Sekolah Ramadhan

Tujuan dilaksanakannya puasa Ramadhan adalah agar orang-orang beriman meningkat derajatnya menjadi orang yang bertakwa. Dalam Surah Al Baqarah ayat 183 Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pertanyaannya adalah apakah setiap orang yang berpuasa dapat meraih derajat takwa?

Inilah yang kemudian harus menjadi bahan refleksi dan review kita. Penilaian utama dari puasa kita tentu saja miliki Allah Swt. Bukan kita pula yang bisa menilainya. Tapi, paling tidak apakah puasa kita sudah “sah” secara syariat? Jika sudah sah, apakah puasa kita termasuk golongan puasa aam, khowas, atau khowasul khowas? Wallahu a’lam.

Paling tidak kita semua tahu bahwa Ramadhan merupakan satu sekolah atau madrasah tempat kita memperbaiki diri. Umumnya, ibadah kita meningkat drastis pada bulan ini. Sementara ketakutan kita untuk melanggar syariat atau mengerjakan maksiat juga semakin berkurang. Ketika ada teman yang mengajak kita “nyrempet-nyrempet” maksiat saja, kita akan mengatakan, “Jangan-jangan, kita kan puasa!”

Ramadhan maksimal hanya 30 hari. Tetapi masih banyak hari-hari yang insya Allah akan kita lalui. Ramadhan ini telah menjaga kita, mendampingi kita, dan mengajak kita menjadi orang baik. Tetapi setelah Ramadhan berlalu, tetapkah kita menjadi baik? Apakah kita tetap akan suka berlama-lama membaca Qur’an, atau tetap bersemangat bersedekah untuk membantu sesama, atau begitu bergairah mengikuti kegiatan ta’lim.

Jika kita tetap bisa mempertahankan kondisi itu, ini berarti bahwa ujian kita lulus. Kita telah di training selama satu bulan oleh Ramadhan, dan kita telah menjadi lebih baik karenanya. Tetapi sebaliknya, jika kita kembali lagi menjadi kita yang dulu, yang malas sholat malam, jarang “nderes” al Qur’an, ogah-ogahan ke masjid, pelit dalam bersedekah, dan sebagainya, maka itu berarti kita hanya memanfaatkan Ramadhan sebagai “bulan diskon” dan “bulan panen pahala”. Terus, ya ndak nyambung-nyambung amat dengan tujuan puasa Ramadhan sebagaimana disebutkan di atas.

Mempertahankan Ramadhan

Waktu terus berlalu. Ramadhan juga akan berlalu, berganti dengan bulan Syawal. Berbagai fasilitas dan keistimewaan bulan ini akan lepas dari jangkauan kita. Kita akan kembali dalam kondisi normal, sebagaimana bulan-bulan selain Ramadhan.

Namun, value Ramadhan tetap dapat dipertahankan. Gairah beribadah dan romantisme kedekatan hubungan kita dengan Allah Swt tetap dapat kita lakukan. Caranya, ya dengan melanggengkan ibadah-ibadah yang sering kita lakukan dalam bulan Ramadhan sesuai kemampuan kita. Kita lanjutkan romantisme hubungan kita dengan sang Khalik dengan tetap membaca al Quran, melanggengkan sholat malam, memperbanyak sedekah, bahkan dengan melanjutkannya dengan puasa sunnah. Ibadah-ibadah itu adalah ibadah istimewa yang bisa meningkatkan grade kita dihadapan Allah Swt. (ans)

Hati-Hati, Anakmu Mencontohmu!

Orang tua adalah sosok manusia yang seharusnya paling dihormati oleh anak-anaknya. Orang tua memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sangat berat pada anak-anaknya. Ia tidak hanya harus bisa menunjukkan pada jalan kebaikan, tetapi juga menjadi contoh kebaikan bagi anak-anaknya. Memberi contoh adalah hal yang mudah, tetapi menjadi contoh yang konsisten memerlukan upaya yang sungguh-sungguh.

Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhamamd Saw sangat berhasil dalam mendakwahkan Islam. Salah satu kunci keberhasilan beliau adalah karena beliau dan menjadi uswatun hasanah. Nabi Muhammad tidak saja memerintahkan kepada umatnya untuk beribadah, tetapi beliau juga menjadi contoh cara beribadah yang baik dan istikomah. Dalam hal muamalah pun, beliau melakukan hal yang sama. Beliau adalah pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, orang tua yang bijaksana, guru yang cerdas, dan seterusnya.

Orang tua adalah contoh kehidupan nyata 24 jam bagi anak-anaknya. Oleh karena itu orang tua harus hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Apa saja yang dilakukan orang tua di rumah, akan menjadi memori yang tak terlupakan pada diri anak-anaknya. Bayangkan, jika ada orang tua yang menyuruh anaknya shalat, padahal ia lagi nonton sinetron. Tentu si anak akan mendongkol.

Dalam Islam, orang tua harus mengenalkan anak-anaknya pada beberapa hal, terutama berkaitan dengan akidah, syariah, dan akhlak.

Mengenalkan Anak pada Allah Swt.

Hal terpenting yang dilakukan orang tua pada anak adalah mengenalkan Allah Swt. Sejak dini anak harus tahu posisi dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Kewajiban makhluk adalah beribadah padanya. Sejak kecil, orang tua dapat mengajak anaknya ke masjid, ke mushola, atau shalat jama’ah di rumah. Ini sangat penting untuk membiasakan anak dengan kewajiban utama umat Islam yaitu menjalankan shalat.

