Archives April 2021

Karakter Pendidikan Abad 21

Sebagian kita, mungkin masih mengingat kelas-kelas di sekolah kita, dengan bangku yang banyak berlubang, coretan dimana-mana, papan tulis warna hitam yang sudah lusuh dan tidak hitam lagi, namun masih digunakan untuk mengajar oleh bapak dan ibu guru kita. Kapur berserakan dimana-mana, sambil sesekali di lempar pada anak yang tidak mau memperhatikan penjelasan bapak dan ibu gurunya.

Ketika kita dewasa, belajar di bangku kuliah, dunia sudah banyak berubah. Kita tidak lagi mendapati blackboard, karena telah berganti menjadi whiteboard. Tidak ada lagi kapur tulis, tergantikan oleh board marker yang memang lebih praktis dan bersih.

Selanjutnya, memasuki kuliah pasca sarjana, kelas kita berubah lagi. Bangku-bangku tidak lagi berupa meja dan kursi, berganti dengan kursi berlengan dengan tempat menulis kecil didepannya, kelas sudah ber-AC, LCD proyektor ada di setiap ruangan, sehingga pembelajaran dapat dilakukan menggunakan laptop dengan menampilkan berbagai media pembelajaran berbasis video, slide, animasi, dan gambar bergerak lainnya.

Belum lama menikmati hal itu, kita sudah harus beradaptasi dengan e-learning, dimana siswa dan guru tidak harus berada pada satu tempat yang sama. Anak-anak bisa membuka laptop atau smarphone mereka di rumah, bapak dan ibu gurunya berada di tempat lain sambil di depan perangkat digital mereka. Tanpa sadar, kehidupan digital inilah yang sekarang harus kita lalui bersama.

Fenomena Pendidikan Abad 21

Disrupsi telah terjadi. Perubahan besar yang mengubah tatanan kehidupan kita harus kita hadapi. Ini bukan pilihan, tetapi suatu keniscayaan yang harus kita hadapi bersama-sama.

Dunia pendidikan tidak bisa lepas dari itu. Menurut Pujirianto (2019) dunia pendidikan kita saat ini sudah mengalami fenomena disrupsi yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.

  1. belajar tidak lagi terbatas pada paket-paket pengetahuan terstruktur namun belajar tanpa batas sesuai minat (continuum learning),
  2. pola belajar menjadi lebih informal,
  3. keterampilan belajar mandiri (self motivated learning) semakin berperan penting, dan
  4. banyak cara untuk belajar dan banyak sumber yang bisa diakses seiring pertumbuhan MOOC (massive open online course) secara besar-besaran.

Para guru sudah tidak lagi boleh mengandalkan buku paket. Anak-anak sudah mampu mengakses big data dimana semua sumber belajar tersedia dengan akses yang sangat cepat. Para guru sudah tidak lagi melulu harus berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga ketrampilan mengakses, mengolah, mengirim, dan mendekonstruksi pengetahuan yang bersumber pada big data tersebut.

Oleh karena itu, para guru harus siap dengan “desain pembelajaran” berbasis teknologi infomasi yang menurut Pujirianto (2019), paling tidak harus meliputi beberapa komponen, yaitu : (1) aktifitas instruktur/guru/ mentor/fasilitator, (2) desain pembelajaran online, (3) data sebagai sumber belajar (big data), dan (4) strategi pembelajaran online, dan (5) unjuk kerja peserta didik.

Pembelajaran Abad 21, sudah harus berorietasi pada beberapa hal, yaitu:

