Menjemput Rezeki

Apa itu rezeki? “Rezeki adalah sesuatu yang kita upayakan dan kita manfaatkan hasilnya”, kata Prof. Dr. Quraish Shihab dalam suatu ceramahnya di acara “Shihab dan Shihab” pada suatu kesempatan. Dalam definisi itu, ada dua hal utama yaitu upaya dan manfaat. Artinya, untuk memperoleh rezeki kita melakukan upaya, dan untuk klop menjadi rezeki kita, kita memanfaatkannya.

Wa min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha wa ya’lamu mustaqoroha wa mustawda’aha kullu fi kitabin mubin. Yang artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfuz),” katanya mengutip Surah Hud, penggalan ayat 6 sebagaimana dilansir dalam britabrita.com.

Tidak semua yang kita peroleh menjadi rezeki kita. Bisa jadi kita mendapatkan banyak uang dari kerja kita, tetapi tidak semua uang kita manfaatkan sendiri. Di dalam penghasilan yang kita peroleh itu, ada juga rezeki dari anak dan istri kita, orang tua, keluarga, atau orang lain yang berhak menerimanya. Dengan demikian, tidak semua yang kita peroleh itu menjadi rezeki kita.

Rezeki tidak selalu berupa uang. Yah, meskipun sebagian orang masih menganggap bahwa uang merupakan rezeki yang menjadi impian utama. Kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, keamanana, dan lain sebagainya, adalah rezeki yang diberikan Allah Swt kepada manusia.

Bisa jadi seseorang mendapatkan uang yang banyak, tetapi ternyata rezekinya sedikit. KH Hasyim Muzaki pernah mengatakan, “Ketika masih muda, saya senang durian, tapi tidak punya uang untuk membelinya. Sekarang, ketika saya sudah bisa membeli durian, dengan alasan kesehatan, saya tidak boleh mengkonsumsinya”.

Kita juga mendengar betapa banyak cerita-cerita orang kaya, yang tidak boleh makan ini dan itu, karena akan mengganggu kesehatannya. Sementara orang-orang miskin, makan apa saja boleh, tidak berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Bahkan, makan makanan yang menurut orang lain tidak sehat dan higenis, oke-oke saja.

Rezeki Tidak Selalu Halal

Rezeki tidak selalau halal. Kita dapat memanfaatkan apa yang kita peroleh dengan cara yang tidak benar, sesuai kemauan kita. Bisa jadi kita mendapatkan uang dari cara korupsi, menipu, berbohong, mencuri, dan sebagainya, semua itu selama dapat kita manfaatkan untuk kita, itu rezeki kita. Hanya saja, kita akan mempertanggungjawabkan cara kita meraih rezeki itu.

Salah satu orang yang merugi adalah jika ia berusaha mendapatkan banyak rezeki dengan cara yang salah. Para koruptor menumpuk harta, ketika ia meninggal, hartanya dimanfaatkan oleh keluarganya. Sementara si keluarga tidak tahu darimana ia asal dari harta itu. Maka dimanfaatkan harta peninggalkan leluhurnya itu untuk kebaikan. Sehingga ia memperoleh pahala dari kebaikannya itu. Sementara sang koruptor yang telah meninggal dunia, tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Naudzubillahi min dzalik.

Rantai Rezeki

Rezeki, sampai pada kita melalui sebuah rantai rezeki. Ada rezeki dengan rantai yang panjang, ada pula yang pendek. Anak-anak kita, terutama yang masih bayi, mereka mendapatkan ranti rezeki yang pendek. Sampainya rezeki pada bayi, selau cepat dan tidak membutuhkan upaya. Cukup menangis, datanglah rezeki itu.

Anak bayi tidak perlu masak, tidak perlu mengambil makanan, bahkan tidak perlu menyuapkan sendri makanannya. Ayah dan ibu akan dengan senang hati menghantarkan rezeki Allah Swt padanya. Inilah rantai rezeki yang pendek.

Orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya sederhana, memiliki rantai rezeki yang pendek. Mereka mudah puas dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya. Mereka makan seadanya, dimana saja, selama ada yang di makan.

Sementara orang-orang kaya cenderung panjang rezekinya. Ia harus makan makanan yang enak. Setelah ketemu yang enak harus cari yang bergizi. Setelah itu harus dimasak secara higenis. Piringnya harus cari piring yang indah dan mahal. Belum cukup itu, harus juga makan di tempat yang indah dan romantis. Belum cukup juga, harus ditemani dengan teman yang cantik. Hadeeh…, untuk mendapatkan rezeki yang berupa makan malam saja, begitu panjang rantainya.

Rezeki yang Berkah

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, rezeki yang berkah itu jika dapat dimanfaatkan dengan banyak, meskipun jumlahnya sama. Sebagai contoh, satu piring makanan biasanya cukup dimakan untuk satu orang, menjadi rezeki yang berkah jika ternyata satu piring makanan itu dapat dikonsumsi oleh dua atau tiga orang dan mencukupi kebutuhan makan ketiganya.

Rezeki yang berkah mengarahkan kita pada kebaikan. Sebaliknya, rezeki yang tidak berkah mengajak kita pada kemaksiatan. Kalau kita memiliki uang banyak, lalu yang ada dibenak kita adalah bagaimana kita bersedekah, bagaimana kita membantu orang miskin, bagaimana kita membangun masjid dan mushola, dan sebagainya, maka rezeki kita adalah rezeki yang berkah. Sementara jika dengan mendapatkan uang banyak, inginnya kita malah ke diskotik, berjudi, minum-minuman keras, dan sebagainya, maka rezeki kita tidak berkah.

Menjemput Rezeki

Dalam Surah Al Hud ayat 6 sebagaimana disebutkan di atas, ada dua kata kunci yang harus digarisbawahi. Pertama, Allah Swt menjamin rezeki semua makhluk yang diciptakannya. Dan kedua, makhluk itu harus bergerak. Dalam artian, rezeki memang sudah disediakan, tetapi ia harus dijemput.

Manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar. Bekerja adalah satu ikhtiar manusia untuk mencari nafkah, berolah raga merupakan ikhitiar manusia untuk menjemput rezeki yang berupa kesehatan, berpikir positif merupakan upaya manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ya, semua harus diupayakan sebagai tanggung jawab kita untuk “bergerak” itu tadi. Sedangkan seberapa hasil usaha yang kita peroleh, tentu bukan lagi tanggung jawab kita.

Hanya saja, dalam “bergerak” (baca=berikhtiar), manusia harus memperhatikan cara yang digunakannya. Cara yang benar, sesuai tuntunan syariat, akan menghasilkan rezeki yang halal dan berkah, demikian sebaliknya. “Cara yang benar” ini merupakan satu syarat utama yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam menjemput rezeki Allah Swt.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari Ceramah Prof. Dr. Quraish Shihab dengan tambahan dari berbagai sumber.