SESAL

Satu sudut cerita kehidupan

Kang Windu harus menghentikan langkahnya lagi. Entah, ini yang keberapa. Yang jelas, kakinya telah melemah sehingga sulit untuk digerakkan. Diabetes yang ia derita selama ini telah membuat kondisinya semakin memburuk. Belum lagi, wabah korona yang semakin menggila, telah membuatnya begitu khawatir akan kesehatan dirinya. Sehingga ia harus sangat hati-hati dalam menjaga kesehatannya.

Sebenarnya, ia tinggal berjalan beberapa puluh meter lagi untuk sampai di tempat tinggal sementaranya. Iya, terpaksa ia tinggal disitu untu sementara. Di sebuah bangunan kumuh bekas lumbung padi miliki desa Sukamaju. Ia sudah tidak punya rumah lagi. Ia juga tidak punya keluarga lagi. Karena ia telah meninggalkannya.

Kang Windu sebenarnya bukan orang miskin. Dulu, ia seorang pedagang palawija yang cukup berhasil. Tetapi, justru cobaan keberhasilannya itulah yang membuatnya terpuruk. Pada saat jaya, jutaan rupiah ia pegang setiap hari. Ia bisa membeli banyak hal dengan uang itu. Ia juga dapat bersenang-senang sesuai keinginannya.

Padahal, isterinya telah mengingatkannya agar ia jangan terlalu berfoya-foya. Tapi ya itu tadi. Uang telah melupakannya. Ia menganggap uang bisa membeli segalanya. Bahkan, ia bisa mendapatkan wanita yang melebihi istrinya. Lebih cantik, seksi, putih, wangi, dan pokoknya lebih deh. Sementara sang istri yang sederhana, tidak memiliki kondisi itu.

Rasmi, istri Kang Windu adalah orang sederhana yang lebih banyak bekerja daripada mengurus dirinya. Ia lebih suka membantu suaminya di sawah, mengurus bisnis palawija, atau membersihkan rumah bersama anak perempuannya.

Sungguh, sebenarnya sangat tidak pas jika Kang Windu meninggalkan wanita itu. Ia sangat setia dan taat pada suaminya. Ia juga sangat sabar menerima perlakuan Kang Windu padanya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Kang Windu suka berjudi dan main perempuan di luar sana. Tapi ia mencoba bertahan demi Windy, anak perempuan semata wayangnya.

Sampai suatu saat, Rasmi benar-benar tak bisa menahan diri. Suatu malam Kang Windu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk bersama seorang wanita cantik. Wanita itu dipeluknya dan dibawanya masuk rumah. Sebagai istri yang sah, Rasmi benar-benar kecewa dan marah. Terjadilah percekcokan dan pertengkaran mulut antara dua manusia suami istri itu.

Kang Windu juga begitu marah dan tak terkendali. Ia memang sedang berada dibawah pengaruh alkohol. Tapi apa yang dilakukannya sungguh tidak manusiawi. Kang Windu menampar Rasmi sehingga Rasmi memutuskan untuk meninggalkan rumah. Windy, anak perempuan mereka mengikuti sang Ibu meninggalkan ayah mereka bersama wanita cantik di rumahnya yang tergolong mewah.

Itu bukan kali pertama Kang WIndu melakukan kekerasan terhadap istrinya. Selama ini, Rasmi tetap mencoba sabar dan bertahan. Tapi, membawa wanita lain ke rumah, sungguh tidak bisa membuat Rasmi bertahan lagi. Terpaksa ia harus meninggalkan semua yang telah ia bangun dari nol bersama suaminya itu.

Beberapa tahun setelah kejadian itu, semuanya berubah. Wanita cantik yang kemudian diperistri Kang Windu, telah meninggalkannya. Sementara bisnis Kang Windu mulai memburuk. Semakin hari pendapatannya semakin surut dan akhirnya ia bangkrut. Sementara rumah dan tanah telah menjadi jaminan bank. Sehingga, ketika ia sudah tidak dapat membayar lagi cicilannya di bank, ia harus merelakan sisa hartanya itu dilelang.