  1. berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving). Pembelajaran tidak harus selalu berupa hafalan-hafalan rumus, tetapi juga dikontektualisasikan dengan masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
  2. Kreatifitas dan inovasi (creativity and innovation), dimana para siswa tidak harus menyelsaikan persoalan berbasis textbook, kreativitas dan inovasi sangat dihargai, meskipun substansi dan essensinya harus tetap dijaga. Kreativitas tidak hanya menciptakan yang baru, tetapi juga meningkatkan meningkatkan nilai tambah benda yang sudah ada.
  3. Pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding). Sejak era globalisasi digaungkan, kehidupan manusia semakin membutuhkan pemahaman lintas budaya. Pergaulan sudah tidak lagi terbatas pada satu desa, satu suku, atau bahkan satu negara. Dengan kemudian transportasi dan komunikasi kita dapat dengan mudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.
  4. Komunikasi, literasi informasi dan media (media literacy, information, and communication skill). Keterampilan komunikasi dimaksudkan agar peserta didik dapatbmenjalin hubungan dan menyampaikan gagasan dengan baik secara lisan, tulisan maupun non verbal.
  5. Komputer dan literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (computing and ICT literacy). Literasi TIK mengandung kemampuan untuk memformulasikan pengetahuan, mengekpresikan diri secara kreatif dan tepat, serta menciptakan dan menghasilkan informasi bukan sekedar memahami informasi.
  6. Karir dan kehidupan (life and career skill). Peserta didik perlu memahami tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya diperoleh melalui kerja keras dan sikap jujur.

Megengan, Sebuah Kritik dan Inovasi!

Sudah jadi kebiasaan orang Jawa, jika akan mengerjakan pekerjaan yang berat atau menghadapi sesuatu yang “besar” selalu mengedepankan do’a. Oleh karena itu, setiap akan mengerjakan sesuatu, setiap akan mengadakan sesuatu, atau setiap menerima nikmat yang besar, akan diawali dan diiringi dengan do’a. Tidak saja do’a, biasanya juga diiringi dengan bersedekah, yang diberikan kepada tetangga, keluarga, dan kerabat.

Jika dirunut dari awal, sejak manusia masih di dalam kandungan ibundanya, do’a dan sedekah selalu dilaksanakan. Ketika ibu-ibu hamil 3 “lapan” (36 hari), keluarga mengadakan “telonan”. Ketika sudah mencapai tujuh “lapan”, akan ada acara “tingkeban”. Pada saat hari H jabang bayi dilahirkan ada brokohan. Ketika bayi berusia 3 “lapan”, ada telonan juga, yang diteruskan pitonan, setaunan, pada saat mau khitan, mau nikah, dan seterusnya. Sampai sudah meninggalkan senantiasa diiringi dengan do’a dan sedekah.

Demikian juga ketika akan menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar, seperti ketika anak mau ujian, mau mengikuti ujian sekolah atau ujian untuk menduduki suatu pekerjaan, mau berangkat haji, dan sebagainya. Termasuk diantara hal yang dianggap istimewa dan besar, sehingga perlu diawali dengan do’a dan sedekah, adalah datangnya bulan Ramadhan.

Bagi muslim Jawa, bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dan harus mendapatkan perlakuan khusus. Menjalankan puasa satu bulan penuh juga bukan hal yang ringan. Jika tanpa pertolongan dan ridlo Allah Swt, bisa saja ibadah puasa yang dijalankan tidak berhasil. Oleh karena itu, dalam menghadapi puasa Ramadhan, perlu do’a dan sedekah khusus yang kemudian disebut “megengan”.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinantikan setiap muslim. Di bulan ini pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar-lebar oleh Allah Swt. Semua amal dilipatgandakan pahalanya, rahmat dan kasih sayang Allah Swt ditebarkan ke seluruh dunia. Hati-hati yang tertutup banyak yang dibuka, gairah untuk melakukan ibadah menyala-nyala. Bukankah hal ini merupakan hal besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya? Bukankah umat Islam sangat patut bila menyiapkan diri secara khusus untuk menyambutnya? Bukankah kita patut merasa sangat gembira dengan datangnya sayyidusuhur itu?

Megengangan bukan “ibadah baru”, apalagi menambah syariat baru. Ia hanya kearifan lokal untuk mengejawantahkan do’a dan sedekah. Jika tidak melaksanakan “megengan” pun tidak dosa. Sehingga aneh, jika ada yang menganggap megengan sebagai ibadah baru. Yang jelas, megengan diniatkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berdo’a dan bersedekah, agar Allah Swt memberikan kemudahan menjalankan ibadah puasa. Apalagi, dengan saling mengundang, silaturrahim antar tetatngga pun tercipta. Sehingga, keguyuban dapat tercipta di lingkungan.

