Mengkhawatirkan Perkembangan Moral

Sekolah tanpa tatap muka yang sudah lebih setahun kita lakukan, salah satunya menyisakan kekhawatirkan banyak pihak akan perkembangan moral anak. Melalui platform belajar online, anak-anak dibiarkan belajar sendiri. Dari sudut kreativitas dan kemandirian, hal ini memiliki dampak positif. Anak menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam usahanya menyelesaikan soal dan tugas yang diberikan guru.

Namun dalam sisi perkembangan moral, banyak pihak mulai mengkhawatirkan. Anak-anak telah biasa belajar mandiri, tanpa pengawasan dan bimbingan dari guru, sementara dengan alasan pekerjaan, para orang tua juga tidak bisa mendampingi anak pada siang hari. Alhasil, anak hanya mendapatkan masukan ilmu pengetahuan, tanpa bimbingan dan arahan yang maksimal dari guru.

Di sekolah, mungkin saja anak mendapatkan tekanan. Para guru mengajarkan disiplin, kasih sayang sesama teman, bekerjasama, mentaati perintah guru, tidak boleh melanggar larangan, dengan diimbangi punishment and reward yang memang telah disiapkan oleh sekolah. Namun di rumah, ketika orang tua sedang bekerja, anak-anak bebas akan melakukan apa dengan gawainya.

Sementara apakah dia sudah makan tepat waktu, belajar pada jam belajar yang ditentukan, menjalankan pembiasaan shalat dhuha seperti yang dibiasakan di sekolah, dan sebagainya, tentunya tidak bisa dipastikan. Pembiasaan-pembiasaan yang telah diprogramkan sejak lama oleh sekolah, bisa hilang sesuai dengan sendirinya seiring semakin jauhnya siswa dengan guru pembimbing mereka.

Perkembangan Moral dan Spritual Anak Sekolah Dasar

Kohlberg (dalam Suyanto, 2006), perkembangan moral anak atau peserta didik dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu 1) preconventional, 2) Conventional, 3) postconventional. Berdasarkan rentang usianya, anak-anak sekolah dasar masuk pada tahap preconvesional (kelas 1 – 4), dan sudah masuk tahap convensional untuk anak-anak kelas 5-6.

Menurut Munawaroh (2019), tahap preconventional (6 – 10 th), yang meliputi aspek obedience and paunisment orientatation, orientasi anak/peserta didik masih pada konsekvensi fisik dari perbuatan benar-salahnya yaitu hukuman dan kepatuhan atau anak menilai baik – buruk berdasarkan akibat perbuatan; dan aspek naively egoistic orientation; orientasi anak/peserta didik pada instrumen relatif. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrumen memuaskan keinginannya sendiri.

Sedangkan tahap conventional, (10 – 17 th) yang meliputi aspek good boy orientation, orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain. Anak patuh pada karakter tertentu yang dianggap alami, menjadi anak baik, saling berhubungan dan peduli terhadap orang lain atau orang menilai baik-buruk persetujuan orang lain. Aspek authority and social order maintenance orientation; orientasi anak pada aturan dan hukum.

Selain perkembangan moral, para pendidik juga harus memikirkan perkemangan kecerdasan spitual. Kecerdasan spiritual meliputi kemampuan untuk menghayati dan mengamalkan agama, dalam konteks nilai dan makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel, mudah beradaptasi, dan cenderung memandang sesuatu secara holistik, serta giat mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya.

Mengawal Perkembangan Moral dan Spritual

Para pendidik, dalam kondisi apapun, tetap harus menempatkan perkembangan moral dan spiritual pada tempat yang penting. Meskipun tanpa tatap muka, paling tidak para guru tetap saja dapat mengontrol perekembangan moral dan spiritual siswa dari berbagai kegiatan, seperti :