Kang Windu menghela nafas panjang. Ia kembali melangkah menuju rumah singgah yang disediakan pemerintah desa itu. Di tempat itu ia tinggal sendirian. Dan, meskipun kondisi kesehatannya semakin buruk, ia tetap harus melakukan semuanya sendiri. Tangannya sudah sering gemetar, sementara luka diabet di kaki sebelahnya juga tak kunjung sembuh.

“Dari mana Kang?” tanya Pak Sus ketika berpaparan dengan dengan Kang Windu di depan rumah singgah.

“Ini lo lo Pak Sus, dari cari sarapan di rumah Mbak Iput.”

“Jualan Kang?”

“Ndak jualan lo Pak Sus, kadung susah payah jalan kesana”.

“Terus, sampeyan belum sarapan?”

Kang Windu hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan Pak Sus. Ia lalu menuju kursi panjang di depan rumah singgah. Ia sudah cukup lelah berjalan mencari sarapan. Meskipun akhirnya nihil.

Pas Sus meninggalkan Kang Windu di kursi itu. Ia kembali masuk rumahnya yang berada tepat di depan rumah singgah. Tidak lama kemudian ia membawa satu bungkusan daun pisang. Lalu memberikannya pada Kang Windu.

“Ini Kang, tadi ibuke sambil belanja membelikan saya ini. Sampeyan makan saja. Saya tak nunggu nasinya matang sekalian”.

“Alhamdulillah…terima kasih Pak Sus…”

“Minumnya sudah ada kan?”

“Sudah-sudah, saya sudah masak air tadi pagi…”

Hampir setahun ini Kang Windu makan dari belas kasihan orang lain. Untunglah ada saja tetangga sekitar yang memberinya makanan. Kalau ada kenduri, ia pun mendapatkan jatah dari tetangganya. Ia bisa memanfaatkan makanan itu bahkan sampai untuk hari esoknya.

Selama di rumah singgah selama setahun ini, anak perempuan Kang Windu baru dua kali menjenguknya. Itu pun dengan wajah ketakutan dimarahi ibunya. Selama ini, Rasmi yang memang sakit hati dan merasa dikhianati Kang Windu tidak membiarkan anak perempuan mereka menjenguk Kang Windu. Apa yang dilakukan Kang Windu benar-benar membuat rasmi sakit hati dan dendam.

Dulu, ketika masih jaya, Kang Windu benar-benar tidak menghargainya. Bisnis yang mereka bangun dari awal, hancur gara-gara ulah Kang Windu. Belum lagi tamparan demi tamparan yang terpaksa ia terima dari kekasaran Kang Windu. Bertahun-tahun ia bertahan dalam sakit yang tiada terperi. Rasa sakit itu masih ia rasakan sampai saat ini.


Rasmi baru pulang dari pasar. Tiba-tiba ada suara memanggil namanya dari belakang.

“Mi…Rasmi…” teriak suara itu.

Rasmi menoleh. Ternyata Bu Rahayu tetangga sebelahnya datang tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

“Ada apa Bu…kok tergesa-gesa begitu?” tanya Rasmi.

“Kang Windu…., Kang Windu…., kayaknya sudah ndak kuat lagi?”

“Maksudnya…?

“Itu, mungkin ajal akan segera menjemput. Ia minta kamu menengoknya di rumah singgah…”

“Ndak mau Bu, ndak Mau…biar saja. Siapa menabur siapa menuai. Itu kan karena kelakuannya sendiri…”

“Tapi Ras, ndak baik lo…, permintaan orang yang sudah menjelang ajal, mbok jangan ditolak…ndak baik…” bujuk Bu Rahayu

“Ndak Bu, ndak mau… masih sakit hati saya….”

“Ia menanyakan kamu terus, mau minta maaf, nafasnya sudah sangat berat lo Ras…ndak kasihan kamu? Secara hukum, ia masih suami kamu lo….

“Iya Bu, secara hukum memang begitu. Tapi apa yang dilakukannya dulu itu, sudah membatalkan semuanya…” Rasmi tetap menolak ajakan Bu Rahayu.

“Ya, mungkin ini yang terakhir kali Ras…, memberi maaf kan jauh lebih baik daripada tetap mendendam seperti itu”.

Ngapunten Bu, tidak…Saya ndak bisa.

