Berlibur, Buat Siapa?

Dua puluh satu Juni 2021 adalah hari bertama liburan kenaikan kelas. Para siswa sekolah dasar dan menengah bersiap mengisi liburan. Ke pantai, danau, gunung, dan ketempat-tempat wisata lainnya merupakan destinasi yang menjadi favorit para anak-anak remaja pada umumnya. Tujuan utamanya mencari angel terbaik untu swafoto mereka.

Demikian juga para orang tua dan masyarakat pada umumnya. Jika mengunjungi satu tempat, yang paling tidak boleh ketinggalan adalah handphone, tongsis, bahkan tripod.

Dulu, sebelum handphone menguasai kita, jika akan liburan kita akan bersiap dengan makanan, minuman, tikar, dan serangkaian acara. Kita datang ke tempat wisata, menikmati keindahan alam, bercengkerama dengan teman dan keluarga. Disitu, kita bisa bercerita banyak hal secara santai materi-materi menyenangkan, menggelikan, bahkan “memalukan”.

Beda dulu beda sekarang. Berlibur adalah koleksi swafoto. Datang, mencari tempat yang terindah, posisi yang pas, mencari “bentuk wajah” yang paling sesuai di kamera, dan jepret sana jepret sini. Kemudian masing-masing melihat fotonya sendiri, men-share di media sosialnya sendiri, tertawa-tawa dan nge-chat dengan teman nun jauh disana. Bagaimana dengan teman kita “satu rombongan” yang sedang berlibur?

Ternyata, mereka juga melakukan hal yang sama. Dengan “kronologi” kedatangan dan kegiatan yang sama, pada akhirnya mereka juga “senyam senyum dengan teman-teman dunia maya nun jauh disana? Terusss, mengapa mereka liburan bersama?

Pergeseran nilai yang sedang kita lihat adalah representasi kehidupan nyata kita. Hidup di dunia semu menjadi sesuatu yang lebih menarik di banding dunia nyata. Kemajuan teknologi, seringkali membuat kita merasa dekat dengan orang-orang yang jauh, tetapi sebaliknya menjauhkan kita dengan orang-orang yang dekat dan bersama kita.

Dunia maya membuat kita lebih mudah belanja “online” dengan toko yang mungkin jaraknya lebih dari 100 kilometer dari rumah kita. Dibanding ke pasar, yang mungkin hanya 3 atau 4 kilometer dari kita. Cukup dengan order, approve, dan transfer, maka besuk barang sudah siap di depan rumah kita. Bahkan, dengan berbagai platform transportasi online, meskipun hanya untuk membeli nasi goreng, kita lebih mudah belanja di restoran yang jaraknya cukup jauh dari rumah kita. Sementara, tetangga kita juga berjualan dengan jarak yang kurang dari satu kilometer saja.

Jika demikian, liburan kita buat apa? Buat produksi foto atau membangun kedekatan dengan teman liburan kita? Buat refreshing atau sekedar ingin mengumpulkan like dan follower dari akun media sosial kita?

Brain Fog

Pernahkah anda mengalami “blank”? Seperti tiba-tiba lupa ingin mengatakan sesuatu, pada saat kita sedang bercakap-cakap dengan teman kita. Bahkan, sesuatu yang semua orang sebenarnya tahu seperti benda-benda yang ada di sekitar kita, nama orang-orang yang kita kenal dengan baik, atau istilah yang sering digunakan?

Atau suatu saat mungkin anda sedang bercerita. Tiba-tiba anda lupa mengatakan sesuatu. Menyebut suatu barang, nama, tempat, dan sebagainya. Sehingga, muncul kata-kata : “apa…itu…, aduhh…apa…”. Dan, semakin anda berusaha mengingat, hati anda akan semaking gundah gulana. Karena, pada akhirnya tidak akan ingat juga! Jika iya, saat itulah anda mengalami brain fog.

Sebagaimana dilansir di https://www.sehatq.com, kabut otak (brain fog) adalah sebuah gejala yang dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam berpikir. Anda mungkin akan merasa kebingungan, sulit fokus, dan kacau ketika tidak dapat menyebutkan hal yang ingin Anda ucapkan. 

Penyebab brain fog

Menurut https://www.sehatq.com disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

1. Stres

Stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memicu kelelahan mental. Saat otak Anda lelah, maka Anda menjadi lebih sulit untuk berpikir, menggunakan nalar, dan berkonsentrasi.Selain itu, apabila Anda menderita sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), maka Anda sangat mungkin mengalami brain fog. Penderita sindrom ini selalu merasa tubuh dan pikirannya selalu lelah sepanjang waktu. Akibatnya, ia sering kebingungan dan pelupa. Tidak ada obat yang diketahui dapat menyembuhkan sindrom kelelahan kronis, tetapi Anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk mendapatkan penanganan tepat. Anda juga bisa melakukan olahraga ringan untuk membantu proses penyembuhan.