Orang tua juga dapat mengajak anak ke tempat-tempat yang indah dan menakjubkan. Ke pantai, lembah, gunung, goa, air terjun, dan sebagainya agar anak mengetahui betapa indahnya alam ciptaan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ, orang tua juga harus menjelaskan bahwa gunung yang besar, laut yang luas, langit yang tinggi, matahari yang panas, dan bulan yang indah, adalah ciptaan Allah Swt

Membimbing Shalat

Shalat adalah ibadah yang utama dalam Islam. Kewajiban shalat tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh umat Islam. Orang yang sangat sibut bekerja, orang dalam perjalanan yang melelahkan, bahkan orang sakit parahpun, selama ia masih memiliki kesadaran, tetap saja ia wajib melakukan shalat. Shalat wajib dilakukan berdiri, jika tidak mampu tetap saja wajib shalat, yaitu dengan duduk. Jika duduk tidak mampu juga, shalat dapat dilakukan dengan berbaring. Masih tidak mampu juga, cukup dilakukan dengan isyarat.

Shalat dapat menghapus dosa kita. Dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian, kalau ada sungai di depan pintu di mana kalian mandi lima kali sehari, apakah Anda mengatakan bahwa kotoran di badannya masih ada? Mereka menjawab: tidak, tidak tersisa apapun dari kotoran. Beliau berkata: seperti itulah sholat yang lima. Allah SWT menghapus dengan segala dosa.” (muttafaqun alaih)

Pembiasaan shalat sebaiknya dilakukan orang tua sejak anak usia dini. Shalat berjamaah di masjid, di mushola, atau di rumah merupakan salah satu cara membiasakan anak melaksanakan shalat. Orang tua juga harus disiplin mengingatkan anak untuk menjalankan shalat, sejak kecil hingga dewasa. Jika ibu sering kali menanyakan, “apakah sudah makan Nak?”. Maka akan jauh lebih penting untuk senantiasa menanyakan, “sudah shalat, Nak?”

Pertanyaan seperti itu harus terus dan terus dilakukan orang tua. Tujuannya agar anak menyadari bahwa “shalat itu penting dan utama”. Orang tua tetap harus menyisakan waktu untuk anak bersenda gurau, bermain dengan teman, dan sebagainya. Tapi pada saat waktu shalat tiba, orang tua harus selalu mengingatkan anaknya untuk shalat.

Dalam konteks kekinian, orang tua dapat bekerjasama dengan guru untuk “mengawal” konsistensi anak dalam menjalankan shalat. Sekolah dapat membuat program berupa laporan kegiatan ibadah shalat di rumah, orang tua yang melaksanakan dan mendampingi anak. Biasanya, anak jauh lebih perhatian jika pengawasan pelaksanaan shalat tersebut juga di dalam pengawasan guru.

Kebiasaan Membaca Al Qur’an

Kebiasaan membaca Al Qur’an merupakan hal yang sangat mulia dalam Islam. Al Qur’an adalah wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai sumber utama hukum syariat Islam. Membaca Al Qur’an akan mendatangkan pahala, baik yang mengerti maknanya ataupun tidak. Pahala membaca Al Qur’an tidak dihitung berdasarkan banyaknya surah yang dibaca, tetatapi berdasarkan huruf yang dibaca.

Pada keluarga muslim yang baik, pembiasaan membaca Al Qur’an menjadi salah satu hal yang diutamakan. Biasanya, sehabis Maghrib atau setelah shalat Subuh, keluarga muslim membaca Al Quran di rumah masing-masing. Bacaan Al Qur’an ini akan membuat rumah menjadi “bercahaya” di hadapan Allah Swt. Energi positif akan tersebar ke seluruh penjuru rumah sehingga rumah menjadi damai laksana syurga.

Namun demikian kebiasaan yang telah berlangsung sejak dulu itu, sedikit demi sedikit tergeser oleh kebiasaan baru. Televisi, sebagai media informasi dan hiburan, telah menggeser kebiasaan-kebiasaan baik itu. Sehingga, banyak rumah keluarga muslim yang hari-harinya tidak lagi dihiasi dengan suara bacaan Al Qur’an, tetapi berganti dengan suara musik, dialog sinetron, atau berita-berita di televisi.

Orang tua harus dapat menjadi contoh anaknya untuk dapat menjaga ke-istiqomahan dalam membaca al Qur’an. Tidak harus berlembar-lembar mushaf yang harus dibaca, tetapi yang penting istiqomah. Istiqomah sangat penting untuk menjamin kedisiplinan anak menyisakan waktunya membaca al Qur’an.

Menunjukkan AKhlak yang Mulia

Orang tua juga menjadi teladan bagi anak-anak dalam bersikap dan berperilaku. Anak melihat bagaimana ayah dan ibunya bertutur kata, lalu menirunya. Orang tua Jawa yang menggunakan basa krama ketika berbicara, akan memiliki anak-anak yang juga mengerti unggah ungguh dalam berkomunikasi. Sebaliknya, orang tua yang tidak mengindahkan pentingnya berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua, juga akan mendapati anak-anaknya yang tidak bisa berbicara dengan bahasa yang lebih sopan pada orang yang lebih tua.

Demikian juga sikap kepedulian yang kita berikan pada orang, keramahan kita pada setiap tamu, penghormatan dan kasih sayang kita pada orang yang lebih tua meskipun miskin, dan seterusnya, akan menjadi pelajaran riil bagi anak-anak. Oleh karena itu, dimana saja dan kapan saja setiap orang tua harus dapat menjaga sikap agar tetap menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Guru yang baik adalah pembelajar yang baik, demikian juga orang tua. Ketika menikah, mungkin kita hanya menyiapkan kemampuan dalam bidang ekonomi, tetapi apakah kita siap menjadi orang tua yang dapat dicontoh anak-anak kita? Orang tua, tetap saja harus belajar dan belajar. Menjadi orang tua adalah tugas setiap kita, dengan senantiasa meningkatkan pengetahuan, mengaji, belajar, dan mencontoh teladan dari Nabi Muhammad Saw melalui para ulama, kita dapat meningkatkan kualitas kita sebagai orang tua.

