelajaran, tetapi juga kehidupan pribadi kita. Mengajari cara duduk, membaca, menulis, berteman, bahkan menemani kita ke kamar mandi jika kita ingin buang air kecil.

Melalui pendidikan anak usia dini, guru kita mengembangkan pengetahuan agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa, dan seni. Ke enam aspek pengembangan PAUD itu merupakan target utama pembelajaran di anak usia dini. Melalui pengembangan keenam aspek itu, para guru menyiapkan diri kita menapaki jenjang pendidikan berikutnya.

Di sekolah dasar, kita belajar dengan lebih banyak materi. Demikian juga gurunya. Disini kita mengenal lebih banyak guru. Ada wali kelas, guru mata pelajaran, dan pelatih kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu kita juga mengenal lebih banyak teman. Ada kakak-kakak kelas kita, mulai dari kelas 2 sampai kelas 6. Dari situ, kita belajar banyak karakter dan sifat orang lain yang juga harus kita sikapi secara bijak.

Di sekolah ini kita juga mulai mengenal banyak buku. Para guru menunjukkan buku wajib yang harus kita baca, buku bacaan lain untuk memperkaya khazanah keilmuan, buku-buku cerita untuk memotivasi, dan tentunya lembar kerja tempat kita mengerjakan tugas. Kita mulai mengenal luasnya ilmu dan berbagai sumbernya. Apalagi, di zaman teknologi informasi ini kita juga mengenal ebook dan sumber belajar digital lainnya.

Di sekolah menengah pertama, jangkauan pertemanan kita semakin luas. Guru yang kita kenal juga semakin banyak. Berbagai problema masa remaja dan pubertas mulai kita hadapi. Anak laki-laki mulai suka pada anak perempuan, demikian juga sebaliknya. Cinta monyet mulai bertumbuhan, meskipuan biasanya banyak yang “layu sebelum berkembang”.

Disini kita juga belajar manajemen waktu. Setiap guru kita adalah guru bidang studi. Masing-masing memiliki target pembelajaran yang harus dikejar. Tugas demi tugas bermunculan. Masing-masing bidang studi memiliki beban pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan. Meskipun jumlah jam yang kita miliki tetap saja 24 jam.

Sementara kita juga mulai akrab dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Di masyarakat kita mulai mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan bersama anak-anak remaja lainnya. Di tempat mengaji kita juga bergaul dengan komunitas lain. Sementara kita juga mulai menyukai kegiatan berdasarkan minat dan bakat kita. Habis semua waktu untuk kegiatan dan kegiatan.

Banyak anak yang mulai akrab dengan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Bukan karena sok kenal dan sok dekat, tetapi karena “panggilan” guru BP yang harus didatangi. Kenakalan-kenalakan mulai bermunculan. Membolos, merokok, mengerjai teman, membantah guru, dan berbagai persoalan “masa menentang” lainnya.

Bagi sebagian anak, guru tidak lagi menjadi sosok yang disayangi. Tetapi lebih menjadi guru yang ditakuti. Meskipun tidak semua, kedisiplinan yang diterapkan guru di sekolah menengah banyak berbenturan dengan masa-masa merasa dewasa dan ingin bebas yang dirasakan anak-anak sekolah menengah pertama. Keakraban dengan guru semakin berkurang karena moment kebersamaan juga semakin berkurang.

Di sekolah menengah atas, hubungan kita dan para guru tidak semakin dekat. Pertemuan dengan guru lebih terbatas pada pelajaran dan tugas. Setiap pertemuan dengan guru selalu berkaitan dengan “apa yang harus dikerjakan”. Sementara keakraban kita dengan buku harus semakin ditingkatkan.

Peran guru sebagai sumber belajar semakin berkurang. Para siswa sekolah menengah atas harus bisa memvariasikan sumber belajarnya. Mereka tidak boleh lagi tergantung pada guru. Guru lebih berperan sebagai pembimbing yang hadir disaat para siswa mengalami kesulitan. Disamping guru juga harus berkreasi menciptakan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat belajar dan hidup mandiri.

Dengan berbagai peran dan posisinya, guru tetap saja orang hebat yang telah mendampingi kita meraih apa yang kita inginkan. Guru kita adalah orang-orang yang berjasa membimbing kita meraih ilmu pengetahuan dan berkontribusi banyak dalam membentuk karakter kita. Tanpa mereka kita akan belajar dengan cara yang amburadul dan tidak terarah. Terlepas dari bagaimana cara beliau membimbing kita, beliau tetap saja pahlawan yang sangat berjasa bagi kehidupan kita.

Terima kasih guruku.