Ada Apa Tahun Baru

Biasanya, menjelang tahun baru, banyak perayaan dilakukan. Alasannya satu, adanya harapan baru di tahun depan, dan menutup “kenangan-kenangan buruk” di masa lalu. Harapan baru itu diungkapkan dengan pesta kembang api, “bakar-bakaran ayam atau ikan” bersama teman, pesta-pesta lain, dan seterusnya. Lalu, apakah harapan baru dimulai dari sebuah pesta?

Benarkah ada sesuatu yang baru di tahun baru? Bukankah hari-hari kita tetap berulang dari waktu ke waktu? Jika hari ini hari Sabtu, tujuh hari lagi kita akan bertemu hari Sabtu lagi? Pagi berganti siang, siang digantikan sore, sore digantikan malam, dan setelah malam terlewat maka pagi datang menjelang? Begitu-begitu saja bukan?

Setiap Hari adalah Beda

Bisa jadi, hari ini sama namanya dengan seminggu yang lalu. Hari ini Sabtu, seminggu lalu juga Sabtu. Tetapi, kalau kita pahami dengan lebih mendalam, kita akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Beda apanya?

Ya, bisa jadi nama harinya sama. Tetapi, apakah kita menapaki hari ini pada usia yang sama dengan hari yang sama minggu yang lalu? Tentu tidak. Mengapa? Karena waktu tidak pernah bejalan mundur, apalagi melingkar. Waktu adalah garis lurus, yang dimulai dari satu titik yang pasti, dan akan berhenti pada titik yang kita tidak tahu.

Sabtu hari ini, bisa jadi kita makan nasi. Tapi nasinya ndak sama lo, dengan nasi hari Sabtu minggu lalu. Mungkin minggu lalu kita makan nasi goreng, hari ini nasi rawon, dan sebagainya. Minggu lalu kita makan bersama teman, mungkin hari ini kita makan sendirian, atau bersama orang-orang yang tidak kita kenal di dalam sebuah warung. Dan, banyak lagi yang membuat hari selalu berbeda.

Yang pasti, kita harus mempertanggungjawabkan hari-hari yang kita lewati. Dimana kita pergi, apa yang kita lakukan, kebaikan apa yang sudah kita perbuat, atau kesalahan apa yang telah kita lakukan. Mungkin kita sudah melupakannya, tetapi dua malaikat mencatatnya detik demi detik. Sampai, tak ada satupun yang terlewat dari apa yang telah kita lakukan.

Muhasabah

Satu hal yang patut kita lakukan disetiap saat adalah muhasabah. Muhasabah adalah melihat cermin dan meneliti diri kita sendiri. Tentang apa yang telah kita lakukan pada hari-hari yang kita lewati. Jika baik, dipertahankan dan ditingkatkan. Jika salah, diperbaiki. Jika kurang, dilengkapi, dan seterusnya.

Kesempatan hanya datang sekali. Tidak adakah kesempatan kedua? Bisa jadi ada, tetapi tidak sama antara kesempatan yang pertama dan kedua. Kesempatan pertama berada pada titik waktu masa lalu, sedangkan kesempatan kedua datang pada titik waktu berikutnya.

Muhasabah tidak berhenti dari menemukan kesalahan dan kekurangan. Tetapi, lebih dari motivasi untuk memperbaiki dan meningkatkan. Banyak orang yang telah menemukan kesalahan besar dalam hidupnya. Sayangnya, tidak semua bersegera memperbaikinya. Mereka hanya berhenti pada penyesalan tiada guna.

Muhasabah menunjukkan semakin sempitnya waktu yang tersisa. Maka, sebaik-baiknya muhasabah adalah menggunakan sisa waktu untuk melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kesalahan dan meningkatkan prestasi kita. Yaitu, sedekat mana kita kepada Allah Swt. Sehebat apa kita mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Masehi vs Hijriyah

Jujur, tahun masehi bukanlah tahun Islam. Ibadah haji, puasa, hari raya Iedul Fitri, Iedul Adha, dan sebagainya, semua tidak dihitung berdasarkan kalender masehi. Sehingga, bagi umat Islam tahun hijriyah jauh lebih patut untuk diperhatikan. Sayangnya, perhatian umat Islam terhadap kalendernya sendiri, belum begitu kuat dan dominan.

Sehingga, ini juga jujur, hampir semua lini kehidupan “duniawi” kita, dihitung berdasarkan kalender masehi. Pendidikan, ekonomi, sosial, politik, tata negara, dan sebagainya, semua dilakukan berdasarkan tahapan yang direncanakan berdasarkan tahun masehi. Demikian juga evaluasi dan pelaporannya, sebagian besar atau bahkan semuanya, dilaksanakan berdasarkan tahun masehi. Mau tidak mau, kita masih tetap harus menggunakan tahun masehi dalam kehidupan kita.

Bangsa Indonesia, cukup jauh tercerabut dari akar sejarah kehidupannya. Tidak perlu terlalu jauh, kakek dan nenek kita, masih lebih akrab dengan tahun hijriyah dibanding kita. Paling tidak, orang Jawa semasa kakek dan nenek kita, lebih banyak menggunakan tahun hijriyah yang telah diadaptasi menjadi tahun Jawa oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam.

Bulan-bulan ditahun Jawa (tahun saka) memiliki kesamaan dengan nama bulan di tahun hijriyah. Bulan Muharram disebut dengan bulan Suro dalam tahun Jawa, karena di dalamnya terdapat hari yang mulia yaitu hari Asy Syura. Safar disebut dengan Sapar, bulan Roubi’ul awal disebut dengan bulan Mulud, karena di dalamnya terdapat tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw yang dikenal dengan Maulid Nabi atau Maulud Nabi, dan seterusnya.

Bagi kakek dan nenek kita, hari Akad (maksudnya Ahad), jauh lebih populer. Di Jawa, bulan-bulan seperti Suro, Sapar, Mulud, dan seterusnya, lebih banyak digunakan daripada Januari, Pebruari, Maret, dan seterusnya. Apalagi, di Jawa juga dikenal dengan istilah pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage yang berdampingan dengan tujuh hari dalam seminggu.

Oleh karena itu, cukup alasan juga bila ada ajakan sebagian umat Islam untuk kembali menguatkan kelender hijriyah. Meskipun, juga tidak tepat kalau harus “mengkafirkan” orang-orang yang tetap setia dengan kalender masehi. Tidak cukup alasan menganggap orang-orang yang masih tetap menggunakan kalender masehi dianggap telah keluar dari Islam bukan?

Tapi, kalau tidak mulai dari kita, siapa lagi? Kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi? Adalah tepat kiranya jika kita menggunakan tanggal-tanggal dalam kalender hijriyah pada kegiatan-kegiatan yang memungkinkan kita menggunakannya. Jangan lantas kita meninggalkannya atau bahkan melupakan yang sesungguhnya milik umat Islam sendiri.

Sudah sepantasnya jika kegiatan-kegiatan sosial keagamaan kita sudah mulai kembali pada penanggalan hijriyah. Agar generasi penerus kita dapat mengenal, mencintai, dan menggunakan tahun hijriyah dalam kehidupannya. Bukan menyalahkan penggunaan tahun masehi, tetapi apa tidak lebih baik jika umat Islam menggunakan tahun hijriyah yang telah ditetapkan oleh Khalifah Umar Ibn Khatab itu? (ans)