Windy mendengar percakapan ibunya dan Bu Rahayu dari balik jendela. Hatinya teriris. Bagaimanapun, Kang Windu adalah ayahnya. Ayah kandungnya. Ia tidak berani menjenguk ayahnya yang sakit dan terpaksa jadi orang terlantar yang hidupnya ditanggung pemerintah desa. Sementara itu, sekarang ia sudah cukup besar dan memiliki pekerjaan yang cukup kalau hanya untuk membelikan makan sehari-hari untuk ayahnya.

Namun, ibunya melarang dengan keras Windy untuk mendekati ayahnya. WIndy benar-benar dilema. Ia tidak tega melihat ayahnya begitu terus. Tetapi ia juga tak berani menentang perintah ibu yang telah menyayangi dan membesarkannya selama ini. Sejak Kang Windu mencampakkan Rasti, Windy hanya hidup bersama ibunya.

Rasmi telah menjalani perannya sebagai single parent sejak bertahun-tahun. Statusnya pun tetap digantung. Ia tidak diceraikan oleh Kang Windu, namun juga tidak diopeni. Rasmi bertahun-tahun membanting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Sendiri.

Windy masih ingat betul perjuangan sang ibu. Ketika prahara itu terjadi ia sudah kelas 5 sekolah dasar. Ia masih ingat kejadian dikala ayahnya mencampakkan ibunya. Ia juga masih ingat ketika ibunya harus memulai lagi semuanya dari awal. Perjuangannya, kerja kerasnya, dan kegigihannya membagi waktu antara bekerja dan mengasuhnya.


Pagi itu dingin sekali. Adzan subuh berkumandang keras membangunkan Windy. Matanya masih mengantuk. Tapi ia harus bangun untuk menunaikan shalat subuh.

Windy bergegas meinggalkan tempat tidurnya. Mengambil air wudlu lalu mengerjakan shalat subuh. Belum selesai dzikir paginya, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari mushola.

“Innalillahi wainna ilaih rojiuun. Telah meninggal dunia, Bapak Windu yang mendiami rumah singgah desa, pada pukul empat pagi tadi. Kepada semua warga sekitar, yang menghendaki takziyah…silakan menuju ke rumah singgah desa….”

Windy tertegun kaku. Air matanya tidak dapat ia tahan lagi, berjatuhan membasahi mukenanya. Pundaknya terguncang menahan sedih.

“Ayah…ayah…maafkan anakmu yah….” Pekiknya dalam hati.

Windy segera melepasi mukenanya. Dengan menangis ia bergegas menuju rumah singgah dimana selama ini ayahnya tinggal.

“Windy…kemana kamu?” tiba-tiba terdengar teriakkan suara Rasmi.

“Ayah bu…ayah….” Windy tidak mempedulikan larangan ibunya. Ia tetap berlari menuju ke tempat dimana ayahnya tinggal. Sesampainya disana ia merasakan seluruh tubuhnya lemat. Jasad ayahnya telah kaku. Tergeletak diatas dipan kecil dikeliling beberapa tetangga rumah singgah. Hati WIndy hancur. Rasa kasihan, menyesal, sedih, dan entah apa lagi, bercampur tidak karuan. Ia peluk tubuh kurus kering dan kaku itu dan ia menangis sejadi-jadinya.

Sandal Japit

Kartono bangun kesiangan. Pagi itu, ketika ia bangun, sinar matahari telah masuk dari genteng kaca dirumahnya. Ia gelagapan. Segera ia meloncat dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi. Selimut, guling, dan bantal yang acak-acakan di atas tempat tidurnya, ia biarkan begitu saja. Nanti sepulang sekolah ia akan rapikan.

Lima menit kemudian semuanya sudah siap. Kartono dengan seragam putih abu-abunya, sepatu warna hitam, dan tas lusuh berisi beberapa buku catatan sudah masuk di dalam tas itu. Ia masukkan semua yang ada di meja belajarnya begitu saja, tanpa merapikannya juga terlebih dahulu. Pokoknya, ia harus segera sampai di sekolah atau terpaksa ia harus lepas baju dan berlari mengitari lapangan bersama teman-temannya yang datang terlambat.