  • Membuat kartu kegiatan di rumah dan mengontrolnya dengan ketat.
  • Memberikan penugasan kegiatan keagamaan melalui video, kemudian anak melaporkan tugasnya juga melalui video sehingga para guru dapat mengetahuinya secara pasti.
  • Memberikan arahan-arahan dan mengingatkan siswa untuk melakukan kegiatan ibadah secara online.
  • Mendorong orang tua untuk memberikan perhatian pada anak sesuai dengan program pembiasaan yang telah disiapkan oleh sekolah.
  • Sesekali menghadirkan anak dalam kelompok kecil untuk memantau perkembangan moral spiritual anak dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

DAFTAR RUJUKAN :

  • Munawaroh, Istinatun (2019). Modul :Karakter Peserta Didik. Jakarta : _______
  • Suyanto (2006) Dinamika Pendidikan Nasional. Jakarta: PSAP

Peran Dominan Fasilitator Pembelajaran

Guru memiliki banyak peran yang penting dalam pembelajaran. Guru adalah aktor utama yang menjamin pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan baik dan efektif, atau sebaliknya. Oleh karena itu guru haru membekali diri dengan pengetahuan yang cukup akan perannya dalam pembelajaran. Sehingga ia dapat menjalankan peran itu dengan baik dan bertanggung jawab.

Salah satu peran guru adalah fasilitator. Sebagai fasilitator guru harus dapat menyiapkan pembelajaran dengan sebaik-baiknya sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Knoless M. sebagaimana dikutip oleh Rahmwati dan Suryadi mengatakan “ada tujuh elemen yang sangat penting bagi peran fasilitator pembelajaran: konteks iklim, perencanaan, perancangan kebutuhan pembelajaran, penetapan tujuan, perancangan rencana pembelajaran, keterlibatan dalam kegiatan belajar, dan evaluasi hasil belajar” (Rahmawati and Suryadi, 2019).

Pertama, dalam konteks iklim, guru harus dapat menyiapkan iklim pembelajaran yang kondusif dan nyaman. Dalam hal ini guru harus dapat menyiapkan kelas dengan layout ruangan yang bagus, ventilasi udara yang cukup, cahaya masuk yang banyak, sehingga gangguan-gangguan yang berasal dari hal tersebut tidak muncul. Layout tempat duduk yang tidak tepat, akan menimbulkan ketidaknyamanan belajar. Layout bisa berubah-ubah dari hari kehari, sehingga semua anak pernah duduk pada tempat yang berbeda di dalam kelas. Udara yang pengap menimbulkan bau yang tidak enak dan mengganggu pernafasan. Cahaya yang kurang mengganggu penglihatan.

Selain itu, kedisiplinan anak di dalam kelas juga dapat menciptakan iklim belajar yang baik. Anak-anak yang dapat menata diri dengan baik memunculkan situasi pembelajaran yang nyaman. Anak tidak harus duduk tenang dan kaku dalam pembelajaran, tetapi dapat menempatkan diri kapan ia harus berdiri, duduk, berkelompok, dan berkomunikasi dengan temannya. Kelas yang dingin dan kaku mengakibatkan semangat belajar, sementara kelas yang gaduh mengakibatkan pembelajaran tidak fokus.

Kedua, guru harus menyiapkan perencanaa pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dibuat dalam periode satu tahun yang seringkali disebut dengan Program Tahunan (Prota) dan periode satu semester yang disebut Program Semester (Promes). Prota dan promes dibuat berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) yang telah dibuat di awal tahun pembelajaran oleh satuan pembelajaran.

Ketiga, guru harus menyiapkan rancangan kebutuhan pembelajaran. Berdasarkan RPP yang telah dibuat, guru dapat menentukan bahan ajar apa saja yang dibutuhkan, media pembelajaran yang akan digunakan, dan fasilitas-fasilitas yang lain yang diperlukan. Kebutuhan pembelajaran IPA tentu berbeda dengan kebutuhan pembelajaran bahasa Inggris, matematika, atau seni. Dengan adanya rancangan kebutuhan itu, guru sudah dapat menyiapkan diri dengan hal yang dibutuhkan.

Keempat, guru harus menyiapkan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran sebenarnya telah tertuang dalam RPP. Dengan tujuan pembelajaran yang jelas, guru dapat melakukan skenario pembelajaran dengan sebaik-baiknya dan mengarah pada tujuan yang tepat. Jangan sampai kreasi dan inovasi guru dalam pembelajaran, justru menjauhkan anak-anak dari pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan.