Menjemput Rezeki

Apa itu rezeki? “Rezeki adalah sesuatu yang kita upayakan dan kita manfaatkan hasilnya”, kata Prof. Dr. Quraish Shihab dalam suatu ceramahnya di acara “Shihab dan Shihab” pada suatu kesempatan. Dalam definisi itu, ada dua hal utama yaitu upaya dan manfaat. Artinya, untuk memperoleh rezeki kita melakukan upaya, dan untuk klop menjadi rezeki kita, kita memanfaatkannya.

Wa min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha wa ya’lamu mustaqoroha wa mustawda’aha kullu fi kitabin mubin. Yang artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfuz),” katanya mengutip Surah Hud, penggalan ayat 6 sebagaimana dilansir dalam britabrita.com.

Tidak semua yang kita peroleh menjadi rezeki kita. Bisa jadi kita mendapatkan banyak uang dari kerja kita, tetapi tidak semua uang kita manfaatkan sendiri. Di dalam penghasilan yang kita peroleh itu, ada juga rezeki dari anak dan istri kita, orang tua, keluarga, atau orang lain yang berhak menerimanya. Dengan demikian, tidak semua yang kita peroleh itu menjadi rezeki kita.

Rezeki tidak selalu berupa uang. Yah, meskipun sebagian orang masih menganggap bahwa uang merupakan rezeki yang menjadi impian utama. Kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, keamanana, dan lain sebagainya, adalah rezeki yang diberikan Allah Swt kepada manusia.

Bisa jadi seseorang mendapatkan uang yang banyak, tetapi ternyata rezekinya sedikit. KH Hasyim Muzaki pernah mengatakan, “Ketika masih muda, saya senang durian, tapi tidak punya uang untuk membelinya. Sekarang, ketika saya sudah bisa membeli durian, dengan alasan kesehatan, saya tidak boleh mengkonsumsinya”.

Kita juga mendengar betapa banyak cerita-cerita orang kaya, yang tidak boleh makan ini dan itu, karena akan mengganggu kesehatannya. Sementara orang-orang miskin, makan apa saja boleh, tidak berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Bahkan, makan makanan yang menurut orang lain tidak sehat dan higenis, oke-oke saja.

Rezeki Tidak Selalu Halal

Rezeki tidak selalau halal. Kita dapat memanfaatkan apa yang kita peroleh dengan cara yang tidak benar, sesuai kemauan kita. Bisa jadi kita mendapatkan uang dari cara korupsi, menipu, berbohong, mencuri, dan sebagainya, semua itu selama dapat kita manfaatkan untuk kita, itu rezeki kita. Hanya saja, kita akan mempertanggungjawabkan cara kita meraih rezeki itu.

Salah satu orang yang merugi adalah jika ia berusaha mendapatkan banyak rezeki dengan cara yang salah. Para koruptor menumpuk harta, ketika ia meninggal, hartanya dimanfaatkan oleh keluarganya. Sementara si keluarga tidak tahu darimana ia asal dari harta itu. Maka dimanfaatkan harta peninggalkan leluhurnya itu untuk kebaikan. Sehingga ia memperoleh pahala dari kebaikannya itu. Sementara sang koruptor yang telah meninggal dunia, tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Naudzubillahi min dzalik.

Rantai Rezeki

Rezeki, sampai pada kita melalui sebuah rantai rezeki. Ada rezeki dengan rantai yang panjang, ada pula yang pendek. Anak-anak kita, terutama yang masih bayi, mereka mendapatkan ranti rezeki yang pendek. Sampainya rezeki pada bayi, selau cepat dan tidak membutuhkan upaya. Cukup menangis, datanglah rezeki itu.

Anak bayi tidak perlu masak, tidak perlu mengambil makanan, bahkan tidak perlu menyuapkan sendri makanannya. Ayah dan ibu akan dengan senang hati menghantarkan rezeki Allah Swt padanya. Inilah rantai rezeki yang pendek.

Orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya sederhana, memiliki rantai rezeki yang pendek. Mereka mudah puas dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya. Mereka makan seadanya, dimana saja, selama ada yang di makan.

Sementara orang-orang kaya cenderung panjang rezekinya. Ia harus makan makanan yang enak. Setelah ketemu yang enak harus cari yang bergizi. Setelah itu harus dimasak secara higenis. Piringnya harus cari piring yang indah dan mahal. Belum cukup itu, harus juga makan di tempat yang indah dan romantis. Belum cukup juga, harus ditemani dengan teman yang cantik. Hadeeh…, untuk mendapatkan rezeki yang berupa makan malam saja, begitu panjang rantainya.

Rezeki yang Berkah

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, rezeki yang berkah itu jika dapat dimanfaatkan dengan banyak, meskipun jumlahnya sama. Sebagai contoh, satu piring makanan biasanya cukup dimakan untuk satu orang, menjadi rezeki yang berkah jika ternyata satu piring makanan itu dapat dikonsumsi oleh dua atau tiga orang dan mencukupi kebutuhan makan ketiganya.

Rezeki yang berkah mengarahkan kita pada kebaikan. Sebaliknya, rezeki yang tidak berkah mengajak kita pada kemaksiatan. Kalau kita memiliki uang banyak, lalu yang ada dibenak kita adalah bagaimana kita bersedekah, bagaimana kita membantu orang miskin, bagaimana kita membangun masjid dan mushola, dan sebagainya, maka rezeki kita adalah rezeki yang berkah. Sementara jika dengan mendapatkan uang banyak, inginnya kita malah ke diskotik, berjudi, minum-minuman keras, dan sebagainya, maka rezeki kita tidak berkah.

Menjemput Rezeki

Dalam Surah Al Hud ayat 6 sebagaimana disebutkan di atas, ada dua kata kunci yang harus digarisbawahi. Pertama, Allah Swt menjamin rezeki semua makhluk yang diciptakannya. Dan kedua, makhluk itu harus bergerak. Dalam artian, rezeki memang sudah disediakan, tetapi ia harus dijemput.

Manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar. Bekerja adalah satu ikhtiar manusia untuk mencari nafkah, berolah raga merupakan ikhitiar manusia untuk menjemput rezeki yang berupa kesehatan, berpikir positif merupakan upaya manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ya, semua harus diupayakan sebagai tanggung jawab kita untuk “bergerak” itu tadi. Sedangkan seberapa hasil usaha yang kita peroleh, tentu bukan lagi tanggung jawab kita.

Hanya saja, dalam “bergerak” (baca=berikhtiar), manusia harus memperhatikan cara yang digunakannya. Cara yang benar, sesuai tuntunan syariat, akan menghasilkan rezeki yang halal dan berkah, demikian sebaliknya. “Cara yang benar” ini merupakan satu syarat utama yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam menjemput rezeki Allah Swt.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari Ceramah Prof. Dr. Quraish Shihab dengan tambahan dari berbagai sumber.

Kebaikan Seorang Mukmin

Oleh : Mohamad Ansori

Hidup manusia tidak lepas dari pergantian antara senang dan susah, bahagia dan menderita, kaya dan miskin, luas atau sempit, dan seterusnya. Semuanya datang silih berganti menghinggapi semua manusia. Semua orang merasakan saat-saat yang membuatnya bersyukur, tetapi saat yang lain ia harus bersabar. Naik dan turunnya gelombang kehidupan adalah keniscayaan yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Sebab apapun kondisinya, seorang mukmin tetap dapat mendekatkan dirinya pada Allah Swt.

Dalam sebuah hadist, yang diriwayatkan dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Artinya :“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[1].

Hadist di atas menunjukkan betapa dalam kondisi apapun, seorang mukmin dapat mengambil hikmah dan pahala. Pada saat ia kaya, maka ia akan bersyukur kepada Allah Swt. Ia akan membelanjakan hartanya untuk kebaikan, menolong orang miskin, membiayai perjuangan agama, membantu kaum dhuafa, membiayai anak yatim, mendirikan masjid dan mushola, dan sebagainya. Kebaikan-kebaikan akan muncul dari harta yang diperolehnya secara halal, sehingga menghasilkan rezeki yang barokah.

Pada saat seorang mukmin mendapati dirinya bagian dari orang miskin, maka kebaikan juga akan muncul dari dirinya. Si miskin akan menjadi orang yang bersabar, dan itu akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah Swt. Sebab sesungguhnya Allah Swt senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Dalam Surat Al Baqarah ayat 153, Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah : 153)

Pada saat menderita karena miskinya, si miskin akan selalu mendekatkan dirinya pada Allah Swt, meminta pertolongan dan menyandarkan hidupnya pada Allah Swt. Tentu hal ini merupakan kebaikan yang tidak ternilai, karena orang yang mulia, tentunya adalah orang yang paling dekat dengan Allah Swt.

Dengan bersabar, orang miskin akan mendapatkan kebahagiaan lain, yang seringkali tidak dimiliki oleh orang lain. Si miskin akan sangat bahagia, ketika ia mendapatkan sebungkus nasi dengan lauk tempe, sementara si kaya belum tentu merasakan bahagia, meskipun ia makan direstoran mahal, dengan aneka makanan yang ada dihadapannya.

Bersyukur dan bersabar, merupakan komponen utama dalam menyempurnakan iman seseorang. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Uddatush Shaabiriin (hal. 88), sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”[2].

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik bersabar dan bersyukur adalah:

  • Bersabar dan bersyukur, semuanya adalah kebaikan bagi seorang mukmin. Dengan bersabar dan bersyukur, keimanan seorang mukmin akan semakin sempurna.
  • Dalam kondisi apapun, kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.
  • Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehinnga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah, serta di akhirat mendapat siksa neraka.
  • Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya
  • Menurut Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilish shayyib” (hal. 11), rukun sabar ada tiga yaitu: (1) menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah Swt, (2) menahan lisan dari keluh kesah, dan (3) menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allah), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya.
  • Demikian juga rukun syukur juga ada tiga, yaitu (1) mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala, (2) menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara lahir (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalm rangkan mensyukurinya), dan (3) menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah.

Wallahu a’lam

Mencegah Perpecahan dengan “Sepakat untuk Tidak Sepakat”

Oleh : Mohamad Ansori

Perbedaan dan keragaman dalam segala aspek kehidupan adalah sesuatu yang wajar. Keindahan bumi dan isinya wujud karena adanya perbedaan. Indahnya fajar karena adanya pergantian siang dan malam, indahnya pelangi karena ada keragaman warna, indahnya hidup karena adanya orang lain yang berbeda dengan kita. Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari perbedaan dan keragaman, karena hal itu merupakan kehendak Allah Swt.

Dalam Surat Al Hujurat ayat 13 Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, tafsir ayat di atas adalah : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dalam keadaan sama, dari satu asal: Adam dan Hawâ’. Lalu kalian Kami jadikan, dengan keturunan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal dan saling menolong. Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Allah sungguh Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Mengenal, yang tiada suatu rahasia pun tersembunyi bagi-Nya.

Meskipun manusia terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda, namun semua berasal dari satu kakek yang sama yaitu Nabi Adam A.S. Dengan demikian, sudah sepatutnya setiap manusia, merasakan persaudaraan sesama manusia, dengan manusia yang lain. Meskipun, bisa jadi, warna kulit, bahasa, bentuk, ukuran, kebiasaan, bahkan agamanya berbeda, tetap saja sebagai manusia memiliki persamaan yaitu sama-sama sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.

Anehnya, pada masa-masa akhir ini, sedikit saja perbedaan yang kita miliki, sudah dapat menimbulkan perpecahan. Kita melihat, betapa konflik-konflik antar masyarakat, hanya dipisahkan oleh kampung yang berbeda, kabupaten yang berbeda, bahkan keluarga besar yang berbeda. Lebih parahnya lagi, dengan alasan dan dalih agama, perpecahan juga timbul di masyarakat. Sebabnya antara lain, adanya satu kelompok yang merendahkan, melecehkan, bahkan menghina kelompok lain.

