Archives December 2020

Ada Apa Tahun Baru

Biasanya, menjelang tahun baru, banyak perayaan dilakukan. Alasannya satu, adanya harapan baru di tahun depan, dan menutup “kenangan-kenangan buruk” di masa lalu. Harapan baru itu diungkapkan dengan pesta kembang api, “bakar-bakaran ayam atau ikan” bersama teman, pesta-pesta lain, dan seterusnya. Lalu, apakah harapan baru dimulai dari sebuah pesta?

Benarkah ada sesuatu yang baru di tahun baru? Bukankah hari-hari kita tetap berulang dari waktu ke waktu? Jika hari ini hari Sabtu, tujuh hari lagi kita akan bertemu hari Sabtu lagi? Pagi berganti siang, siang digantikan sore, sore digantikan malam, dan setelah malam terlewat maka pagi datang menjelang? Begitu-begitu saja bukan?

Setiap Hari adalah Beda

Bisa jadi, hari ini sama namanya dengan seminggu yang lalu. Hari ini Sabtu, seminggu lalu juga Sabtu. Tetapi, kalau kita pahami dengan lebih mendalam, kita akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Beda apanya?

Ya, bisa jadi nama harinya sama. Tetapi, apakah kita menapaki hari ini pada usia yang sama dengan hari yang sama minggu yang lalu? Tentu tidak. Mengapa? Karena waktu tidak pernah bejalan mundur, apalagi melingkar. Waktu adalah garis lurus, yang dimulai dari satu titik yang pasti, dan akan berhenti pada titik yang kita tidak tahu.

Sabtu hari ini, bisa jadi kita makan nasi. Tapi nasinya ndak sama lo, dengan nasi hari Sabtu minggu lalu. Mungkin minggu lalu kita makan nasi goreng, hari ini nasi rawon, dan sebagainya. Minggu lalu kita makan bersama teman, mungkin hari ini kita makan sendirian, atau bersama orang-orang yang tidak kita kenal di dalam sebuah warung. Dan, banyak lagi yang membuat hari selalu berbeda.

Yang pasti, kita harus mempertanggungjawabkan hari-hari yang kita lewati. Dimana kita pergi, apa yang kita lakukan, kebaikan apa yang sudah kita perbuat, atau kesalahan apa yang telah kita lakukan. Mungkin kita sudah melupakannya, tetapi dua malaikat mencatatnya detik demi detik. Sampai, tak ada satupun yang terlewat dari apa yang telah kita lakukan.

Muhasabah

Satu hal yang patut kita lakukan disetiap saat adalah muhasabah. Muhasabah adalah melihat cermin dan meneliti diri kita sendiri. Tentang apa yang telah kita lakukan pada hari-hari yang kita lewati. Jika baik, dipertahankan dan ditingkatkan. Jika salah, diperbaiki. Jika kurang, dilengkapi, dan seterusnya.

Kesempatan hanya datang sekali. Tidak adakah kesempatan kedua? Bisa jadi ada, tetapi tidak sama antara kesempatan yang pertama dan kedua. Kesempatan pertama berada pada titik waktu masa lalu, sedangkan kesempatan kedua datang pada titik waktu berikutnya.

Muhasabah tidak berhenti dari menemukan kesalahan dan kekurangan. Tetapi, lebih dari motivasi untuk memperbaiki dan meningkatkan. Banyak orang yang telah menemukan kesalahan besar dalam hidupnya. Sayangnya, tidak semua bersegera memperbaikinya. Mereka hanya berhenti pada penyesalan tiada guna.

Muhasabah menunjukkan semakin sempitnya waktu yang tersisa. Maka, sebaik-baiknya muhasabah adalah menggunakan sisa waktu untuk melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kesalahan dan meningkatkan prestasi kita. Yaitu, sedekat mana kita kepada Allah Swt. Sehebat apa kita mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Masehi vs Hijriyah

Jujur, tahun masehi bukanlah tahun Islam. Ibadah haji, puasa, hari raya Iedul Fitri, Iedul Adha, dan sebagainya, semua tidak dihitung berdasarkan kalender masehi. Sehingga, bagi umat Islam tahun hijriyah jauh lebih patut untuk diperhatikan. Sayangnya, perhatian umat Islam terhadap kalendernya sendiri, belum begitu kuat dan dominan.

