Category Khutbah Jum’at

Essensi Memperingati Maulid Nabi

اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَالِّيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ اَلْمَالِكُ الْحقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًارَسُوْلُ الله صَادِقُ الْوَعْدِ الْاَمِيْنِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا محمدٍ فِى الْاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ فِى اْلاَخِرِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوااللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin, Jamaah Jum’ah rohimakumullah

Mengawali khutbah pada hari ini, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah Swt, yaitu dengan menjalankan semua perintahNya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa sajalah, kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Kaum muslimin, yang saya muliakan.

Hari ini, kita masih berada di bulan Rabiul Awwal tahun 1442 H, tepatnya tanggal 13 Robiul Awwal 1442H. Kemarin, tepat tanggal 12 Robiul Awwal, merupakan hari penting dan bersejarah, yaitu hari peringatan Maulid Nabi Muhamamd Saw. .

Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw bukanlah “ibadah baru”, tetapi merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kecintaan kita,  mahabbah kita, kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan harapan, dengan meningkatnya mahabbah kita itu, kita akan diakui sebagai umat Nabi Muhamad Saw, dan kelak akan mendapatkan syafaat beliau di yaumul qiyamat.

Kaum muslimin rohimakumullah…

Selain itu, maulid juga dimaksudkan agar umat Islam, mengingat kembali perjuangan rosulullah Muhammad Saw. Sehingga, kita dapat mencontoh perjuangan dan strategi beliau, dalam menciptakan kehidupan dunia yang Islami, peradaban yang tinggi, yang penuh dengan rahmat dan ridlo dari Allah Swt. Dalam al Quran Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab : 21)

Kaum muslimin rohimakumullah…

Nabi Muhammad Saw, bukan hanya diutus untuk kalangan bangsa Arab saja, atau untuk kalangan umat Islam saja, namun beliau diutus untuk seluruh manusia, bahkan untuk alam semesta. Sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an Surat as-Saba’ ayat 28:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. As-Saba’[34]: 28).

Prof KH Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, bahwa menurutya bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ bukan sekadar membawa rahmat bagi seluruh alam namun justru kepribadian beliau lah yang menjadi rahmat. Begitu mulianya sifat Rasulullah Muhammad sehingga Allah menyebutkan dengan pujian yang sangat agung. Dalam Surah al Qalam ayat 4 :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Kemuliaan sifat Rasulullah tercermin dalam cara beliau berdakwah. Sehingga Islam dikenal sebagai agama yang mengajarkan kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.

Usman Abu Bakar dalam bukunya Paradigma dan Epistimologi Pendidikan Islam (2013: 65) memahami pengertian rahmat pada diri Rasul adalah ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, hubungan sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antar agama.

Rasulullah mengajarkan untuk saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian, dan sebagaianya. Lebih dari itu, Rasulullah juga mengajarkan etika terhadap binatang. Sehingga dalam melakukan sembelihan binatang pun diajarkan cara-cara yang maslahat dan tidak menyakiti binatang.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah…

Para sahabat, mengajarkan dan menunjukkan kepada kita, betapa kecintaan mereka terhadap rasulullah Saw begitu luar biasa. Lihatlah, ketika Ali bin Abi Thalib, rela menggantikan rasulullah, pada saat kaum Quraish telah mengepung dan hendak membunuh rasulullah. Lihatlah pula, betapa ketika semua orang belum meyakini peristiwa Isra’ dan Mi’raj, maka Abu Bakar Ash Shidiq, dengan tanpa ragu-ragu, mempercayai peristiwa itu pertama kalinya. Dan lihatlah, betapa Umar bin Khatab, begitu marah pada semua orang, dan bahkan mengancam siapa saja, yang menceritakan tentang wafatnya Nabi Muhammad Saw. Bahkan, sahabat Umu Sulaym mengumpulkan keringat Rasulullah dan diabadikannya.  Semua itu menunjukkan, kecintaan para sahabat, kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Kaum muslimin rohimakumullah…

Bagi kita kaum muslimin pada saat ini, yang hidup terpisah dengan jarak ruang dan waktu, melebihi 1400 tahun lamanya dan ribuan kilometer jaraknya, cara mencintai rosulullah agar kita juga dicintai oleh beliau adalah sebagai berikut:

  1. Sering membaca sholawat, sebanyak-banyaknya, kapan saja, dan dimana saja, sehingga dihati sanubari kita, tetap tersambung dengan Nabi Muhamamd Saw. Sekali kita membaca sholawat untuk Nabi,  maka 10 rahmat akan diturunkan Allah Swt, untuk kita semua. Dalam sebuah hadist nabi diceritakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim) [No. 408 Syarh Shahih Muslim] Shahih.