Kelompok-kelompok seperti inilah yang patut kita waspadai. Kelompok-kelompok “takfiri”, yang sering mengkafir-kafirkan kelompok lain hanya karena berbeda cara membaca surah, atau karena menganggap kelompok lain melakukan perbuatan yang tidak dicontohkan nabi, merupakan kelompok yang harus diwaspadai keberadaannya. Kelompok-kelompok ini awalnya kecil dan membaur, tetapi ketika sudah memiliki jumlah jamaah yang banyak, biasanya melakukan klaim-klaim kebenaran dan menyalahkan kelompok yang dia anggap “sesat”.

Mencegah Perpecahan

Salah satu upaya mencegah perpecahan di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan umat Islam adalah dengan menerima perbedaan. Kita semua menyadari, karena jauhnya jarak waktu dan tempat tinggal kita dari Nabi Muhammad Saw, tentu akan memunculkan perbedaan-perbedaan. Senyampang perbedaan itu tidak masuk dalam prinsip-prinsip agama (ushul al-din) tentunya harus kita terima sebagai bagaian dari khilafi ummati rohmatun. Boleh saja kita berkeyakinan bahwa faham kita adalah yang paling benar, tetapi tentu tidak tepat jika kita menyalahkan orang lain secara terbuka.

Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sebenarnya sudah ada sejak masa Rasulullah Saw. Namun demikian tidak meruncing karena semua dapat menerima keputusan-keputusan Nabi Muhammad secara iklas dan penuh kesadaran sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi Muhammad Saw. Di masa sahabat pun sudah banyak ditemukan perbedaan pendapat, apalagi di masa setelahnya.

Mahamud Syaltut dalam Quraish Shihab (1992) menyimpulkan enam faktor yang mengakibatkan perbedaan di kalangan ulama. Salah satu faktornya menyangkut periwayatan hadist. “Satu hadist mungkin diterim atau diakui oleh seorang alim, tetapi tidak diketahui atau tidak diakui ke-shahih-annya oleh alim yang lain. Hal ini antara lain karena perbedaan penilaian terhadap perawi hadist, yang merupakan hal yang sangat luas jangkauan pembahasannya dalam studi al-jarh wa al-ta’dil”.

Perbedaan diantara ulama dari masa ke masa tetap saja kita temukan. Baik dalam fiqh ibadah, dakwah, apalagi fiqh siyasah. Oleh karena itu, untuk mencegah perpecahan diantara umat Islam, jalan tengah yang bisa diambil adalah “bersepakat untuk tidak sepakat”. Dalam artian, jika tidak semua menyepakati suatu persoalan dengan sudut pandang dan solusi yang sama, sebaiknya semua pihak tetap bisa menghormati “ketidaksepakatan” itu. Biarlah satu kelompok tetap berjalan dengan keyakinannya, sementara kelompok lain melaksanakan keyakinan sendiri.

Namun demikian, dalam konteks tertentu, seperti telah terjadinya kesepakatan di masa sebelumnya, kesepakatan ini sudah tidak boleh lagi diganggu gugat. Salah satunya adalah kesepakatan bangsa Indonesia untuk mendirikan negara berdasarkan Pancasila. Kesepakatan semua komponen bangsa itu sudah tidak boleh lagi dilanggar dengan mendirikan negara berbentuk lain, karena itu akan melanggar kesepakatan awal. Pelanggaran itu akan berakibat sangat buruk seperti peperangan antar kelompok bahkan antar suku bangsa di Indonesia.

Para pendiri negara, khususnya dari kalangan ulama, telah mempertimbangkan dengan matang mengapa negara Pancasila dipilih. Pemilihan bentuk negara Pancasila dengan alasan yang sangat mendasar, yaitu realitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Ratusan suku bangsa yang mendiami ribuan pulau besar dan kecil di Nusantara tentu memiliki keyakinan yang berbeda. Oleh karena itu, Pancasila dipilih sebagai jalan tengah agara perbedaan diantara bangsa Indonesia tidak mengakibatkan perpecahan. Sehingga, mengganti Pancasila dengan ideologi lain, akan sangat riskan denga runtuhnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Izin Orang Tua” untuk Pembelajaran Tatap Muka

Dalam satu video release, Menteri Pendidikan RI Nadiem Makarim menyatakan bahwa sekolah-sekolah di zona kuning dan hijau, boleh melaksanakan pembelajaran dengan tatap muka asalkan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. “Namun demikian, hal itu tetap harus seizin orang tua”, tambahnya. Intinya, ketika orang tua tidak sepakat pembelajaran tatap muka dilaksanakan, atau orang tua tidak marasa nyaman anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di era new normal ini, sekolah tetap harus melanjutkan pembelajaran jarak jauh sebagaimana selama ini dilaksanakan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mulai mengizinkan pembelajaran tatap muka pada zona yang diperluas, yaitu zona kuning dan hijau. Pembelajaran harus dilaksanakan di tempat yang memadai, yaitu dengan ventilasi yang cukup dan tidak pada ruangan ber-AC. Selain itu, kapasitas ruangan maksimal adalah 50 persen siswa. Sehingga, pada sekolah-sekolah dengan jumlah siswa maksimal dalam setiap kelas, tetap harus dilakukan shifting, yaitu masuk secara bergantian.

Pernyataan “mas mentri” ini, seolah menyadarkan kembali kepada kita, bahwa sebenarnya otoritas pendidikan itu berada pada orang tua. Kewajiban mendidik dan mengantarkan anak menuju kedewasaan adalah kewajiban orang tua yang selama ini sebagian besarnya didelegasikan kepada para guru dan sekolah.

Dalam Surah At Tahrim ayat 6 Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Bagaimana cara menjaga diri dan keluarga dari api neraka? Tentu dengan mengajari, mendidik, dan membimbing mereka untuk mentaati Allah Swt dan rasulnya. Mengajarkan syariat dan memberitkan teladan yang baik, sehingga keluarga (istri dan anak-anak) dapat menjalankan Islam dengan sebaik-baiknya.