Kelima, Setiap hari guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang paling tidak berisi tujuan, langkah-langkah, dan evaluasi pembelajaran. RPP merupakan panduan utama untuk menjalankan pembelajaran pada hari itu. Berdasarkan RPP itulah pembelajaran dilaksanakan. RPP dibuat berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum dan silabuts, dengan menyesuaiakan program semester dan program tahunan yang telah disiapkan.

Keenam, keterlibatan guru dalam pembelajaran. Pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam pendidikan. Dengan pembelajaran guru menyampaikan informasi dan materi pembelajaran sebagai salah satu dari sumber belajar. Namun, guru bukan satu-satunya sumber belajar. Oleh karena itu, dalam pembelajaran aktif, guru dapat merancang pembelajaran yang variatif sehingga siswa dapat belajar dari sumber belajar yang lainnya. Namun demikian, guru tidak boleh melepaskan anak-anak untuk belajar sendiri. Anak-anak tetap membutuhkan keterlibatan guru dalam pembelajaran sebagai pembimbing dan pengarah dalam pembelajaran aktif.

Ketujuh, guru mengakhiri pembelajaran dengan evaluasi. Evaluasi pembelajaran digunakan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran yang dilaksanakan. Dengan evaluasi pembelajaran guru dapat mengetahui seberapa besar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sehingga ia dapat membuat perencanaan baru untuk mempembaiki kesalahan dan kekurangan yang telah ada demi mencapai keberhasilan yang maksimal sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. (ans)

Guru Kreatif dan Pembelajaran Efektif

Efektifitas suatu kegiatan dapat diukur dari apakah kegiatan itu dapat mencapai tujuan yang ditetapkan atau tidak. Artinya efektivitas merupakan ukuran pencapaian tujuan sebagai hasil dari atau efek dari suatu kegiatan yang dilakukan (Rahmawati and Suryadi, 2019). Seberapa persentase efektifitas suatu kegiatan, dapat juga dihitung dari berapa persen keberhasilan para siswa berhasil mencapai tujuan kegiatan.

Efektifitas pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa mencapai tujuan yang ditetapkan oleh guru. Pada saat membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru telah menetapkan tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, dan evaluasi untuk menentukan sebera besar tujuan pembelajaran yang telah ditatapkan. Oleh karena itu, sepatutnya setiap akhir pembelajaran guru sudah dapat mengetahui seberapa besar tingkat efektifitas pembelajaran yang dilaksanakan.

Suryabrata (2002) mengemukakan sejumlah faktor yang mempengaruhi efektivtas belajar yaitu 1) faktor dari dalam diri siswa, meliputi a) faktor psikis seperti IQ, kemampuan belajar, motivasi belajar, sikap, perasaan dan minat; b) faktor fisiologis dibagi menjadi dua juga yaitu keadaan jasmani pada umunya dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu. 2) Faktor dari luar diri siswa meliputi tiga aspek yaitu a) Faktor pengatur belajar mengajar di sekolah yaitu kurikulum, pengajaran, disiplin sekolah, fasilitas belajar, pengelompokan siswa; b) Faktor sosial di sekolah seperti sistem sekolah, guru dan interaksi siswa; c) Faktor situasional yaitu keadaan sosial ekonomi, keadaan tempat serta lingkungan.

Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa guru merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan aktivitas belajar. Bahkan guru dapat menjadi penentu apakah sebuah pembelajaran dapat berjalan secara efektif atau tidak. Mengapa? Karena guru adalah leader dan manajer di kelas yang dapat menata, mengatur, bahkan menciptakan situasi pembelajaran dan lingkungan belajar yanga baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Guru yang kreatif dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Dengan kemampuannya guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan. Guru juga dapat menetapkan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana ia mengajar. Bahkan, guru dapat menggerakkan kelas agar tercipta lingkungan belajar yang nyaman. Seperti, guru dapat menggerakkan anak-anak untuk menata kelas yang bersih, rapih, indah, dan menarik.

