Megengan, Sebuah Kritik dan Inovasi!

Sudah jadi kebiasaan orang Jawa, jika akan mengerjakan pekerjaan yang berat atau menghadapi sesuatu yang “besar” selalu mengedepankan do’a. Oleh karena itu, setiap akan mengerjakan sesuatu, setiap akan mengadakan sesuatu, atau setiap menerima nikmat yang besar, akan diawali dan diiringi dengan do’a. Tidak saja do’a, biasanya juga diiringi dengan bersedekah, yang diberikan kepada tetangga, keluarga, dan kerabat.

Jika dirunut dari awal, sejak manusia masih di dalam kandungan ibundanya, do’a dan sedekah selalu dilaksanakan. Ketika ibu-ibu hamil 3 “lapan” (36 hari), keluarga mengadakan “telonan”. Ketika sudah mencapai tujuh “lapan”, akan ada acara “tingkeban”. Pada saat hari H jabang bayi dilahirkan ada brokohan. Ketika bayi berusia 3 “lapan”, ada telonan juga, yang diteruskan pitonan, setaunan, pada saat mau khitan, mau nikah, dan seterusnya. Sampai sudah meninggalkan senantiasa diiringi dengan do’a dan sedekah.

Demikian juga ketika akan menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar, seperti ketika anak mau ujian, mau mengikuti ujian sekolah atau ujian untuk menduduki suatu pekerjaan, mau berangkat haji, dan sebagainya. Termasuk diantara hal yang dianggap istimewa dan besar, sehingga perlu diawali dengan do’a dan sedekah, adalah datangnya bulan Ramadhan.

Bagi muslim Jawa, bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dan harus mendapatkan perlakuan khusus. Menjalankan puasa satu bulan penuh juga bukan hal yang ringan. Jika tanpa pertolongan dan ridlo Allah Swt, bisa saja ibadah puasa yang dijalankan tidak berhasil. Oleh karena itu, dalam menghadapi puasa Ramadhan, perlu do’a dan sedekah khusus yang kemudian disebut “megengan”.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinantikan setiap muslim. Di bulan ini pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar-lebar oleh Allah Swt. Semua amal dilipatgandakan pahalanya, rahmat dan kasih sayang Allah Swt ditebarkan ke seluruh dunia. Hati-hati yang tertutup banyak yang dibuka, gairah untuk melakukan ibadah menyala-nyala. Bukankah hal ini merupakan hal besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya? Bukankah umat Islam sangat patut bila menyiapkan diri secara khusus untuk menyambutnya? Bukankah kita patut merasa sangat gembira dengan datangnya sayyidusuhur itu?

Megengangan bukan “ibadah baru”, apalagi menambah syariat baru. Ia hanya kearifan lokal untuk mengejawantahkan do’a dan sedekah. Jika tidak melaksanakan “megengan” pun tidak dosa. Sehingga aneh, jika ada yang menganggap megengan sebagai ibadah baru. Yang jelas, megengan diniatkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berdo’a dan bersedekah, agar Allah Swt memberikan kemudahan menjalankan ibadah puasa. Apalagi, dengan saling mengundang, silaturrahim antar tetatngga pun tercipta. Sehingga, keguyuban dapat tercipta di lingkungan.

Paling tidak, kita patut menelaah ucapan orang-orang yang “ngajatne” megengan. Di dalam ucapan-ucapan beliau selalu tertera bahwa nasi, lauk pauk, dan makanan lain yang sebenarnya simbolisasi do’a-do’a, semuanya ditujukan sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad, para keluarga, para sahabat, dan orang-orang sholeh. Didalamnya juga ada permintaan mudah-mudahan dengan sedekah yang diberikan, keluarga senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, kekuatan iman dan Islam, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna tanpa ada halangan suatu apa.

Kritik untuk “Megengan”

Dalam konteks niat dan kegiatannya, “megengan” memang luar biasa. Tetapi, kita juga perlu menelaah dan mengkritisi megengan dalam konteks yang lain.

Biasanya megengan dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan. Setiap keluarga melaksanakan, saling mengundang, saling berkirim makanan, dan yang berikutnya terjadi adalah “udan berkat”. Makanan menumpuk tidak termakan, dengan model dan komposisi yang mirip, yaitu: nasi, sambal goreng, serundeng, apem, ketan, dan ayam. Sehingga, untuk mengkonsumsinya pun kadang-kadang agak bosen.

Alhasil, “berkat”nya terabaikan. Hanya diperuntukan makanan ayam, dikeringkan untuk menjadi nasi aking, atau dibuang begitu saja. Disinilah kita harus berhati-hati. Dalam artian, aktivitas “pasca genduren” pun harus benar-benar diperhitungkan agar tidak menjadi mubadzir.

Kayaknya, sudah saatnya memformulasikan megengan dengan inovasi, seperti: sedekah dalam bentuk buah-buahan, sembako, atau bahkan uang. Dengan tujuan, agar sisi kemanfaatannya dapat lebih ditingkatkan. Apalagi, jika bisa diformulasikan dengan megengan bersama dalam satu tempat, “berkat” dibuat secukupnya, sisa uang untuk kegiatan mushola, masjid, atau madrasah. Mungkin akan lebih “sempulur” kebaikannya! (ans)

Kunci Sukses Dakwah Walisongo

Keberhasilan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa khususnya, dan di Nusantara pada umumya, tentunya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Jika ada yang masih meragukan keberhalan para kekasih Allah Swt itu, mungkin karena kurang “ngopi”. Betapa tidak, masyarakat Jawa yang tadinya hampir 100 persen memeluk agama Hindu dan Budha, berkat dakwah para wali tersebut, saat ini paling tidak lebih dari 80% masyarakat Jawa memeluk agama Islam.

