Karakter Pendidikan Abad 21

Sebagian kita, mungkin masih mengingat kelas-kelas di sekolah kita, dengan bangku yang banyak berlubang, coretan dimana-mana, papan tulis warna hitam yang sudah lusuh dan tidak hitam lagi, namun masih digunakan untuk mengajar oleh bapak dan ibu guru kita. Kapur berserakan dimana-mana, sambil sesekali di lempar pada anak yang tidak mau memperhatikan penjelasan bapak dan ibu gurunya.

Ketika kita dewasa, belajar di bangku kuliah, dunia sudah banyak berubah. Kita tidak lagi mendapati blackboard, karena telah berganti menjadi whiteboard. Tidak ada lagi kapur tulis, tergantikan oleh board marker yang memang lebih praktis dan bersih.

Selanjutnya, memasuki kuliah pasca sarjana, kelas kita berubah lagi. Bangku-bangku tidak lagi berupa meja dan kursi, berganti dengan kursi berlengan dengan tempat menulis kecil didepannya, kelas sudah ber-AC, LCD proyektor ada di setiap ruangan, sehingga pembelajaran dapat dilakukan menggunakan laptop dengan menampilkan berbagai media pembelajaran berbasis video, slide, animasi, dan gambar bergerak lainnya.

Belum lama menikmati hal itu, kita sudah harus beradaptasi dengan e-learning, dimana siswa dan guru tidak harus berada pada satu tempat yang sama. Anak-anak bisa membuka laptop atau smarphone mereka di rumah, bapak dan ibu gurunya berada di tempat lain sambil di depan perangkat digital mereka. Tanpa sadar, kehidupan digital inilah yang sekarang harus kita lalui bersama.

Fenomena Pendidikan Abad 21

Disrupsi telah terjadi. Perubahan besar yang mengubah tatanan kehidupan kita harus kita hadapi. Ini bukan pilihan, tetapi suatu keniscayaan yang harus kita hadapi bersama-sama.

Dunia pendidikan tidak bisa lepas dari itu. Menurut Pujirianto (2019) dunia pendidikan kita saat ini sudah mengalami fenomena disrupsi yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.

  1. belajar tidak lagi terbatas pada paket-paket pengetahuan terstruktur namun belajar tanpa batas sesuai minat (continuum learning),
  2. pola belajar menjadi lebih informal,
  3. keterampilan belajar mandiri (self motivated learning) semakin berperan penting, dan
  4. banyak cara untuk belajar dan banyak sumber yang bisa diakses seiring pertumbuhan MOOC (massive open online course) secara besar-besaran.

Para guru sudah tidak lagi boleh mengandalkan buku paket. Anak-anak sudah mampu mengakses big data dimana semua sumber belajar tersedia dengan akses yang sangat cepat. Para guru sudah tidak lagi melulu harus berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga ketrampilan mengakses, mengolah, mengirim, dan mendekonstruksi pengetahuan yang bersumber pada big data tersebut.

Oleh karena itu, para guru harus siap dengan “desain pembelajaran” berbasis teknologi infomasi yang menurut Pujirianto (2019), paling tidak harus meliputi beberapa komponen, yaitu : (1) aktifitas instruktur/guru/ mentor/fasilitator, (2) desain pembelajaran online, (3) data sebagai sumber belajar (big data), dan (4) strategi pembelajaran online, dan (5) unjuk kerja peserta didik.

Pembelajaran Abad 21, sudah harus berorietasi pada beberapa hal, yaitu:

  1. berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving). Pembelajaran tidak harus selalu berupa hafalan-hafalan rumus, tetapi juga dikontektualisasikan dengan masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
  2. Kreatifitas dan inovasi (creativity and innovation), dimana para siswa tidak harus menyelsaikan persoalan berbasis textbook, kreativitas dan inovasi sangat dihargai, meskipun substansi dan essensinya harus tetap dijaga. Kreativitas tidak hanya menciptakan yang baru, tetapi juga meningkatkan meningkatkan nilai tambah benda yang sudah ada.
  3. Pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding). Sejak era globalisasi digaungkan, kehidupan manusia semakin membutuhkan pemahaman lintas budaya. Pergaulan sudah tidak lagi terbatas pada satu desa, satu suku, atau bahkan satu negara. Dengan kemudian transportasi dan komunikasi kita dapat dengan mudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.
  4. Komunikasi, literasi informasi dan media (media literacy, information, and communication skill). Keterampilan komunikasi dimaksudkan agar peserta didik dapatbmenjalin hubungan dan menyampaikan gagasan dengan baik secara lisan, tulisan maupun non verbal.
  5. Komputer dan literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (computing and ICT literacy). Literasi TIK mengandung kemampuan untuk memformulasikan pengetahuan, mengekpresikan diri secara kreatif dan tepat, serta menciptakan dan menghasilkan informasi bukan sekedar memahami informasi.
  6. Karir dan kehidupan (life and career skill). Peserta didik perlu memahami tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya diperoleh melalui kerja keras dan sikap jujur.