Sehingga, ini juga jujur, hampir semua lini kehidupan “duniawi” kita, dihitung berdasarkan kalender masehi. Pendidikan, ekonomi, sosial, politik, tata negara, dan sebagainya, semua dilakukan berdasarkan tahapan yang direncanakan berdasarkan tahun masehi. Demikian juga evaluasi dan pelaporannya, sebagian besar atau bahkan semuanya, dilaksanakan berdasarkan tahun masehi. Mau tidak mau, kita masih tetap harus menggunakan tahun masehi dalam kehidupan kita.

Bangsa Indonesia, cukup jauh tercerabut dari akar sejarah kehidupannya. Tidak perlu terlalu jauh, kakek dan nenek kita, masih lebih akrab dengan tahun hijriyah dibanding kita. Paling tidak, orang Jawa semasa kakek dan nenek kita, lebih banyak menggunakan tahun hijriyah yang telah diadaptasi menjadi tahun Jawa oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam.

Bulan-bulan ditahun Jawa (tahun saka) memiliki kesamaan dengan nama bulan di tahun hijriyah. Bulan Muharram disebut dengan bulan Suro dalam tahun Jawa, karena di dalamnya terdapat hari yang mulia yaitu hari Asy Syura. Safar disebut dengan Sapar, bulan Roubi’ul awal disebut dengan bulan Mulud, karena di dalamnya terdapat tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw yang dikenal dengan Maulid Nabi atau Maulud Nabi, dan seterusnya.

Bagi kakek dan nenek kita, hari Akad (maksudnya Ahad), jauh lebih populer. Di Jawa, bulan-bulan seperti Suro, Sapar, Mulud, dan seterusnya, lebih banyak digunakan daripada Januari, Pebruari, Maret, dan seterusnya. Apalagi, di Jawa juga dikenal dengan istilah pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage yang berdampingan dengan tujuh hari dalam seminggu.

Oleh karena itu, cukup alasan juga bila ada ajakan sebagian umat Islam untuk kembali menguatkan kelender hijriyah. Meskipun, juga tidak tepat kalau harus “mengkafirkan” orang-orang yang tetap setia dengan kalender masehi. Tidak cukup alasan menganggap orang-orang yang masih tetap menggunakan kalender masehi dianggap telah keluar dari Islam bukan?

Tapi, kalau tidak mulai dari kita, siapa lagi? Kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi? Adalah tepat kiranya jika kita menggunakan tanggal-tanggal dalam kalender hijriyah pada kegiatan-kegiatan yang memungkinkan kita menggunakannya. Jangan lantas kita meninggalkannya atau bahkan melupakan yang sesungguhnya milik umat Islam sendiri.

Sudah sepantasnya jika kegiatan-kegiatan sosial keagamaan kita sudah mulai kembali pada penanggalan hijriyah. Agar generasi penerus kita dapat mengenal, mencintai, dan menggunakan tahun hijriyah dalam kehidupannya. Bukan menyalahkan penggunaan tahun masehi, tetapi apa tidak lebih baik jika umat Islam menggunakan tahun hijriyah yang telah ditetapkan oleh Khalifah Umar Ibn Khatab itu? (ans)

Antara Jenang dan Jeneng

Alkisah, seorang kawan menceritakan pada saya, “Mas, yang penting buat “jeneng” dulu, nanti kamu pasti akan dapat “jenang”.

Emang ada hubungannya? Antara “jenang” dan “jeneng”? Eh, apa itu “jeneng” dan “jeneng”? Bagi orang Jawa, memang tidak sulit membedakannya. Tapi, bagi yang “tidak jawa”, bisa jadi tidak paham dengan istilah “jenang” dan “jeneng”.

Jeneng dalam bahasa Indonesia berarti nama. “Jenengmu sapa?”, berarti “namamu siapa”. Orang Jawa memang suka membuat “sanepa”, yah seperti peribahasa lah. Sehingga banyak hal yang dikomunikasikan dengan cara simbolik, kata-kata konotatif, atau sindiran. Orang Jawa memiliki karakter yang agak berbeda dengan orang-orang suku lain, seperti orang-orang Betawi yang lebih suka terbuka dan berbicara apa adanya.