2. Kurang tidur

Kualitas tidur yang buruk juga dapat mengganggu kinerja otak. Waktu tidur yang kurang maupun yang berlebihan sama-sama memberi efek yang kurang baik bagi otak, seperti brain fog. Cobalah untuk tidur 8-9 jam setiap malam. Hindari konsumsi kafein di sore hari dan pastikan Anda tidak lagi bermain gadget menjelang jam tidur. 

3. Perubahan hormon

Perubahan hormon juga dapat memicu brain fog. Saat hamil, kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh wanita meningkat. Perubahan ini dapat memengaruhi memori dan menyebabkan gangguan kognitif jangka pendek. Hal ini juga terjadi pada wanita yang sudah menopause. Berkurangnya kadar estrogen saat menopause membuat para wanita mengalami brain fog. Biasanya hal ini terjadi satu tahun setelah siklus menstruasi terakhir atau sekitar usia 50 tahun. 

4. Menjalani diet

Nutrisi yang dikonsumsi juga berkaitan dengan kabut otak. Kekurangan vitamin B12 disebut dapat memengaruhi fungsi otak dan menyebabkan brain fog. Bila Anda memiliki alergi terhadap makanan tertentu, kabut otak dapat terjadi setelah Anda mengonsumsi alergen, seperti MSG, aspartam, kacang, maupun produk susu (dairy product). Menghindari makanan pemicu dapat membantu mengurangi terjadinya kabut otak.

5. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Jika Anda mengalami brain fog setelah mengonsumsi obat, coba sampaikan keluhan Anda ini pada dokter. Bisa saja brain fog merupakan efek samping dari obat tersebut. Dokter akan mengurangi dosis atau menggantinya dengan obat lain untuk membantu mencegah terjadi brain fog.Pengobatan kanker seperti kemoterapi yang menggunakan jenis obat yang kuat juga dapat menyebabkan kabut otak yang sering disebut chemo brain. Pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan kesulitan mengingat hal-hal detail seperti nama atau tanggal, tidak bisa multitasking, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kondisi ini biasanya akan berlalu dengan cepat, tetapi sebagian orang dapat terpengaruh untuk waktu yang lama setelah perawatan. 

6. Kondisi medis

Kondisi medis seperti peradangan (inflamasi), kelelahan, atau perubahan kadar glukosa darah ternyata juga dapat menyebabkan kelelahan mental. Penderita fibromyalgia juga dapat mengalami brain fog yang sama setiap hari.

Berbahayakan brain fog?

Dalam kondisi biasa, tidak sangat sering terjadi, atau tidak terlalu “parah” lupanya, brain fog tidak perlu dikhawatirkan. Anda mungkin hanya perlu refreshing, melepaskan penat, mengalihkan perhatian pada hal-hal lain yang lebih santai, dan mengurangi stress. Pada saatnya, kondisi itu akan membaik dengan sendirinya. 

Namun, jika kondisi itu telah mengganggu fokus anda, maka perlu kiranya melakukan beberapa hal agar kondisinya tidak semakin parah.

  • Tidur 8-9 jam setiap malam
  • Mengendalikan stres dengan memahami batasan diri
  • Mengurangi kafein dan alkohol
  • Olahraga
  • Melatih kekuatan otak dengan senam otak, menjawab teka-teki, bermain puzzle, atau permainan lain yang baik untuk fungsi kognitif
  • Melakukan hobi
  • Memastikan menu makanan mengandung gizi seimbang

Sehat jasmani dan rohani, merupakan kehendak setiap orang. Oleh karena itu, saatnya memperhatikan kesehatan kita sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Kamu Ingin Jadi Apa?

Seorang tokoh sedang “menceramahi” beberapa mahasiswa yang sowan padanya. Ia berkata, “Mumpung masih muda, kamu harus belajar banyak hal, kamu harus bisa apa saja. Sehingga, kamu dapat menyiapkan diri untuk banyak peran di masa depan. Lihat tuh, Pak Anu, semuanya bisa”.

Mendengar dialog itu, pikiran saya terfokus pada satu hal, haruskah kita bisa semuanya? Kita kan bukan Superman, paling-paling hanya Suparman, yang tidak akan mampu banyak melakukan banyak hal dalam waktu yang tersisa? Lalu, bagaimana kita akan jadi seorang maestro, kalau kita bisa semuanya? Jangan-jangan kita hanya akan menjadi seseorang yang “sekedar bisa banyak”, bukan orang yang memiliki “ahli dalam banyak hal”?

Kemampuan Dasar

Kemampuan dasar adalah kemampuan yang harus dimiliki seseorang. Kemampuan membuat makanan, mencuci pakaian, menata dan membersihkan rumah, mengendarai (apapun jenis kendaraannya), membaca, menulis, menghitung, adalah kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang. Kemampuan itu “wajib” dimilik orang agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi dirinya.