Tips Mengatasi Macet

Tulisan ini bukan untuk mengajari pak polisi yang sedang mengatur lalu lintas dan mengurai kemacetan. Dalam tulisan ini, yang dimaksud macet adalah macet pada saat menulis. Tidak saja pernah, tapi juga termasuk sering, saya mengalami kemacetan dalam menulis. Baru dapat satu atau dua paragraf, habislah materi yang tertuang dalam tulisan. Bukan curhat, hanya cerita…hehe.

Biasanya, kemacetan terjadi karena beberapa hal. Pertama, hilangnya fokus. Lagi nulis tentang sesuatu, tiba-tiba hanphone berdering. Persoalan muncul dari seberang, menuntut “tanggung jawab” atas sebuah pekerjaan, atau bahkan “tawaran” yang menggiurkan. Informasi mendadak yang bersifat personal bisa juga menjadi alasanan terjadinya kemacetan.

Kedua, tema terlalu sempit. Yah, tema yang terlalu sempit memang sulit dikembangkan. Kita jadi nggak bisa kemana-mana karena sempitnya tema. Sedikit improvisasi saja bisa membuat kita keluar dari tema. Apalagi, jika kita “kurang bahan” sehingga kalimat yang tertuang dalam tulisan kita juga menjadi hambar rasanya. So, sang penulis nglepreh karena membaca tulisan awalnya sendiri, hehe.

Ketiga, kurang latihan. Menulis adalah ketrampilan, bukan pengetahuan. Sehingga, mengembangkannya memang harus berlatih. Tidaklah cukup dengan membahas ilmu tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah belajar menulis. Sekecil apapun, sedikit apapun, menulislah dan teruslah menulis.

Saya kita, kita semua masih ingat. Pada saat awal belajar naik sepeda, kita pun harus berhenti. Bahkan diawali dari “ser dek ser dek” (baca: mengayuh dengan perlahan sambil satu kaki berada di tanah). Setelah bisa jalan sepedanya, kita juga harus sleyat sleyot, sulih mengarahkan sepeda kita. Sesudah lancar pun, terpaksa harus jatuh, nabrak, atau bahkan masuk ke got, iya kan? Nah setelah lancar, kita bahkan bisa mengikut Tour de Java dengan sepeda.

Tips Mengatasi Macet Menulis

Sebagaimana dilansir pada http://writerpreneurindonesia.com, kemacetan dalam menulis sering disebut dengan istilah “writer’s block”. Ada beberapa cara untuk mengatasi writer’s block ini, antara lain:

1) Cari akar masalah

Masalah dapat terjadi karena banyak hal, mungkin pengetahuan kita tentang masalah itu yang kurang luas, mungkin kita tidak memiliki tujuan yang pasti dari tulisan yang kita buat, atau mungkin data-data yang kita miliki kurang lengkap. Kita harus tahu apa akar masalahnya, dan dari situ kita bisa mencari solusinya.

2) Cari udara segar dan refreshing

Mencari udara segar, keluar jalan-jalan, mengunjungi teman atau sahabat, atau bahkan bermain-main dengan anak dan keponakan, bisa menghilangkan kejenuhan. Udara segar tidak membuat nafas dan dada kita menjadi longgar, tetapi juga membuat pikiran kita fresh lagi.

3) Berolahraga ringan

Jika lagi mentok, berolahragalah. Biarkan darah mengalir lebih cepat. Biarkan detak jantung berdenyut lebih kencang

Bagi laki-laki, cobalah melakukan push up, angkat beban atau memukul sansak, jika ada. Untuk perempuan bisa dengan berlari ringan di dalam rumah, atau melakukan jogging.

