Hati-Hati, Anakmu Mencontohmu!

Orang tua adalah sosok manusia yang seharusnya paling dihormati oleh anak-anaknya. Orang tua memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sangat berat pada anak-anaknya. Ia tidak hanya harus bisa menunjukkan pada jalan kebaikan, tetapi juga menjadi contoh kebaikan bagi anak-anaknya. Memberi contoh adalah hal yang mudah, tetapi menjadi contoh yang konsisten memerlukan upaya yang sungguh-sungguh.

Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhamamd Saw sangat berhasil dalam mendakwahkan Islam. Salah satu kunci keberhasilan beliau adalah karena beliau dan menjadi uswatun hasanah. Nabi Muhammad tidak saja memerintahkan kepada umatnya untuk beribadah, tetapi beliau juga menjadi contoh cara beribadah yang baik dan istikomah. Dalam hal muamalah pun, beliau melakukan hal yang sama. Beliau adalah pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, orang tua yang bijaksana, guru yang cerdas, dan seterusnya.

Orang tua adalah contoh kehidupan nyata 24 jam bagi anak-anaknya. Oleh karena itu orang tua harus hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Apa saja yang dilakukan orang tua di rumah, akan menjadi memori yang tak terlupakan pada diri anak-anaknya. Bayangkan, jika ada orang tua yang menyuruh anaknya shalat, padahal ia lagi nonton sinetron. Tentu si anak akan mendongkol.

Dalam Islam, orang tua harus mengenalkan anak-anaknya pada beberapa hal, terutama berkaitan dengan akidah, syariah, dan akhlak.

Mengenalkan Anak pada Allah Swt.

Hal terpenting yang dilakukan orang tua pada anak adalah mengenalkan Allah Swt. Sejak dini anak harus tahu posisi dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Kewajiban makhluk adalah beribadah padanya. Sejak kecil, orang tua dapat mengajak anaknya ke masjid, ke mushola, atau shalat jama’ah di rumah. Ini sangat penting untuk membiasakan anak dengan kewajiban utama umat Islam yaitu menjalankan shalat.

Orang tua juga dapat mengajak anak ke tempat-tempat yang indah dan menakjubkan. Ke pantai, lembah, gunung, goa, air terjun, dan sebagainya agar anak mengetahui betapa indahnya alam ciptaan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ, orang tua juga harus menjelaskan bahwa gunung yang besar, laut yang luas, langit yang tinggi, matahari yang panas, dan bulan yang indah, adalah ciptaan Allah Swt

Membimbing Shalat

Shalat adalah ibadah yang utama dalam Islam. Kewajiban shalat tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh umat Islam. Orang yang sangat sibut bekerja, orang dalam perjalanan yang melelahkan, bahkan orang sakit parahpun, selama ia masih memiliki kesadaran, tetap saja ia wajib melakukan shalat. Shalat wajib dilakukan berdiri, jika tidak mampu tetap saja wajib shalat, yaitu dengan duduk. Jika duduk tidak mampu juga, shalat dapat dilakukan dengan berbaring. Masih tidak mampu juga, cukup dilakukan dengan isyarat.

Shalat dapat menghapus dosa kita. Dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian, kalau ada sungai di depan pintu di mana kalian mandi lima kali sehari, apakah Anda mengatakan bahwa kotoran di badannya masih ada? Mereka menjawab: tidak, tidak tersisa apapun dari kotoran. Beliau berkata: seperti itulah sholat yang lima. Allah SWT menghapus dengan segala dosa.” (muttafaqun alaih)

Pembiasaan shalat sebaiknya dilakukan orang tua sejak anak usia dini. Shalat berjamaah di masjid, di mushola, atau di rumah merupakan salah satu cara membiasakan anak melaksanakan shalat. Orang tua juga harus disiplin mengingatkan anak untuk menjalankan shalat, sejak kecil hingga dewasa. Jika ibu sering kali menanyakan, “apakah sudah makan Nak?”. Maka akan jauh lebih penting untuk senantiasa menanyakan, “sudah shalat, Nak?”