Para suami adalah pemimpin, sehingga ditangannyalah kewajiban memimpin keluarga. Nabi Muhamamd Saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya : “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”

Seorang suami, tidak saja bertanggung jawab akan nafkah istri dan anak-anaknya, tetapi ia juga merupakan pemimpin yang berkewajiban membimbing istri dan anak-anaknya untuk mengikuti syariat agama Islam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, suami tidak saja bisa bekerja dengan baik dan mencari rezeki yang halalan toyyiban, tetapi juga harus mempelajari ilmu agama, ilmu pendidikan, ilmu kepemimpinan, dan sebagainya, sehingga dapat membawa keluarganya ke pada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

Berkaitan dengan hal ini, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sebagaimana dimuat dalam https://muslim.or.id/, beliau berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

Artinya : “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Mengembalikan izin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di masa pandemi ini, dapat dimaknai bahwa tanggung jawab pendidikan dan pembelajaran adalah pada orang tua. Oleh karena itu, melalui komite sekolah, diberikan hak sepenuhnya untuk mengizinkan atau tidak mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka.

Dakwah Damai Ulama Nusantara

Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh tetapi mereka tidak merasa dikalahkan.

Pada saat Islam masuk ke Nusantara, di negeri ini sudah banyak agama dianut oleh penduduk Nusantara. Ajaran agama Hindu dan Budha merupakan agama yang paling banyak dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu. Oleh karena itu, para “mubaligh” Islam harus mengatur strategi dalam berdakwah. Diantaranya adalah dengan cara mengasimilasikan ajaran Islam dan budaya di Nusantara, senyampang budaya itu tidak bertentangan dengan syariat dan akidah Islam.

Para ulama khususnya Wali Songo, memilih tiga sikap untuk menghadapi budaya yang diyakini dan dijalankan oleh penduduk Nusantara pada saat itu, yaitu amputasi, asimilisasi dan minimalisasi. Sikap itu digunakan untuk kepentingan kemajuan dakwah, sehingga Islam di terima di Nusantara tanpa adanya pertumpahan darah. Apalagi, al Qur’an jelas-jalas mengajarkan “tidak ada paksaan dalam agama”, sehingga dakwah Islam dapat diterima dengan baik dan damai.

Amputasi adalah sikap yang digunakan untuk tidak mentolelir ajaran yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, sehingga harus dipotong, tidak boleh dilakukan lagi. Ajaran-ajaran menyembah berhala, menyembah batu, makan babi, dan hal-hal yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam, tetap tidak diperbolehkan. Meskipun, cara penyampaiannya menggunakan cara-cara yang santun, sehingga orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama Islam tidak merasa tersinggung dengan “ajaran baru” yang disampaikan.

Sementara itu, terhadap hal-hal yang masih bisa ditolerir dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka hal itu “dibelokkan” sehingga wadahnya bisa jadi tetap atau mirip, tetapi isinya telah dirubah. Salah satu yang dicontohkan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam adalah penggunaan mihrab.

Mihrab adalah ruang kosong yang terletak di bagian depan di sebuah masjid atau mushola, dimana Imam berada disitu untuk memimpin sholat. Mihrab tidak pernah diajarkan di zaman Rasulullah Saw dan para sahabat, tetapi lazim digunakan di masjid atau mushola pada saat ini. Fungsi utama mihrab, selain tempat Imam memimpin shalat, adalah untuk menunjukkan arah kiblat.

Ustadz Faris Khoirul Anam sebagaimana dimuat dalam https://riyadluljannah.org/ mengatakan : “Mihrab seperti itu tidak satupun ditemui dan dicontohkan di zaman Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun selama cara dan tujuannya baik, hal tersebut juga menjadi tradisi yang baik pula. Bayangkan apabila dalam suatu perjalanan ketika memasuki masjid atau musholla yang tidak ada mihrabnya, sudah tentu kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.  Tradisi inilah yang diwarisi dan dipengaruhi oleh agama asli pulau jawa, yakni Agama kapitayan. Karena Konsep keyakinan mereka bahwa tuhan itu berada di ruang hampa, maka Pemeluk agama kapitayan beribadah di ruang-ruang yang berongga seperti goa dan sanggar. Tradisi yang baik ini akhirnya diteruskan oleh para wali di Jawa dengan menggantinya dengan sebutan Langgar”.

Sikap yang ketiga adalah adalah minimalisasi. Minimalisasi adalah upaya untuk mengurangi kemudzaratan dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ajaran yang tidak benar itu dapat ditinggalkan seutuhnya.

Berkaitan dengan hal ini, Ustadz Faris mengatakan : “Minimalisasi artinya mengurangi dampak suatu tradisi yang buruk dan sulit dihilangkan. Sebagai contoh, saat ini masih terdapat tradisi masyarakat pesisir melarung kepala kerbau ke laut ketika waktu-waktu tertentu. ini merupakan proses dakwah yang belum selesai dan masih perlu terus diminimalisasi oleh para pendakwah saat ini. Asal mula dari tradisi tersebut adalah tradisi melarung kepala gadis perawan. Kemudian para wali songo meminimalisasi hal tersebut dengan menggantinya dengan kepala kerbau”.

Strategi dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu khususnya Wali Songo, mengisyaratkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan dengan tetap mengedepankan perdamaian, menghindari pertentangan, dan dilakukan dengan halus. Dakwah seperti ini terbukti dapat membalikkan fakta, dimana penduduk Nusantara yang tadinya beragama Hindu dan Budha, pada saat ini lebih dari 85 persennya adalah umat Islam. Dakwah damai ini perlu dirawat, agar kedamaian tetap terjaga di dalam kehidupan masyarakat. Keunggulan tertinggi adalah ketika kita dapat mengalahkan musuh, tetapi musuh tidak merasa dikalahkan. (ans)

Sedekah Ilmu

Oleh : Mohamad Ansori, M.Pd.