Kemampuan dasar sebaiknya dimiliki semua orang. Sehingga ia dapat memenuhi kebutuhan minimal dirinya. Meskipun, para lelaki juga harus memiliki kemampuan standar lelaki, demikian juga perempuan. Laki-laki sebaiknya memiliki kemampuan teknis seperti mengganti bola lampu, mengganti sekering listrik, servis ringan kendaraan, memasang rantai sepeda yang lepas, mengganti genteng yang bocor, dan sebagainya. Sementara kemampuan standar perempuan seperti menanak nasi, membuat sayur, menggoreng lauk pauk, dan sebagainya. Sehingga, suaminya tidak hanya “dimasakkan air” dan “dibuatkan mie instant” saja, hehe.

Keahlian

Di luar kemampuan standar itu, setiap kita seharusnya memiliki kemampuan-kemampuan khusus atau keahlian. Keahlian ini mempermudah orang lain memberikan status pada kita. Pak Nur penulis, Pak Son peternak, Pak Zein teknisi, dan seterusnya. Dengan catatan, keahlian tersebut sebaiknya pada tataran ahli (jika mungkin, ahlinya ahli), sehingga apapun itu, akan menjadi rujukan bagi semua orang yang membutuhkannya.

Adalah “repot” ketika kita memiliki banyak keahlian tetapi tidak sangat ahli. Status kita akan menjadi kabur. Pak Andi yang penulis, sekaligus peternak, dan ia dapat juga memperbaiki mesin. Terus Pak Andi ini apa, penulis, peternak, atau teknisi? Hehe…

Biasanya, orang-orang yang seperti itu tidak akan mencapai maestro. Mereka harus membagi waktu untuk semua keahliannya itu, sementera waktu yang diberikan Allah Swt tetap 24 jam dalam sehari, ndak iso nambah. Seorang maestro menghabiskan semua waktunya untuk satu hal yang ia tekuni, sementara seorang serabutan harus membagi satu waktunya untuk banyak hal. Hadeeh…

Ingin jadi Apa?

Kita memang harus memililih dan meyakini bahwa pilihan kita adalah tepat dan bermanfaat. Bidang apapun yang kita tekuni di dunia ini, tetap akan dibutuhkan orang lain dan menyumbang kemaslahatan, selama digunakan untuk kebaikan. Oleh karena itu, memilih dengan pertimbangan dan “petunjuk” yang tepat justru akan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi.

Seseorang dapat menjadi terkenal di dunia, hanya karena kemampuannya membuat donat. Setiap hari yang ia tekuni hanyalah membuat donut, dan tidak terpikir untuk membuat lemper. Donat itu ia kembangkan dengan banyak varian, dengan kualitas yang semakin baik, dan dengan branding serta pemasaran yang hebat. Jadilah ia seorang bos donat yang terkenal seluruh dunia dan menginspirasi banyak orang untuk memproduksi hal yang sama. Ia ternyata lebih populer dibanding orang yang dapat makanan lainnya. Ia hanya melakukan sesuatu : fokus.

Menguatkan Karakter dengan Cerita

Ternyata, salah satu hal yang menarik dari seorang anak adalah mendengarkan cerita. Cerita dapat mengantarkan anak pada alam imaginasi yang bebas, sesuai kemampuan dan keinginan mereka sendiri. Dengan berimaginasi anak dapat menciptakan dunianya sendiri, mengkreasikan nalar kreatifnya, serta berekreasi di dunia yang tidak diganggu oleh orang lain.

Orang tua kita dulu, selalu berusaha menyempatkan diri untuk mendongeng sebelum tidur. Mendengarkan dongeng dari ibu atau nenek, membuat kita segera terlelap dalam tidur. Dongeng merupakan salah satu jenis cerita yang paling disukai anak. Dongeng tidak saja menampilkan cerita-cerita yang melewati dimensi fisik, tetapi juga dapat menanamkan nilai-nilai karakter yang baik.

Dongeng tentang “Ikan Gabus” misalnya, menanamkan pada diri anak sebuah nilai kasih sayang kepada binatang. Melalui cerita itu kita dapat menguatkan karakter kepedulian anak pada binatang. Diharapkan dengan menguatnya nilai-nilai kasih sayang pada binatang anak tidak suka menyakiti binatang piaraan yang dimilikinya.

Dongeng tentang “Malin Kundang” memberikan warning pada anak akan bahayanya durhaka pada orang tua. Dongeng “Malin Kundang” memberikan contoh buruk pada anak akan seorang anak yang durhaka pada ibunya setelah ia menjadi kaya. Dari contoh buruk itu diharapkan pada anak akan tumbuh pemahaman betapa bahayanya durhakan pada orang tua.

Namun demikian, para ibu sekarang tidak cukup waktu untuk mendongeng sebelum tidur. Maka anak-anak tertidur di depan TV, atau tidur sambil menontong video di handphonenya. Mungkin mereka juga sedang berimaginasi dengan dunia mereka, meskipun sumbernya tidak berasal dari orang tua mereka.

Manfaat Cerita

“Menceritakan cerita” tidak saja sesuai untuk kondisi sebelum tidur. Di kelas, para guru juga dapat memanfaatkan cerita sebagai salah satu metode pembelajaran. Pembelajaran dengan metode bercerita memiliki manfaat antara lain:

Pertama, pembelajaran dengan cerita dapat meningkatkan kreativitas anak. Dengan mendengarkan cerita anak akan berimaginasi. Dengan berimajinasi tersebut anak melatih daya kreatifnya sehingga akan tumbuh menjadi anak yang kreatif.