Paling tidak, kita patut menelaah ucapan orang-orang yang “ngajatne” megengan. Di dalam ucapan-ucapan beliau selalu tertera bahwa nasi, lauk pauk, dan makanan lain yang sebenarnya simbolisasi do’a-do’a, semuanya ditujukan sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad, para keluarga, para sahabat, dan orang-orang sholeh. Didalamnya juga ada permintaan mudah-mudahan dengan sedekah yang diberikan, keluarga senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, kekuatan iman dan Islam, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna tanpa ada halangan suatu apa.

Kritik untuk “Megengan”

Dalam konteks niat dan kegiatannya, “megengan” memang luar biasa. Tetapi, kita juga perlu menelaah dan mengkritisi megengan dalam konteks yang lain.

Biasanya megengan dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan. Setiap keluarga melaksanakan, saling mengundang, saling berkirim makanan, dan yang berikutnya terjadi adalah “udan berkat”. Makanan menumpuk tidak termakan, dengan model dan komposisi yang mirip, yaitu: nasi, sambal goreng, serundeng, apem, ketan, dan ayam. Sehingga, untuk mengkonsumsinya pun kadang-kadang agak bosen.

Alhasil, “berkat”nya terabaikan. Hanya diperuntukan makanan ayam, dikeringkan untuk menjadi nasi aking, atau dibuang begitu saja. Disinilah kita harus berhati-hati. Dalam artian, aktivitas “pasca genduren” pun harus benar-benar diperhitungkan agar tidak menjadi mubadzir.

Kayaknya, sudah saatnya memformulasikan megengan dengan inovasi, seperti: sedekah dalam bentuk buah-buahan, sembako, atau bahkan uang. Dengan tujuan, agar sisi kemanfaatannya dapat lebih ditingkatkan. Apalagi, jika bisa diformulasikan dengan megengan bersama dalam satu tempat, “berkat” dibuat secukupnya, sisa uang untuk kegiatan mushola, masjid, atau madrasah. Mungkin akan lebih “sempulur” kebaikannya! (ans)

Mengkhawatirkan Perkembangan Moral

Sekolah tanpa tatap muka yang sudah lebih setahun kita lakukan, salah satunya menyisakan kekhawatirkan banyak pihak akan perkembangan moral anak. Melalui platform belajar online, anak-anak dibiarkan belajar sendiri. Dari sudut kreativitas dan kemandirian, hal ini memiliki dampak positif. Anak menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam usahanya menyelesaikan soal dan tugas yang diberikan guru.

Namun dalam sisi perkembangan moral, banyak pihak mulai mengkhawatirkan. Anak-anak telah biasa belajar mandiri, tanpa pengawasan dan bimbingan dari guru, sementara dengan alasan pekerjaan, para orang tua juga tidak bisa mendampingi anak pada siang hari. Alhasil, anak hanya mendapatkan masukan ilmu pengetahuan, tanpa bimbingan dan arahan yang maksimal dari guru.

Di sekolah, mungkin saja anak mendapatkan tekanan. Para guru mengajarkan disiplin, kasih sayang sesama teman, bekerjasama, mentaati perintah guru, tidak boleh melanggar larangan, dengan diimbangi punishment and reward yang memang telah disiapkan oleh sekolah. Namun di rumah, ketika orang tua sedang bekerja, anak-anak bebas akan melakukan apa dengan gawainya.

Sementara apakah dia sudah makan tepat waktu, belajar pada jam belajar yang ditentukan, menjalankan pembiasaan shalat dhuha seperti yang dibiasakan di sekolah, dan sebagainya, tentunya tidak bisa dipastikan. Pembiasaan-pembiasaan yang telah diprogramkan sejak lama oleh sekolah, bisa hilang sesuai dengan sendirinya seiring semakin jauhnya siswa dengan guru pembimbing mereka.

Perkembangan Moral dan Spritual Anak Sekolah Dasar

Kohlberg (dalam Suyanto, 2006), perkembangan moral anak atau peserta didik dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu 1) preconventional, 2) Conventional, 3) postconventional. Berdasarkan rentang usianya, anak-anak sekolah dasar masuk pada tahap preconvesional (kelas 1 – 4), dan sudah masuk tahap convensional untuk anak-anak kelas 5-6.