“Sedekah yang paling utama ialah seorang muslim belajar suatu ilmu, kemudian mengajarkannya kepada saudara muslim lainnya.” (H.R Ibnu Majah)

Almaghfurllah KH Ali Shodiq Umman menjelaskan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah ilmu. Sedekah ilmu lebih utama dari sedekah uang jutaan rupiah. Ilmu yang diajarkan oleh seseorang akan diajarkan lagi kepada para muridnya lalu diteruskan lagi kepada muridnya, lalu muridnya lagi, hingga hari kiamat. Pada setiap orang yang menjalankan ilmu itu, kita akan mendapatkan pahala darinya.

Bagaimana caranya? Tentu dengan belajar dulu. Sebagaimana hadist di atas, jika seorang muslim belajar suatu ilmu sampai ia memahaminya, lalu ia mengajarkan kepada orang lain, maka itu adalah sedekah yang paling utama.

Kalau kita mencermati hadist di atas, ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan dan kita garis bawahi. Pertama, mengajarkan ilmu merupakan sedekah utama. Kedua, kita harus belajar dulu, sampai paham. Ketiga, ilmu bukan untuk diri sendiri, tetapi diajarkan dan disebarkan, sehingga membawa manfaat bagi semua orang.

Mengajarkan ilmu tidak berarti ilmu kita akan berkurang. Justru, ketika mengajar, kita seperti mempelajari lagi dan memperdalam ilmu kita. Dengan begitu, kita akan semakin hafal, semakin paham, dan semakin mahir. Justru kalau ilmu yang kita miliki tidak kita ajarkan pada orang lain, maka akan seperti pisau yang lama tidak dipakai. Pisau itu akan berkarat lalu tumpul deh. Dan, otomatis tidak akan bisa dipakai lagi.

Namun demikian, sebelum mengajarkan ilmu, kita juga harus memahami ilmu itu dengan benar. Jangan hanya sepotong-sepotong, apalagi sampai salah paham. Ilmu syariat itu membutuhkan sanad. Jadi, tidak pas kalau kita belajar otodidak. Ada ulama-ulama pewaris nabi yang dapat kita mintai tolong untuk menjelaskan sesuatu. Sehingga, kita memiliki rujukan yang pasti, dari orang-orang yang sudah diakui keilmuannya. Jika tidak, sanad ilmu kita akan terputus, dan parahnya, bisa jadi kita akan jadi salah paham atau mengikuti paham yang salah.

Salah paham dalam ilmu syariat tentu akan berakibat buruk. Ibadah kita, sudut pandang kita, atau bahkan akidah kita, bisa “melenceng” karenanya. Dan tentu itu akan sangat bahaya.

Mengajarkan ilmu tidak saja dengan cara membicarakannya. Memberikan contoh kepada para santri akan lebih mengena dihati. Mengajari sholat dhuha dan keutamaannya, akan lebih mantab kalau para guru mengajak santri untuk melakukan bersama-sama. Mengajarkan kemulian sedekah misalnya, akan lebih hebat jika guru juga memberikan contoh melakukannya. Mengajar itu tidak hanya memberi tahu, tetapi juga mempengaruhi, mengajak, dan membimbing santri untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Semoga kita dapat bersedekah ilmu dengan istikomah. Aaamin.

Malu, Tahu?

Malu adalah perasaan tidak nyaman diketahui orang lain. Orang bisa malu karena melakukan kesalahan, kebodohan, atau kekonyolan. Orang juga akan malu ketika melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan oleh dirinya. Perasaan malu timbul dari diri seseorang karana adanya ketidaksesuaian antara sesuatu yang wajar terjadi dengan apa yang sedang dilakukannya.

Orang malu karena berbuat salah. Sebagai contoh seorang siswa mencontek. Pada saat mencontek bapak atau ibu gurunya menangkap basah ia sedang mencontek. Anak yang mencontek akan merasa malu, minta maaf, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Ini malu yang dapat membawa kebaikan.

Orang juga bisa malu karena salah kostum. Sebenarnya tidak salah secara hukum. Tapi, tidak berada pada tempat yang pas. Misalnya, pada hari Senin, para siswa sekolah dasar mengenakan seragam merah hati dan putih. Tapi, karena lupa hari, seorang siswa mengenakan seragam pramuka. Apalagi, ia baru menyadarinya ketika berada di sekolah. Tentu, ia akan merasa malu.

Orang lain juga akan malu ketika tiba-tiba celananya robek. Orang akan merasa malu karena orang lain mengetahui celananya robek. Apalagi, jika robeknya pada tempat-tempat yang “penting”, sehingga ia akan menutupi tempat itu dengan apa pun yang ia miliki. Tujuannya untuk menutupi rasa malu.

Orang juga malu karena aurotnya terbuka. Meksipun, sekarang ini banyak orang yang juga suka membuka aurot, mengenakan rok dengan ukuran 10 cm ke bawah, mengenakan pakaian-pakaian “minimalis”, dan sebagainya, namun masih banyak juga orang yang malu keluar rumah karena tidak mengenakan kerudung atau jilbab.

Berkaitan dengan rasa malu ini, Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya : Dri [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Imam Bukhari)

Berdasarkan hadist di atas, malu adalah bagian dari iman. Artinya rasa malu yang dimiliki oleh seseroang itu sangat penting baginya, karena malu itu bagian dari iman. Tapi, rasa malu akan apa? Apakah rasa malu karena “salah kostum”, atau karena “celananya robek”, atau karena ketahuan mencontek?