Kedua, mengembangkan kemampuan berbahasa. Cerita merupakan rangkaian paragraf, kalimat, dan kata yang sangat luas. Anak-anak akan mengenal banyak kata melalui sebuah cerita. Dengan demikian kemampuan berbahasa dan kosa kata anak akan senantias bertambah dan berkembang.

Ketiga, menumbuhkan empati anak. Cerita, terutama cerita-cerita yang dibuat dengan tujuan penguatan karakter tertentu, akan menumbuhkan empati anak pada sesuatu. Cerita-cerita tentang alam akan menumbuhkan empati anak pada alam. Cerita tentang penderitaan orang miskin akan menumbuhkan empati anak pada teman-temannya yang miskin.

Keempat, menumbuhkan kemampuan berbicara. Sebaiknya para guru tidak saja memperdengarkan sebuah cerita di depan kelas. Tetapi pada saat yang sama, para guru juga menugaskan pada anak untuk “menceritakan kembali” sebuah cerita. Dari penugasan itu para guru dapat meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara dan merangkai kata.

Kelima, menumbuhkan minat baca. Metode bercerita memaksa guru untuk banyak membaca. Namun pada saat yang sama, ia juga sedang meningkatkan minat baca anak-anak. Mengapa? Karena biasanya anak ingin seperti gurunya. Kalau gurunya pandai bercerita, maka mereka pun ingin bercerita. Nah, dalam hal ini guru dapat menyiapkan buku cerita. Dengan demikian, minat baca anak akan meningkat.

Keenam, menghasilkan efek membahagiakan. Mendengar dan membaca cerita adalah salah satu rekreasi. Mendengarkan cerita mengantar kita pada dunia lain dan sementara meninggalkan “dunia nyata” kita. Hal ini merupakan salah satu bentuk “refreshing” yang akan menimbulkan efek menyegarkan. Apalagi jika para guru dapat memilih cerita-cerita happy ending yang dapat “memuaskan” kemarahan anak pada tokoh antagonisnya.

Bercerita adalah kegiatan sederhana namun memiliki pengaruh yang baik bagi perkembangan jiwa anak. Para orang tua dan guru dapat memanfaatkan cerita untuk mengajarkan kebaikan dan memberikan peringatan betapa bahayanya perbuatan buruk pada diri anak. Nilai-nilai baik itu akan tumbuh dan menguat seiring perkembangan jiwa anak.

Generasi Online

Maret bulan depan tepat satu tahun anak-anak kita belajar dari rumah. Pandemi Covid 19 memaksa pemerintah menerapkan aktivitas belajar dari rumah sebagai pilihan. Semula diperkirakan awal tahun 2021 kita sudah bisa kembali belajar tatap muka, meskipun hanya dengan kapasitas 50%. Namun realitasnya, sampai pertengahan Pebruari 2021 ini tidak ada tanda-tanda kita dapat segera belajar tatap muka lagi.

Tentu saja belajar dari rumah menyisakan banyak persoalan. Kebiasaan baru, apapun itu, selalu menimbulkan persoalan-persoalan baru yang harus diadaptasi. Orang tua menjadi guru, guru tanpa bertemu siswa, dan siswa belajar tanpa guru.

Persoalan yang paling banyak dihadapi orang tua adalah kemampuannya mengajar anaknya sendiri. Orang tua dengan segala kelebihannya tetap saja tidak memeliki kebiasaan mengajar anaknya. Para orang tua yang berprofesi guru masih diuntungkan dalam hal ini, meskipun ternayata mengajar anak orang lain adalah berbede dengan mengajar anaknya sendiri.

Anak-orang dengan orang tua yang bekerja sebagai tenaga medis memiliki persoalannya sendiri. Kita tahu, paparan virus tidak serta merta dapat dihalau oleh para tenaga medis dengan mudah. Mereka tetap harus berjibaku untuk menjaga dirinya terjauh dari virus yang hampir setiap hari mereka temui bersama pasien-pasien Covid 19 yang mereka tangani.

Generasi online

Setelah hampir setahun belajar dengan cara online, anak-anak kita semakin terbiasa melakukan banyak hal secara online. Pertama, buku bukan lagi satu-satunya sumber belajar yang mereka gunakan untuk belajar. Dunia maya dengan begitu banyak kemudahan dan keluasan ilmu yang tersedia, lebih banyak menjadi pilihan sebagai sumber mengerjakan berbagai tugas yang diberikan guru. Mereka cukup menuliskan kata kunci di browser mereka, maka laptop dan smarphone secepatnya menyediakan banyak opsi jawaban yang mereka butuhkan.

