Antara Jenang dan Jeneng

Alkisah, seorang kawan menceritakan pada saya, “Mas, yang penting buat “jeneng” dulu, nanti kamu pasti akan dapat “jenang”.

Emang ada hubungannya? Antara “jenang” dan “jeneng”? Eh, apa itu “jeneng” dan “jeneng”? Bagi orang Jawa, memang tidak sulit membedakannya. Tapi, bagi yang “tidak jawa”, bisa jadi tidak paham dengan istilah “jenang” dan “jeneng”.

Jeneng dalam bahasa Indonesia berarti nama. “Jenengmu sapa?”, berarti “namamu siapa”. Orang Jawa memang suka membuat “sanepa”, yah seperti peribahasa lah. Sehingga banyak hal yang dikomunikasikan dengan cara simbolik, kata-kata konotatif, atau sindiran. Orang Jawa memiliki karakter yang agak berbeda dengan orang-orang suku lain, seperti orang-orang Betawi yang lebih suka terbuka dan berbicara apa adanya.

Dalam budaya Jawa, “rasa dan rumangsa”, lebih utama. Orang Jawa seringkali “sungkan” untuk menolak meskipun ia tidak suka. Atau, orang Jawa seringkali suka mengatakan “sudah kenyang” meskipun sebenarnya ia lapar, hanya karena tidak ditawari makan dengan tuan rumah dengan sungguh-sungguh. Orang Jawa lebih suka merasa lapar tetapi memiliki harga diri, daripada dapat merasa kenyang karena berebut nasi.

Kita harus hidup dengan rasa. Sebagai contoh, jika orang lain membutuhkan pertolongan kita, maka kita harus merasa. Dari rasa itu akan tumbuh rumangsa. Maka, setelah kita ditolong orang lain, kita juga harus mengucapkan terima kasih, demikian seterusnya.

Demikian juga dengan “jeneng”. Prinsipnya, yang penting dari seseorang adalah bekerja dulu, dengan giat, keras, dan hasil yang nyata. Hasil itulah yang membuat kita memiliki nama. Jika kita sudah diakui kepandaian, ketekunan, kerja keras, dan komitmen kita akan sesuatu, maka orang akan dengan mudah memberikan kepercayaan kepada kita. Tidak cukup bagi orang lain cerita-cerita atau “omong besar” tanpa bukti yang nyata. Satu bukti karya kita, jauh lebih berharga dari ribuan kata yang tidak membuktikan apa-apa. Bukti itulah yang akan meninggikan “jeneng” kita.

Para pakar, teknokrat, cendekiawan, dan sebagainya, akan diakui keberadaannya jika mereka telah dapat membuktikan kemampuannya. Dari kemampuan dan karya nyata itulah mereka akan memiliki nama besar. Biasanya, nama besar itulah yang akan menghasilkan sesuatu yang berharga.

Diantara para penulis misalnya, tulisan si A dan si B bisa saja memiliki materi yang sama. Tetapi, pendekatan, cara menyampaikan, sudut pandang, kedalaman pembahasan, dan detil yang berbeda. Sehingga, media massa akan memberikan “bayaran” yang berbeda terhadap tulisan dengan tema sama tersebut.

Jenang, dalam konteks pembahasan di atas adalah penghasilan atau penghargaan. Ketika seseorang sudah memiliki nama besar, maka akan dengan mudah mendapatkan penghasilan. Namun jangan lupa, nama besar itu diperoleh dengan kerja keras dan karya nyata. Intinya, jangan meributkan berapa pendapatan saya, sebelum dapat menunjukkan sebagus apa karya kita. Sebaliknya, ketika kita sudah dapat menunjukkan karya yang istimewa, maka otomatis penghargaan orang baik dari sudut materi maupun non materi, akan kita dapatkan.