Rasa malu yang paling utama adalah malu karena tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai manusia. Tugas utama manusia adalah untuk beribadah, oleh karena itu seorang muslim akan merasa malu kalau tidak dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Seorang muslim seharusnya malu pada Allah Swt ketika bangun kesiangan dan belum menjalankan sholat Subuh, malu karena tidak istikomah membaca al Qur’an, atau malu karena masih mengabaikan anak yatim. Seorang muslimah juga harus malu karena tidak menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan baik, lebih mengutamakan kesibukannya sebagai sosialita, arisan, komunitas sana sini, dan seterusnya, sampai-sampai melupakan tugas utamanya melayani suami dan mendidik anak-anaknya.

Orang seharusnya akan merasa malu jika tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. Betapa tidak? Nikmat apalagi yang akan kita dustakan? Kesehatan, kekuatan, iman, Islam, dan alam semesta, semua merupakan hal yang harus kita syukuri. Hal itu merupakan kenikmatan yang diberikan Allah Swt yang tidak terhingga nilainya. Karena itu, tentunya kita akan merasa malu jika kita tidak mensyukurinya.

Kita seharusnya juga malu karena telah berbuat dosa. Allah Swt pasti melihat semua hal yang kita lakukan. Termasuk dosa dan kesalahan kita. Karena, tidak sehelai daunpun yang jatuh di atas bumi yang berada di luar pengetahuan Allah Swt. Allah pasti tahu semuanya itu. Sepatutnya lah kita malu melakukan kesalahan. Kita harus malu menyekutukan Allah Swt, malu berbuat maksiat, malu berbuat kesalahan, yang pasti malu karena melanggar larangan Allah Swt. Semoga kita benar-benar bisa menjadi hamba yang “tahu malu”!

Moderasi Islam dan Kebhinekaan

Moderasi Islam sangat penting dipromosikan karena Indonesia merupakan negera yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Lebih dari 200 juta penduduk Indoensia bergama Islam, sementara bangsa Indonesia adalah bangsa yang bhineka. Sebagai negera kepulauan terbesar di dunia, Indonesia terdiri lebih dari 13 ribu pulau besar dan kecil, ratusan suku bangsa dan bahasa daerah, serta ribuan macam budaya mulai dari seni, adat istiadat, kepercayaan, dan lain sebagainya.

Munculnya kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis, dikhawatirkan merusak harmoni kebhinekaan di Indonesia. Kelompok-kelompok Islam takfiri yang seringkali mengkafir-kafirkan kelompok lain yang tidak sepaham perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah agar tidak membahayakan kerukunan umat beragama di Indonesia. Pembiaran hal itu seperti membiarkan umat tercabik-cabik dalam sakit hati dan kebencian yang pada akhirnya akan mengganggu harmoni yang sudah berjalan ribuan tahun di Nusantara.

Menurut Nur Sholihin (2019) Kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis muncul tiba-tiba disertai gerakan teror serta gerakan kekerasan, yang sungguh biadab dan tidak manusiawi. Bahkan rencana pembunuhan ke beberapa pejabat negara yang dianggap penting dan strategis yang beberapa waktu yang lalu pernah diumumkan oleh kapolri. Rencana itu menjadi benar adanya setelah pada hari Kamis 10 Oktober 2019 yang lalu di Pandeglang Banten, Wiranto mengalami percobaan pembunuhan yang dilakukan dua orang yang kebetulan pasangan suami-istri. Setelah ditelisik oleh BIN dan Kepolisian mereka berdua termasuk anggota kelompok jaringan JTD yang berafiliasi dengan ISIS (https://radarjember.jawapos.com/).

Masuknya pemahaman-pemahaman fundamental dan radikal pada generasi muda merupakan ancaman yang harus ditangani. Apalagi, paham itu telah masuk ke kampus-kampus dimana banyak mahasiswa yang memiliki motivasi keagamaan yang tinggi, namun tidak memiliki landasan beragama yang mumpuni. Munculnya kelompok-kelompok kajian Islam tentu harus sangat disyukuri, ketika kajiannya terbatas pada ajakan untuk beribadah, kebaikan, kegiatan sosial, kerukunan, dan sebagainya. Tetapi, jika kemudian disisipi kegiatan-kegiatan politis, penguatan ideologi takfiri dan anti Pancasila, tentu akan membahayakan eksistensi kita sebagai bangsa.

Kesalahpahaman dalam memahami teks agama, biasanya berawal dari pembelajaran yang belum lengkap. Pemahaman yang masih sempit dan dangkal seringkali menjadi awal dari justifikasi terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sama. Bahkan klaim-klaim bid’ah, sesat, khurafat, kafir, musrik, dan lain-lain jelas-jelas disampaikan pada orang-orang yang membaca syahadat, melaksanaka shalat, menjalankan puasa, dan membayar zakat. Amaliah tahlil, yang isi kegiatannya utamanya membaca bacaan laa ilah ilallah malah dianggap kafir. Anak-anak “baru” itu seringkali mengkafirkan orang yang bersyahadat, pada dalam aturan Islam, orang yang kafir yang bersyahadat saja sudah akan menjadi Islam.

Oleh karena itu, pada Kabinet Kerja Jilid II ini, Kemeterian Agama aktif mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sehingga, adanya program pengarusutamaan moderasi beragama ini dinilai penting dan menemukan momentumnya. (Nur Sholihin, 2019).

Untuk menjadi seorang muslim yang moderat, kita harus memperhatikan beberapa hal, antara lain : (1) Kita harus meyakini bahwa keyakinan setiap orang bisa jadi benar, tetapi masih ada kemungkinan salah. Oleh karena itu, biarlah mereka berjalan pada apa yang mereka yakini, dan kita tetap berjalan dengan apa yang kita anggap benar, tanpa saling menyalahkan, dan tetap saling menghormati perbedaan, (2) Kita harus memahami bahwa berbeda adalah wajar, bahkan perbedaan adalah rahmat. Oleh karena itu, janganlah mencari-cari perbedaan, tetapi lebih banyaklah mencari persamaannya, dan (3) Amar ma’ruf nahi munkar harus tetap dilaksanakan dengan cara yang ma’ruf, dan tidak boleh menimbulkan kerusakan.