Kedua, belanja online menjadi lebih menarik. Untuk mendapatkan makan malam kita dan anak-anak kita tidak perlu lagi ke luar rumah. Mereka cukup rebahan di depan TV, memesan makanan lewat aplikasi, dan setengah jam kemudian makanan diantar oleh kurir, dan selesai. Sesaat berikutnya mereka sudah dapat menikmati makan malam bersama keluarga di rumah.

Ketiga, berjualan online. Tidak hanya belanja, ternyata banyak anak usia SMP dan SMA yang sudah mampu masuk ke marketplace. Mereka menawarkan produk-produk kreatif, baik hasil karya sendiri maupun orang lain, secara online di banyak media massa. Beberapa anak penggemar ikan hias misalnya, menawarkan ikan hias hasil budidaya mereka ke dunia maya. Tidak sedikit “anak-anak petani” yang dulu hanya membantu ayahnya memberi makan ikan dan mengganti air kolam, kini menjadi produsen-produsen ikan ikan air tawar dengan hasil yang menggiurkan.

Sementara seiring boomingnya tanaman hias, gadis-gadis muda pun ikut beraksi. Tanaman hias budidaya mereka dengan ibu-ibu mereka juga menghiasi perdagangan online meskipun hanya berskala lokal. Paling tidak, hal ini merupakan salah satu wahana untuk menguatkan kompetensi enterpreunership mereka.

Keempat, aktivitas sosial secara online. Di dalam genggaman generasi muda sekarang, hampir semua kegiatan sosial dapat diselenggarakan secara online. Rapat-rapat organisasi, pentas seni, talk show, dan lain-lain banyak bermunculan dalam bentuk virtual. Kegiatan-kegiatan yang dulu hanya dapat dilakukan oleh perusahaan pertelevisian, saat ini sudah dapat dilakukan oleh anak-anak muda kita dengan alat seadanya. Kegiatan semacam seminar online dapat ditayangkan secara live streaming hanya dengan bermodal smarphone dan laptop saja.

Meskipun kita mendapatkan banyak persoalan di masa Pandemi, namun banyak pula hal positif yang dapat kita petik sebagai bagian tidak terpisahkan darinya. Peningkatan kompetensi di bidang teknologi informasi merupakan satu hal yang meningkat secara tajam. Semoga satu atau dua tahun mendatang kita sudah memiliki “generasi online” yang siap bertarung di dunia digial di masa mendatang.

Komitmen dan Konsistensi Menulis

Komitmen adalah modal utama dalam menjalankan suatu aktivitas. Artinya, keberhasilan dalam meraih satu tujuan tidak bisa lepas dari komitmen untuk menjalankan aktivitas itu. Meskipun berat, komitmen harus dipegang erat agar langkah kearah tercapainya tujuan tidak “ngepot” atau bahkan berbalik arah. Komitmen itu pula yang mendasari banyak orang sukses baik di dunia bisnis, ilmiah, sosial, agama, dan sebagainya.

Apa itu komitmen? Komitmen adalah dedikasi yang mengikat seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang melakukan sesuatu dengan dorongan dari dalam, secara sukarela, dan terus dijalani tanpa paksaan orang lain. Orang yang menjaga komitmen memiliki konsistensi dalam melakukan suatu hal. Dengan komitmen yang tinggi, ia akan tetap melakukan sesuatu meski halangan dan rintangan dihadapi.

Banyak kisah yang menunjukkan betapa dengan komitmen yang tinggi dan konsistensi yang kuat, seseorang dapat melakukan sesuatu yang kadang-kadang di luar kewajaran. Mungkin kita pernah mendengar seorang nenek pemulung yang dapat menjalankan ibadah kurban, meskipun untuk makan sehari-hari ia harus bekerja keras. Kita juga pernah mendengar kisah seorang kakek tukang becak yang naik haji, karena komitmen dan konsistensinya dalam menabung setelah sekian puluh tahun.

Alam telah memberikan contoh betapa komitmen dan konsistensi dapat menunjukkan perubahan yang luar biasa akan sesuatu. Tetesan air yang terus menerus terjadi, dapat melubangi batu. Atau semut yang setiap hari mengumpulkan bahan sehingga mereka dapat membuat sebuah istana semut yang dapat menampung jutaan warga semuat. Atau tikus yang dapat melubangi dinding karena setiap hari melubangi dinding dengan ujung gigingya meskipun sangat kecil.

Tidak ada sesuatu yang besar kecuali memiliki bagian-bagian yang kecil. Konsistensi kita mengumpulka kata menjadi kalimat, dari kalimat menjadi paragraf, dari paragraf menjadi artikel, dan dari artikel menjadi buku, adalah salah satu hasil dari komitmen dan konsistensi kita. Menulis setiap hari, akan menghasilkan ratusan tulisan dalam satu tahun. Demikian seterusnya.

Bagaimana menjaga komitmen dan konsistensi?

Pertama, motivasi. Setiap orang memiliki motivasi dalam melakukan sesuatu, entah itu dari dalam atau dari luar. Hanya saja, motivasi dari dalam akan bertahan lebih lama dari sekedar motivasi dari luar. Motivasi dari dalam menghasilkan gairah untuk meraih cita-cita. Oleh karena itu, motivasi itu harus kita kuatkan.

