Archives January 2021

Menjadi Guru itu Membosankan?

Seseorang mengatakan bahwa menjadi guru itu membosankan. Setiap hari datang ke sekolah, mengajar, menghadapi murid yang sama selama satu tahun, dan seterusnya. Lagi pula, tahun depan mengulang lagi, mengajarkan hal yang sama, meskipun pada anak yang berbeda. Demikian seterusnya, bertahun-tahun yang dihadapi senantiasa anak-anak dengan persoalan yang hampir sama. Benarkah demikian?

Meskipun sepintas pekerjaan yang dilakukan guru begitu-begitu saja, pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang dinamis. Kita maklum, setiap tahun guru menghadapi generasi yang hampir sama. Tetapi, setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda. Siswa kelas 4 Sekolah Dasar tahun ini misalnya, secara klasikal memiliki karakter yang berbeda dengan kelas 4 sebelumnya atau sesudahnya. Setiap tahun meskipun pada kelas yang sama, seorang guru tetap saja harus merancang pendekatan yang berbeda. Jika demikian, masihkan pekerjaan menjadi guru membosankan?

Semakin cepatnya perkembangan sains dan teknologi, memaksa guru bergerak dinamis. Mengajari anak-anak sepuluh tahun lalu dengan anak-anak sekarang meskipun pada tingkat yang sama tentu berbeda. Sumber belajar anak-anak sekarang bukan hanya guru dan buku wajib di sekolah, internet tersedia di rumah mereka. Dengan internet itu mereka dapat menjelajahi dunia.

Jangankan guru memilih jawaban yang salah, guru memberikan penjelasan yang kurang tepat saja akan mendapatkan komplain dari orang tua atau siswa. Para siswa dan orang tua harus mendapatkan jawaban yang pasti dan alasan yang tepat mengapa jawaban mereka salah. Sebab mereka juga memiliki sumber belajar lain, yang meskipun sumber itu tidak selalu valid, mereka mempercayainya.

Para guru juga harus siap dengan persoalan-persoalan siswa “pintar” dan aktif yang memiliki bacaan lebih banyak daripada guru. Para guru mungkin sepulang mengajar sibuk dengan pekerjaan rumah atau pekerjaan sampingan lainnya. Pada saat yang sama para siswa belajar dari sumber lain, seperti guru les privat, bimbingan belajar, bahkan aplikasi belajar online yang saat ini sudah sangat marak dan banyak pilihan.

Bisa saja mereka mengkonfrontasikan penjelasan para guru di kelas dengan uraian yang mereka dapatkan dari berbagai sumber. Maka para guru harus siap dengan hal itu, dan benar-benar menguasai materi pelajaran secara detil. Jangan sampai guru “dipermalukan” karena kesalahan mereka sendiri, sehingga mengurangi kepercayaan para siswa lainnya.

Oleh karena itu para guru harus senantiasa mengembangkan diri. Kelompok Kerja Guru (KKG), workshop, seminar, pelatihan, webinar, dan lain-lain dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan diri. Guru mungkin telah menguasai materi pelajaran tertentu pada saat masih sekolah atau pada saat kuliah, tetapi hal itu sudah sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Pengetahuan guru harus selalu di up grade sehingga dapat memenuhi kebutuhan anak akan ilmu pengetahuan yang up to date.

Sebagai contoh, pada tahun 90an, kita memahami bahwa tata surya memiliki sembilan planet. Planet terluar adalah pluto. Nah, mungkin itu pengetahuan para guru pada saat itu. Saat ini, pluto sudah tidak lagi terlihat dan dianggap telah lepas dari tata surya. Maka pengetahuan para guru akan tata surya harus diperbarui dengan ilmu pengetahuan yang diyakini para ilmuwan pada saat ini.

Hati-Hati, Anakmu Mencontohmu!

Orang tua adalah sosok manusia yang seharusnya paling dihormati oleh anak-anaknya. Orang tua memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sangat berat pada anak-anaknya. Ia tidak hanya harus bisa menunjukkan pada jalan kebaikan, tetapi juga menjadi contoh kebaikan bagi anak-anaknya. Memberi contoh adalah hal yang mudah, tetapi menjadi contoh yang konsisten memerlukan upaya yang sungguh-sungguh.

Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhamamd Saw sangat berhasil dalam mendakwahkan Islam. Salah satu kunci keberhasilan beliau adalah karena beliau dan menjadi uswatun hasanah. Nabi Muhammad tidak saja memerintahkan kepada umatnya untuk beribadah, tetapi beliau juga menjadi contoh cara beribadah yang baik dan istikomah. Dalam hal muamalah pun, beliau melakukan hal yang sama. Beliau adalah pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, orang tua yang bijaksana, guru yang cerdas, dan seterusnya.

Orang tua adalah contoh kehidupan nyata 24 jam bagi anak-anaknya. Oleh karena itu orang tua harus hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Apa saja yang dilakukan orang tua di rumah, akan menjadi memori yang tak terlupakan pada diri anak-anaknya. Bayangkan, jika ada orang tua yang menyuruh anaknya shalat, padahal ia lagi nonton sinetron. Tentu si anak akan mendongkol.

Dalam Islam, orang tua harus mengenalkan anak-anaknya pada beberapa hal, terutama berkaitan dengan akidah, syariah, dan akhlak.

Mengenalkan Anak pada Allah Swt.

Hal terpenting yang dilakukan orang tua pada anak adalah mengenalkan Allah Swt. Sejak dini anak harus tahu posisi dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Kewajiban makhluk adalah beribadah padanya. Sejak kecil, orang tua dapat mengajak anaknya ke masjid, ke mushola, atau shalat jama’ah di rumah. Ini sangat penting untuk membiasakan anak dengan kewajiban utama umat Islam yaitu menjalankan shalat.

Orang tua juga dapat mengajak anak ke tempat-tempat yang indah dan menakjubkan. Ke pantai, lembah, gunung, goa, air terjun, dan sebagainya agar anak mengetahui betapa indahnya alam ciptaan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ, orang tua juga harus menjelaskan bahwa gunung yang besar, laut yang luas, langit yang tinggi, matahari yang panas, dan bulan yang indah, adalah ciptaan Allah Swt

Membimbing Shalat

Shalat adalah ibadah yang utama dalam Islam. Kewajiban shalat tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh umat Islam. Orang yang sangat sibut bekerja, orang dalam perjalanan yang melelahkan, bahkan orang sakit parahpun, selama ia masih memiliki kesadaran, tetap saja ia wajib melakukan shalat. Shalat wajib dilakukan berdiri, jika tidak mampu tetap saja wajib shalat, yaitu dengan duduk. Jika duduk tidak mampu juga, shalat dapat dilakukan dengan berbaring. Masih tidak mampu juga, cukup dilakukan dengan isyarat.

Shalat dapat menghapus dosa kita. Dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian, kalau ada sungai di depan pintu di mana kalian mandi lima kali sehari, apakah Anda mengatakan bahwa kotoran di badannya masih ada? Mereka menjawab: tidak, tidak tersisa apapun dari kotoran. Beliau berkata: seperti itulah sholat yang lima. Allah SWT menghapus dengan segala dosa.” (muttafaqun alaih)

Pembiasaan shalat sebaiknya dilakukan orang tua sejak anak usia dini. Shalat berjamaah di masjid, di mushola, atau di rumah merupakan salah satu cara membiasakan anak melaksanakan shalat. Orang tua juga harus disiplin mengingatkan anak untuk menjalankan shalat, sejak kecil hingga dewasa. Jika ibu sering kali menanyakan, “apakah sudah makan Nak?”. Maka akan jauh lebih penting untuk senantiasa menanyakan, “sudah shalat, Nak?”

Pertanyaan seperti itu harus terus dan terus dilakukan orang tua. Tujuannya agar anak menyadari bahwa “shalat itu penting dan utama”. Orang tua tetap harus menyisakan waktu untuk anak bersenda gurau, bermain dengan teman, dan sebagainya. Tapi pada saat waktu shalat tiba, orang tua harus selalu mengingatkan anaknya untuk shalat.

Dalam konteks kekinian, orang tua dapat bekerjasama dengan guru untuk “mengawal” konsistensi anak dalam menjalankan shalat. Sekolah dapat membuat program berupa laporan kegiatan ibadah shalat di rumah, orang tua yang melaksanakan dan mendampingi anak. Biasanya, anak jauh lebih perhatian jika pengawasan pelaksanaan shalat tersebut juga di dalam pengawasan guru.