Dalam budaya Jawa, “rasa dan rumangsa”, lebih utama. Orang Jawa seringkali “sungkan” untuk menolak meskipun ia tidak suka. Atau, orang Jawa seringkali suka mengatakan “sudah kenyang” meskipun sebenarnya ia lapar, hanya karena tidak ditawari makan dengan tuan rumah dengan sungguh-sungguh. Orang Jawa lebih suka merasa lapar tetapi memiliki harga diri, daripada dapat merasa kenyang karena berebut nasi.

Kita harus hidup dengan rasa. Sebagai contoh, jika orang lain membutuhkan pertolongan kita, maka kita harus merasa. Dari rasa itu akan tumbuh rumangsa. Maka, setelah kita ditolong orang lain, kita juga harus mengucapkan terima kasih, demikian seterusnya.

Demikian juga dengan “jeneng”. Prinsipnya, yang penting dari seseorang adalah bekerja dulu, dengan giat, keras, dan hasil yang nyata. Hasil itulah yang membuat kita memiliki nama. Jika kita sudah diakui kepandaian, ketekunan, kerja keras, dan komitmen kita akan sesuatu, maka orang akan dengan mudah memberikan kepercayaan kepada kita. Tidak cukup bagi orang lain cerita-cerita atau “omong besar” tanpa bukti yang nyata. Satu bukti karya kita, jauh lebih berharga dari ribuan kata yang tidak membuktikan apa-apa. Bukti itulah yang akan meninggikan “jeneng” kita.

Para pakar, teknokrat, cendekiawan, dan sebagainya, akan diakui keberadaannya jika mereka telah dapat membuktikan kemampuannya. Dari kemampuan dan karya nyata itulah mereka akan memiliki nama besar. Biasanya, nama besar itulah yang akan menghasilkan sesuatu yang berharga.

Diantara para penulis misalnya, tulisan si A dan si B bisa saja memiliki materi yang sama. Tetapi, pendekatan, cara menyampaikan, sudut pandang, kedalaman pembahasan, dan detil yang berbeda. Sehingga, media massa akan memberikan “bayaran” yang berbeda terhadap tulisan dengan tema sama tersebut.

Jenang, dalam konteks pembahasan di atas adalah penghasilan atau penghargaan. Ketika seseorang sudah memiliki nama besar, maka akan dengan mudah mendapatkan penghasilan. Namun jangan lupa, nama besar itu diperoleh dengan kerja keras dan karya nyata. Intinya, jangan meributkan berapa pendapatan saya, sebelum dapat menunjukkan sebagus apa karya kita. Sebaliknya, ketika kita sudah dapat menunjukkan karya yang istimewa, maka otomatis penghargaan orang baik dari sudut materi maupun non materi, akan kita dapatkan.

Menjemput Rezeki

Apa itu rezeki? “Rezeki adalah sesuatu yang kita upayakan dan kita manfaatkan hasilnya”, kata Prof. Dr. Quraish Shihab dalam suatu ceramahnya di acara “Shihab dan Shihab” pada suatu kesempatan. Dalam definisi itu, ada dua hal utama yaitu upaya dan manfaat. Artinya, untuk memperoleh rezeki kita melakukan upaya, dan untuk klop menjadi rezeki kita, kita memanfaatkannya.

Wa min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha wa ya’lamu mustaqoroha wa mustawda’aha kullu fi kitabin mubin. Yang artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfuz),” katanya mengutip Surah Hud, penggalan ayat 6 sebagaimana dilansir dalam britabrita.com.

Tidak semua yang kita peroleh menjadi rezeki kita. Bisa jadi kita mendapatkan banyak uang dari kerja kita, tetapi tidak semua uang kita manfaatkan sendiri. Di dalam penghasilan yang kita peroleh itu, ada juga rezeki dari anak dan istri kita, orang tua, keluarga, atau orang lain yang berhak menerimanya. Dengan demikian, tidak semua yang kita peroleh itu menjadi rezeki kita.

Rezeki tidak selalu berupa uang. Yah, meskipun sebagian orang masih menganggap bahwa uang merupakan rezeki yang menjadi impian utama. Kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, keamanana, dan lain sebagainya, adalah rezeki yang diberikan Allah Swt kepada manusia.

Bisa jadi seseorang mendapatkan uang yang banyak, tetapi ternyata rezekinya sedikit. KH Hasyim Muzaki pernah mengatakan, “Ketika masih muda, saya senang durian, tapi tidak punya uang untuk membelinya. Sekarang, ketika saya sudah bisa membeli durian, dengan alasan kesehatan, saya tidak boleh mengkonsumsinya”.