Menurut Munawaroh (2019), tahap preconventional (6 – 10 th), yang meliputi aspek obedience and paunisment orientatation, orientasi anak/peserta didik masih pada konsekvensi fisik dari perbuatan benar-salahnya yaitu hukuman dan kepatuhan atau anak menilai baik – buruk berdasarkan akibat perbuatan; dan aspek naively egoistic orientation; orientasi anak/peserta didik pada instrumen relatif. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrumen memuaskan keinginannya sendiri.

Sedangkan tahap conventional, (10 – 17 th) yang meliputi aspek good boy orientation, orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain. Anak patuh pada karakter tertentu yang dianggap alami, menjadi anak baik, saling berhubungan dan peduli terhadap orang lain atau orang menilai baik-buruk persetujuan orang lain. Aspek authority and social order maintenance orientation; orientasi anak pada aturan dan hukum.

Selain perkembangan moral, para pendidik juga harus memikirkan perkemangan kecerdasan spitual. Kecerdasan spiritual meliputi kemampuan untuk menghayati dan mengamalkan agama, dalam konteks nilai dan makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel, mudah beradaptasi, dan cenderung memandang sesuatu secara holistik, serta giat mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya.

Mengawal Perkembangan Moral dan Spritual

Para pendidik, dalam kondisi apapun, tetap harus menempatkan perkembangan moral dan spiritual pada tempat yang penting. Meskipun tanpa tatap muka, paling tidak para guru tetap saja dapat mengontrol perekembangan moral dan spiritual siswa dari berbagai kegiatan, seperti :

  • Membuat kartu kegiatan di rumah dan mengontrolnya dengan ketat.
  • Memberikan penugasan kegiatan keagamaan melalui video, kemudian anak melaporkan tugasnya juga melalui video sehingga para guru dapat mengetahuinya secara pasti.
  • Memberikan arahan-arahan dan mengingatkan siswa untuk melakukan kegiatan ibadah secara online.
  • Mendorong orang tua untuk memberikan perhatian pada anak sesuai dengan program pembiasaan yang telah disiapkan oleh sekolah.
  • Sesekali menghadirkan anak dalam kelompok kecil untuk memantau perkembangan moral spiritual anak dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

DAFTAR RUJUKAN :

  • Munawaroh, Istinatun (2019). Modul :Karakter Peserta Didik. Jakarta : _______
  • Suyanto (2006) Dinamika Pendidikan Nasional. Jakarta: PSAP

Tips Mengatasi Macet

Tulisan ini bukan untuk mengajari pak polisi yang sedang mengatur lalu lintas dan mengurai kemacetan. Dalam tulisan ini, yang dimaksud macet adalah macet pada saat menulis. Tidak saja pernah, tapi juga termasuk sering, saya mengalami kemacetan dalam menulis. Baru dapat satu atau dua paragraf, habislah materi yang tertuang dalam tulisan. Bukan curhat, hanya cerita…hehe.

Biasanya, kemacetan terjadi karena beberapa hal. Pertama, hilangnya fokus. Lagi nulis tentang sesuatu, tiba-tiba hanphone berdering. Persoalan muncul dari seberang, menuntut “tanggung jawab” atas sebuah pekerjaan, atau bahkan “tawaran” yang menggiurkan. Informasi mendadak yang bersifat personal bisa juga menjadi alasanan terjadinya kemacetan.

Kedua, tema terlalu sempit. Yah, tema yang terlalu sempit memang sulit dikembangkan. Kita jadi nggak bisa kemana-mana karena sempitnya tema. Sedikit improvisasi saja bisa membuat kita keluar dari tema. Apalagi, jika kita “kurang bahan” sehingga kalimat yang tertuang dalam tulisan kita juga menjadi hambar rasanya. So, sang penulis nglepreh karena membaca tulisan awalnya sendiri, hehe.