Kebiasaan Membaca Al Qur’an

Kebiasaan membaca Al Qur’an merupakan hal yang sangat mulia dalam Islam. Al Qur’an adalah wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai sumber utama hukum syariat Islam. Membaca Al Qur’an akan mendatangkan pahala, baik yang mengerti maknanya ataupun tidak. Pahala membaca Al Qur’an tidak dihitung berdasarkan banyaknya surah yang dibaca, tetatapi berdasarkan huruf yang dibaca.

Pada keluarga muslim yang baik, pembiasaan membaca Al Qur’an menjadi salah satu hal yang diutamakan. Biasanya, sehabis Maghrib atau setelah shalat Subuh, keluarga muslim membaca Al Quran di rumah masing-masing. Bacaan Al Qur’an ini akan membuat rumah menjadi “bercahaya” di hadapan Allah Swt. Energi positif akan tersebar ke seluruh penjuru rumah sehingga rumah menjadi damai laksana syurga.

Namun demikian kebiasaan yang telah berlangsung sejak dulu itu, sedikit demi sedikit tergeser oleh kebiasaan baru. Televisi, sebagai media informasi dan hiburan, telah menggeser kebiasaan-kebiasaan baik itu. Sehingga, banyak rumah keluarga muslim yang hari-harinya tidak lagi dihiasi dengan suara bacaan Al Qur’an, tetapi berganti dengan suara musik, dialog sinetron, atau berita-berita di televisi.

Orang tua harus dapat menjadi contoh anaknya untuk dapat menjaga ke-istiqomahan dalam membaca al Qur’an. Tidak harus berlembar-lembar mushaf yang harus dibaca, tetapi yang penting istiqomah. Istiqomah sangat penting untuk menjamin kedisiplinan anak menyisakan waktunya membaca al Qur’an.

Menunjukkan AKhlak yang Mulia

Orang tua juga menjadi teladan bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku. Anak melihat bagaimana ayah dan ibunya bertutur kata, lalu menirunya. Orang tua Jawa yang menggunakan basa krama ketika berbicara, akan memiliki anak-anak yang juga mengerti unggah ungguh dalam berkomunikasi. Sebaliknya, orang tua yang tidak mengindahkan pentingnya berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua, juga akan mendapati anak-anaknya yang tidak bisa berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua.

Demikian juga sikap kepedulian yang kita berikan pada orang, keramahan kita pada setiap tamu, penghormatan dan kasih sayang kita pada orang yang lebih tua meskipun miskin, dan seterusnya, akan menjadi pelajaran riil bagi anak-anak. Oleh karena itu, dimana saja dan kapan saja setiap orang tua harus dapat menjaga sikap agar tetap menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Guru yang baik adalah pembelajar yang baik, demikian juga orang tua. Ketika menikah, mungkin kita hanya menyiapkan kemampuan dalam bidang ekonomi, tetapi apakah kita siap menjadi orang tua yang dapat dicontoh anak-anak kita? Orang tua, tetap saja harus belajar dan belajar. Menjadi orang tua adalah tugas setiap kita, dengan senantiasa meningkatkan pengetahuan, mengaji, belajar, dan mencontoh teladan dari Nabi Muhammad Saw melalui para ulama, kita dapat meningkatkan kualitas kita sebagai orang tua.

Mengapa Menjadi Guru

Banyak alasan untuk seseorang menjadi sesuatu, termasuk menjadi guru. Mungkin karena warisan, dalam artian “ngikut” ayah ibunya yang menjadi guru, mungkin juga karena cita-citanya memang menjadi guru, bisa juga dengan alasan tantangan menjadi guru yang dinamis dan menyenangkan, namun ada pula yang menjadi guru karena terpaksa. Nah, kita menjadi guru karena apa?

Guru adalah salah satu pekerjaan yang menantang dan dinamis. Menantang karena guru tetap harus belajar, meskipun ia seorang pengajar. Guru terbaik adalah guru yang selalu belajar. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan itu berkembang. Demikian pula teori, metode, model, pendekatan, dan apa saja yang berkaitan dengan belajar, selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dulu, kita cukup belajar dari buku-buku “warisan” kakak kita. Selama bertahun-tahun bukunya sama. Ganti periode siswa pun bukunya sama. Sehingga kita dari tahun ke tahun mengajar dengan materi dan cara yang sama. Berceramah di depan kelas, semua anak-anak harus “sedeku” (duduk tenang memperhatikan guru), kemudian memberikan tugas, dan setelahnya mendapatkan nilai.