  • Mempelajari dengan seksama, semua ajaran Rasulullah Saw, sehingga kita dapat melaksanakan syariat Islam, dengan sebaik-baiknya. Mempelajari Islam harus dengan guru yang tepat dan bersanad, tidak serampangan, tidak asal comot, tidak membabi buta, tetapi harus dengan guru yang kapabel dan dapat dipercaya.
  • Menunjukkan pada masyarakat, akan kemuliaan akhlak seorang muslim, karena puncak ajaran rasulullah adalah akhlak mulia. Orang di luar Islam, tidak akan membaca al Qur’an dan Hadist, tetapi akan membaca Islam, dari akhlak kita sebagai muslim. Mari kita jaga akhlak mulia kita, agar orang lain tahu, betapa indah dan mulianya ajaran Islam.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bershalawat dan menjalankan sunnah Rasulullah sebagai bukti cinta kita. Dan kita semua akan mendapatkan cinta dan syafaat dari beliau Rasulullah Muhammad ﷺ, amiin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ 

 وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ

 اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Berhati-Hadi dalam Belajar Agama di Internet

Khutbah I

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الًّذِي اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِاَنْوَاعٍ النِّعْمَةِ، وَهَدَانَااِلٰى دِيْنِ اْلقَيِّمَةِ، اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللُه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِىَ بَعْدَهُ، اَلَّٰلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اِبْنِ عَبْدِالله وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانِ اِلَى يَوْمِ اْلِقيَامَةِ

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الًّذِي اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِاَنْوَاعٍ النِّعْمَةِ، وَهَدَانَااِلٰى دِيْنِ اْلقَيِّمَةِ، اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللُه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِىَ بَعْدَهُ، اَلَّٰلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اِبْنِ عَبْدِالله وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانِ اِلَى يَوْمِ اْلِقيَامَةِ

اَمَّابَعْدُ : فَيَا عِبَادَاللهِ، اِتَّقُوْللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَلَى فِى الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْـــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِــيْمِ اِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْ وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ

Kaum muslimin, jamaah Jum’ah rohimakumullah…

Untuk mengawali khutbah pada hari ini, marilah kita senantiasa, meningkatkan takwa kita kepada Allah Swt, yaitu dengan menjalankan segala perintahnya, dan menjauhi segala laranganNya. Karena sesungguhnya, Allah Swt akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertakwa, dan berbuat kebajikan. Dan hanya dengan takwa sajalah, kita dapat meraih kebahagiaan, di dunia dan di akhirat kelak.

Kaum muslimin, rohimakumullah…

Salah satu ibadah yang utama dan mulia di hadapan Allah Swt adalah menuntut ilmu. Ilmu adalah bagian dari agama, sehingga menuntut ilmu, merupakan ibadah yang utama. Bahkan, orang yang menuntut ilmu, merupakan orang-orang yang sedang berada di jalan Allah Swt. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ (رواه الترمذي) ـ

Artinya: “Barangsiapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah, hingga ia kembali”  (HR at-Tirmidzi).

Selain itu, bagi orang-orang yang berilmu, Allah Swt akan meninggikan derajatnya.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

Yang artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Kaum muslimin, Jamaah Jum’ah rohimakumullah…

Pada saat kita lahir, tidak ada satupun dari kita yang berilmu. Oleh karena itu, ilmu harus selalu dicari. Terutama, ilmu-illmu yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Ilmu-ilmu tentang akidah, syariah, muamalah, dan sebagainya, merupakan ilmu-ilmu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Kita seharusnya mempelajari ilmu-ilmu itu dengan belajar, tidak hanya asal mendengar, asal melihat, atau hanya meniru-niru saja. Nabi Muhammad Saw bersabda :

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ (رواه البخاري)