Anda akan terkejut dengan dampak olahraga ringan ini pada tubuh dan otak. Semangat Anda akan membara, dan otak akan mampu menembus sekat yang membuat Anda mandek

4) Tatap si kursor tercinta

Alternatif untuk mengatasi writer’s block adalah dengan menatap si kursor. Pertama, matikan koneksi internet, atur suara ponsel dalam mode senyap, tutup pintu dan buka komputer.

Tampilkan satu file word kosong dan tempatkan kursor di bagian tengah layar.

Kemudian tatap si kursor. Nikmati kedipannya. Sambil menatap, biarkan pikiran Anda mengembara. Pikirkan segala kemungkinan, adegan, peristiwa, alur, termasuk gagasan dan ide yang paling liar.

Setelah menatap si kursor dengan “mesra” selama 10 menit, setelah membiarkan pikiran mengembara dan menjelajahi berbagai kemungkinan, pikiran Anda akan disesaki beragam ide dan kemungkinan. Alur yang tertutup bisa dibuka. Kisah yang macet bisa ditemukan jalan keluarnya.

5) Tulis cerita atau topik lain

Jika segala upaya tak mampu menembus blokade yang membuat pikiran mandek, cobalah “plan B”, dengan membuat kisah yang sama sekali berbeda, baik jalan cerita, penokohan, genre, setting maupun alurnya.

Anda juga bisa membuat tulisan non fiksi, berupa opini atau ulasan tentang sesuatu, dan dipublikasi di blog.

Membuat cerita atau tulisan dengan genre yang berbeda akan membuat otak bekerja lebih kreatif. Jika kisah atau tulisan alternatif ini sudah rampung dan sudah dipublikasi, anda bisa kembali ke cerita pertama dan mencoba melanjutkan dengan pendekatan yang berbeda.

6) Kembali mencinta

Ingatkah Anda ketika pertama kali mencoba menulis? Anda menulis bukan supaya menjadi kaya atau terkenal. Anda menulis karena mencintai kegiatan menulis. Anda menyukai dan meresapi proses demi proses tahapan penulisan.

Jika merasa dihinggapi writer’s block, artinya Anda mulai tidak menikmati proses penulisan. Anda mulai merasa menulis sebagai beban dan keterpaksaan.

Jika itu yang terjadi, renungkanlah dan ingat masa romantisme indah ketika pertama kali menulis. Dan coba menghadirkan kembali rasa cinta itu.

Menulis merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Dan ketika memutuskan untuk menjadikannya sebagai profesi, rasa cinta itu harus tetap dipupuk dan dijaga.

Hampir semua penulis pernah mengalami kondisi ini. Kemampuan mengatasi masalah ini tentu akan sangat berguna untuk keberlanjutan tulisan. Teruslah menulis sebelum menulis dilarang! Hehe…


Sumber : http://www.writerpreneurindonesia.com/2016/07/6-cara-mengatasi-writers-block-ketika.html

Antara Bunga, Berbunga-Bunga, dan Bunga Berbunga

Bunga menjadi penting akhir-ikhir ini. Tidak saja bagi para cewek, para ibu dan bapak pun ikut-ikutan hunting. Bunga-bunga lama dan “biasa” pada zamannya, sekarang menjadi mahal dan diburi. Jika dulu cukup minta tetangga atau saudara untuk ingin memilikinya, sekarang ini puluhan ribu bahkan ratusan ribu rela dikeluarkan dari kantong sekedar untuk memilikinya.

Bunga-bunga seperti bungan keladi, puring, lidah mertua, aglonema, antharium, dan lain-lain dulu dapat dengan mudah kita dapatkan dengan gratis. Sekarang ini mereka menjadi target perburuan para lover dengan mahar yang cukup menggiurkan. Bahkan ron bolong yang kemudian dikenal dengan istilah “janda bolong” menjadi sangat istimewa. Sirih gading yang dulu banyak tumbuh melingkar di pohon-pohon besar, sekarang juga menjadi target yang banyak dikejar.

Mengapa bunga begitu diburu saat ini? Karena keindahannya kah? Karena keunikkannya kah? Karena baunya yang wangi kah? Atau hanya karena trend saja kah? Dan, kah-kah lain kah? Hehehe…

Bunga diciptakan Allah Swt karena keindahannya. Mungkin, memang saat ini keindahan itulah yang diperlukan. Kehidupan semakin tidak indah ketika pandemi belum berakhir. Sehingga, butuh pengalihan konsentrasi agar kita dapat tetap menikmati indahnya dunia. Dengan begitu, kita dapat mensyukuri nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. Dan, dengan bersyukur itu, bisa jadi Allah Swt menambahkan nikmat kesehatan, keseleamatan, dan terhindarkan dari mara bahaya. Aamiin.