Kita juga mendengar betapa banyak cerita-cerita orang kaya, yang tidak boleh makan ini dan itu, karena akan mengganggu kesehatannya. Sementara orang-orang miskin, makan apa saja boleh, tidak berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Bahkan, makan makanan yang menurut orang lain tidak sehat dan higenis, oke-oke saja.

Rezeki Tidak Selalu Halal

Rezeki tidak selalau halal. Kita dapat memanfaatkan apa yang kita peroleh dengan cara yang tidak benar, sesuai kemauan kita. Bisa jadi kita mendapatkan uang dari cara korupsi, menipu, berbohong, mencuri, dan sebagainya, semua itu selama dapat kita manfaatkan untuk kita, itu rezeki kita. Hanya saja, kita akan mempertanggungjawabkan cara kita meraih rezeki itu.

Salah satu orang yang merugi adalah jika ia berusaha mendapatkan banyak rezeki dengan cara yang salah. Para koruptor menumpuk harta, ketika ia meninggal, hartanya dimanfaatkan oleh keluarganya. Sementara si keluarga tidak tahu darimana ia asal dari harta itu. Maka dimanfaatkan harta peninggalkan leluhurnya itu untuk kebaikan. Sehingga ia memperoleh pahala dari kebaikannya itu. Sementara sang koruptor yang telah meninggal dunia, tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Naudzubillahi min dzalik.

Rantai Rezeki

Rezeki, sampai pada kita melalui sebuah rantai rezeki. Ada rezeki dengan rantai yang panjang, ada pula yang pendek. Anak-anak kita, terutama yang masih bayi, mereka mendapatkan ranti rezeki yang pendek. Sampainya rezeki pada bayi, selau cepat dan tidak membutuhkan upaya. Cukup menangis, datanglah rezeki itu.

Anak bayi tidak perlu masak, tidak perlu mengambil makanan, bahkan tidak perlu menyuapkan sendri makanannya. Ayah dan ibu akan dengan senang hati menghantarkan rezeki Allah Swt padanya. Inilah rantai rezeki yang pendek.

Orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya sederhana, memiliki rantai rezeki yang pendek. Mereka mudah puas dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya. Mereka makan seadanya, dimana saja, selama ada yang di makan.

Sementara orang-orang kaya cenderung panjang rezekinya. Ia harus makan makanan yang enak. Setelah ketemu yang enak harus cari yang bergizi. Setelah itu harus dimasak secara higenis. Piringnya harus cari piring yang indah dan mahal. Belum cukup itu, harus juga makan di tempat yang indah dan romantis. Belum cukup juga, harus ditemani dengan teman yang cantik. Hadeeh…, untuk mendapatkan rezeki yang berupa makan malam saja, begitu panjang rantainya.

Rezeki yang Berkah

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, rezeki yang berkah itu jika dapat dimanfaatkan dengan banyak, meskipun jumlahnya sama. Sebagai contoh, satu piring makanan biasanya cukup dimakan untuk satu orang, menjadi rezeki yang berkah jika ternyata satu piring makanan itu dapat dikonsumsi oleh dua atau tiga orang dan mencukupi kebutuhan makan ketiganya.

Rezeki yang berkah mengarahkan kita pada kebaikan. Sebaliknya, rezeki yang tidak berkah mengajak kita pada kemaksiatan. Kalau kita memiliki uang banyak, lalu yang ada dibenak kita adalah bagaimana kita bersedekah, bagaimana kita membantu orang miskin, bagaimana kita membangun masjid dan mushola, dan sebagainya, maka rezeki kita adalah rezeki yang berkah. Sementara jika dengan mendapatkan uang banyak, inginnya kita malah ke diskotik, berjudi, minum-minuman keras, dan sebagainya, maka rezeki kita tidak berkah.

Menjemput Rezeki

Dalam Surah Al Hud ayat 6 sebagaimana disebutkan di atas, ada dua kata kunci yang harus digarisbawahi. Pertama, Allah Swt menjamin rezeki semua makhluk yang diciptakannya. Dan kedua, makhluk itu harus bergerak. Dalam artian, rezeki memang sudah disediakan, tetapi ia harus dijemput.

Manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar. Bekerja adalah satu ikhtiar manusia untuk mencari nafkah, berolah raga merupakan ikhitiar manusia untuk menjemput rezeki yang berupa kesehatan, berpikir positif merupakan upaya manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ya, semua harus diupayakan sebagai tanggung jawab kita untuk “bergerak” itu tadi. Sedangkan seberapa hasil usaha yang kita peroleh, tentu bukan lagi tanggung jawab kita.

Hanya saja, dalam “bergerak” (baca=berikhtiar), manusia harus memperhatikan cara yang digunakannya. Cara yang benar, sesuai tuntunan syariat, akan menghasilkan rezeki yang halal dan berkah, demikian sebaliknya. “Cara yang benar” ini merupakan satu syarat utama yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam menjemput rezeki Allah Swt.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari Ceramah Prof. Dr. Quraish Shihab dengan tambahan dari berbagai sumber.

Ketika Kotaku Kembali Memerah

Dua atau tiga minggu yang lalu, harapan muncul begitu cerah. Di awal tahun 2021, rencananya kembali ada kegiatan tatap muka di sekolah-sekolah. Serta merta, kita merasa semakin “aman” sehingga beberapa kegiatan yang melibatkan massa mulai kita lakukan. Bahkan, beberapa istilah lama yang sudah lama tidak terdengar kini muncul kembali. Salah satunya istilah akeh becek-an. Yang artinya, banyak kegiatan pesta seperti pesta pernikahan, khitanan, ulang tahun, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, rapat-rapat, pelatihan, diklat, pengajian, pertemuan-pertemuan sosial, semua kembali muncul sebagai agenda kegiatan sebagian kita. Kumpul-kumpul bersama teman, ngopi, makan-makan, dan banyak kegiatan bersama lainnya kembali akrab dengan kita.

Kondisi itu ternyata tidak berlangsung lama. Kita semua alpha, bahwa “musuh masih mengintai di balik bukit”. Pandemi belum berlalu, dan virus masih merajalela. Serangan pandemi Gelombang II sudah muncul di beberapa negara. Sebagian negara di Eropa sudah mulai menerapkan lockdown Tahap II. Sementara kita kembali bersikap apatis seperti ketika Covid 19 mulai masuk ke Indonesia.

Memang, beberapa waktu yang lalu, kita sudah dapat menekan persebaran Covid 19. Dengan upaya keras kita semua, grafik persebaran tampak semakin landai, bahkan menurun. Kita dapat menghalau laju persebaran virus karena pertahanan kita yang kuat. Ibarat bermain laptop, security console kita aktifkan, berbagai “antivirus tambahan” kita install, dan kita sangat hati-hati memasukkan flashdisk ke laptop kita.

Namun sayangnya kita lengah. Ketika semua hampir mereda, kita kendorkan prokes dan kita abaikan aturan yang ketat. Lebih dari 50% kegiatan yang melibatkan massa dalam skala kecil dan besar, tidak dapat secara ketat menerapkan protokol kesehatan. Kita begitu yakin Corona telah sirna. Padahal, vaksinasi belum juga kita lakukan. Alhasil, “jebol”-lah pertahanan kota kita.

Rumah sakit rujukan menjadi penuh, tempat isolasi penuh, puskesmas-puskesmas yang dulu hanya disiapkan untuk pengobatan ringan dan penyakit umum, terpaksa digunakan sebagai ruang isolasi pasien terpapar Covid 19. Sebagaimana dilansir pada situs dinkestulungagung.net , pada tanggal 7 Desember 2020 sudah ada 741 kasus terkonfrimasi posisitif, 12 orang dikarantina, 55 orang dirawat, 81 orang diisolasi, 585 orang sembuh, dan 8 orang meninggal. Ya Allah, betapa cerobohnya kita.

Kini saatnya kita perkuat pertahanan kita lagi. Prokes kita terapkan, kurangi kegiatan yang menimbulkan kerumunan, dan seyogjakan kembali aktif manfaatkan teknologi informasi untuk berbagai keperluan. Bisa jadi kita iman dan imun kita kuat, sehingga paparan virus tidak menjadi persoalan bagi kita. Tapi kita harus ingat, ada keluarga, saudara, teman, kerabat, dan oranglain di sekitar kita yang mungkin saja rentan dengan paparan virus ini karena memiliki penyakit bawaan.

Lha dharara, wala dhirara. Jangan membahayakan diri, dan jangan membahayakan orang lain dong! (ans)