Berdamai dengan Anak Puber

Masa pubertas adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Pada umumnya, masa pubertas dimulai pada usia 10-12 tahun. Anak-anak kelas 5 – 6 sekolah dasar berada pada masa itu. Sehingga tidak aneh jika para guru kelas 5 dan 6 SD, mulai melihat anak-anak berperilaku “berbeda” dari sebelumnya.

Masa pubertas ditandai dengan berbagai tanda fisik maupun psikis. Pada anak laki-laki, masa pubertas ditandai dengan ciri-ciri fisik antara lain:

  • badan tumbuh semakin besar
  • dada bidang dan melebar
  • mulai tumbuh rambut di ketiak dan sekitar alat kelamin, kadang mulai tumbuh bulu dada
  • mulai tumbuh jakun
  • mulai berjerawat
  • mimpi basah

Sedangkan pada anak perempuan, ciri-ciri fisik masa pubertas antara lain:

  • badan bertambah tinggi dan besar
  • pinggul melebar
  • payudara mulai tumbuh besar
  • tumbuh rambut pada ketiak dan sekitar kelamin
  • mulai berjerawat
  • mulai menstruasi / haid

Perubahan fisik pada anak-anak yang mengalami pubertas, diikuti oleh perubahan perilaku yang juga perlu diwaspadai oleh para guru dan orang tua, antara lain:

  • Merasa lebih bersemangat, aktif, dan suka bertualang. Anak-anak suka melakukan hal-hal yang menantang, seperti mendaki gunung, balap sepeda atau bahkan motor, mengikuti berbagai kegiatan bersama orang lain, dan sebagainya.
  • Lebih senang berkumpul dengan teman daripada dengan orang tua atau keluarga. Ngopi, konkow-kongkow, cangkru’an, menjadi kegiatan yang lebih menarik daripada hanya berkumpul dengan orang tua atau keluarga lainnya. Dalam hal ini, orang tua harus sangat berhati-hati ketika membiarkan anaknya berada di luar rumah. Mereka harus memastikan bahwa anak-anak berkumpul dengan teman yang benar, karena hal itu akan sangat mempengaruhi fase kehidupan anak berikutnya.
  • Anak-anak juga mengalami “masa menolak”, mereka ingin eksistensinya dihargai sehingga mereka ingin unjuk diri, ingin keberadaannya diakui. Rasa ingin tahunya besar, dan keinginan mencoba hal baru juga sangat besar.

Salah satu hal penting yang harus digarisbawahi guru dan orang tua adalah berdamai dengan masa itu. Berdamai bukan berarti membiarkan anak berjalan sendiri tanpa petunjuk, tetapi tetap saja para guru dan orang tua harus kreatif dalam memberikan petunjuk.

Anak-anak pada usia ini tidak lagi mau diperintah secara otoriter, tidak mau diatur dengan aturan yang “saklek” (zakelijk), tidak ingin berada dalam “sangkar” yang sempit. Secara emosional maunya hanya menolak dan menolak, ia ingin menunjukkan “keinginannya” sendiri dalam rangka menunjukkan jati diri.

Sebagaimana dilansir pada https://pelatihan.parenting.com, ada beberapa tim mendidik anak pada masa puber, yaitu:

  1. Membekali diri dengan ilmu, beritahu anak saat bertanya. Melihat perubahan pada dirinya, para remaja tentu akan bertanya-tanya. Mengapa tumbuh jakun, mengapa suara membesar, mengapa payudaranya tumbuh membesar. Sebagian anak mungkin tidak terlalu peduli dengan itu semua, tetapi pada anak yang lain akan timbul pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Orang tua dan guru harus siap dengan jawaban yang melegakan.
  2. Bekali diri dengan kesabaran. Orang tua dan guru harus menyadari bahwa para remaja sedang berada pada masa transisi. Kesabaran adalah salah satu bekal orang tua dan guru untuk menghadapi semuanya. Marah-marah terhadap perilaku anak yang “nyleneh” bukan merupakan pilihan yang bijak, karena justru akan menjauhkan orang tua dengan anak. Kalau sudah jauh, akan lebih sulit mengendalikan anak remajar.
  3. Memposisikan diri sebagai teman bagi anak. Posisi sebagai “teman” dari anak-anak kita membuat anak merasa nyaman. Anak-anak akan mudah mencurahkan perasaan sehingga kita dapat memberikan masukan yang tepat.
  4. Hindari overprotective. Sikap overprotective dengan alasan menjaga anak dari pengaruh buruk justru menimbulkan penolakan. Semakin kuat tekanan kita pada anak, maka semakin kuat pula mereka akan menolak. Kata orang Jawa, diculne ndase digandoli buntute, dilepaskan kepalanya di pegang ekornya. Anak tetap kita beri kebebasan, tetapi tetap kita awasi perkembangannya.
  5. Memberikan pilihan tetapi tetap ada batasan. Orang tua dan guru tetap harus memberikan ruang pada anak untuk memilih melakukan a, b, atau c. Mungkin ikut kelompok ini, aktif dalam kegiatan itu, dan lain-lain. Tetap saja sebaiknya kita mengiyakan, dengan memberikan batasan-batasan, seperit “boleh, asalkan…”.
  6. Memberikan hukuman dan reward sesuai dengan tindakan. Punishmen dan reward merupakan salah satu bukti bahwa kita memperhatikan anak. Jika anak salah, ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya itu, dan siap mendapatkan hukuman. Sebaliknya, jika ia melakukan kebaikan, orang tua dan guru harus siap dengan pujian, hadiah, dan bentuk-bentuk reward yang lain.
  7. Menyampaikan kritik yang membangun. Anak-anak dalam masa pubertas, biasanya akan mudah marah jika kita kritik. Namun tetap saja, kritik yang bersifat membangun, yang juga disampaikan dengan baik dan “strategis”, harus diberikan. Agar ke depan anak tidak selalu merasa benar.
  8. Memberikan pemahaman moral dan agama. Pemahaman akan agama dan moral sangat mempengaruhi anak dalam bersikap. Oleh karena itu, menyekolahkan anak di sekolah-sekelah dengan muatan agama yang lebih besar memberikan harapan bahwa pemahaman anak akan agama dan moral juga akan lebih besar.
  9. Mendo’akan anak. Tetap saja, sebagai makhluk yang religius, orang tua dan guru dapat menggunakan senjata utama, yaitu do’a. Do’a tidak saja menguatkan anak, tetapi juga menguatkan para guru dan orang tua. Dengan do’a secara psikologis kita akan memiliki kekuatan untuk menyentuh hati anak-anak. Dengan begitu, hati anak-anak akan lembut, dan dengan begitu akan lebih mudah menerima masukan, saran, dan arahan dari orang tua maupun gurunya.