Fasilitas belajar merupakan salah satu hal yang dibutuhkan untuk mencapai efektifitas belajar. Namun guru yang kreatif dapat menggunakan fasilitas yang ada, sehingga tidak mensyaratkan adanya fasilitas yang “lebih”, untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Guru-guru kreatif dapat menciptakan media pembelajaran dari barang bekas. Guru dapat membimbing siswa untuk membuat media pembelajaran dari botol bekas yang mana pada saat yang sama guru mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, membimbing siswa untuk recycle sampah, dan mengajarkan ilmu pengetahuan alam.

Sebagai contoh, pada saat mengajarkan materi pelajaran IPA khususnya pembangking listrik tenaga angin guru dapat mengajak siswa untuk membuat kincir angin dari botol bekas. Kegiatan ini mengajarkan tiga hal utama yaitu menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan botol bekas dengan mendaur ulangnya menjadi kincir angin, dan mengajarkan mata pelajaran IPA berupa alat-alat yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik tenaga angin. Dengan demikian pembelajaran itu sudah dapat diindikasika memenuhi beberapa kriteria, yaitu active learning, student centered, dan karya nyata.

Dapat disebut active learning karena pembelajaran itu membuat siswa menjadi aktif, tidak hanya berfungsi sebagai pendengar atau pengamat saja. Dapat dikatakan sebagai pendekatan student centered karena kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu siswa yang banyak berperan dalam kegiatan pembelajaran. Dan, dapat disebut karya nyata karena setelah pembelajaran siswa dapat menghasilkan karya nyata berupa kincir angin dari bahan botol bekas.

Peran guru sangat dominan dalam pembelajaran sehingga kreativitas guru dalam melaksanakan tugasnya sangat diperlukan. Guru yang kreatif dapat menggunakan banyak hal untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, agar siswa bisa memperoleh pembelajaran yang bermakna. Guru merupakan penjamin dilaksanakan pembelajaran yang efektif.

Mengenalkan IT di Sekolah Dasar

Teknologi informasi tidak lagi menjadi barang mewah dalam kehidupan di abad 21 ini. Bahkan salah satu syarat keberhasilan di abad 21 menurut beberapa ahli adalah penguasaan terhadap IT (information technology). Hampir semua kehidupan masyarakat di abad 21 tidak lepas dari penggunaan IT. Sektor ekonomi, pendidikan, social, pertanian, peternakan, bahkan sektor agama, menggunakan teknologi informasi untuk memperlancar semua proses dan memberikan pelayanan yang lebih cepat kepada semua customernya.

Oleh karena itu, para guru harus menyiapkan diri untuk melaksanakan pembelajaran berbasis teknologi digital ini. Meskipun secara resmi pengenalan IT baru disampaikan di tingkat SMP dan sederajat, tetapi sudah waktunya sekolah dasar juga menyisipkan mata pelajaran pengenalan IT kepada para siswa. Paling tidak, ketika belajar di SMP, para siswa sudah pernah mencoba menggunakan perangkat IT sehingga tidak lagi asing dengan perangkat canggih itu.

Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia, menguatkan pentingnya peran IT dalam kehidupan modern ini. Pembelajaran berbasis online dengan siswa yang belajar di rumah dan para guru di sekolah, mengakibatkan penggunaan IT tidak bisa dihindari lagi. Larangan pembelajaran tetap muka mulai PAUD sampai perguruan tinggi menghasilkan banyak inovasi penggunaan IT dalam pembelajaran.

Faktanya, pembelajaran online tidak saja dapat dilakukan para mahasiswa, tetapi peserta didik PAUD pun sudah bisa melakukannya. Contohnya, para pendidik PAUD mengirimkan perkenalan pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menggunakan video. Dari video itu peserta didik PAUD mengenal para guru, mengetahui ruangan-ruangan di sekolah, dan menerima tugas-tugas yang harus dikerjakan di rumah. Selanjutnya dengan bantuan orang tuanya, peserta didik PAUD memperkenalkan diri menggunakan smarphone dan kemudian mengirimkannya dalam bentuk video. Hal yang sama dikerjakan oleh siswa baru di sekolah dasar.