Kedua, cinta. Kecintaan kita terhadap sesuatu, membuat kita tidak mau jauh dari sesuatu itu. Kecintaan terhadap dunia menulis, membuat kita tidak beranjak dari dunia menulis juga. Seringkali kita mencintai dunia menulis, tapi sulit merawat cinta kita. Mengapa, mungkin karena kita telah “mendua” atau bahkan telah jatuh hati pada yang lain.

Ketiga, fokus. Fokus akan tujuan dan cita-cita, membuat kita kuat dalam menjaga komitmen dan konsistensi kita. Tujuan besar harus kita breakdown menjadi target-target jangka pendek, sehingga kita dapat mengevaluasi capaian kita pada setiap rentang waktu. Anak tangga perlu kita lalui tahap demi tahap, namun tetap menuju titik target yang pasti. Menulis beberapa paragraf tiap hari itu seperti menaiki satu anak tangga, meskipun hanya satu kalau kita terus melakukannya, yakinlah kita akan sampai pada puncak yang kita tuju.

Keempat, manajemen waktu. Kayaknya mudah, tetapi ternyata ini yang paling sulit. Waktu kita tetap, aktivitas kita variatif. Oleh karena itu, memanage-nya sebaik mungkin, akan menyisakan sedikit kesempatan untuk menjaga komitmen dan konsistensi kita.

Menulis Itu Tidak Menarik!

Seorang tokoh literasi di Indonesia mengatakan, “Menulis Itu Tidak Menarik!” Padahal, setiap hari beliau menulis. Tidak hanya satu, bisa dua atau tiga artikel dalam satu hari. Buku-buku beliau, sudah cukup banyak terbit dan diminati. Dimana-mana, beliau memotivasi orang lain untuk menulis. Menulis, adalah “ibadah ghoiru mahdloh wajib” bagi beliau.

Sebuah pernyataan, bisa jadi adalah pernyataan itu sendiri. Dalam hal ini, ia bisa menjadi statemen akan kebenaran yang diyakini. Namun, tidak semua pernyataan adalah pernyataan dalam arti tersebut. Pernyataan bisa jadi otokritik atau pertanyaan oratoris, yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Lantas, menulis itu tidak menarik, termasuk yang mana ya?

Sobat, tidak semua hal yang menarik bagi seseorang, juga menarik bagi seorang lainnya. Lagu dangdut adalah lagu yang dicinta, bagi pecinta. Tetapi, banyak juga yang tidak suka lagu dangdut, bahkan membecinya. Demikian juga dengan lagu-lagu yang lainnya.

Apakah bermain bola itu menarik? Iya, tentu saja, bagi para pecinta bola, khususnya para “gibol”. Tapi, apakah menarik bagi ibut-ibu? Sebagian besar tidak. Karena dengan adanya bola, para ayah tidak lagi memperhatikan anaknya, tidak lagi open dengan pekerjaan rumah tangga, bahkan lupa kewajiban pada istrinya! Hehehe…

Nah, menulis seharusnya menarik bagi para penulis. Sementara bagi kita yang masih memiliki status “calon penulis” atau masih “belajar menulis” bisa jadi menulis tetap menarik, tetapi sulit dikerjakan. Alasan!

Bisa dibilang begitu. Bagi para calon penulis, menulisnya saja membutuhkan banyak tenaga. Mikir judulnya apa, mikir ditulis seperti apa, mikir jadinya bagaimana, dan terakhir mikir layak dibaca apa tidak ya? Mikir malu apa tidak ya?

Nah, ternyata, menurut para pesohor literasi inilah yang jadi persoalan. Kakean mikir. Harusnya nulis ya nulis aja, ndak usah mikir (termasuk tulisan ini, hehe). Nulis aja, terus aja, ndak usah mikir apa jadinya. Hasilnya, tunggu saja, kita pasti ketawa. Dan, itu membuat kita bahagia. Tertawa sendiri melihat tulisan kita hari ini.

Menulis itu tidak menarik! Kok? Padahal setiap saat kita nulis. Chat yang kita tulis di whatsapp kita sehari-hari, berapa kata perhari? Berapa topik yang kita bicarakan? Berapa orang yang kita “rasani”? Haha… Semua bisa jadi bahan tulisan kok. Kita tinggal merangkainya menjadi kalimat-kalimat, lalu mengumpulkannya dalam satu pikiran utama, maka jadilah tulisan kita.

Menggambar, Apa Gunanya?

Salah satu kegiatan yang paling disukai anak-anak adalah menggambar. Menggambar tidak saja mengasah ketrampilan menggerakkan tangan, tetapi juga menguatkan daya imaginasi anak. Selain itu, dengan menggambar guru dan orang tua dapat mengajarkan disiplin ilmu lain seperti sain, matematika, ilmu sosial, bahkan ilmu agama. Cerita bergambar adalah salah satu contoh media yang dapat kita gunakan untuk memasukkan nilai-nilai luhur dan penguatan karakter anak.