Bunga bisa saja menumbuhkan kebahagiaan. Jangankan memilikinya, melihat saja bisa membuat kita berbunga-bunga. Apalagi, jika menikmati keindahan sang bunga bersama orang-orang yang terkasih. Istri dengan mengajak suaminya, tentu akan membuat “penampakan” bunga membuat hatinya berbunga-bunga.

Nangkula Park Tulungagung

Ndilalah, bersamaan dengan itu, Dana Desa (DD) turun dengan deras dari pemerintah pusat, agar dimanfaatkan desa untuk penguatan ekonomi desa. Salah satunya, dengan menciptakan area hijau dan taman wisata sekala desa untuk menarik kedatangan warga desa lain. Dengan semakin banyaknya warga dari luar desa, diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).

Alhasil, muncullah park-park baru di Tulungagung dan sekitarnya. Nakula Park, Jegong Park, Punokawan Park, dan mungkin sebentar lagi akan banyak bermunculan taman-taman lain di seputaran Tulungagung. Sebelumnya, telah juga banyak bermunculan taman-taman yang dikelol Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa) seperti di Pujon Malang dan lain-lain.

Berdagang bunga juga menjadi hal baru dan diminati oleh banyak orang. Melihat permintaan bunga yang semakin meningkat, merupakan peluang untuk berbisnis bunga. Di media sosial, penjualan bunga secara online tidak kalah hebohnya dengan penjualan masker, face shield, dan hand sanitizer. Bahkan, perdagangan automotif tidak seheboh perdagangan bunga.

Peluang itu bisa menghasilkan sumber income baru. Bunga yang dimiliki dan dikembangkan dapat “berbunga” lagi. Peluang-peluang untuk tidak saja menjadi pedagang, tetapi juga penghasil bunga terbuka luas. Datangnya musim hujan juga menjadi faktor pendukung bagi petani bunga dimana saja. Sedikit benih yang ditanam, menghasilkan bunga, yang dapat “berbunga” lagi dengan penghasilan tambahan. Selamat berbunga-bunga! (ans)

Membangun Paragraf Efektif

Kalimat merupakan rangkaian kata. Selanjutnya paragraf merupakan beberapa kalimat yang memiliki satu pokok pikiran dan beberapa kalimat pendukung yang menguatkan pokok pikiran dalam paragraf itu. Kalimat-kalimat yang efektif akan membentuk paragraf efektif demikian juga sebaliknya.

Apa Pentingnya?

Paragraf yang efektif sarat makna, dapat mentransfer pengetahuan secara jelas, dan yang terpenting tidak membosankan ketika dibaca. Kita tahu, setiap pembaca ingin dengan mudah mendapatkan pesan dari tulisan kita. Apalagi, di dunia yang modern dengan seabrek kesibukkan yang dimiliki, para pembaca ingin cepat-cepat tahu hal-hal terpenting dari tulisan kita. Membaca cepat banyak dipilih oleh para pembaca untuk efisiensi waktu mereka.

Sementara paragraf yang tidak efektif terkesan “mulek”. Akibatnya pembaca kesulitan menemukan makna dan tulisan menjadi tidak menarik. Kesulitan ini mengakibatkan pembaca mudah bosan sehingga dengan cepat akan meninggalkan tulisan kita.

Menurut haloedukasi.com, ciri-ciri paragraf efektif adalah sebagai berikut.