Nilai-nilai itu yang kemudian kita bawa pulang untuk kita berikan pada orang tua sebagai laporan pembelajaran hari ini. “Saya dapat seketus (seratus) Mak,” lapor kita pada ibu. Ibu tersenyum, bilang “alhamdulilllah”, dan sudah. Tidak ada kesempatan pada sebagian ibu untuk menanyakan pelajarannya apa dan soalnya berapa.

Demikian seterusnya sampai kita lulus SD, SMP, dan SMA. Tidak ada perubahan yang berarti dalam pembelajaran kita. Tidak ada inovasi, modifikasi, atau kreasi. Jika ada hanya di sekolah-sekolah unggulan yang memang “menjadi proyek” pemerintah untuk pengembangan suatu metode pembelajaran. Intinya, para guru zaman-zaman itu akan selalu mengulang dan mengulang materi pembelajaran yang sama dari tahun ke tahun, sehingga mereka akan hafal dengan sendirinya.

Bagaimana dengan sekarang? Sekarang ini guru tidak boleh diam. Guru harus juga bergerak dan belajar. Perkembangan sains dan teknologi sangat cepat. Guru juga dituntut untuk berlari bersama siswa mengikuti laju perkembangan sains dan teknologi. Apalagi pembelajaran bukan lagi kegiatan yang monoton. Pembelajaran di abad 21 ini lebih pada upaya mempersiapkan siswa pada kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, problem solving, dan berpikir kritis. Sehingga, guru pun harus memiliki kemampuan itu sebelum ia dapat mempersiapkan siswa mencapai kompetensi abad 21 itu.

Bagaimana mempersiapkan diri dengan kompetensi itu? Tentu saja dengan belajar dan belajar. Keakraban guru dengan teknologi dan teknolologi informasi mutlak diperlukan. Sementara itu guru juga harus mempersiapkan diri dengan pembelajaran untuk meningkatan kemampuan problem solving dimana tentu saja harus sangat variatif. Guru juga harus juga mempersiapkan soal-soal HOTS agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya berpikir kritis.

Bekerja sebagai guru sangat menantang. Bukan saja karena persoalan menghadapi siswa yang beragam, juga karena harus mengikuti perkembangan sain dan teknologi, inovasi pembelajaran, dan kreatif menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. (ans)

K3S Sumbergempol Terbitkan Buku “Antologi Puisi Untuk Guru”

Menulis puisi dapat dilakukan oleh banyak orang. Meskipun tidak semua puisi dapat menyentuh hati, memiliki kualitas yang baik, atau mempunyai makna yang mendalam, tapi setidaknya ketika menulis puisi orang dapat menuangkan apa yang ia rasakan di relung hati mereka. Puisi adalah rangkaian kata-kata indah yang disampaikan seseorang untuk mewakili perasaannya.

Sebagaimana di lansir pada Kompas.com pada tanggal 16 Januari 2020, definisi puisi merupakan “sebuah karya sastra hasil dari ungkapan dan perasaan seseorang dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik, dan bait. Isi-isi dalam puisi penuh makna dengan bahasa yang dipakai cukup indah”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2020, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sumbergempol membuat sebuah lomba virtual dengan nama “Lomba Baca Puisi Virtual HGN 2020”. Lomba itu diikuti oleh semua sekolah dasar di Kecamatan Sumbergempol baik negeri maupun swasta. Masing-masing sekolaha ada yang mengirimkan dua peserta putra-putri, namun ada juga yang hanya mengirimkan satu peserta, yaitu putra saja atau putri saja.

Peserta lomba mengirimkan video baca puisi kemudian panitia mengupload video baca puisi tersebut di akun Youtube K3S Sumbergempol. Para juri memberikan penilaian dengan menonton video tersebut. Sementara itu para pemirsa dapat juga memberikan penilaian dengan memberikan “like” dan menonton sebanyak-banyaknya, agar video yang disukainya menjadi Juara Favorit.

Puisi yang dibaca peserta, adalah puisi karya warga sekolah di sekolah tersebut. Artinya, tema puisinya sama yaitu tentang guru, namun pengarangnya bisa siswa, guru, kepala sekolah, bahkan karyawan yang ada di sekolah itu. Naskah puisi kemudian dikumpulkan dan lahirlah sebuah buku “Antologi Puisi Untuk Guru”.