Pada pembelajaran online ini, siswa kelas tinggi sekolah dasar bahkan mulai mengenal penggunaan aplikasi google form, google classroom, dan zoom cloud meeting. Google form dan google clasroom digunakan guru untuk mengirimkan tugas kepada siswa di rumah, kemudian para siswa tinggal mengisikan data dan menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas di smartphone mereka. Sementara dengan menggunakan aplikasi zoom clouds meeting, guru dapat melaksanakan pembelajaran virtual dengan para siswa. Dalam hal ini faktor pendukung utama seperti tersedianya smarphone atau laptop dengan jaringan internet yang mumpuni merupakan syarat utama untuk dapat dilaksanakan pembelajaran virtual.

Mengenalkan IT pada siswa sekolah dasar dapat dimulai dengan penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut. Yang paling sederhana, adalah penggunaan whatsapp sebagai media interaksi antara guru dan siswa. Whatsapp grup dapat digunakan guru untuk mengirimkan tugas pada para siswa dan sebaliknya, sekaligus dapat digunakan untuk berdiskusi dan berinteraksi jika ada hal-hal yang belum dipahami siswa.

Namun demikian, dalam situasi dan kondisi yang memungkinkan, sekolah dapat menyisipkan cara penggunaan computer atau laptop sebagai salah satu dari materi muatan lokal. Namun demikian, secara teoritis materi itu tidak harus disampaikan secara mendetil. Biarkan saja para siswa menggunakan computer atau laptopnya dengan semampunya, asalkan mereka mampu menyelesaikan tugas yang diberikan para guru.

Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah guru dapat membuat penugasan sederhana dengan jawaban yang harus diketik menggunakan computer atau laptop. Tugas-tugas mengarang, membuat puisi, membuat rangkuman, dan lain-lain dapat diberikan sebagai salah satu kegiatan agar para siswa “terpaksa” menggunakan computer atau laptopnya. Hasil pengetikan dapat dikirim pada guru dengan berbagai fasilitas seperti menggunakan email, google drive, atau bahkan hanya dengan menggunakan whatsapp web. Dengan begitu, para siswa tidak mengenal hanya melalui smarphone, tetapi juga mampu menggunakan computer atau laptop.

Untuk melakukan hal ini sekolah memerlukan kerjasama dengan orang tua siswa. Dalam artian, ketika sekolah memprogramkan pengenalan IT kepada para siswa sekolah dasar, para orang tua harus siap dengan segala fasilitas yang diperlukan. Jika tidak, program pengenalan IT kepada para siswa sekolah dasar tidak akan berjalan baik karena tidak tersedianya peralatan yang dibutuhkan.

Setelah itu, para guru dapat melanjutkan pengenalan IT dengan mengajak siswa menggunakan aplikasi-aplikasi lainnya. Jika tugas dalam bentuk naskah yang diketik dapat dikerjakan menggunakan Microsoft Word misalnya, pada tahap berikutnya para guru mulai harus memperkenalkan penggunaan slide presentasi menggunakan Microsoft Power Point. Materi ini akan lebih menyenangkan karena siswa telah memiliki dasar ketrampilan mengetik, dan sekarang dihadapkan dengan materi presentasi yang indah dan menggunakan animasi. Tantangan ini akan sangat menarik bagi siswa jika guru paling tidak dapat menjelaskan cara yang paling mudah untuk menggunakan aplikasi presentasi ini.

Dua software saja, yaitu Microsoft Word dan Microsoft Power Point, yang telah dikuasai oleh para siswa sekolah dasar akan memberikan dampak yang sangat baik khususnya dalam mendukung siswa mengerjakan tugas onlinenya. Kedua program itu dapat memenuhi kebutuhan pengetikan dan presentasi slide yang sangat berguna bagi para siswa.