Ketiga, kurang latihan. Menulis adalah ketrampilan, bukan pengetahuan. Sehingga, mengembangkannya memang harus berlatih. Tidaklah cukup dengan membahas ilmu tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah belajar menulis. Sekecil apapun, sedikit apapun, menulislah dan teruslah menulis.

Saya kita, kita semua masih ingat. Pada saat awal belajar naik sepeda, kita pun harus berhenti. Bahkan diawali dari “ser dek ser dek” (baca: mengayuh dengan perlahan sambil satu kaki berada di tanah). Setelah bisa jalan sepedanya, kita juga harus sleyat sleyot, sulih mengarahkan sepeda kita. Sesudah lancar pun, terpaksa harus jatuh, nabrak, atau bahkan masuk ke got, iya kan? Nah setelah lancar, kita bahkan bisa mengikut Tour de Java dengan sepeda.

Tips Mengatasi Macet Menulis

Sebagaimana dilansir pada http://writerpreneurindonesia.com, kemacetan dalam menulis sering disebut dengan istilah “writer’s block”. Ada beberapa cara untuk mengatasi writer’s block ini, antara lain:

1) Cari akar masalah

Masalah dapat terjadi karena banyak hal, mungkin pengetahuan kita tentang masalah itu yang kurang luas, mungkin kita tidak memiliki tujuan yang pasti dari tulisan yang kita buat, atau mungkin data-data yang kita miliki kurang lengkap. Kita harus tahu apa akar masalahnya, dan dari situ kita bisa mencari solusinya.

2) Cari udara segar dan refreshing

Mencari udara segar, keluar jalan-jalan, mengunjungi teman atau sahabat, atau bahkan bermain-main dengan anak dan keponakan, bisa menghilangkan kejenuhan. Udara segar tidak membuat nafas dan dada kita menjadi longgar, tetapi juga membuat pikiran kita fresh lagi.

3) Berolahraga ringan

Jika lagi mentok, berolahragalah. Biarkan darah mengalir lebih cepat. Biarkan detak jantung berdenyut lebih kencang

Bagi laki-laki, cobalah melakukan push up, angkat beban atau memukul sansak, jika ada. Untuk perempuan bisa dengan berlari ringan di dalam rumah, atau melakukan jogging.

Anda akan terkejut dengan dampak olahraga ringan ini pada tubuh dan otak. Semangat Anda akan membara, dan otak akan mampu menembus sekat yang membuat Anda mandek

4) Tatap si kursor tercinta

Alternatif untuk mengatasi writer’s block adalah dengan menatap si kursor. Pertama, matikan koneksi internet, atur suara ponsel dalam mode senyap, tutup pintu dan buka komputer.

Tampilkan satu file word kosong dan tempatkan kursor di bagian tengah layar.

Kemudian tatap si kursor. Nikmati kedipannya. Sambil menatap, biarkan pikiran Anda mengembara. Pikirkan segala kemungkinan, adegan, peristiwa, alur, termasuk gagasan dan ide yang paling liar.

Setelah menatap si kursor dengan “mesra” selama 10 menit, setelah membiarkan pikiran mengembara dan menjelajahi berbagai kemungkinan, pikiran Anda akan disesaki beragam ide dan kemungkinan. Alur yang tertutup bisa dibuka. Kisah yang macet bisa ditemukan jalan keluarnya.

5) Tulis cerita atau topik lain

Jika segala upaya tak mampu menembus blokade yang membuat pikiran mandek, cobalah “plan B”, dengan membuat kisah yang sama sekali berbeda, baik jalan cerita, penokohan, genre, setting maupun alurnya.

Anda juga bisa membuat tulisan non fiksi, berupa opini atau ulasan tentang sesuatu, dan dipublikasi di blog.

Membuat cerita atau tulisan dengan genre yang berbeda akan membuat otak bekerja lebih kreatif. Jika kisah atau tulisan alternatif ini sudah rampung dan sudah dipublikasi, anda bisa kembali ke cerita pertama dan mencoba melanjutkan dengan pendekatan yang berbeda.

6) Kembali mencinta

Ingatkah Anda ketika pertama kali mencoba menulis? Anda menulis bukan supaya menjadi kaya atau terkenal. Anda menulis karena mencintai kegiatan menulis. Anda menyukai dan meresapi proses demi proses tahapan penulisan.