Digarasi, ia langsung men-stater sepeda motornya. Ia tak perlu pamit pada ayah dan ibunya, karena pasti mereka telah berangkat ke kantor. Ayah dan ibunya adalah pegawai negeri sipil yang juga harus berangkat pagi-pagi ke kantornya. Ibu selalu menyiapkan sarapan sebelum ia berangkat. Ayahnya juga telah membangunkannya sedari tadi, mengajaknya sholat subuh berjamaah, tetapi ia tidur lagi. Dan hasilnya, ia harus berangkat kesiangan hari ini.

Di jalan Kartono memacu sepeda motornya dengan kencang. Orang-orang yang berpapasan dengannya nampak melihatinya dengan heran. Tapi mereka diam saja. Bahkan memberikan kesempatan pada Kartono untuk melaju kencang.

Diperempatan kedua terjadi masalah. “Waduh,…” kata Kartono. Disana banyak berkumpul orang-orang karena ada kecelakaan. Sebuah sepeda motor bertabrakan dengan sepeda motor lainnya dari arah yang berbeda. Terpaksa Kartono tetap menjalankan sepeda motornya, meskipun ia harus berjalan pelan sekali. Hatinya semakin gundah, karena waktu tempuhnya tinggal lima menit lagi. “Syukurlah….”, kata Kartono dalam hati. Setelah beberap detik berlalu ia dapat melewati kerumunan puluhan orang yang memadati jalan itu.

Kartono kembali melajukan motornya. Tancap gas pol, tanpa rem. Yang ia pikirkan adalah ia dapat secepat mungkin dapat sampai di sekolah. Dalam satu bulan ini, baru sekali ia datang tidak terlambat. Selebihnya, ia tetap terlambat dan harus menjalankan sanksi lari sepuluh putaran mengitari lapangan sambil telanjang dada. Dan, kalau ia terlambat lagi hari ini, berarti ini yang ketiga. Pasti, sanksinya akan lebih heboh lagi. “Ya Allah, tolonglah hambaMu ini…teriaknya dalam hati…”

Benar saja, setelah sampai di sekolah, para siswa lain sudah berkumpul di halaman. Untung…upacara belum dimulai, sehingga ia dapat segera masuk barisan paling belakang setelah memarkir sepeda motornya. Teman-temannya menyambutnya dengan gemuruh. Ketawa ketiwi menyambut kehadiran Kartono.

Kartono senyum senyum saja disambut seperti itu. Ia segera mencari tempat yang tepat untuknya. Iya, barisan paling belakang. Segera ia mengambil tempat dan mengikuti aba-aba yang telah dikumandangkan.

Sebelum upacara dimulai, Pak Beno berkeliling untuk checking barisan. Itu selalu beliau lakukan. Pak Beno akan mengecek topi, dasi, ikat pinggang, sepatu, bahkan kaos kaki. Sialnya, barisan tempat Kartono berada adalah barisan paling ujung. Sehingga, barisan itu yang akan di cek paling dulu.

Pak Beno segera mengunjungi barisan Kartono. Anak-anak diam seribu basa. Joko, teman disamping Beno, memberi tanda dengan matanya pada Kartono. Tapi apa boleh buat, Pak Beno sudah berada di depannya. Kartono tetap tidak bisa menerima petunjuk Joko, meskipun Joko telah memberikan tanda beberapa kali.

“Kartono, keluar barisan!” Kata Pak Beno

Kartono bergetar. “Apa salahku ya? Aku kan tidak datang terlambat. Paling tidak, aku datang sebelum upacara dimulai. Kenapa Pak Beno menyuruhku keluar barisan?”

Kartono mengikuti perintah Pak Beno. “Ke depan sana…”, teriak Pak Beno. Dengan langkah gontai Kartono mengikutinya.

Ketika di depan, seluruh lapangan bergemuruh. Para siswa tertawa melihat ke arah Kartono. Kartono kelimpungan. Tetap tidak menyadari apa yang ditertawakan oleh teman-temannya. “Ya Allah….”, Kartono langsung lemas. Ternyata ia masih memakai sandal japit. Parahnya, warnanya tidak sama lagi. Kartono…Kartono… (ans)