Namun demikian ada hal-hal yang perlu ditekankan pada anak, utamanya ketika menggunakan perangkat IT dalam kondisi terkoneksi dengan internet, antara lain:

  1. Anak tidak perlu menindaklanjuti iklan yang muncul dari berbagai kegiatan mengakses data website.
  2. Anak tetap harus berhati-hati dalam menggunakan laptop atau computer, seperti menjauhkan dari makanan atau minuman, meletakkan pada tempat yang tepat, menggunakan koneksi listrik yang aman, dan sebagainya.
  3. Sedapat mungkin ada orang tua atau orang dewasa lainnya yang mendampingi anak agar anak tidak sembarangan dalam menggunakan perangkat IT.

Men-desain Sekolah Unggulan

Setiap sekolah menginginkan keunggulan pada dirinya, baik dari unsur kelembagaan, pembelajaran, ataupun prestasi belajar siswa yang dihasilkannya. Namun pada hakekatnya, apapun keunggulan yang hendak direncanakan dan dijalankan oleh satuan pendidikan, tujuan akhirnya adalah untuk menghasilkan output terbaik yang dapat dicapai dengan semua sumberdaya yang dimiliki. Pada saat yang sama, tentunya dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada “customer“nya, untuk mencapai level kualitas yang diinginkannya.

Sebagian sekolah menunjukkan keunggulan itu sebagai sebuah daya tarik, namun sebagian lainnya tidak mensosialisasikan hal itu, dengan cukup berharap masyarakat akan mengetahui berdasarkan output yang dihasilkannya. Sekolah mensosialisasikan keunggulannya dengan harapan dapat menarik minat masyarakat untuk belajar di lembaga tersebut. Sekaligus menunjukkan pada masyarakat capaian-capaian tertentu yang diimpikan.

Untuk merencanakan sebuah sekolah unggulan, manajemen sekolah harus membuat desain sekolah unggulan terlebih dahulu. Desain ini dibuat sebagai “Garis-Garis Besar Haluan Sekolah”, agar sekolah unggulan yang diinginkan dapat dijalankan secara teratur, terstruktur, dan terukur. Teratur karena telah ada rambu-rambu pelaksanaan yang telah disiapkan, terstruktur karena sudah ada penanggung jawab untuk masing-masing pos yang diperlukan, dan terukur karena target telah ditetapkan, sehingga pengelola dapat mengetahui apakah target telah tercapai atau belum.

Beberapa hal yang banyak ditemukan di sekolah unggulan, khsusnya sekolah-sekolah Islam unggulan, antara lain : (1) pengembangan ke-Islam-an yang dominan, sehingga sebagian materinya kegiatan belajarnya adalah ke-Islam-an, (2) Mengutamakan kualitas output, dengan agak mengabaikan input. Sehingga, bagaimanapun kualitas input yang diperoleh, akan diolah dan diupayakan menghasilkan output yang berkualitas dalam berbagai dimensinya, (3) Melaksanakan active learning sehingga peran siswa dalam pembelajaran lebih dominan, sementara guru merupakan manager dan leader kelas, yang menata dan membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran, (4) Memasukkan aspek teknologi informasi, baik sebagai bagian dari materi pembelajaran ataupun hanya menggunakan sebagai media pembelajaran, (5) Menambahkan pembelajaran bahasa asing atau bahasa internasional, untuk menyiapkan generasi yang lebih mumpuni untuk mengembil peran dalam kehidupan di masa depan, dan (6) mengembangkan potensi anak dalam banyak bidang yang bervariasi. Dalam artian, sekolah menyiapkan banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi anak baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik secara berimbang. Sehingga, setiap capaian apapun bentuk dan bidangnya selalu dihargai.

Dalam konteks guru, sekolah-sekolah unggul memiliki rancangan yang matang untuk meningkatkan kualitas guru. Guru adalah “mayoret” orchestra pembelajaran sehingga ia harus dipilih dari orang-orang yang terbaik, atau setidaknya ada upaya yang konsisten untuk meningkatkan kulaitas guru. Guru yang cerdas, kreatif, inovatif, dan inspiratif dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Selain itu, guru adalah teladan nyata dari para siswa, sehingga performance guru harus merupakan yang terbaik.