Pertanyaan seperti itu harus terus dan terus dilakukan orang tua. Tujuannya agar anak menyadari bahwa “shalat itu penting dan utama”. Orang tua tetap harus menyisakan waktu untuk anak bersenda gurau, bermain dengan teman, dan sebagainya. Tapi pada saat waktu shalat tiba, orang tua harus selalu mengingatkan anaknya untuk shalat.

Dalam konteks kekinian, orang tua dapat bekerjasama dengan guru untuk “mengawal” konsistensi anak dalam menjalankan shalat. Sekolah dapat membuat program berupa laporan kegiatan ibadah shalat di rumah, orang tua yang melaksanakan dan mendampingi anak. Biasanya, anak jauh lebih perhatian jika pengawasan pelaksanaan shalat tersebut juga di dalam pengawasan guru.

Kebiasaan Membaca Al Qur’an

Kebiasaan membaca Al Qur’an merupakan hal yang sangat mulia dalam Islam. Al Qur’an adalah wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai sumber utama hukum syariat Islam. Membaca Al Qur’an akan mendatangkan pahala, baik yang mengerti maknanya ataupun tidak. Pahala membaca Al Qur’an tidak dihitung berdasarkan banyaknya surah yang dibaca, tetatapi berdasarkan huruf yang dibaca.

Pada keluarga muslim yang baik, pembiasaan membaca Al Qur’an menjadi salah satu hal yang diutamakan. Biasanya, sehabis Maghrib atau setelah shalat Subuh, keluarga muslim membaca Al Quran di rumah masing-masing. Bacaan Al Qur’an ini akan membuat rumah menjadi “bercahaya” di hadapan Allah Swt. Energi positif akan tersebar ke seluruh penjuru rumah sehingga rumah menjadi damai laksana syurga.

Namun demikian kebiasaan yang telah berlangsung sejak dulu itu, sedikit demi sedikit tergeser oleh kebiasaan baru. Televisi, sebagai media informasi dan hiburan, telah menggeser kebiasaan-kebiasaan baik itu. Sehingga, banyak rumah keluarga muslim yang hari-harinya tidak lagi dihiasi dengan suara bacaan Al Qur’an, tetapi berganti dengan suara musik, dialog sinetron, atau berita-berita di televisi.

Orang tua harus dapat menjadi contoh anaknya untuk dapat menjaga ke-istiqomahan dalam membaca al Qur’an. Tidak harus berlembar-lembar mushaf yang harus dibaca, tetapi yang penting istiqomah. Istiqomah sangat penting untuk menjamin kedisiplinan anak menyisakan waktunya membaca al Qur’an.

Menunjukkan AKhlak yang Mulia

Orang tua juga menjadi teladan bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku. Anak melihat bagaimana ayah dan ibunya bertutur kata, lalu menirunya. Orang tua Jawa yang menggunakan basa krama ketika berbicara, akan memiliki anak-anak yang juga mengerti unggah ungguh dalam berkomunikasi. Sebaliknya, orang tua yang tidak mengindahkan pentingnya berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua, juga akan mendapati anak-anaknya yang tidak bisa berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua.

Demikian juga sikap kepedulian yang kita berikan pada orang, keramahan kita pada setiap tamu, penghormatan dan kasih sayang kita pada orang yang lebih tua meskipun miskin, dan seterusnya, akan menjadi pelajaran riil bagi anak-anak. Oleh karena itu, dimana saja dan kapan saja setiap orang tua harus dapat menjaga sikap agar tetap menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Guru yang baik adalah pembelajar yang baik, demikian juga orang tua. Ketika menikah, mungkin kita hanya menyiapkan kemampuan dalam bidang ekonomi, tetapi apakah kita siap menjadi orang tua yang dapat dicontoh anak-anak kita? Orang tua, tetap saja harus belajar dan belajar. Menjadi orang tua adalah tugas setiap kita, dengan senantiasa meningkatkan pengetahuan, mengaji, belajar, dan mencontoh teladan dari Nabi Muhammad Saw melalui para ulama, kita dapat meningkatkan kualitas kita sebagai orang tua.