Buku kumpulan karya puisi para guru yang diterbitkan oleh K3S Kecamatan Sumbergempol ini merupakan salah satu penghargaan yang diberikan para kepala sekolah kepada para guru yang memiliki kemampuan mencipta puisi. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi para guru agar dapat menciptakan karya puisi dan karya-karya satra lainnya di masa mendatang.

Kelas Masa Depan

Mau tidak mau, semua komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan, baik guru, kepala sekolah, tenanga kependidikan, konsultan, dan siapa saja yang bekerja di dunia pendidikan, harus bersiap dengan tatanan baru. Pembelajaran saat ini, apalagi masa depan, tidak bisa lagi dilaksanakan dengan “cara-cara” lama dan konservatif. Inovasi dan kreasi pembelajaran tidak lagi berkutat pada metode, pendekatan, dan model pembelajaran, tapi juga bagaimana dapat melayani siswa-siswa masa depan yang paling tidak sudah akrab dengan teknologi informasi.

Saat ini, hampir semua sekolah menerapkan blended learning. Blended learning adalah sebuah metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara menggabungkan, mencampurkan, mengombinasikan sistem pendidikan konvensional dengan sistem pendidikan berbasis digital.

Sekolah-sekolah dianjurkan menerapkan pembelajaran daring dengan mengunakan media smarphone memanfaatkan media komunikasi seperti aplikasi whatsapp. Seharusnya aplikasi ini bukanlah satu-satunya, karena masih ada yang lain seperti kaizala, telegram, dan lain-lain. Sementara guru-guru milenial menggunakan media berbasis video conference seperti zoom, google teams, dan sebagainya.

Pembelajaran luring tetap juga harus dilakukan mengingat salah satu pengikat emosi siswa adalah dengan mendatangi sekolah dan bertemu guru meskipun harus bersama orang tua untuk siswa sekolah dasar ke bawah. Mereka tetap bisa “tilik” sekolah mereka, meskipun hanya sekedar mengambil tugas tertulis, dan seminggu kemudian menyerahkan hasil kerja mereka secara tertulis juga.

Hilangnya Ruh Pendidikan

Salah satu yang sangat dikhawatirkan dengan pembelajaran tanpa tatap muka adalah hilangnya “ruh pendidikan”. Sebagaimana kita sadari bahwa pendidikan bukan hanya pembelajaran. Sementara yang dapat kita lakukan selama masa pandemi ini hanyalah pembelajaran. Penguatan karakter, motivasi, dan transfer nilai dari seorang murobbi kepada para siswa hampir terputus sama sekali.

Di sekolah-sekolah Islam, masih ada pengecekan aktivitas ibadah siswa seperti pelaksanaan shalat wajib, shalat sunnah, membaca al Qur’an, dan sebagainya yang dilakukan dengan memberikan buku kontrol kegiatan peribadatan siswa di rumah. Namun demikian, apakah pelaksanaannya didukung dengan sepenuhnya oleh orang tua, masih masih memerlukan penelitian yang lebih spesifik.

Orang tua dengan segala kesibukannya tidak memiliki waktu yang cukup untuk memantau apakah program-program sekolah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sementara para pendidik hanya mengandalkan laporan tertulis yang bisa jadi juga tidak menunjukkan realitas kegiatan siswa seratus persen.

Pengecekan dilaksanakan dalam upaya untuk menjamin program-program pembiasaan tetap dapat dilakukan. Namun situasi di sekolah dan di rumah tentu saja berbeda. Ketika di sekolah, para pendidik dapat mengontrol pelaksanaan pembiasaan yang telah diprogramkan, namun ketika di rumah, hubungan orang tua dan siswa yang sangat dekat, justru dapat menghambat kedisiplinan siswa dalam menerapkan program pembiasaan yang dilaksanakan.

Pada kondisi normal, anak-anak akan segera menuju sekolah dan mengikuti agenda pembiasaan pagi setelah sarapan. Namun demikian pada saat sekarang ini, dimana anak-anak sarapan sambil menonton TV, durasi sarapan menjadi semakin lama. Dan setelahnya, anak akan sibuk dengan acara nonton kartun, bermain game, atau “janjian” dengan teman-teman di sekitar rumah untuk bermain. Sementara orang tua harus berbagai perhatian dengan jam kerja atau pekerjaan rumah yang sudah menunggu. Alhasil, banyak persoalan tentang penanaman disiplin, pembiasaan, penguatan karakter, dan pendidikan keagamaan yang “sulit” didisiplinkan ketika anak-anak berada di rumah. Paling tidak, itulah yang banyak dikeluh kan orang tua kepada guru, setelah hampir satu tahun anak-anak belajar dari rumah (BDR).

