Mengapa Menjadi Guru

Banyak alasan untuk seseorang menjadi sesuatu, termasuk menjadi guru. Mungkin karena warisan, dalam artian “ngikut” ayah ibunya yang menjadi guru, mungkin juga karena cita-citanya memang menjadi guru, bisa juga dengan alasan tantangan menjadi guru yang dinamis dan menyenangkan, namun ada pula yang menjadi guru karena terpaksa. Nah, kita menjadi guru karena apa?

Guru adalah salah satu pekerjaan yang menantang dan dinamis. Menantang karena guru tetap harus belajar, meskipun ia seorang pengajar. Guru terbaik adalah guru yang selalu belajar. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan itu berkembang. Demikian pula teori, metode, model, pendekatan, dan apa saja yang berkaitan dengan belajar, selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dulu, kita cukup belajar dari buku-buku “warisan” kakak kita. Selama bertahun-tahun bukunya sama. Ganti periode siswa pun bukunya sama. Sehingga kita dari tahun ke tahun mengajar dengan materi dan cara yang sama. Berceramah di depan kelas, semua anak-anak harus “sedeku” (duduk tenang memperhatikan guru), kemudian memberikan tugas, dan setelahnya mendapatkan nilai.

Nilai-nilai itu yang kemudian kita bawa pulang untuk kita berikan pada orang tua sebagai laporan pembelajaran hari ini. “Saya dapat seketus (seratus) Mak,” lapor kita pada ibu. Ibu tersenyum, bilang “alhamdulilllah”, dan sudah. Tidak ada kesempatan pada sebagian ibu untuk menanyakan pelajarannya apa dan soalnya berapa.

Demikian seterusnya sampai kita lulus SD, SMP, dan SMA. Tidak ada perubahan yang berarti dalam pembelajaran kita. Tidak ada inovasi, modifikasi, atau kreasi. Jika ada hanya di sekolah-sekolah unggulan yang memang “menjadi proyek” pemerintah untuk pengembangan suatu metode pembelajaran. Intinya, para guru zaman-zaman itu akan selalu mengulang dan mengulang materi pembelajaran yang sama dari tahun ke tahun, sehingga mereka akan hafal dengan sendirinya.

Bagaimana dengan sekarang? Sekarang ini guru tidak boleh diam. Guru harus juga bergerak dan belajar. Perkembangan sains dan teknologi sangat cepat. Guru juga dituntut untuk berlari bersama siswa mengikuti laju perkembangan sains dan teknologi. Apalagi pembelajaran bukan lagi kegiatan yang monoton. Pembelajaran di abad 21 ini lebih pada upaya mempersiapkan siswa pada kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, problem solving, dan berpikir kritis. Sehingga, guru pun harus memiliki kemampuan itu sebelum ia dapat mempersiapkan siswa mencapai kompetensi abad 21 itu.

Bagaimana mempersiapkan diri dengan kompetensi itu? Tentu saja dengan belajar dan belajar. Keakraban guru dengan teknologi dan teknolologi informasi mutlak diperlukan. Sementara itu guru juga harus mempersiapkan diri dengan pembelajaran untuk meningkatan kemampuan problem solving dimana tentu saja harus sangat variatif. Guru juga harus juga mempersiapkan soal-soal HOTS agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya berpikir kritis.

Bekerja sebagai guru sangat menantang. Bukan saja karena persoalan menghadapi siswa yang beragam, juga karena harus mengikuti perkembangan sain dan teknologi, inovasi pembelajaran, dan kreatif menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. (ans)