Sebagaimana dilansir dalam www.halodoc.com, menggambar tidak saja menyalurkan hobi anak, tetapi juga dapat menjadi wahana untuk melakukan beberapa hal, antara lain:

1.  Melatih Kecerdasan Motorik
Menggambar merupakan aktivitas yang melibatkan banyak hal. Oleh karena itu, menggambar dapat melatih koordinasi antara satu organ dengan organ lainnya seperti mata, tangan, otak, dan lain-lain. Dengan mengambar organ-organ itu akan terlatih dan ikut berkembang dengan sendirinya.

2.  Sebagai Media Berekspresi
Menggambar merupakan salah satu wahana untuk mengekspresikan perasaan. Sedih, senang, bahagia, marah, dan perasaan lainnya dapat diekspresikan anak dalam sebuah gambar. Tidak hanya itu, impian, cita-cita, dan pengharapan semua dapat dituangkan dalam bentuk gambar.

3.  Meningkatkan Memori
Menggambar dapat dilakukan dengan contoh nyata di depan anak, dapat pula dilakukan tanpa contoh nyata di depannya. Menggambar tanpa contoh mengandalkan memori yang tersimpan di otak anak. Oleh karena itu, dengan sering menggambar kekuatan memori anak akan terasah dan daya imaginasinya akan semakin menguat.

4.  Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi
Manfaat lain dari menggambar adalah kemampuan komunikasi. Gambar sebagaimana huruf merupakan media visual yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan gambar dapat mewakili banyak kata dan kalimat. Gambar sebuah pasar misalnya, sudah dapat mewakili kalimat yang menceritakan jenis-jenis barang yang dijual di pasar, banyaknya orang yang datang, persoalan-persoalan dalam pasar, bahkan gambar yang detail dapat menunjukkan ekspresi dari masing-masing orang yang ada di pasar.

5.   Melatih Kesabaran
Menggambar bagus tidak cukup dilakukan dalam waktu yang singkat. Seorang seniman gambar dapat membutuhkan waktu berhari-hari untuk menggambar satu gambar secara komplit. Apalagi jika seniman tersebut menghendaki gambarnya detil dan sempurna. Oleh karena itu, seorang seniman harus memiliki kesabaran yang tinggi. Anak yang hobi menggambar dapat melatih kesabarannya dari hari-hari.

Di kelas para guru dapat memanfaatkan aktivitas menggambar untuk menjalankan pembelajaran. Anak-anak dapat mengambar siklus air sebagaimana dicontohkan oleh guru dimana pada saat yang sama ia dapat mempelajari bagaimana perubahan wujud air terjadi. Contoh lainnya, seorang anak dapat belajar beberapa binatang dimana pada saat yang sama ia dapat mempelajari klasifikasi binatang berdasarkan jenis makanannya, tempat hidupnya, dan lain-lain. (ans)

Menjadi Guru itu Membosankan?

Seseorang mengatakan bahwa menjadi guru itu membosankan. Setiap hari datang ke sekolah, mengajar, menghadapi murid yang sama selama satu tahun, dan seterusnya. Lagi pula, tahun depan mengulang lagi, mengajarkan hal yang sama, meskipun pada anak yang berbeda. Demikian seterusnya, bertahun-tahun yang dihadapi senantiasa anak-anak dengan persoalan yang hampir sama. Benarkah demikian?

Meskipun sepintas pekerjaan yang dilakukan guru begitu-begitu saja, pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang dinamis. Kita maklum, setiap tahun guru menghadapi generasi yang hampir sama. Tetapi, setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda. Siswa kelas 4 Sekolah Dasar tahun ini misalnya, secara klasikal memiliki karakter yang berbeda dengan kelas 4 sebelumnya atau sesudahnya. Setiap tahun meskipun pada kelas yang sama, seorang guru tetap saja harus merancang pendekatan yang berbeda. Jika demikian, masihkan pekerjaan menjadi guru membosankan?

Semakin cepatnya perkembangan sains dan teknologi, memaksa guru bergerak dinamis. Mengajari anak-anak sepuluh tahun lalu dengan anak-anak sekarang meskipun pada tingkat yang sama tentu berbeda. Sumber belajar anak-anak sekarang bukan hanya guru dan buku wajib di sekolah, internet tersedia di rumah mereka. Dengan internet itu mereka dapat menjelajahi dunia.

Jangankan guru memilih jawaban yang salah, guru memberikan penjelasan yang kurang tepat saja akan mendapatkan komplain dari orang tua atau siswa. Para siswa dan orang tua harus mendapatkan jawaban yang pasti dan alasan yang tepat mengapa jawaban mereka salah. Sebab mereka juga memiliki sumber belajar lain, yang meskipun sumber itu tidak selalu valid, mereka mempercayainya.

Para guru juga harus siap dengan persoalan-persoalan siswa “pintar” dan aktif yang memiliki bacaan lebih banyak daripada guru. Para guru mungkin sepulang mengajar sibuk dengan pekerjaan rumah atau pekerjaan sampingan lainnya. Pada saat yang sama para siswa belajar dari sumber lain, seperti guru les privat, bimbingan belajar, bahkan aplikasi belajar online yang saat ini sudah sangat marak dan banyak pilihan.