Pendidikan di Masa Depan

Pendidikan di masa depan, sangat dimungkinkan mirip-mirip dengan pendidikan yang kita laksanakan di masa pandemi ini. Meskipun mungkin nantinya potensi persebaran virus corona menurun manfaat dari adanya vaksinasi, protokol pencegahan paparan tetap harus dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan tetap akan dilaksanakan menggunakan blended learning, dengan modifikasi implementasi yang ditentukan kemudian.

Kebijakan merdeka belajar, dimana sekolah sangat mungkin melakukan variasi pembelajaran, sangat memungkinkan kita untuk meskemakan pembelajaran yang lebih baik. Beberapa hal yang dapat divariasikan antara lain:

  • Digitalisai pembelajaran harus semakin ditingkatkan, tidak hanya terbatas pada penggunan media sosial tetapi harus bisa lebih baik seperti menggunakan aplikasi e-learning berbasis android. Dalam hal ini harus dipastikan bahwa transfer of knowledge and technology dapat dilakukan oleh para pendidik pada masa yang sama. Sekaligus memastikan, paling tidak melalui digitalisasi yang diperkuat ini, urusan tranfer ilmu pengetahuan baik literasi membaca ataupun literasi numerasi, sudah dianggap cukup, meskipun tanpa tatap muka. Paling tidak, sebagian besar peran ini sudah selesai. Sekolah-sekolah juga harus menyiapkan pembelajaran berbasis digital dimana ketika harus belajar di sekolah pun, pembelajaran dapat dilakukan dengan cepat, canggih, dan berbasis dokument dan penugasan digital.
  • Setelah transfer pengetahuan dianggap cukup dengan menggunakan pembelajaran berbasis digital, maka pembelajaran tatap muka dapat digunakan pendidik untuk transfer of value. Artinya, pendidikan karakter di sekolah harus ditekankan, pembiasaan-pembiasaan ibadah dikuatkan, kedisplinan ditingkatkan, dan nilai-nilai karakter lainnya harus menjadi perhatian sekolah untuk dikembangkan. Maka kegiatan yang ada disekolah adalah penguatan karakter dan penyelesaian persoalan-persolan materi pelajaran yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh para siswa di rumah.
  • Para pendidik harus dapat meng-upgrade kompetensi IT nya sehingga dapat berkembang dengan cepat menyesuaikan “permintaan pasar” yaitu digititalisasi pendidikan yang semakin dominan. Jika tidak, persoalan-persoalan teknis akan menjadi kendala dan sekolah akan semakin ditinggalkan.
  • Pemerintah telah membuat program “Merdeka Belajar” sehingga sekolah dapat menyesuaiakan kurikulum yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah namun tetap harus mempertimbangkan kebutuhan siswa ketika mereka melanjutkan sekolah, dan kepentingan penjaminan mutu sekolah. Penyesuaian kurikulum yang asal-asalan, tentu akan berakibat buruk bagi kualitas sekolah.

Kelas masa depan yang akan dihadapi oleh para pendidik adalah kelas-kelas dengan dominasi peran digital sehingga transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dapat tercukupi dengan digitalisasi. Peran kegiatan tatap muka di sekolah lebih baik difokuskan pada penguatan karakter keagamaan, kedisiplinan, peningkatan kompetensi kolaborasi, dan penyelesaian persoalan-persoalan yang dihadapi siswa baik berkaitan dengan materi pembelajaran maupun kendala dalam melaksanakan pembelajaran di rumah. (ans)

“Wis Tau Jeru”

Kedatangan tahun 2021 melahirkan generasi baru. Generasi hasil gemblengan situasi dan kondisi yang seharusnya kebal senjata tajam, kuat seperti Samsoon, dan kreatif selayaknya Mac Gyver. Mengapa? Karena tahun sebelumnya telah meninggalkan persoalan yang sangat besar, memberikan tekanan agar tetap survive, dan tetap dapat mengembangkan diri dalam situasi yang serba sulit.