Jika merasa dihinggapi writer’s block, artinya Anda mulai tidak menikmati proses penulisan. Anda mulai merasa menulis sebagai beban dan keterpaksaan.

Jika itu yang terjadi, renungkanlah dan ingat masa romantisme indah ketika pertama kali menulis. Dan coba menghadirkan kembali rasa cinta itu.

Menulis merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Dan ketika memutuskan untuk menjadikannya sebagai profesi, rasa cinta itu harus tetap dipupuk dan dijaga.

Hampir semua penulis pernah mengalami kondisi ini. Kemampuan mengatasi masalah ini tentu akan sangat berguna untuk keberlanjutan tulisan. Teruslah menulis sebelum menulis dilarang! Hehe…


Sumber : http://www.writerpreneurindonesia.com/2016/07/6-cara-mengatasi-writers-block-ketika.html

Berdamai dengan Anak Puber

Masa pubertas adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Pada umumnya, masa pubertas dimulai pada usia 10-12 tahun. Anak-anak kelas 5 – 6 sekolah dasar berada pada masa itu. Sehingga tidak aneh jika para guru kelas 5 dan 6 SD, mulai melihat anak-anak berperilaku “berbeda” dari sebelumnya.

Masa pubertas ditandai dengan berbagai tanda fisik maupun psikis. Pada anak laki-laki, masa pubertas ditandai dengan ciri-ciri fisik antara lain:

  • badan tumbuh semakin besar
  • dada bidang dan melebar
  • mulai tumbuh rambut di ketiak dan sekitar alat kelamin, kadang mulai tumbuh bulu dada
  • mulai tumbuh jakun
  • mulai berjerawat
  • mimpi basah

Sedangkan pada anak perempuan, ciri-ciri fisik masa pubertas antara lain:

  • badan bertambah tinggi dan besar
  • pinggul melebar
  • payudara mulai tumbuh besar
  • tumbuh rambut pada ketiak dan sekitar kelamin
  • mulai berjerawat
  • mulai menstruasi / haid

Perubahan fisik pada anak-anak yang mengalami pubertas, diikuti oleh perubahan perilaku yang juga perlu diwaspadai oleh para guru dan orang tua, antara lain:

  • Merasa lebih bersemangat, aktif, dan suka bertualang. Anak-anak suka melakukan hal-hal yang menantang, seperti mendaki gunung, balap sepeda atau bahkan motor, mengikuti berbagai kegiatan bersama orang lain, dan sebagainya.
  • Lebih senang berkumpul dengan teman daripada dengan orang tua atau keluarga. Ngopi, konkow-kongkow, cangkru’an, menjadi kegiatan yang lebih menarik daripada hanya berkumpul dengan orang tua atau keluarga lainnya. Dalam hal ini, orang tua harus sangat berhati-hati ketika membiarkan anaknya berada di luar rumah. Mereka harus memastikan bahwa anak-anak berkumpul dengan teman yang benar, karena hal itu akan sangat mempengaruhi fase kehidupan anak berikutnya.
  • Anak-anak juga mengalami “masa menolak”, mereka ingin eksistensinya dihargai sehingga mereka ingin unjuk diri, ingin keberadaannya diakui. Rasa ingin tahunya besar, dan keinginan mencoba hal baru juga sangat besar.

Salah satu hal penting yang harus digarisbawahi guru dan orang tua adalah berdamai dengan masa itu. Berdamai bukan berarti membiarkan anak berjalan sendiri tanpa petunjuk, tetapi tetap saja para guru dan orang tua harus kreatif dalam memberikan petunjuk.

Anak-anak pada usia ini tidak lagi mau diperintah secara otoriter, tidak mau diatur dengan aturan yang “saklek” (zakelijk), tidak ingin berada dalam “sangkar” yang sempit. Secara emosional maunya hanya menolak dan menolak, ia ingin menunjukkan “keinginannya” sendiri dalam rangka menunjukkan jati diri.