Menurut KH Agus Sunyoto, setidaknya ada tiga faktor pendukung keberhasilan dakwah Walisongo, yaitu:

Pertama, pribadi para wali yang luar biasa. Para wali adalah orang-orang yang ahli ilmu dan hikmah, namun demikian tetap egaliter, merakyat, dan rendah hati. Mereka adalah orang-orang besar yang biasa hidup sederhana dan menyatu dengan rakyat kecil. Selain itu, para wali adalah orang-orang yang ringan tangan, suka membantu siapa saja yang membutuhkan. Seluruh waktunya digunakan untuk memikirkan kesejahteraan rakyat kecil, mendakwahkan Islam, dan menyebarkan kedamaian.

Diantara para wali, disamping kemampuan dan pemahaman agamanya yang mumpuni, adalah ahli ekonomi, pertanian, pengobatan, seni, tata negara, dan sebagainya. Mereka menyatu dengan rakyat untuk menyelesaikan banyak persolan yang melanda. Tidak saja masalah ubudiyah, masalah-masalah muamalah dan kehidupan sosial pada umumnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari langkah dakwah para wali. Disamping itu, mereka juga ahli-ahli ibadah yang sangat selalu menghabiskan malam untuk beribadah kepada Allah Swt.

Walisongo adalah keturunan bangsawan yang biasa berinteraksi dengan rakyat jelata, dimana pada masa itu, hal tersebut sangat sulit dilakukan. Adanya kepercayaan tentang kasta telah membuat rakyat terkelompokkan ke dalam kasta-kasta yang didalamnya terdapat sekat-sekat yang kuat yang sulit ditembus oleh rakyat jelata. Kehadiran para bangsawan yang merakyat dan hidup sederhana tentu menunjukkan keagungan pribadi para Walisongo. Selain itu, dari sisi ekonomi mereka adalah orang-orang kaya yang murah hati, dan sangat disukai oleh rakyat.

Sebagaimana dimuat dalam http://www.islamtoday.com, Sunan Kalijaga adalah salah satu keturunan Bupati Tuban, di sisi lain ada pula Sunan Giri yang secara ekonomi merupakan pewaris dari seorang tokoh pengusaha besar di jamannya yaitu Nyai Ageng Pinatih. Namun demikian, dengan berbagai kekuatan ekonomi itu, lantas tidak membuat para wali tampil sebagai sosok yang metropolis, sebaliknya mereka tampil sebagai sosok yang zuhud, menyatu dengan masyarakat dan kekuatan ekonomi tersebut justru digunakan seluruhnya untuk kepentingan dakwah yang mereka lakukan.

Selain itu, Sunan Giri selain faqih dalam ilmu agama, ahli ilmu tata negara, sehingga hampir seluruh pangeran majapahit atau calon-calon penguasa di kerajaan Nusantara merupakan murid beliau. Sementara itu Sunan Kudus adalah seorang panglima pasukan yang mumpuni, seingga beliau sering diangkat sebagai Senopati Manggoloyudho dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Kesultanan Demak.

Kedua, Walisongo menyebarkan Islam dengan konsep Islam rahmatan lil aalamin, yaitu Islam yang ramah dan moderat. Islam dikenalkan sebagai agama yang mudah dan siapa saja dapat memeluk agama Islam dengan hanya mengucapkan kalimat syahadat. Selain itu Islam tidak mengenal kasta, sehingga mereka dapat berdekatan dengan para ulama hampir tanpa batas apapun yang menghalangi. Mereka dapat minta tolong baik dalam hal persoalan agama, hukum, ilmu pengetahuan, pengobatan, bahkan sampai pada hal-hal kebutuhan ekonomi atau kebutuhan sehari-hari kepada para wali tersebut.

Bahkan para wali seringkali melakukan kunjungan ke desa-desa, ke rumah-rumah, atau ke kelompok-kelompok masyarakat desa yang terpencil dan jauh dari kota kerajaan, untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Intinya, Islam yang disampaikan para wali adalah Islam yang benar-benar membuat masyarakat Jawa mendapatkan kedamaian, tanpa membuat pertentangan yang kuat dengan agama yang sudah ada. Bahkan, dari cerita turun temurun dapat diketahui bahwa para wali sangat menghargai agama lain, bahkan melarang umat Islam merusak tempat-tempat ibadah agama lain seperti candi.

Seperti halnya Sunan Kudus yang melarang umat Islam menyembelih sapi dan menggantinya dengan kerbau, demi menghormati umat Hindu. Bahkan masjid Menara Kudus pun dibangun dengan arsitektur Hindu semata-mata demi menghormati umat Hindu di Kudus. Sunan Kalijaga juga sangat melarang anak-anak bermain-main di candi meskipun candi itu sudah tidak dipakai lagi untuk beribadah lagi, demi menghormati agama lain.

Ketiga, adalah faktor kehancuran Kerajaan Majapahit. Perang saudara (Perang Paregreg) merupakan perisitiwa yang dianggap menjadi penyebab kehancuran kerajaan terbesar di Nusantara ini. Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, sejak pecah Perang Paregreg pada awal abad XV (1401-1405), armada laut yang pernah mengalami masa kejayaan telah lumpuh dan tidak mampu lagi digerakkan ke wilayah-wilayah jauh di luar Jawa. Faktor utama dari mandegnya eskpedisi jarak jauh tersebut tak lain dikarenakan sumber daya keuangan negara telah jatuh dalam keadaan yang menghkawatirkan, sedangkan perwira-perwira terbaik terfokus pada perang lokal. Dalam keadaan yang tidak terkontrol, tersebut lama-kelamaan wilayah jauh dari Majapahit berserpihan menjadi kadipaten-kadipaten kecil yang mandiri.