Saat ini kita dapat menemukan sekolah-sekolah unggulan yang menampilkan variasi menu unggulan dalam berbagai sajian. Kebanyakan sekolah Islam mengunggulkan program tahfidzul qur’an atau madrasah diniyahnya. Pada saat yang sama juga mengunggulkan program-program bilingual atau bahkan multi bahasa. Tidak luput dari sasaran sekolah-sekolah ini adalah penguatan di bidang ekstra kurikuler, seperti musik, tari, seni rupa dan lain-lain.

Meng-include-kan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama

Hampir di semua sekolah, khususnya sekolah dasar, meletakkan kata beriman, takwa, cerdas, trampil, dan berakhlak mulia, pada paparan visi dan misinya. Hal ini menunjukkan bahwa karakter religius pada siswa merupakan dambaan setiap sekolah. Karakter religius merupakan karakter utama yang mendasari karakter-karakter lainnya.

Pendidikan karakter merupakan satu hal yang melekat pada pendidikan itu sendiri. Sejak bangsa Indonesia ada, khususnya sejak Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI) didirikan, nation and character building merupakan isu utama yang mengemuka dalam diskursus-diskursus sekala nasional. Pengembangan nasionalisme memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Apalagi, belum lama setelah kemerdekaan diproklamasikan, pemberontakan-pemberontakan dan keinginan memisahkan diri mulai bermunculan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Oleh karena itulah mengapa hampir semua agama yang masuk ke Indonesia diterima dengan “lapang dada” oleh bangsa Indonesia. Enam agama yang diakui oleh negara merupakan bukti lain bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa religius.

Pengembangan pendidikan berbasis agama dapat diterima dengan baik oleh bangsa Indonesia. Hampir semua agama di Indoneisa memiliki lembaga-lembaga pendidikan untuk menguatkan dan mengembangkan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya. Lembaga pendidikan berbasis agama selalu disambut dengan baik oleh umat beragama dalam komunitasnya masing-masing.

Hal-hal di atas seolah-olah menunjukkan kesepakatan semua komponen bangsa bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang dapat di-include-kan dengan pendidikan agama. Pendidikan agama mengajarkan aspek-aspek religiusitas seperti aspek kepercayaan, ritual, penghayatan, dan puncaknya adalah perilaku. Dengan demikian, semua agama dalam konteksnya masing-masing, seperti menegaskan bahwa perilaku yang baik atau akhlak yang mulia merupakan perwujudan dari kebaikan beragama.D

Dalam Islam, akhlakul karimah merupakan puncak dari rasa keberagamaan seorang muslim. Seorang muslim yang baik bukan saja yang sholatnya rajin tetapi juga harus menunjukkan bahwa shalat yang dijalankannya membawa pengaruh terhadap perilakunya. Islam juga menekankan pentingnya menjaga perilaku baik dengan orang tua, guru, pemimpin, tetangga, tamu, dan seterusnya. Bahkan Islam mengajarkan akhlak yang baik dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Dalam Islam diajarkan larangan tentang kesia-siaan. Kita tidak boleh menebang pohon jika tidak bisa menunjukkan alasan manfaat atau tujuan menebang pohon itu. Islam sangat menghargai kebersihan lingkungan, sehingga sungai tetap berair jernih, udara tetap sejuk, dan lingkungan tetap terjaga bersih.

Cendekiawan Muslim Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul Islam Agama Ramah Lingkungan mengatakan, menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa. Menurut dia, ini tak diragukan lagi. Sebab, rusaknya lingkungan, pencemaran, dan pelecehan terhadap keseimbangannya akan membahayakan kehidupan manusia. (https:/republika.co.id)

Bahkan dalam menyembelih hewan pun Islam mengajarkan untuk menggunakan pisau yang tajam. Ini menunjukkan bahwa Islam juga memperhatikan hubungan baik dengan makhluk Allah Swt yang lain, yaitu hewan. Rasululah Saw bersabda, yang artinya :

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata, “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dengan pendidikan agama. Mengapa? Karena pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter itu sendiri. Di dalam pendidikan agama, kualitas baik atau tidaknya akhlak seseorang, merupakan tolong ukur kemampuan memahami dan menjalankan agamanya.