  • Kesatuan fokus, merupakan salah satu ciri penting dalam suatu paragraf efektif. Suatu paragraf dianggap memiliki kesatuan fokus apabila hanya membahas satu ide pokok bacaan saja. Dengan kata lain, semua kalimat dalam paragraf tersebut membahas satu gagasan utama saja.
  • Hubungan antar kalimat menunjukan koherensi yang saling berkaitan. Ciri koherensi merupakan ciri penting dalam paragraf efektif. Agar suatu paragraf memiliki koherensi yang baik, maka kalimat-kalimat yang terkandung di dalamnya juga harus efektif. Antar kalimat harus saling berhubungan secara logis.
  • Pengembangan yang cukup memadai dalam mengembangkan gagasan utama. Dengan demikian ide pokok utama tersampaikan dengan baik oleh penulis. Pembaca akan dengan mudah mendapatkan gambaran mengenai ide yang disampaikan. Pembaca tidak perlu lagi bertanya-tanya mengenai topik yang dibahas penulis. mampu mengarahkan pembaca ke mana arah pembicaraan topik utama. Kesatuan fokus, merupakan salah satu ciri penting dalam suatu paragraf efektif. Suatu paragraf dianggap memiliki kesatuan fokus apabila hanya membahas satu ide pokok bacaan saja. Dengan kata lain, semua kalimat dalam paragraf tersebut membahas satu gagasan utama saja.
  • Hubungan antar kalimat menunjukan koherensi yang saling berkaitan. Ciri koherensi merupakan ciri penting dalam paragraf efektif. Agar suatu paragraf memiliki koherensi yang baik, maka kalimat-kalimat yang terkandung di dalamnya juga harus efektif. Antar kalimat harus saling berhubungan secara logis.
  • Pengembangan yang cukup memadai dalam mengembangkan gagasan utama. Dengan demikian ide pokok utama tersampaikan dengan baik oleh penulis. Pembaca akan dengan mudah mendapatkan gambaran mengenai ide yang disampaikan. Pembaca tidak perlu lagi bertanya-tanya mengenai topik yang dibahas penulis.

Membangun Kalimat Efektif

Untuk membuat paragraf yang efektif, lebih dulu kita harus membuat kalimat yang efektif pula. Berikut beberapa contoh kalimat efektif dan tidak efektif :

Tidak efektifEfektif
Pak Toni melakukan penyembelihan korbanPak Toni menyembelih kurban
Kartono pergi ke sewah. Setelah itu Kartono mengairi sawahnya.Kartono pergi ke sawah untuk mengairinya.
Untuk mempersingkat waktu, kami akan melanjutkan rapat ini.Untuk menghemat waktu, kami lanjutkan rapat ini.
Kita harus mengembalikan kepribadian kita yang sudah tidak lagi peduli terhadap masyarakat miskin.Kita harus memperbaiki kepribadian kita yang sudah tidak peduli terhadap orang miskin.

Membangun Paragraf Efektif

Paragraf efektif adalah paragraf yang dapat menyampaikan pesannya dengan jelas. Sehingga pembaca dapat cepat memahami isi dari paragraf itu. Untuk membangunnya, seorang penulis harus dapat memilih satu pokok pikiran yang dituangkan dalam satu kalimat utama, kemudian melengkapinya dengan kalimat penjelas dan pendukung.

Perhatikan contoh berikut ini:

Tidak EfektifEfektif
Sinta adalah adalah cantik dan menarik. Teman-temannya banyak yang menyukai dirinya. Karena Sinta anak yang cantik dan mudah berteman. Di sekolahnya Sinta juga anak yang selalu menjadi teladan. Ia tidak pernah datang terlambat pada saat ke sekolah dan ia juga sangat pandai dalam pelajaran di sekolah.Sinta cantik dan menarik. Teman-teman sangat menyukainya. Ia tidak hanya cantik tetapi juga mudah berteman. Di sekolah, Sinta adalah teladan. Ia selalu datang tepat dan pandai dalam berbabai pelajaran.
Menulis tidak saja merupakan aktivitas yang menyenangkan tetapi menulis juga merupakan aktivitas yang membuat hati kita menjadi bahagia. Karena dengan menulis kita dapat mencurahkan apa-apa yang ada di dalam hati sanubari kita sehingga kita dapat menumpahkan perasaan kita. Menulis juga dapat mengasah pikiran kita sehingga pikiran kita menjadi segar.Menulis adalah aktivitas yang menyeangkan. Dengan menulis hati kita akan bahagia. Mengapa? Karena kita dapat mencurahkan isi hati dan perasaan kita. Selain itu menulis juga dapat mengasah dan menyegarkan pikiran kita.

Intinya, untuk membuat paragraf yang efektif maka kalimat pembangunnya juga harus merupakan kalimat yang efektif pula. Secara global kalimat yang efektif memiliki ciri-ciri khusus yaitu :

  1. sepadan (memenuhi unsur gramatikal)
  2. hemat (tidak banyak pengulangan kata)
  3. cermat dalam pemilihan kata (diksi)
  4. logis/masuk akal
  5. terpadu

Selamat menulis!