Ketika Kotaku Kembali Memerah

Dua atau tiga minggu yang lalu, harapan muncul begitu cerah. Di awal tahun 2021, rencananya kembali ada kegiatan tatap muka di sekolah-sekolah. Serta merta, kita merasa semakin “aman” sehingga beberapa kegiatan yang melibatkan massa mulai kita lakukan. Bahkan, beberapa istilah lama yang sudah lama tidak terdengar kini muncul kembali. Salah satunya istilah akeh becek-an. Yang artinya, banyak kegiatan pesta seperti pesta pernikahan, khitanan, ulang tahun, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, rapat-rapat, pelatihan, diklat, pengajian, pertemuan-pertemuan sosial, semua kembali muncul sebagai agenda kegiatan sebagian kita. Kumpul-kumpul bersama teman, ngopi, makan-makan, dan banyak kegiatan bersama lainnya kembali akrab dengan kita.

Kondisi itu ternyata tidak berlangsung lama. Kita semua alpha, bahwa “musuh masih mengintai di balik bukit”. Pandemi belum berlalu, dan virus masih merajalela. Serangan pandemi Gelombang II sudah muncul di beberapa negara. Sebagian negara di Eropa sudah mulai menerapkan lockdown Tahap II. Sementara kita kembali bersikap apatis seperti ketika Covid 19 mulai masuk ke Indonesia.

Memang, beberapa waktu yang lalu, kita sudah dapat menekan persebaran Covid 19. Dengan upaya keras kita semua, grafik persebaran tampak semakin landai, bahkan menurun. Kita dapat menghalau laju persebaran virus karena pertahanan kita yang kuat. Ibarat bermain laptop, security console kita aktifkan, berbagai “antivirus tambahan” kita install, dan kita sangat hati-hati memasukkan flashdisk ke laptop kita.

Namun sayangnya kita lengah. Ketika semua hampir mereda, kita kendorkan prokes dan kita abaikan aturan yang ketat. Lebih dari 50% kegiatan yang melibatkan massa dalam skala kecil dan besar, tidak dapat secara ketat menerapkan protokol kesehatan. Kita begitu yakin Corona telah sirna. Padahal, vaksinasi belum juga kita lakukan. Alhasil, “jebol”-lah pertahanan kota kita.

Rumah sakit rujukan menjadi penuh, tempat isolasi penuh, puskesmas-puskesmas yang dulu hanya disiapkan untuk pengobatan ringan dan penyakit umum, terpaksa digunakan sebagai ruang isolasi pasien terpapar Covid 19. Sebagaimana dilansir pada situs dinkestulungagung.net , pada tanggal 7 Desember 2020 sudah ada 741 kasus terkonfrimasi posisitif, 12 orang dikarantina, 55 orang dirawat, 81 orang diisolasi, 585 orang sembuh, dan 8 orang meninggal. Ya Allah, betapa cerobohnya kita.

Kini saatnya kita perkuat pertahanan kita lagi. Prokes kita terapkan, kurangi kegiatan yang menimbulkan kerumunan, dan seyogjakan kembali aktif manfaatkan teknologi informasi untuk berbagai keperluan. Bisa jadi kita iman dan imun kita kuat, sehingga paparan virus tidak menjadi persoalan bagi kita. Tapi kita harus ingat, ada keluarga, saudara, teman, kerabat, dan oranglain di sekitar kita yang mungkin saja rentan dengan paparan virus ini karena memiliki penyakit bawaan.

Lha dharara, wala dhirara. Jangan membahayakan diri, dan jangan membahayakan orang lain dong! (ans)