Sakit, sulit, pedih, perih, dan sedih yang disebabakan Pandemi Covid 19 bukan saja menggores kebahagiaan, tetapi memporak porandakan kehidupan. Sepuluh bulan lebih, hampir setahun, generasi-genarasi bangsa tidak belajar tatap muka. Target capaian pembelajaran diturunkan hingga tinggal 30%. Kurikulum diubah dan disederhanakan menjadi kurikulum “darurat” sehingga semuanya menjadi serba seadanya.

Sementara itu orang tua harus berjibaku untuk dapat bertahan hidup wajar. Pasar sepi, toko-toko berkurang pengunjung, kafe-kafe tutup, kegiatan yang melibatkan banyak massa dilarang, perjalanan terhambat, dan seterusnya. Banyak perusahaan yang jangankan berkembang, bertahan saja sulit. Ribuan bahkan jutaan orang dirumahkan dari tempatnya bekerja. Sementara sebaran virus masih tetap mengancam.

Ketika vaksin mulai diproduksi, tidak serta merta persolan selesai. Persoalan-persolan baru muncul bersamaan dengan berita-berita hoax maupun informasi yang sesungguhnya benar. Banyak pihak mulai meragukan vaksin padahal mereka dulu yang paling santer mengusulkan dan mendorong pemerintah untuk segera menyiapkan vaksin Covid 19. Wis, angel…wis….

Dalam cerita perwayangan, Gatut Kaca tidak mati, tetapi malah sakti ketika dibuang ke kawah Candradimuka. Di kawah itu ia mendapatkan banyak senjata, kekebalan, ilmu-ilmu kanuragan, dan sebagainya. Setelah masa penggemblengan di kawah Candradimuka selesai, lahirlah sosok super hero yang sakti mandraguna dan memiliki peran besar dalam perang Bharata.

Demikian juga dengan generasi ini. Tahun 2020 merupakan tahun sulit yang membuatnya belajar tidak hanya berdasarkan buku. Selama ini, mungkin lebih banyak ilmu yang didapatkan dari membaca buku teks pelajaran, buku-buku teknis, dan seterusnya. Saat-saat ini, generasi ini harus bisa mengkolaborasikan pengetahuan dari bangku sekolah dengan berbagai ilmu hal yang ada di lapangan.

Anak-anak sekolah tidak lagi belajar untuk mengetahui satuan panjang seperti milimeter, centimeter, meter, hekto meter, dan seterusnya. Di luar sekolah mereka belajar membuat layang-layang yang panjang sisi datarnya sekian centimeter, kemudian sisi tegaknya sekitan centimeter. Para gadis juga membantu orang tuanya untuk membuat roti dengan takaran tertentu menggunakan timbangan. Hari-hari ini mereka benar-benar tahu sepanjang apa sih satu meter, atau seberat apa sih tepung satu ons. Mereka benar-benar belajar dari kegiatan riil berkaitan dengan pelajaran mereka di sekolah, bukan hanya mempelajari ilmu ukur di atas kertas.

Secara menyeluruh, semua komponen bangsa mau tidak mau harus meng-upgrade kompetensi teknologi informasi mereka. Pasar sudah banyak ditinggalkan, diganti market place-nya e-commerce. Di dunia pendidikan para guru mau tidak mau harus dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk melanjutkan pembelajaran. Pendeknya, semua lini kehidupan masyarakat membutuhkan kehadiran teknologi informasi sebagai media utamanya.

Wis Tau Jeru

Generasi ke depan adalah generasi yang tangguh. Pengalaman masa Pandemi memang tidak sedahsyat masa kolonial, tetapi rasa takut, khawatir, dan keribetannya membuat banyak lini melemah, bahkan lumpuh. Kemampuan untuk bangkit dari kondisi ini tentu merupakan suatu modal kekuatan mental dan fisik yang sudah ditempa keadaan. Latihan fisik dan mental sebagai bentuk adaptasi terhadap keadaan yang memaksa, menjadi sarana “mendiklat” diri menjadi generasi yang tangguh secara mental, kreatif secara intelektual, dan solutif secara sosial.

Generasi sekarang ini wis tau jeru. Maknanya, pernah memasuki fase sulit yang sangat sulit. Ke depan, hal-hal sulit akan menjadi mudah. Inna ma’al usri yusro, sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan. Kemampuan generasi ini mengatasi persolan-persolan hidup membuat fase kehidupan berikutnya menjadi lebih mudah. Sehingga kalau ada lagi kesulitan di masa-masa mendatang, mereka akan mengatakan, “biasa saja, aku lo wis tau jeru…!”