Bisa saja mereka mengkonfrontasikan penjelasan para guru di kelas dengan uraian yang mereka dapatkan dari berbagai sumber. Maka para guru harus siap dengan hal itu, dan benar-benar menguasai materi pelajaran secara detil. Jangan sampai guru “dipermalukan” karena kesalahan mereka sendiri, sehingga mengurangi kepercayaan para siswa lainnya.

Oleh karena itu para guru harus senantiasa mengembangkan diri. Kelompok Kerja Guru (KKG), workshop, seminar, pelatihan, webinar, dan lain-lain dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan diri. Guru mungkin telah menguasai materi pelajaran tertentu pada saat masih sekolah atau pada saat kuliah, tetapi hal itu sudah sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Pengetahuan guru harus selalu di up grade sehingga dapat memenuhi kebutuhan anak akan ilmu pengetahuan yang up to date.

Sebagai contoh, pada tahun 90an, kita memahami bahwa tata surya memiliki sembilan planet. Planet terluar adalah pluto. Nah, mungkin itu pengetahuan para guru pada saat itu. Saat ini, pluto sudah tidak lagi terlihat dan dianggap telah lepas dari tata surya. Maka pengetahuan para guru akan tata surya harus diperbarui dengan ilmu pengetahuan yang diyakini para ilmuwan pada saat ini.

Mengapa Menjadi Guru

Banyak alasan untuk seseorang menjadi sesuatu, termasuk menjadi guru. Mungkin karena warisan, dalam artian “ngikut” ayah ibunya yang menjadi guru, mungkin juga karena cita-citanya memang menjadi guru, bisa juga dengan alasan tantangan menjadi guru yang dinamis dan menyenangkan, namun ada pula yang menjadi guru karena terpaksa. Nah, kita menjadi guru karena apa?

Guru adalah salah satu pekerjaan yang menantang dan dinamis. Menantang karena guru tetap harus belajar, meskipun ia seorang pengajar. Guru terbaik adalah guru yang selalu belajar. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan itu berkembang. Demikian pula teori, metode, model, pendekatan, dan apa saja yang berkaitan dengan belajar, selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dulu, kita cukup belajar dari buku-buku “warisan” kakak kita. Selama bertahun-tahun bukunya sama. Ganti periode siswa pun bukunya sama. Sehingga kita dari tahun ke tahun mengajar dengan materi dan cara yang sama. Berceramah di depan kelas, semua anak-anak harus “sedeku” (duduk tenang memperhatikan guru), kemudian memberikan tugas, dan setelahnya mendapatkan nilai.

Nilai-nilai itu yang kemudian kita bawa pulang untuk kita berikan pada orang tua sebagai laporan pembelajaran hari ini. “Saya dapat seketus (seratus) Mak,” lapor kita pada ibu. Ibu tersenyum, bilang “alhamdulilllah”, dan sudah. Tidak ada kesempatan pada sebagian ibu untuk menanyakan pelajarannya apa dan soalnya berapa.

Demikian seterusnya sampai kita lulus SD, SMP, dan SMA. Tidak ada perubahan yang berarti dalam pembelajaran kita. Tidak ada inovasi, modifikasi, atau kreasi. Jika ada hanya di sekolah-sekolah unggulan yang memang “menjadi proyek” pemerintah untuk pengembangan suatu metode pembelajaran. Intinya, para guru zaman-zaman itu akan selalu mengulang dan mengulang materi pembelajaran yang sama dari tahun ke tahun, sehingga mereka akan hafal dengan sendirinya.

Bagaimana dengan sekarang? Sekarang ini guru tidak boleh diam. Guru harus juga bergerak dan belajar. Perkembangan sains dan teknologi sangat cepat. Guru juga dituntut untuk berlari bersama siswa mengikuti laju perkembangan sains dan teknologi. Apalagi pembelajaran bukan lagi kegiatan yang monoton. Pembelajaran di abad 21 ini lebih pada upaya mempersiapkan siswa pada kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, problem solving, dan berpikir kritis. Sehingga, guru pun harus memiliki kemampuan itu sebelum ia dapat mempersiapkan siswa mencapai kompetensi abad 21 itu.

Bagaimana mempersiapkan diri dengan kompetensi itu? Tentu saja dengan belajar dan belajar. Keakraban guru dengan teknologi dan teknolologi informasi mutlak diperlukan. Sementara itu guru juga harus mempersiapkan diri dengan pembelajaran untuk meningkatan kemampuan problem solving dimana tentu saja harus sangat variatif. Guru juga harus juga mempersiapkan soal-soal HOTS agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya berpikir kritis.

Bekerja sebagai guru sangat menantang. Bukan saja karena persoalan menghadapi siswa yang beragam, juga karena harus mengikuti perkembangan sain dan teknologi, inovasi pembelajaran, dan kreatif menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. (ans)