Menjadi Guru itu Membosankan?

Seseorang mengatakan bahwa menjadi guru itu membosankan. Setiap hari datang ke sekolah, mengajar, menghadapi murid yang sama selama satu tahun, dan seterusnya. Lagi pula, tahun depan mengulang lagi, mengajarkan hal yang sama, meskipun pada anak yang berbeda. Demikian seterusnya, bertahun-tahun yang dihadapi senantiasa anak-anak dengan persoalan yang hampir sama. Benarkah demikian?

Meskipun sepintas pekerjaan yang dilakukan guru begitu-begitu saja, pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang dinamis. Kita maklum, setiap tahun guru menghadapi generasi yang hampir sama. Tetapi, setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda. Siswa kelas 4 Sekolah Dasar tahun ini misalnya, secara klasikal memiliki karakter yang berbeda dengan kelas 4 sebelumnya atau sesudahnya. Setiap tahun meskipun pada kelas yang sama, seorang guru tetap saja harus merancang pendekatan yang berbeda. Jika demikian, masihkan pekerjaan menjadi guru membosankan?

Semakin cepatnya perkembangan sains dan teknologi, memaksa guru bergerak dinamis. Mengajari anak-anak sepuluh tahun lalu dengan anak-anak sekarang meskipun pada tingkat yang sama tentu berbeda. Sumber belajar anak-anak sekarang bukan hanya guru dan buku wajib di sekolah, internet tersedia di rumah mereka. Dengan internet itu mereka dapat menjelajahi dunia.

Jangankan guru memilih jawaban yang salah, guru memberikan penjelasan yang kurang tepat saja akan mendapatkan komplain dari orang tua atau siswa. Para siswa dan orang tua harus mendapatkan jawaban yang pasti dan alasan yang tepat mengapa jawaban mereka salah. Sebab mereka juga memiliki sumber belajar lain, yang meskipun sumber itu tidak selalu valid, mereka mempercayainya.

Para guru juga harus siap dengan persoalan-persoalan siswa “pintar” dan aktif yang memiliki bacaan lebih banyak daripada guru. Para guru mungkin sepulang mengajar sibuk dengan pekerjaan rumah atau pekerjaan sampingan lainnya. Pada saat yang sama para siswa belajar dari sumber lain, seperti guru les privat, bimbingan belajar, bahkan aplikasi belajar online yang saat ini sudah sangat marak dan banyak pilihan.

Bisa saja mereka mengkonfrontasikan penjelasan para guru di kelas dengan uraian yang mereka dapatkan dari berbagai sumber. Maka para guru harus siap dengan hal itu, dan benar-benar menguasai materi pelajaran secara detil. Jangan sampai guru “dipermalukan” karena kesalahan mereka sendiri, sehingga mengurangi kepercayaan para siswa lainnya.

Oleh karena itu para guru harus senantiasa mengembangkan diri. Kelompok Kerja Guru (KKG), workshop, seminar, pelatihan, webinar, dan lain-lain dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan diri. Guru mungkin telah menguasai materi pelajaran tertentu pada saat masih sekolah atau pada saat kuliah, tetapi hal itu sudah sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Pengetahuan guru harus selalu di up grade sehingga dapat memenuhi kebutuhan anak akan ilmu pengetahuan yang up to date.

Sebagai contoh, pada tahun 90an, kita memahami bahwa tata surya memiliki sembilan planet. Planet terluar adalah pluto. Nah, mungkin itu pengetahuan para guru pada saat itu. Saat ini, pluto sudah tidak lagi terlihat dan dianggap telah lepas dari tata surya. Maka pengetahuan para guru akan tata surya harus diperbarui dengan ilmu pengetahuan yang diyakini para ilmuwan pada saat ini.