Mencuri Manfaat Bonus Demografi

Pada tanggal 22 Mei 2017, Kementrian PPN/Bappenas merilis siaran pers tentang “Bonus Demografi 2030-2040; Strategi Indonesia Terkait Ketenagakerjaan dan Pendidikan”. Dalam siaran pers itu dijelaskan bahwa pada tahun 2030-2040 Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produkti (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun, dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total penduduk yang diproyeksi sejumlah 297 juta jiwa pada periode tersebut.

Kondisi itu tentu akan sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Justru pada saat negara-negara lain mengalami kekurangan jumlah penduduk produktif, Indonesia malah sebaliknya. Negara-negara Eropa dimana angka kelahiran tertekan sangat kuat, ditopang oleh budaya masyarakatkanya yang “enggan” memiliki anak, mengakibatkan Eropa kekurangan penduduk usia produktif pada masa itu. Penduduk yang saat ini sedang pada usia produktif sudah akan memasuk fase tidak produktif, sementara akan kelahiran sangatlah kurang. Demikian juga yang terjadi di negara-negara di benua Amerika, maupun negara Asia lainnya, di luar Cina dan India, yang memang memiliki modal sumber daya manusia yang sangat cukup.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari periode bonus demografi tersebut. Terutama, jika Indonesia dapat menyiapkan angkatan kerja yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang baik dan memiliki daya saing yang kuat, terutama dalam menghadapi keterbukaan pasar kerja. Jika tidak, kondisi ini akan berbalik arah, menjadi persoalan pengangguran yang tentu akan membebani anggaran negara.

Dalam hal pendidikan, anak-anak pra usia produktif pada saat ini harus mempersiapkan diri dengan berbagai kompetensi. Penguatan dan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan bahasa-bahasa internasional lainnya seperti bahasa Arab, Perancis, dan Mandarin, sangat diperlukan sebagai modal meraih kompetensi komunikasi. Mempelajari bahasa asing, apalagi bahasa internasional, bukan berarti “tidak cinta tanah air”, tetapi justru dalam rangka mempersiapkan diri untuk kejayaan bangsa dan negara di masa depan.

Selain itu, penguasaan sain dan teknologi, khususnya teknologi informasi sangatlah dibutuhkan karena pada saat ini kita sudah akan memasuki era Revolusi Industri 4.0 dimana penguasaan teknologi digital sangat diperlukan. Keakraban generasi muda dengan istilah-istilah dan kerja digital sangat diperlukan agar dapat meraih kesempatan kerja yang sangat terbuka luas di bidang itu, bahkan sejak masa sekarang ini. Dengan penguasaan teknologi digital, anak-anak Indonesia dapat bekerja pada perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika meskipun tanpa meninggalkan rumahnya. Bagi anak-anak generasi Z, work from home tidak saja terjadi karena Pandemi C19, tetapi memang merupakan kinerja biasa yang akan dilakukan sehari-hari senyampang tersedia jaringan internet dan alat pendukung lainnya. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan karena anak-anak kita tetap bisa hidup dengan kultur Indonesia tetapi dapat memperoleh income dengan standard dolar, euro, atau poundsterling.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah sekolah-sekolah kita telah siap akan hal itu? Dalam artian siap membekali anak-anak dengan kompetensi komunikasi berbasis bahasa Internasional, ketrampilan berbasis teknologi digital, kreativitas tanpa batas, dan tentunya dengan tetap mendasari dengan iman dan takwa, serta pemahaman Islam dan akhlak mulia. Kesiapan itu mutlak diperlukan, apalagi jika kita juga ingin mengambil bagian dalam penyebaran Islam rahmatan lil aalamiin ke seluruh penjuru dunia, dengan mengandalkan kemampuan anak-anak kita saat ini. Kesempatan ini harus kita raih, dengan mengandalkan modal tekad, kerja keras dan cerdas, serta inovasi yang tiada henti. Semoga.