Artinya : “Ilmu hanya akan diperoleh dengan proses belajar” (HR. Al-Bukhari)

Jama’ah Jum’ah rohimakumullah…

Salah satu hikmah dari Pandemi Covid 19, adalah terbukanya kesempatan yang luas untuk belajar dan mencari ilmu. Ilmu tidak lagi sulit dicari. Kita dapat mempelajari ilmu dimana saja dan kapan saja. Kita sekarang ini sangat terbuka dengan kemudahan fasilitas internet, yang dikenal dengan istilah belajar online atau daring. Dari internet itu, kita dapat belajar kepada siapa saja, bahkan belajar sendiri pun bisa. Pendeknya, kalau kita ingin belajar otodidak pun, hal itu juga sangat memungkinkan.

Namun demikian, satu hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa belajar agama sangat erat kaitannya dengan sanad keilmuan. Belajar agama tidak boleh sembarangan. Kita harus berguru pada orang yang jelas sanad keilmuannya, memiliki ilmu yang benar-benar mumpununi, dan tidak belajar atas pemahaman dan pemikirannya sendiri.

Ibnu Sirin mengatakan :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ  

Maknanya: “Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama itu sendiri, maka cermatilah dari siapa kalian mengambil ilmu agama”

Ibnu Sirin mengingatkan, bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah agama. Maka kita harus berhati-hati dalam menuntut ilmu. Apalagi melalui jaringan internet, yang sangat luas dan mudah, namun kita tidak tahu kualitas pemahaman dari nara sumber kita.

Senada dengan itu, Imam Nawawi mengingatkan pula :

لَا يَجُوْزُ اسْتِفْتَاءُ غَيْرِ العَالِمِ الثِّقَةِ

Maknanya: “Tidak boleh meminta fatwa (dan belajar ilmu agama) kepada selain orang berilmu yang terpercaya”.

Selain itu, sebagian ulama salaf mengatakan :

لَا تَقْرَؤُوْا القُرْآنَ عَلَى الْمُصْحَفِيِّيْنَ وَلَا تَأْخُذُوْا اْلعِلْمَ مِنَ الصُّحُفِيِّيْنَ

Maknanya: “Jangan kalian belajar Al-Qur’an kepada orang-orang yang belajar Al-Qur’an secara otodidak dan janganlah kalian mengambil ilmu agama dari orang-orang yang tidak memiliki guru dan hanya belajar secara otodidak.”

Kaum muslimin, rohimakumullah.

Menuntut ilmu melalui internet, tentu boleh-boleh saja. Tetapi, kita benar-benar harus berhati-hati dan teliti, dengan siapa kita menimba ilmu. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan pada saat kita menimba ilmu melalui jaringan internet:

  1. Kita harus memastikan bahwa orang-orang tempat kita berguru, adalah ulama-ulama yang sudah jelas kualitas keilmuannya.
  2. Kita harus memastikan bahwa orang-orang tempat kita berguru, memiliki sanad keilmuan yang jelas. Seperti pada siapa ia belajar, gurunya belajar pada siapa, dan gurunya lagi belajar siapa, semuanya harus tersambung pada Rasulullah Saw.
  3. Kita harus mencari pembanding dengan mencari hujjah dari sumber-sumber yang lain, dari kitab-kitab ulama yang jelas, dengan rujukan yang jelas, sehingga bukan merupakan pendapat pribadi, apalagi hanya sepengetahuan nara sumber kita.
  4. Kita juga harus memastikan, apakah nara sumber kita, benar-benar ahlussunah wal jamaah, bukan dari kelompok lain yang tidak mengikuti sunnah.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Swt.

Intinya, melalui internet, kita bisa belajar pada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tapi berhati-hatilah dalam mengambil narasumber belajar di internet. Sebab, ilmu agama merupakan ilmu yang akan berdampak pada kita, hingga di akhirat kelak. Kita harus sangat teliti, sehingga tidak salah dalam memilih guru. Namun sebaiknya, jangan sampai melupakan majelis ilmu, yang mana kita dapat betatap muka, yang mereka dapat mempertanggung-jawabkan dengan jelas, pada siapa sanad keilmuannya.

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita pada jalan yang lurus. Aamin ya robbal aalamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ 

 وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