Sebagaimana dilansir pada https://pelatihan.parenting.com, ada beberapa tim mendidik anak pada masa puber, yaitu:

  1. Membekali diri dengan ilmu, beritahu anak saat bertanya. Melihat perubahan pada dirinya, para remaja tentu akan bertanya-tanya. Mengapa tumbuh jakun, mengapa suara membesar, mengapa payudaranya tumbuh membesar. Sebagian anak mungkin tidak terlalu peduli dengan itu semua, tetapi pada anak yang lain akan timbul pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Orang tua dan guru harus siap dengan jawaban yang melegakan.
  2. Bekali diri dengan kesabaran. Orang tua dan guru harus menyadari bahwa para remaja sedang berada pada masa transisi. Kesabaran adalah salah satu bekal orang tua dan guru untuk menghadapi semuanya. Marah-marah terhadap perilaku anak yang “nyleneh” bukan merupakan pilihan yang bijak, karena justru akan menjauhkan orang tua dengan anak. Kalau sudah jauh, akan lebih sulit mengendalikan anak remajar.
  3. Memposisikan diri sebagai teman bagi anak. Posisi sebagai “teman” dari anak-anak kita membuat anak merasa nyaman. Anak-anak akan mudah mencurahkan perasaan sehingga kita dapat memberikan masukan yang tepat.
  4. Hindari overprotective. Sikap overprotective dengan alasan menjaga anak dari pengaruh buruk justru menimbulkan penolakan. Semakin kuat tekanan kita pada anak, maka semakin kuat pula mereka akan menolak. Kata orang Jawa, diculne ndase digandoli buntute, dilepaskan kepalanya di pegang ekornya. Anak tetap kita beri kebebasan, tetapi tetap kita awasi perkembangannya.
  5. Memberikan pilihan tetapi tetap ada batasan. Orang tua dan guru tetap harus memberikan ruang pada anak untuk memilih melakukan a, b, atau c. Mungkin ikut kelompok ini, aktif dalam kegiatan itu, dan lain-lain. Tetap saja sebaiknya kita mengiyakan, dengan memberikan batasan-batasan, seperit “boleh, asalkan…”.
  6. Memberikan hukuman dan reward sesuai dengan tindakan. Punishmen dan reward merupakan salah satu bukti bahwa kita memperhatikan anak. Jika anak salah, ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya itu, dan siap mendapatkan hukuman. Sebaliknya, jika ia melakukan kebaikan, orang tua dan guru harus siap dengan pujian, hadiah, dan bentuk-bentuk reward yang lain.
  7. Menyampaikan kritik yang membangun. Anak-anak dalam masa pubertas, biasanya akan mudah marah jika kita kritik. Namun tetap saja, kritik yang bersifat membangun, yang juga disampaikan dengan baik dan “strategis”, harus diberikan. Agar ke depan anak tidak selalu merasa benar.
  8. Memberikan pemahaman moral dan agama. Pemahaman akan agama dan moral sangat mempengaruhi anak dalam bersikap. Oleh karena itu, menyekolahkan anak di sekolah-sekelah dengan muatan agama yang lebih besar memberikan harapan bahwa pemahaman anak akan agama dan moral juga akan lebih besar.
  9. Mendo’akan anak. Tetap saja, sebagai makhluk yang religius, orang tua dan guru dapat menggunakan senjata utama, yaitu do’a. Do’a tidak saja menguatkan anak, tetapi juga menguatkan para guru dan orang tua. Dengan do’a secara psikologis kita akan memiliki kekuatan untuk menyentuh hati anak-anak. Dengan begitu, hati anak-anak akan lembut, dan dengan begitu akan lebih mudah menerima masukan, saran, dan arahan dari orang tua maupun gurunya.

Guru yang baik adalah pembelajar yang baik, demikian juga orang tua. Menjadi orang tua juga memerlukan ilmu. Mari belajar menjadi orang tua yang bijak, yang dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat. Peran dan sikap orang tua yang tepat akan sangat berguna untuk menyiapkan anak-anak kita.

Kita tahu, anak adalah amanah, sekaligus harapan kita di masa depan. Tidak cukup dengan menyiapkan fasilitas yang baik, tetapi setiap orang tua juga harus dapat menjadi orang tua yang bijak. (ans)