Guru yang baik adalah pembelajar yang baik, demikian juga orang tua. Menjadi orang tua juga memerlukan ilmu. Mari belajar menjadi orang tua yang bijak, yang dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat. Peran dan sikap orang tua yang tepat akan sangat berguna untuk menyiapkan anak-anak kita.

Kita tahu, anak adalah amanah, sekaligus harapan kita di masa depan. Tidak cukup dengan menyiapkan fasilitas yang baik, tetapi setiap orang tua juga harus dapat menjadi orang tua yang bijak. (ans)

Muridku Pintar Sekali

Semua guru pasti mendambakan murid yang cerdas, pandai, aktif, kreatif, dan berakhlak mulia. Itu semua merupakan kondisi ideal yang diharapkan oleh guru dan orang tua. Anak yang cerdas cepat menerima materi,. Anak yang aktif membuat suana pembelajaran menjadi dinamis. Anak yang kreatif dapa menyelesaikan masalah dengan berbagai kreasi. Dan yang terpenting, anak yang berkhlakak mulia akan menghormati gurunya, mentaati orang tuanya, dan menyayangi teman-temannya, dan terutama taat pada Allah dan Rasulnya.

Pada saat masih menjadi wali kelas saya mempunyai murid yang istimewa. Betapa tidak, hobinya membaca, luar biasa. Pengetahuannya luas. Pertanyaannya “aneh-aneh”, bahkan pada materi yang belum diajarkan gurunya. Sehingga, “terpaksa” saya harus bersiap dengan logika dan pengetahuan yang bisa menjadi modal menjawab pertanyaan teman-temannya.

Untungnya, anak ini hanya tertarik pada sains. Sehingga pertanyaan-pertanyaannya tidak terlalu membebani saya dengan hafalan. Sain adalah logika. Nama dan hafalan memang penting, tapi tidak terlalu penting juga. Logikan hukum alam jauh lebih mudah dipahami dan dapat “menenangkan” gejolak ingin tahu murid saya yang hebat ini.

Suatu saat pelajaran tematik saya pas membahas muatan ilmu pengetahuan alam. Materi intinya adalah tentang siklus air yang membahass tentang perubahan air dari wujud aslinya, menjadi uap, kemudian mendung lalu turun sebagai hujan dan mengalir ke laut. Ketika sudah masuk ke laut terkena panas matahari, kemudian menjadi uap lagi, jagi mendung lagi, dan seterusnya. Saya juga menjelaskan, bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Sehingga kemana saja ada tempat yang lebih rendah, maka air akan mengalir ke dalamnya.

Tiba-tiba anak ini bertanya, “Mister, kalau air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah, mengapa kita banyak menemukan sumber air justru di puncang gunung? Airnya dari mana itu? Kalau dari hujan, kan tidak setiap hari hujan. Kalau dari bawah, bagaimana? Kalau dari ikatan air yang diikat oleh akar-akar pohon, bisa juga. Tapi, hutannya juga gundul. Bagaimana?”

Tidak berhenti disitu, suatu saat yang lain, ketika saya sedang menjelaskan tata surya, ada pertanyaan yang muncul darinya. “Mister, kalau kita menempel di bumi, kenapa kita tidak jatuh. Kalau bumi mengelilingi matahari, mengapa jarak bumi dan matahari bisa tetap, tidak menjauh atau mendekat. Kan tidak ada talinya? Kok bisa begitu ya Mister?” tanyanya.

Bagiku pertanyaan demikian bagi anak kelas 4 SD merupakan pertanyaan luar biasa. Paling tidak, logika berpikirnya cukup jalan. Usut punya usut, ia memang memiliki banyak buku sain di rumahnya. Dan, hari-harinya dihiasi dengan kegiatan membaca dan membaca.

Tentu, anak ini bukan anak sempurna. Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Ada anak yang pandai matematika, tapi lemah ilmu pengetahuan sosial. Ada anak yang lemah di mapel pada umumnya, tapi hafalan dan bacaan al Qur’annya luar biasa. Ada anak yang lemah di akademis, tapi pada bidang seni dan olah raga justru menjadi jagonya.

Demikian juga dengan anak ini. Ia hebat di ilmu pengetahuan alam, tapi tulisannya…waduh…para “dokter” pun sulit membaca. Belum lagi di bidang-bidang lainnya, ketertibannya, kedisiplinannya, kerapiannya….pokoknya, nobody perfectlah. Intinya, sebagai guru ternyata kita harus “siap” menghadapi semuanya. Menghadapi anak yang cerdas dan pandai, harus punya modal. Menghadapi anak yang lemah, harus bisa memotivasi. Menghadapi anak “jahil” harus bisa mengatasi. Kalau muridnya pinter sekali, gurunya juga harus pinter sekali. (ans)